Skip to main content

AL-QUR’AN DAN WAHYU

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Di antara kemurahan Allah terhadap manusia bahwa Dia tidak saja memberikan sifat yang bersih yang dapat membimbing dan memberi petunjuk kepada mereka ke arah kebaikan, tetapi juga dari waktu ke waktu Dia mengutus seorang Rasul kepada umat manusia dengan membawa al-Kitab dari Allah dan menyuruh mereka beribadah hanya kepada Allah saja, menyampaikan kabar gembira dan memberikan peringatan. Agar yang demikian menjadi bukti bagi manusia. Perkembangan dan kemajuan berpikir manusia senantiasa disertai oleh wahyu yang sesuai dan dapat memecahkan problem-problem yang dihadapi oleh kaum setiap Rasul saat itu, sampai perkembangan itu mengalami kematanganya. Allah menghendaki agar risalah Muhammad SAW datang ke dunia ini. Maka diutuslah beliau di saat manusia sedang mengalami kekosongan para rasul, untuk menyempurnakan “bangunan” saudara-saudara pendahulunya (Para Rasul) dengan syari’atnya yang universal dan abadi serta dengan kitab yang diturunkan kepadanya, yaitu al-Qur’anul Karim. 1.2 Rumusan Masalah 2.1 Al-Qur’an a. Apa definisi al-Qur’an? b. Apa asal kata al-Qur’an? c. Apa nama-nama al-Qur’an? d. Bagaimana sejarah turunya al-Qur’an? e. Apa fungsi al-Qur’an? 2.2 Wahyu a. Apa definisi wahyu? b. Bagaimana cara wahyu Allah turun kepada Rasul? c. Apa hikmah keberadaan dua macam wahyu? 1.3 Tujuan Penulisan a. Mengetahui definisi al-Qur’an dan wahyu b. Mengetahui asal kata dan nama-namaal-Qur’an c. Mengetahui fungsi dan sejarah turunya al-Qur’an d. Mengetahui cara wahyu turun kepada Rasul e. Mengetahui hikmah dari dua macam wahyu BAB II PEMBAHASAN 2.1 Al-Qur’an a. Definisi Al-Qur’an Beberapa definisi tentang al-Qur’an telah dikemukakan oleh beberapa ulama dari berbagai keahlian dalam bidang bahasa, ilmu kalam, usul fiqh dan sebagainya. Definisi-definisi itu sudah tentu berbeda antara satu dengan yang lain, karena stressing (penekanan)nya berbeda-beda, disebabkan perbedaan keahlian mereka. Sehubungan dengan itu, Dr. Subhi al-Salih merumuskan definisi al-Qur’an yang dipandang sebagai definisi yang dapat diterima para ulama, terutama ahli bahasa, ahli fiqh dan ahli usul fiqh.” Al-Qur’an adalah firman Allah yang bersifat (berfungsi) mukjizat (sebagai bukti kebenaran atas kenabian Muhammad) yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, yang tertulis di dalam mushaf-mushaf, yang diriwayatkan dengan jalan mutawatir dan yang membacanya dipandang beribadah,” Qara’a mempunyai arti mengumpulkan dan menghimpun, dan qira’ah berarti menghimpun huruf-huruf dan kata-kata satu dengan yang lain dalam suatu ucapan yang tersusun rapih. Al-aaqur’an pada mulanya seperti qira’ah yaitu masdar dari kata qara’a, qiro’atan, qur’anan. Allah berfirman: •       •   “Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.”(Al-Qiyamah:17-18) b. Asal kata al-Qur’an Ada beberapa pendapat tentang asal kata al-Qur’an. Diantaranya: 1. Al-Syafi’i, salah seorang imam mazhab yang terkenal (150-204 H) berpendapat, bahwa al-Qur’an itu ditulis dan dibaca tanpa hamzah (al-Quran, bukan al-Qur’an) dan tidak diambil dari kata lain. Ia adalah nama yang khusus digunakan untuk kitab Suci yang diberikan kepada Nabi Muhammad, sebagaimana nama Injil dan Taurat yang digunakan khusus untuk kitab-kitab Allah yang diberikan masing-masing kepada Nabi Isa dan Nabi Musa. 2. Al-Farra’ seorang ahli bahasa yang terkenal, pengarang kitab Ma’anil Qur’an tidak menggunakan hamzah dan diambil dari kata qarain jamak qarinah, yang artinya indikator (petunjuk). Hal ini disebabkan sebagian ayat-ayat al-Qur’an itu serupa satu dengan yang lainya, maka seolah-olah sebagian ayat-ayatnya itu merupakan indikator dari yang dimaksud oleh ayat lain yang serupa. 3. Al-Asy’ari seorang ahli ilmu kalam, pemuka aliran Sunni (wafat 324 H) berpendapat, bahwa lafadz al-Qur’an tidak menggunakan hamzah dan diambil dari kata قرن, yang artinya menggabungkan. Hal ini disebabkan surah-surah dan ayat-ayat al-Qur’an itu dihimpun dan digabungkan dalam satu mushaf. 4. Al-Zajjaj, pengarang kitab Ma’anil Qur’an (wafat 311 H) berpendapat, bahwa lafadz al-Qur’an itu berhamzah, berwazan fu’lan, dan diambil dari kata القراء yang artinya penghimpunan. Hal ini disebabkan al-Qur’an merupakan kitab suci yang menghimpun intisari ajaran-ajaran dari kitab-kitab suci sebelumnya.            "(yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Qur’an). Di dalamnya terdapat (isi) Kitab-Kitab yang lurus."(Al-Bayyinah:2-3) Al-Lihyani, seorang ahli bahasa (wafat 251H) berpendapat, bahwa lafadz al-Qur’an itu berhamzah, bentuknya masdar dan diambil dari kata قراء yang artinya membaca. Hanya saja lafadz al-Qur’an ini menurut al-Lihyani adalah masdar bin ma’na ismil maf’ul. Jadi qur’an artinya maqru’ (dibaca). 5. Dr. Subhi al-Salih, pengarang kitab Mabahits fi ulumil Qur’an mengemukakan, bahwa pendapat yang paling kuat adalah lafadz al-Qur’an itu masdar dan sinonim 9muradif) dengan lafadz qiro’ah, sebagaimana tersebut dalam al-Qiyamah ayat 17-18 : •       •   “ Sesungguhnya atas tanggungan kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya Maka ikutilah bacaannya itu.” 6. Beberapa orientalis, antara lain G. Bergstaesser berpendapat, bahwa bahasa Armia, Abessynia dan Persia tidak sedikit pengaruhnya terhadap perbendaharaan bahasa Arab, karena bahasa-bahasa tersebut adalah bahasa-bahasa dari bangsa-bangsa yang bertetangga dengan bahasa Arab dan mereka adalah bangsa-bangsa yang telah maju kebudayaanya beberapa abad sebelum islam lahir. c. Nama-nama al-Qur’an Di dalam kitab al-Itqan, karangan al-Suyuty diterangkan, bahwa Abdul Ma’ali Syaizalah, pengarang al-Burhan fi Musykilatil Qur’an (wafat 494 H) menyebutkan 55 buah nama untuk al-qur’an. Bahkan Abdul Hasan al-Haraly (wafat 647) menerangkan, bahwa lebih dari 90 nama untuk al-Qur’an. Dr. Subhi al-Salih berpendapat, bahwa sebagian ulama berlebih-lebihan di dalam menghitung jumlah nama-nama untuk al-Qur’an, sebab mereka mencampuradukkan antara nama dan sifatnya. Diantara nama-nama Kitab Suci umat Isalam yang sangat terkenal ialah: 1. Al-Qur’an, dan nama ini dapat kita jumpai antara lain di dalam surah al-Baqoroh:185        ••                                         “ (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). karena itu, Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” 2. Al-Furqan dan nama ini dapat kita temukan antara lain di dalam surah al-Furqon;1   •      •  “Maha Suci Dzat (Allah) yang telah menurunkan al-Furqan kepada hambaNya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” 3. Al-Kitab dan nama ini dapat kita dapatkan antara lain dalam surah an-Nahl:89     •            •           “Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”           “Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka Apakah kamu tiada memahaminya?.”(Al-Anbiya’:10) 4. Al-Dzikir, nama ini dapat kita temukan dalam surah al-Hijr:9   •      “Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz-Dzikr (al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami (pulalah) yang memeliharanya.” d. Sejarah turunya al-Qur’an Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur berupa beberapa ayat dari sebuah surah atau berupa sebuah surah yang pendek secara lengkap. Adapun penyampaian al-Qur’an secara keseluruhan memakan waktu kurang lebih 23 tahun, yakni 13 tahun ketika Nabi masih tinggal di makkah sebelum hijrah dan 10 tahun ketika nabi sesudah hijrah ke Madinah. Wahyu Illahi yang diturunkan sebelum hijrah, disebut surat atau ayat Makkiyah yang merupakan 19/30 dari al-Qur’an. Surat dan ayat-ayatnya pendek-pendek, sedang bahasanya singkat padat (ijaz), karena sasaranya yang pertama dan utama pada periode Makkah ini adalah orang-oarang Arab asli (suku Quraisy dan suku-suku Arab lainya), yang sudah tentu mereka paham benar akan bahasa Arab. Mengenai isi surah Makkiyah pada umumnya, berupa ajakan (seruan) untuk bertauhid yang murni, juga tentang pembinaan mental dan akhlaq. Adapun wahyu Illahi yang diturunkan sesudah hijrah, disebut surah atau ayat Madaniyah, dan merupakan 11/30 dari surah al-Qur’an. Surat dan ayat-ayat panjang-panjang, sedang gaya bahasa panjang-lebar dan lebihjelas (ithnab), karena sasaranya bukan hanya orang-orang Arab asli, melainkan juga non Arab dari berbagai bangsa, yang telah mulai banyak masuk islam dan sudah tentu mereka kurang (belum) menguasai bahasa Arab. Mengenai isi surat-surat atau ayat-ayat Madaniyah pada umumnya berupa norma-norma hukum untuk pembentukan dan pembinaan suatu masyarakat (umat) islam dan negara yang adil dan makmur yang diridhoi oleh Allah SWT. (Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur) Al-Qur’an mulai diturunkan kepada Nabi Muhammad pada malam qadar tanggal 17 Ramadhan pada waktu Nabi telah berusia 41 tahun, bertepatan dengan tanggal 6 Agustus 610 M. (perhatikan surah al-Qadar:1, ad-Dukhan, 3 al-anfal:41, al-Baqoroh:185) Wahyu yang pertama kali diterima oleh Nabi ialah ayat 1 s/d 5 surah al-Alaq, pada waktu Nabi sedang berada di gua Hira’. Sedang wahyu terakhir yang diterima Nabi adalah surah al-Maidah:3, pada waktu Nabi sedang berwukuf di Arafah melakukan haji Wada’ pada tanggal 9 Zulhijah tahun kesepuluh Hijriah, 7 maret 632 M. Antara wahyu pertama dan wahyu terakhir yang diterima Nabi berselang kurang lebih 23 tahun. e. Fungsi al-Qur’an Al-Qur’an mempunyai beberapa fungsi. Di antara fungsi yang terpenting adalah : 1. Sebagai mukjizat Nabi Muhammad untuk membuktikan, bahwa Nabi Muhammad adalah Nabi dan Rasul Allah, dan bahwa al-Qur’an adalah firman Allah, bukan ucapan (ciptaan) Nabi Muhammad sendiri. Setiap Nabi (Rasul) diberi Mukjizat oleh Tuhan sebagai senjata untuk menunjang suksesnya misi yang dibawanya, dan al-Qur;an merupakan mukjizat terbesar yang pernah diberikan oleh Allah kepada seluruh Nabi dan Rasul-Nya, sebab mukjizat al-Qur’an (tidak bisa ditiru dan ditandingi oleh siapa pun) itu berlaku sepanjang masa dan untuk seluruh umat manusia. Di dalam al-Qur’an surah al-Baqoroh:23, surah Hud:13 dan surah al-Isra’:88 terdapat tentangan dari al-Qur’an terhadap siapa saja yang masih meragukan kebenaran al-Qur’an dan Nabi Muhammad sebagai seorang utusan Allah, mereka dipersilahkan membuat sebuah surah atau beberapa surah yang bisa menyerupai (menyaingi/menandingi) al-Qur’an tentang keindahan bahasa (sastra)nya, kepadatan isinya, ketinggian ilmu-ilmu yang terdapat di dalamnya, kebenaran ungkapan-ungkapannya dan ketepatan berita-beritanya, sesuai dengan kenyataan dan fakta-fakta sejarah. Demikian pula terpelihara keaslianya, sesuai dengan wahyu yang diterima Nabi tanpa ada perubahan sedikit pun, walaupun satu kata, bahkan satu huruf pun tidak bertambah atau berlebih. 2. Sebagai sumber segala macam aturan tentang hukum, sosial ekonomi, kebudayaan, pendidikan, moral dan sebagainya, yang harus dijadikan way of life Bagi seluruh umat manusia untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapinya. (Perhatikan surah al-A’raf:158, surah an-Nahl:59, surat al-Ahzab:36) 3. Sebagai hakim yang diberi wewenang oleh Allah memberikan keputusan terakhir mengenai beberapa masalah yang diperselisihkan di kalangan pemimpin-pemimpin agama dari bermacam-macam agama dan sekaligus sebagai korektor yang mengoreksi kepercayaan-kepercayaan atau pandandan-pandangan yang salah di kalangan umat beragama, termasuk kepercayaan-kepercayaan yang salah, yang terdapat di dalam Byble atau kitab lain yang di pandang suci oleh para pemeluknya. Ajaran-ajaran (anggapan-anggapan) dari agama-agama lain yang salah, kemudian dikoreksi al-Qur’an antara lain sebagai berikut : a. Ajaran Trinitas dan Byble b. Kepercayaan bangsa Arab pada pra-Islam, bahwa Tuhan itu mempunyai anak –anak perempuan, ialah malaikat (surah an-Najm:27): •          “ Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan Malaikat itu dengan nama perempuan.” c. Sejumlah Nabi dan Rasul yang terhormat dan merupakan manusia-manusia pilihan Tuhan yang dijadikan suru teladan untuk umatnya, yang di ungkapkan dalam Byble sebagai orang-orang yang melakukan perbuatan hina dan tercela. Misalnya Nabi Ibrahim, digambarkan sebagai pendusta (pembohong), Nabi Luth diungkapkan sebagai seorang yang pernah berhubungan seks dengan putri-putrinya, Nabi Daud diceritakan sebagai seorang yang berbuat serong dengan istri Uria, Nabi Sulaiman digambarkan sebagai seorang yang pernah menyembah berhala demi menyenangkan berhala demi menyenangkan istri-istrinya. Menurut pandangan islam, bahwa Nabi dan Rasul adalah maksun, artinya mereka pasti terhindar 4. Sebagai pengukuh yang mengukuhkan dan menguatkan kebenaran para Nabi dan Rasul sebelum Nabi Muhammad. Hanya saja ajaran-ajaran dari para Nabi sebelum Nabi Muhammad beserta kitab-kitab sucinya, sudah tidak orisinil lagi, sebab tidak sedikit yang telah diubah oleh para pemimpin mereka. (perhatikan surah al-Maidah:48 dan an-Nisa’:45) 2.2 Wahyu a. Definisi Wahyu Kata wahyu mempunyai dua arti, yakni: 1. Wahyu dalam arti:الاٍيحاء artinya memberi wahyu. Menurut pengertian bahasa, ialah memberitahukan sesuatu dengan cara yang samar dan cepat. Sedangkan menurut pengertian agama, wahyu adalah pemberitahuan Tuhan kepada Nabi-Nya tentang hukum-hukum Tuhan, berita-berita dan cerita-cerita dengan cara yang samar, tetapi meyakinkan kepada Nabi/Rasul yang bersangkutan, bahwa apa yang diterimanya adalah benar-benar dari Allah. Allah telah menerangkan dalam al-Qur’an tentang cara pemberitahuan yang dikehendaki tuhan kepada Nabi-Nya, yaitu tersebut dalam surah as-Syura yang artinya:” Tidak ada manusia yang diajak bicara oleh Allah secara langsung, kecuali dengan perantaraan wahyu(ilham)atau dibalik tabir atau dengan mengutus seorang utusan (malaikat) kemudian ia diberi wahyu dengan izin-Nya, apa-apa yang Dia kehendaki.” Berdasarkan ayat tersebut, maka wahyu itu ada tiga macam: a) Pemberitahuan Tuhan dengan cara ilham tanpa perantara. Termasuk dalam bagian ini adalah mimpi yang tepat dan benar, misalnya Nabi Ibrahim pernah menerima perintah menyembelih putranya (Nabi Ismail). Peristiwa ini diungkapkan kembali oleh Allah dalam surah as-Shafaat:102                              “Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku Termasuk orang-orang yang sabar".” b) Mendengar firman Allah di balik tabir, seperti yang dialami Nabi Musa ketika menerima pengangkatan kenabianya. Peristiwa ini disebutkan dalam surah Thaha:11-13            •  •         “Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia dipanggil: "Hai Musa. Sesungguhnya aku Inilah Tuhanmu, Maka tanggalkanlah kedua terompahmu; Sesungguhnya kamu berada dilembah yang Suci, Thuwa. Dan aku telah memilih kamu, Maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).” c) Penyampaian wahyu (amanat) Tuhan dengan perantara malaikat Jibril a.s yang di dalam al-Qur’an disebut”al-Ruhul Amin”. Ini ada dua macam: • Nabi dapat melihat kehadiran malaikat Jibril a.s dan dalam hal ini ada dua macam pula, yakni: Pertama: Malaikat Jibril a.s dilihat dalam bentuknya yang asli, tetapi ini jarang sekali terjadi. Kedua: Malaikat Jibril a.s menjelma sebagai manusia. Dia juga pernah menjelma sebagai seorang laki-laki bernama Duhyah bin Khalifah. • Nabi tidak melihat malaikat Jibril ketika menerima wahyu, tetapi beliau mendengar pada waktu kedatangan malaikat itu suaranya seperti suara lebah atau gemerincing bel. Dalam hal ini hanya Tuhanlah yang mengetahui hakikatnya. Bagi orang yang kebetulan menyaksikan, hanya melihat gejala-gejalanya yang bersifat lahiriah saja, misalnya badan Nabi bertambah berat dan nabi mengeluarkan keringat yang banyak, sekalipun dalam cuaca yang sangat dingin. Di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Urwah, dari Aisyah diteranhkan, bahwa penerimaan wahyu semacam cara terakhir ini adalah yang terberat. 2. Wahyu dalam arti: artinya yang diwahyukan. Dalam hal ini ada dua macam: • Al-Qur’an • Hadist Nabi SAW Hadits-hadits nabi itu sekalipun dari segi susunan bahasanya disusun oleh Nabi sendiri, tetapi dari segi makna (jiwa)nya datang dari Tuhan. Karena itu hadits-hadits nabi itu pun dianggap sebagai wahyu pula. Adapun dalil-dalil yang menunjukkan bahwa hadits-hadits Nabi itu termasuk wahyu, antara lain: 1) Firman Allah dalam surah an-Najm:3-4            “Dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” 2) Sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, Tirmidzi dan Ibnu majah dari Niqdam bin Ma’dikariba:”Ingatlah bahwasanya aku diberi al-Qur’an dan semacam al-Qur’an besertanya.” Ada lagi sebuah hadits yang diriwayatkan Abu Dawud dan Hasan bin ‘Athiyah, di berkata, yang artinya:”Jibril a.s turun pada Rasulullah dengan membawa sunah (hadist), sebagaimana dia turun padanya dengan membawa al-Qur’an dan dia mengajarkan sunah pada Nabi, sebagaimana dia mengajarkan al-Qur’an padanya.” Hanya perlu diketahui, bahwa sekalipun hadist-hadist Nabi itu dipandang sebagai wahyu, namun pada hakikatnya masih ada perbedaan yang prinsipil antara hadits dan al-Qur’an, meskipun kedua-duanya adalah wahyu Illahi. Al-Qur’an Hadits • Al-Qur’an diturunkan dengan bahasa dan maknanya dari Allah. • Al-Qur’an tidak boleh diriwayatkan dengan maknanya saja, sebab dapat mengurangi atau menghilangkan mukjizat al-Qur’an. • Al-Qur’an. Baik lafadz maupun maknanya merupakan mukjizat. • Al-Qur’an diperintahkan untuk dibaca, baik pada waktu sholat atau diluar sholat sebagai ibadah, baik orang yang membacanya itu mengerti maksudnya atau tidak. • Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi dalam keadaan sadar. • Hadits diturunkan dengan maknanya saja dari Allah, sedangkan lafadznya dari Nabi. • Hadits boleh diriwayatkan dengan maksudnya saja. Sebab yang terpenting dalam hadits adalah penyampaian maksudnya. • Hadits bukan merupakan mukjizat. • Hadits tidak diperintahkan untuk dibaca sebagai ibadah. Yang terpenting dalam hadits adalah untuk dipahami, dihayati dan diamalkan. • Hadits diturunkan kepada nabi dengan bermacam-macam cara sebagaimana diterangkan dalam surah as-Syura:51. Sedang wahyu Allah kepada para Nabi-Nya secara syara’ mereka definisikan sebagaai”kalam” Allah yang diturunkan kepada seorang Nabi”. Definisi ini menggunakan pengertian maf’ul yaitu al-muuhaa (yang diwahyukan). Ustadz Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risaalatut Tauhiid sebagai “pengetahuan yand didapati seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan pengetahuan itu datang dari Allah, baik dengan melalui perantara ataupun tidak, yang pertama melalui suara yang terjelma dengan telinganya atau tanpa suara samasekali. Beda antara wahyu dengan ilham adalah bahwa ilham itu intuisi yang diyakini jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa mengetahui dari mana datangnya. Hal seperti itu serupa dengan perasaan lapar, haus, sedih dan senang.” b. Hikmah Keberadaan Dua Macam Wahyu Apa sebab dan hikmah wahyu diturunkan dengan dua macam, yakni berupa al-Qur’an yang tidak boleh diriwayatkan hanya dengan maksudnya saja, dan berupa hadits nabawi yang diperbolehkan untuk disampaikan dengan maksudnya saja, bagi orang yang telah memenuhi syarat? Dengan adanya dua macam wahyu yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW itu mengandung hikmah yang besar sekali bagi umatislam karena dengan demikian: 1. Dapat menjaga dan memelihara kemurnian, keaslian dan kesucian syariat islam. Kalau wahyu itu seluruhnya berupa hadits saja, yang boleh diriwayatkan dengan maksudnya, maka akan menimbulkan keragu-raguan terhadap keaslian dan kebenaran wahyu itu, Apalagi kalau sudah sampai pada generasi yang jauh dari yang menerima wahyu itu, karena manusia itu dapat berbuat kesalahan dan kelupaan. Sehingga akhirnya wahyu yang disampaikan orang-orang itu mungkin terdapat kesalahan dan kelupaan. Lebih jauh lagi ialah akan memudahkan bagi orang-oarang yang anti islam atau musuh-musuh islam, untuk menghancurkan islam dengan jalan mendakwahkan sesuatu sebagai wahyu, padahal merekalah yang membuatnya. 2. Dapat meringankan umat islam sendiri Sebaliknya, apabila wahyu itu hanya seragam berupa Al-Qur’an saja yang harus disampaikan, baik dengan lafadz maupun maknanya, maka akan menimbulkan masyaqqah, artinya hal yang memberatkan bagi umat islam sendiri. Akan berakibat pula umat islam tidak mampu melaksanakan beban atau amanat yang berat ini. Karena di dalam menghadapi suatu masalah, kalau ingin dicarikan sandaran hukumnya, maka harus hafal lafadz-lafadznya pula. BAB III PENUTUPAN A. Kesimpulan Setelah melihat beberapa definisi mengenei al-Qur’an diatas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa al-Qur’an adalah risalah Allah kepada manusia semuanya. Banyak nas yang menunjukkan hal itu, baik di dalam al-Qur’an maupun di dalam sunah. Dan tidak aneh apabila al-Qur’an dapat memenuhi semua tuntutan kemanusiaan berdasarkan asas-asas pertama konsep agama samawi. Dengan keistimewaan itu al-Qur’an memecahkan problem-problem kemanusiaan dalam berbagai segi kehidupan, baik rohani, jasmani, sosial, politik maupun ekonomi dengan pemecahan yang bijaksana, karena ia diturunkan oleh yang Maha Bijaksana dan Maha Terpuji. Pada setiap problem itu al-Qur’an meletakkan sentuhanya yangmujarab dengan dasar-dasar yang umum yang dapat dijadikan landasan untuk langkah-langkah manusia, dan yang sesuai pula untuk setiap zaman. Dengan demikian al-Qur’an selalu memperoleh kelayakannya disetiap waktu dan tempat, karena islam adalah agama yang abadi. Wahyu Allah kepada para Nabi-Nya secara syara’ mereka definisikan sebagaai”kalam” Allah yang diturunkan kepada seorang Nabi”. Definisi ini menggunakan pengertian maf’ul yaitu al-muuhaa (yang diwahyukan). Ustadz Muhammad Abduh mendefinisikan wahyu di dalam Risaalatut Tauhiid sebagai “pengetahuan yand didapati seseorang dari dalam dirinya dengan disertai keyakinan pengetahuan itu datang dari Allah, baik dengan melalui perantara ataupun tidak, yang pertama melalui suara yang terjelma dengan telinganya atau tanpa suara samasekali. Beda antara wahyu dengan ilham adalah bahwa ilham itu intuisi yang diyakini jiwa sehingga terdorong untuk mengikuti apa yang diminta, tanpa mengetahui dari mana datangnya. Hal seperti itu serupa dengan perasaan lapar, haus, sedih dan senang. DAFTAR PUSTAKA Ash-Shaabuuniy, Muhammad Ali, Studi Ilmu Al-Qur’an: Pustaka Setia, Bandung. 1998. Qattan, Manna’ khalil, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an: LiteraNusa, Jakarta. 2007. Zuhdi, Masjfuk, Pengantar ‘Ulumul Qur’an: Karya Aditama, Surabaya. 1997.

Popular posts from this blog

CONTOH AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR ( MUBES ) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA (IPPM) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 Minggu, 16 November 2010 WAKTU KEGIATAN PETUGAS TEMPAT 0 7 . 3 0 – 0 8 .00 Persiapan panitia Panitia Aula Rumah Bapak Prof. Dr. Safrion, MS 0 8 . 3 0 – 09.30 Pembukaan : F   Master of Ceremony (MC) F   Pembacaan Ayat suci alquran F   Sari Tilawah F   Menyanyikan Lagu Indonesia Raya F   Laporan Ketua Panitia F   Sambutan Ketua IPPM Bundo Kanduang Malang F   Sambutan Tuan Rumah F   Sambutan Ketua IKM Sehati Malang sekaligus membuka acara secara resmi F   Doa F   Penutup Robert   Ardian Maulid Wanda Wanda Iqsan Dinata Andri Zulanda Prof. Dr. Safrion, MS Prof. Dr. dr.H.Achdiat Agoes, Sp. S Eka Rizal, S.Pd 09.30 – 11.30 §       SIDANG PLENO I : Pembahasan Agenda Acara MUBES I

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dar

CONTOH TATATERTIB MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN TATA TERTIB MUSYAWARAH BESAR (MUBES) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA ( IPPM ) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Musyawarah Besar IPPM Bundo Kanduang merupakan rapat tertinggi ditingkatan Organisasi daerah IPPM Bundo Kanduang Malang 2.       Musyawarah Besar I II   adalah forum permusyawaratan untuk mengemban amanat oganisasi dan dilaksanakan pada akhir periode untuk menghasilkan rekomendasi kepada kepengurusan yang selanjutnya 3.       Musyawarah Besar I II merupakan permusyawaratan anggota IPPM Bundo Kanduang Malang yang disingkat dengan MUBES I II BAB II TUGAS DAN WEWENANG Pasal 2 Menetapkan pola dan garis-garis besar kebijakan didalam penyelenggaraan organisasi ikatan pemuda pelajar mahasiswa bundo kanduang Mengevaluasi dan mengesahkan laporan pertanggung jawaban pengurus IPPM bundo kanduang Membahas sekaligus menetapkan AD/ART organisasi ikatan pemuda pelajar mahasi