Skip to main content

HADIS MUTTASHIL DAN MUNQATHI’

HADIS MUTTASHIL DAN MUNQATHI’ Pembagian hadis muttashil dan munqathi’ merupakan pembagian hadis ditinjau dari aspek sanad. Sanad merupakan tonggak utama dalam penelitian hadis, terutama untuk melihat bersambung dan terputusnya sanad. Sufyan ats-Tsauri mengatakan,”sanad adalah senjata orang mukmin, seandainya dia tidak bersenjata lalu dengan apa dia akan berperang?” Abdullah bin Mubarok berkata,”sanad adalah bagian dari agama, kalau bukan karena sanad niscaya banyak orang akan berkata seenaknya.” Para ulama mendefinisikan sanad dengan “jalan yang menyampaikan kita pada matan atau teks hadis”. Sanad sendiri secara harfiah berarti sandaran. A. Hadis dengan sanad bersambung (Ittishal) 1. Muttashil Yaitu hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang bersambung dari awal hingga akhir sanad. Yang dimaksud dengan bersambung tiap perowi mendenganrkan hadis tersebut dari orang yang ada di atasnya demikian hingga berakhir sanad. Dalam definisi di atas yang perlu digaris bawahi adalah kata “hingga akhir sanad”. Ungkapan ini menunjukkan bahwa hadis muttashil bisa marfu’ bisa juga mauquf bahkan juga maqthu’. Jika sanadnya berakhir pada Nabi maka dinamakan marfu’, jika berakhir pada sahabat maka mauquf, dan jika berakhir pada tabi’in maka maqthu’. 2. Musnad Yaitu hadis yang diriwayatkan dengan sanad yang bersambung hingga sampai pada Nabi saw. Hadis musnad addalah hadis yang bersambung dan marfu’ dan tidak dikatakan musnad jika tidak marfu’. Inilah yang membedakan musnad dengan muttashil. Ada beberapa macam hadis lain yang digolongkan dalam bagian hadis muttashil, yaitu: a) Musalsal, yaitu hadis yang diriwayatkan dengan kondisi yang sama oleh setiap perowi. b) Mu’an’an, yaitu hadis yang diriwayatkan dengan lafad ‘an. c) Al ‘ali, jika jumlah perowinya dalam sanad tersebut sedikit. Semakin sedikit junlah perowinya semakin tinggi kualitasnya. d) Nazil, jika perowinya dalam sebuah sanad banyak akan menjadikan kualitas sanad tersebut rendah. Hadis muttashil dari sisi hukum bisa berstatus shahih, hasan, dan dha’if, bergantung pada syurut al-qabul. Bersambungnya sanad merupakan satu dari lima syarat diterimanya hadis. B. Hadis dengan sanad terputus (Inqitho’) Maksud dari sanad terputus adalah bila dalam periwayatan terdapat perowi yang gugur dari rentetan sanad, ada yang gugur di awal, di tengah, di akhir. Hadis munqathi’ dibagi menjadi empat, yaitu: 1. Mu’allaq Yaitu, hadis yang terputus di awal sanadnya dari jajaran perowi. Baik terputusnya lebih dari satu tempat atau gugur labih dari satu perowi asalkan terputusnya terdapat di awal sanad masih dapat dikatakan mu’allaq. Hadis mu’allaq masuk kategori hadis dha’if. 2. Mu’dhol Istilah ini berasal dari kata a’dhola yang berarti memayahkan. Secara terminologi mu’dhol berarti hadis yang terputus sanadnya pada dua tempat secara berurutan, bisa mulai dari awal sanad, tengah atau akhir. Hukum hadis mu’dhol dha’if. 3. Mursal Mursal menurut jumhur muhadditsin adalah hadis yang gugur perowinya pada tingkat sahabat. Pada proses periwayatannya tabi’in menisbatkan langsung pada Nabi tanpa menyebut sahabat. Para ulama berbeda pendapat seputar boleh tidaknya berhujjah dengan hadis mursal. Setidaknya ada tiga pendapat mayoritas, yaitu: a) Hadis mursal tidak dapat dijadikan sebagai hujjah, karena yang gugur bisa jadi tidak sebatas sahabat tapi ada kemungkinan dua orang, sahabat dan tabi’in. b) Dapat dijadikan sebagai hujjah asalkan diriwayatkan dari tabi’in senior. c) Hadis mursal dapat dijadikan sebagai hujjah dengan syarat: tabi’in yang meriwayatkan hadis tersebut dikenal dikalangan ulama hadis sebagai orang yang tsiqoh dan jika meriwayatkan hadis tidak mengambil kecuali dari perowi yang tsiqoh pula. 4. Mudallas Istilah mudallas termbil dari kata دلس – يدلس yang berarti remang. Diistilahkan demikian karena perowi berusaha mengaburkan hakikat yang sebenarnya terjadi dengan maksud dan tujuan yang berbeda-beda. Hadis mudallas memiliki dua pembagian pokok, yaitu: a) Tadlis isnad Yaitu seorang perowi meriwayatkan hadis namun ia tidak mendengar hadis tersebut secara langsung tetapi ia tetap meriwayatkan dengan menggunakan sighah (lafad) yang seakan-akan ia mendengan langsung dari guru tersebut. b) Tadlis syuyukh Yaitu seorang perowi yang meriwayatkan hadis dari seorang guru namun tidak menyebutkan nama asli gurunya, melainkan dengan menyebut sifat, gelar, atau julukannya yang tidak banyak dikenal.

Popular posts from this blog

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dari berbagai ras suku…