Skip to main content

Kaidah-Kaidah Fiqh

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah Qawaidul fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqh) adalah suatu kebutuhan bagi kita semua. Banyak dari kita yang kurang mengerti bahkan ada yang belum mengerti sama sekali tentang Qawaidul fiqhiyah. Oleh karena itu, kami selaku penulis mencoba membahas kaidah-kaidah fiqh, mulai dari pengertian, sejarah perkembangan, dan hal-hal yang berhubungan dengannya. Dengan menguasai kaidah-kaidah fiqh kita akan mengetahui benang merah untuk menguasai fiqh, karena kaidah fiqh menjadi titik temu dari masalah-masalah fiqh serta lebih bijaksana dalam menerapkan fiqh dalam waktu dan tempat yang berbeda untuk kasus, adat kebiasaan, dan keadaan yang berlainan. Selain itu juga akan lebih moderat dalam menyikapi masalah-masalah sosial, ekonomi, politin, budaya dan lebih mudah mencari solusi terhadap problem-problem yang terus muncul dan berkembang dalam masyarakat. 1.2. Rumusan Masalah Dari latar belakang permasalahan di atas, dapat dirumuskan pokok permasalahan sebagai berikut: a. Apa pengertian kaidah fiqh? b. Bagaimana sejarah perkembangan kaidah fiqh? c. Bagaimana kedudukan kaidah fiqh? d. Bagaimana pembagian kaidah fiqh? e. Apakah manfaat dari kaidah fiqh? f. Apa urgensi dari kaidah-kaidah fiqh? g. Apa perbedaan kaidah ushul dan kaidah fiqh? 1.3. Tujuan Pembahasan Dari rumusan masalah di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa penulisan makalah ini bertujuan untuk: a. Mengetahui pengertian kaidah fiqh. b. Mengetahui sejarah perkembangan kaidah fiqh. c. Mengetahui kedudukan kaidah fiqh. d. Mengetahui pembagian kaidah fiqh. e. Mengetahui manfaat dari kaidah fiqh. f. Mengetahui urgensi dari kaidah-kaidah fiqh. g. Mengetahui perbedaan kaidah ushul dan kaidah fiqh. BAB II PEMBAHASAN 2.1. Pengertian Sebagai studi ilmu agama pada umumnya, kajian ilmu tentang kaidah-kaidah fiqh diawali dengan definisi. Defenisi ilmu tertentu diawali dengan pendekatan kebahasaan. Dalam studi ilmu kaidah fiqh, kita menemukan dua cabang yang perlu dijelaskan, yaitu kaidah dan fiqh. Qawaid merupakan bentuk jamak dari qaidah, yang kemudian dalam bahasa indonesia disebut dengan istilah kaidah yang berarti aturan atau patokan. Ahmad warson menambahkan, bahwa kaidah bisa berarti al-asas (dasar atau pondasi), al-Qanun (peraturan dan kaidah dasar), al-Mabda’ (prinsip), dan al-nasaq (metode atau cara). Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat An-Nahl ayat 26 :                       ”Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka Telah mengadakan makar, Maka Allah menghancurkan rumah-rumah mereka dari fondasinya, lalu atap (rumah itu) jatuh menimpa mereka dari atas, dan datanglah azab itu kepada mereka dari tempat yang tidak mereka sadari.” (Qs. An-Nahl:26) Secara terminologi, kaidah memiliki beberapa arti. Menurut Dr. Ahmad asy-syafi’i dalam buku Usul Fiqh Islami, mengatakan: القَوائد هي القضايا الكلية التي يندرج كل واحدة منها حكم جزئيات كثيرة ”Qawaid adalah hukum yang bersifat universal (kulli) yang diakui oleh satuan-satuan hukum juz’i yang banyak”. Sedangkan mayoritas Ulama Ushul mendefinisikan kaidah sebagai hukum yang biasa berlaku dan bersesuaian antara yang satu dengan lainnya. Arti fiqh secara etimologi lebih dekat dengan ilmu, sebagaimana yang banyak dipahami oleh para sahabat yang diambil dari firman Allah: …   …. (الآية) “Untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama…” (Qs. At-Taubah : 122) Dan sabda Nabi saw: من يريد الله به خيرا يفقّه في الدين (رواه البخارى ومسلم) ”Barangsiapa yang dikehendaki Allah, niscaya akan diberi pemahaman tentang agama.” (HR. Bukhori-Muslim) Menurut istilah, fiqh adalah ilmu yang menerangkan hukum-hukum syara’ yang bersifat amaliyah (praktis) yang diambilkan dari dalil-dalil yang tafsili (terperinci) dan diistinbatkan lewat ijtihat yang memerlikan analisa dan perenungan. Jadi, dari semua uraian diatas dapat disimpulkan, bahwa Qawaidul fiqhiyah adalah suatu perkara kulli (kaidah-kaidah umum) yang berlaku pada semua bagian-bagian atau cabang-cabangnya yang dengannya dapat diketahui hukum-hukum cabang itu”. 2.2. Sejarah Perkembangan Kaidah-kaidah fiqih Sejarah perkembangan dan penyusunan Qawaidul Fiqhiyah diklasifikasikan menjadi 3 fase, yaitu : a. Fase pertumbuhan dan pembentukan Masa pertumbuhan dan pembentukan berlangsung selama tiga abad lebih. Dari zaman kerasulan hingga abad ke-3 hijrah. Periode ini dari segi pase sejarah hukum islam, dapat dibagi menjadi tiga masa; masa Nabi muhammad saw. yang berlangsung selama 22 tahun lebih (610-632 H / 12 SH-10 H), dan zaman tabi’in serta tabi’ tabi’in yang berlangsung selama 250 tahun (724-974 M / 100-351 H). Tahun 351 H / 1974 M, dianggap sebagai zaman kemunduran, karena tidak ada lagi ulama pendiri madzhab. Ulama pendiri mazhab terakhir adalah Ibn Jarir al-Thabari (310 H / 734 M), yang mendirikan mazhab jaririyah. Dengan demikian, ketika fiqh telah mencapai puncak kejayaan, kaidah fiqh baru dibentuk dan ditumbuhkan. Ciri-ciri kaidah fiqh yuang dominan adalah Jawami al-Kalim (kalimat ringkas tapi cakupan maknnya sangat luas). Atas dasar ciri dominan tersebut, ulama menetapkan bahwa hadits yang mempunyai ciri-ciri tersebut dapat dijadikan kaidah fiqh. Sabda Nabi Muhammad SAW, yang jawami al-Kalim dapat ditinjau dari dua segi; yang pertama, dari segi sumber, yaitu hadits. Oleh karena itu, ia menjadi dalil hukum islam yang kedua setelah Al-Quran. Yang kedua, dari segi cakupan makna dan bentuk kalimat. Ini berarti bahwa sabda Nabi dapat dikatakan sebagai kaidah fiqh karena kalimatnya ringkas, tapi cakupan maknanya luas. Beberapa sabda Nabi Muhammad SAW yang dianggap sebagai kaidah fiqh, yaitu : ليس للإمام أن يخرج شيئا من يد أحد إلا بحقّ ثابت معرروف ”Tiada wewenang bagi imam untuk mengambil sesuatu dari seseorang kecuali dengan dasar hukum yang berlaku.” Demikian contoh sabda Nabi Muhammad saw. yang dianggap sebagai kaidah fiqh. Generasi berikutnya adalah generasi sahabat, sahabat berjasa dalam ilmu kaidah fiqh karena turut serta membentuk kaidah fiqh. Para sahabat dapat membentuk kaidah fiqh karena dua keutamaan, yaitu mereka adalah murid Rasulullah saw. dan mereka tahu situasi yang menjadi turunnya wahyu dan terkadang wahyu turun berkenaan dengan mereka. Generasi berikutnya adalah tabi’in dan tabi’ tabi’in selama 250 tahun. Diantara ulama yang mengembangkan kaidah fiqh pada generasi tabi’in adalah Abu Yusuf Ya’kub ibn Ibrahim (113-182), dengan karyanya yang terkenal kitab Al-Kharaj yang berisi tentang kaidah-kaidah harta waris. Kaidah tersebut berkenaan dengan pembagian harta pusaka Baitul Mal sebagai salah satu lembaga ekonomi umat Islam yang dapat menerima harta peninggalan (tirkah atau mauruts), apabila yang meninggal dunia tidak memiliki ahli waris. Ulama berikutnya yang mengembangkan kaidah fiqh adalah Imam Asy-Syafi’i, yang hidup pada fase kedua abad kedua hijriah (150-204 H), salah satu kaidah yang dibentuknya, yaitu sesuatu yang diperbolehkan dalam keadaan terpaksa dan tidak diperbolehkan ketika tidak terpaksa. b. Fase perkembangan dan kodifikasi Sejarah hukum islam (abad IV H) dikenal sebagai zaman taqlid. Pada zaman ini sebagian besar ulama melakukan tarjih (penguatan-penguatan) pendapat imam mazhabnya masing-masing. Usaha kodifikasi kaidah-kaidah fiqhiyah bertujuan agar kaidah-kaidah itu bisa berguna bagi perkembangan ilmu fiqh pada masa-masa berikutnya. Pada abad VIII H, dikenal sebagai zaman keemasan dalam kodifikasi kaidah fiqh, karena perkembangan kodifikasi kaidah fiqh begitu pesat. Diantara buku-buku kaidah fiqh terpenting dan termasyhur pada abad ini adalah Al-Asybah wa al-Nazha’ir, karya ibn wakil al-Syafi’i (W. 716 H), Kitab al-Qawaid, karya al-Maqarri al-maliki (W. 750 H), Al-Majmu’ al-Mudzhab fi Dhabh Qawaid al-Mazhab, karya al-Ala’i al-Syafi’i (W. 761 H), Al-Qawaid fi al-Fiqh, karya ibn rajab al-Hambali (W. 795 H). c. Fase kematangan dan penyempurnaan Abad X H dianggap sebagai periode kesempurnaan kaidah fiqh. Akan tetapi, tidak berarti tidak ada lagi perbaikan-perbaikan kaidah fiqh pada zaman sesudahnya. Salah satu kaidah yang disempurnakan di abad XIII H adalah seseorang tidak dibolehkan mengelola harta orang lain, kecuali ada izin dari pemiliknya. Kaidah tersebut disempurnakan dengan mengubah kata-kata idznih menjadi idzn. Oleh karena itu kaidah fiqh tersebut adalah seseorang tidak diperbolehkan mengelola harta orang lain tanpa izin. 2.3. Pembagian Kaidah Fiqh Kaidah fiqh dibagi menjadi lima yang biasa disebut panca kaidah asasiah yang semula dinamakan kaidah ushul, yaitu kaidah pokok dari semua kaidah fiqhiyah yang ada. Setiap permasalahan furu’iyah dapat diselesaikan dengan kalimat kaidah tersebut walaupun seorang mujtahid belum sempat memperhatikan dasar-dasar hukum secara tafshili. a. Kaidah yang berkaitan dengan fungsi tujuan. Teks kaidahnya: الأمرور بمقاصدها ”Setiap perkara tergantung pada tujuannya”. Dasar-dasar nash kaidah. Firman Allah: ”Dan mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan kepadanya dalam agama yang lurus.” (Q.S Al Bayyinah: 5) Sabda nabi: لا عمل لمن لانية له. ”Tiada pahala bagi perbuatan yang tidak niat.”HR. Muslim dari Abu Harun. Eksistensi Niat Imam Abu Hanifah dan Imam Akhmad bin Hambal mendudukkan niat sebagai syarat perbuatan. Sedangkan Imam Syafi’i mendudukkannya sebagai rukun perbuatan. Syarat adalah ketentuan yang harus dilakukan mukallaf sebelum terjadinya perbuatan, sedangkan rukun adalah ketentuan yang harus dilakukan bersama dengan perbuatan. Pada dasarnya ibadah itu ada yang membutuhakn niat dan ada pula yang tidak ada membutuhkan. Ibadah yang membutuhkan niat adalah ibadah yang amaliah yang memerlukan penjelasan secara khusus, misanya niat sholat wajib atau sunnat, dsb. Dan ibadah yang tidak membutuhkan niat, karna bukan ibadah amaliah yang diperintahkan secara adab, misalnya iman kepada Allah cukup dilakukan dengan bacaan syahadatain. Sedang tiap hari tidak perlu melakukan niat bila beriman kepada Allah SWT. Contoh: Dalam sholat, tidak disyaratkan niat menentukan bilangan rokaat. Kemudian musholli niat sholat maghrib dengan 4 rokaat dan pelaksanaanya tetap 3 rokaat maka sholatnya tetap sah. b. Kaidah yang Berkenaan dengan keyakinan Teks kaidahnya: اليقين لايزال بالشك ”Keyakinan itu tidak dapat dihilangkan dengan keraguan.” Dasar-dasar nash kaidah: Sabda Nabi: إذا وجد أحدكم في بطنه شيئا فأشكل عليه اخرج منه شيئ أم لا فلا يخرجن من المسجد حتى يسمع صوتا أو يجد ريحا. ”Apabila seseorang antara kalian menumukan sesuatu di dalam perut kemudian sanksi apakah telah keluar sesuatu dari perutnya atau belum, maka janganlah keluar dari masjid sehngga mendengar suara atau mendapatkan baunya.” Contoh: Seseorang ragu-ragu apakah ia sudah wudhu atau belum. Maka yang dimenangkan adalah belum wudhu, karena belum wudhu itu merupakan hukum asal yakni manusia itu pada dasarnya lepas bebas sedang wudhu salah satu dari bentuk beban. c. Kaidah yang berkenaan dengan kondisi yang menyulitkan. Teks Kaidahnya: المشقة تجلب التسير ”Kesukaran itu dapat menarik kemudahan.” Dasar-dasar nash kaidah. Firman Allah: ”Allah menghendaki kemudahan bagi kalian, dan Dia tidak menghendaki kesulitan bagi kalian.”(QS. Al Baqoroh:185) Contoh: Ketika kita bepergian boleh mengkoshor sholat, begitu pula ketika kita sakit,kita diperbolehkan melakukan tayammum sebagai ganti wudhu. d. Kaidah-kaidah yang berkenaan dengan kondisi yang membahayakan. Teks kaidahnya: الضرر يزال ”Kemudhorotan harus dihilangkan”. Dasar-dasar nash yang berkaitan. Firman Allah: ”Dan jangan kamu sekalian membuat kerusakan di Bumi.” (QS. al-a’raf:55). Contoh: Darah para pejuang islam ketika perang dianggap suci untuk melakukan sholat, tetapi bila mengenai orang lain dianggap najis. e. Kaidah yang berkenaan dengan adat atau kebiasaan. Teks kaidahnya: العادة محكمة ”Adat kebiasaan dapat ditetapkan sebagai hukum.” Dasar-dasar nash kaidah. ”Dan serulah orang-orang yang mengerjakan yang ma’ruf serta berpalinglah dari orang yang mudah.” (QS. Al A’raf :199) Contoh: Hukum syari’ah menetapkan hukum mahar dalam perkawinan, namun tidak ada kejelasan berapa banyak ketentuan mahar tersebut, maka ketentuan itu. 2.4. Manfaat Kaidah Fiqh Manfaat dari kaidah Fiqh (Qawaidul Fiqh) adalah : 1. Dengan kaidah-kidah fiqh kita akan mengetahui prinsip-prinsip umum fiqh dan akan mengetahui pokok masalah yang mewarnai fiqh dan kemudian menjadi titik temu dari masalah-masalah fiqh 2. Dengan memperhatikan kaidah-kaidah fiqh akan lebih mudah menetapkan hukum bagi masalah-masalah yang dihadapi 3. Dengan kaidah fiqh akan lebih arif dalam menerapkan materi-materi dalam waktu dan tempat yang berbeda, untuk keadaan dan adapt yang berbeda 4. Meskipun kaidah-kaidah fiqh merupakan teori-teori fiqh yang diciptakan oleh Ulama, pada dasarnya kaidah fiqh yang sudah mapan sebenarnya mengikuti al-Qur’an dan al-Sunnah, meskipun dengan cara yang tidak langsung. 5. Mempermudah dalam menguasai materi hokum. 6. Kaidah membantu menjaga dan menguasai persoalan-persoalan yang banyak diperdebatkan. 7. Mendidik orang yang berbakat fiqh dalam melakukan analogi (ilhaq) dan takhrij untuk memahami permasalahan-permasalahnan baru. 8. Mempermudah orang yang berbakar fiqh dalam mengikuti (memahami) bagian-bagian hokum dengan mengeluarkannya dari tema yang berbeda-beda serta meringkasnya dalam satu topic. 9. Meringkas persoalan-persoalan dalam satu ikatan menunjukkan bahwa hokum dibentuk untuk menegakkan maslahat yang saling berdekatan atau menegakkan maslahat yang lebih besar 10. Pengetahuan tentang kaidah fiqh merupakan kemestian karena kaidah mempermudah cara memahami furu’ yang bermacam-macam. 2.5. Urgensi Qawaidul Fiqhiyah Kaidah fiqh dikatakan penting dilihat dari dua sudut : 1. Dari sudut sumber, kaidah merupakan media bagi peminat fiqh Islam untuk memahami dan menguasai muqasid al-Syari’at, karena dengan mendalami beberapa nash, ulama dapat menemukan persoalan esensial dalam satu persoalan 2. Dari segi istinbath al-ahkam, kaidah fiqh mencakup beberapa persoalan yang sudah dan belum terjadi. Oleh karena itu, kaidah fiqh dapat dijadikan sebagai salah satu alat dalam menyelesaikan persoalan yang terjadi yang belum ada ketentuan atau kepastian hukumnya. Abdul Wahab Khallaf dalam ushul fiqhnya bertkata bahwa hash-nash tasyrik telah mensyariatkan hokum terhadap berbagai macam undang-undang, baik mengenai perdata, pidana, ekonomi dan undang-undang dasar telh sempurna dengan adanya nash-nash yang menetapkan prinsip-prinsip umum dan qanun-qanun tasyrik yang kulli yang tidak terbatas suatu cabang undang-undang. Karena cakupan dari lapangan fiqh begitu luas, maka perlu adanya kristalisasi berupa kaidah-kaidah kulli yang berfungsi sebagai klasifikasi masalah-masalah furu’ menjadi beberapa kelompok. Dengan berpegang pada kaidah-kaidah fiqhiyah, para mujtahid merasa lebih mudah dalam mengistinbathkan hukum bagi suatu masalah, yakni dengan menggolongkan masalah yang serupa di bawah lingkup satu kaidah. Selanjutnya Imam Abu Muhammad Izzuddin ibnu Abbas Salam menyimpulkan bahwa kaidah-kaidah fiqhiyah adalah sebagai suatu jlan untuk mendapatkan suatu kemaslahatan dan menolak kerusakan serta bagaimana menyikapi kedua hal tersebut. Sedangkan al-Qrafy dalam al-Furuqnya menulis bahwa seorang fiqh tidak akan besar pengaruhnya tanpa berpegang pada kaidah fiqhiyah, karena jika tidak berpegang paa kaidah itu maka hasil ijtihatnya banyak pertentangan dan berbeda antara furu’-furu’ itu. Dengan berpegang pada kaidah fiqhiyah tentunya mudah menguasai furu’nya dan mudah dipahami oleh pengikutnya. 2.6. Kedudukan Qawaidul Fiqhiyah Kaidah fiqh dibedakan menjadi dua, yaitu : 1. Kaidah fiqh sebagai pelengkap, bahwa kaidah fiqh digunakan sebagai dalil setelah menggunakan dua dalil pokok, yaitu al-Qur’an dan sunnah. Kaidah fiqh yang dijadikan sebagai dalil pelengkap tidak ada ulama yang memperdebatkannya, artinya ulama “sepakat” tentang menjadikan kaidah fiqh sebagai dalil pelengkap. 2. Kaidah fiqh sebagai dalil mandiri, bahwa kaidah fiqh digunakan sebagai dalil hukumyang berdiri sendiri, tanpa menggunakan dua dalil pokok. Dalam hal ini para ulama berbeda pendapat tentang kedudukan kaidah fiqh sebagai dalil hokum mandiri. Imam al-Haramayn al-Juwayni berpendapat bahwa kaidah fiqh boleh dijadikan dalil mandiri. Namun al_Hawani menolak pendapat Imam al-Haramayn al-juwayni. Menurutnya, menurut al-Hawani, berdalil hanya dengan kaidah fiqh tidak dibolehkan. Al-Hawani mengatakan bahwa setiap kaidah bersifat pada umumnya, aglabiyat, atau aktsariyat. Oleh karena itu, setiap kaidah mempunyai pengecualian-pengecualian. Karena memiliki pengecualian yang kita tidak mengetahui secara pasti pengecualian-pengecualian tersebut, kaidah fiqh tidak dijadikan sebagai dalil yang berdiri sendiri merupakan jalan keluar yang lebih bijak. Kedudukan kaidah fiqh dalam kontek studi fiqh adalah simpul sederhana dari masalah-masalah fiqhiyyat yang begitu banyak. Al-syaikh Ahmad ibnu al-Syaikh Muhammad al-Zarqa berpendapat sebagai berikut : “kalau saja tidak ada kaidah fiqh ini, maka hukum fiqh yang bersifat furu’iyyat akan tetap bercerai berai.” Dalam kontek studi fiqh, al-Qurafi menjelaskan bahwa syar’ah mencakup dua hal : pertama, ushul; dan kedua, furu’, Ushul terdiri atas dua bagian, yaitu ushul al-Fiqh yang didalamnya terdapat patokan-patokan yang bersifat kebahasaan; dan kaidah fiqhyang di dalamnya terdapat pembahasan mengenai rahasia-rahasia syari’ah dan kaidah-kaidah dari furu’ yang jumlahnya tidak terbatas. 2.7. Perbedaan Kaidah Ushul dan Kaidah Fiqh 1. Kaidah ushul adalah cara menggali hukum syara’ yang praktis. Sedangkan kaidah fiqh adalah kumpulan hukum-hukum yang serupa yang kembali kepada satu hukum yang sama. 2. Kaidah-kaidah ushul muncul sebelum furu’ (cabang). Sedangkan kaidah fiqh muncul setelah furu’. 3. Kaidah-kaidah ushul menjelaskan masalah-masalah yang terkandung di dalam berbagai macam dalil yang rinciyang memungkinkan dikeluarkan hukum dari dalil-dalil tersebut. Sedangkan kaidah fiqh menjelaskan masalh fiqh yang terhimpun di dalam kaidah. BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan a. Qawaidul fiqhiyah adalah suatu perkara kulli (kaidah-kaidah umum) yang berlaku pada semua bagian-bagian atau cabang-cabangnya yang dengannya dapat diketahui hukum-hukum cabang itu. b. Sejarah perkembangan dan penyusunan Qawaidul Fiqhiyah diklasifikasikan menjadi 3 fase, yaitu: 1. Fase pertumbuhan dan pembentukan 2. Fase perkembangan dan kodifikasi 3. Fase kematangan dan penyempurnaan. c. Kaidah fiqh dibagi menjadi lima yang biasa disebut panca kaidah asasiah yang semula dinamakan kaidah ushul, yaitu kaidah pokok dari semua kaidah fiqhiyah yang ada. Setiap permasalahan furu’iyah dapat diselesaikan dengan kalimat kaidah tersebut walaupun seorang mujtahid belum sempat memperhatikan dasar-dasar hukum secara tafshili. d. Manfaat dari kaidah Fiqh (Qawaidul Fiqh): 1. Mengetahui prinsip-prinsip umum fiqh dan akan mengetahui pokok masalah yang mewarnai fiqh dan kemudian menjadi titik temu dari masalah-masalah fiqh. 2. Dengan memperhatikan kaidah-kaidah fiqh akan lebih mudah menetapkan hukum bagi masalah-masalah yang dihadapi 3. Dengan kaidah fiqh akan lebih arif dalam menerapkan materi-materi dalam waktu dan tempat yang berbeda, untuk keadaan dan adapt yang berbeda. 4. Meskipun kaidah-kaidah fiqh merupakan teori-teori fiqh yang diciptakan oleh Ulama, pada dasarnya kaidah fiqh yang sudah mapan sebenarnya mengikuti al-Qur’an dan al-Sunnah, meskipun dengan cara yang tidak langsung. 5. Mempermudah dalam menguasai materi hukum. 6. Kaidah membantu menjaga dan menguasai persoalan-persoalan yang banyak diperdebatkan. 7. Mendidik orang yang berbakat fiqh dalam melakukan analogi (ilhaq) dan takhrij untuk memahami permasalahan-permasalahnan baru. 8. Mempermudah orang yang berbakar fiqh dalam mengikuti (memahami) bagian-bagian hokum dengan mengeluarkannya dari tema yang berbeda-beda serta meringkasnya dalam satu topic. 9. Meringkas persoalan-persoalan dalam satu ikatan menunjukkan bahwa hokum dibentuk untuk menegakkan maslahat yang saling berdekatan atau menegakkan maslahat yang lebih besar 10. Pengetahuan tentang kaidah fiqh merupakan kemestian karena kaidah mempermudah cara memahami furu’ yang bermacam-macam. e. Kaidah fiqh dikatakan penting dilihat dari dua sudut : 1. Dari sudut sumber. 2. Dari segi istinbath al-ahkam. f. Kaidah fiqh dibedakan menjadi dua, yaitu : 1. Kaidah fiqh sebagai pelengkap. 2. Kaidah fiqh sebagai dalil mandiri. g. Perbedaan Kaidah Ushul dan Kaidah Fiqh: 1. Kaidah ushul adalah cara menggali hukum syara’ yang praktis. Sedangkan kaidah fiqh adalah kumpulan hukum-hukum yang serupa yang kembali kepada satu hukum yang sama. 2. Kaidah-kaidah ushul muncul sebelum furu’ (cabang). Sedangkan kaidah fiqh muncul setelah furu’. 3. Kaidah-kaidah ushul menjelaskan masalah-masalah yang terkandung di dalam berbagai macam dalil yang rinci yang memungkinkan dikeluarkan hukum dari dalil-dalil tersebut. Sedangkan kaidah fiqh menjelaskan masalh fiqh yang terhimpun di dalam kaidah. DAFTAR PUSTAKA Asjmuni, A Rahman. 1976. Kaidah-kaidah Fiqh. Jakarta : Bulan Bintang. Al-Nadwi, Ali Ahmad. 1998. Al-Qawaidul Fiqhiyah. Beirut : Dar al-Kalam. Asjmuni A. Rahman. Qaidah-qaidah Fiqh (Qawaidhul Fiqiyyah.) Djazuli, HA. 2006. Kaidah-kaidah Fiqh. Jakarta : kencana. Effendi, Satria. 2005. Ushul Fiqh. Jakarta : Kencana Faisal, Enceng Arif. 2004. Kaidah Fiqh Jinayah. Bandung : Pustaka Bani Quraisy. Hasbi ash-Shiddiqi, 1975.Pengantar Hukum Islam. Jakarta: Bulan bintang. Mujib, Abdul. 1978. Al-Qawaidul Fiqhiyah. Malang : UIN Press. Mubarok, Jaih. 2002. Kaidah Fiqh. Jakarta : Rajawali Press. Usman, Muslih. 1999. Kaidah-kaidah Ushuliyah dan Fiqhiyah. Jakarta : Rajawali Pers.

Popular posts from this blog

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dari berbagai ras suku…