Skip to main content

kibah dalam bahasa arab

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Aktifitas menulis (kitabah) merupakan suatu bentuk manifestasi kemampuan dan keterampilan berbahasa yang paling akhir dikuasi oleh pembelajar bahasa setelah kemampuan mendengarkan (istima’), berbicara (kalam), dan membaca (qira’ah). Dibandingkan dengan tiga kemapuan berbahasa yang lain, kemampuan menulis lebih sulit dikuasai bahkan oleh penutur asli sekalipun. Hal ini disebabkan kemampuan menulis menghendaki penguasaan berbagai unsure kebahasaan dan unsur diluar bahasa itu sendiri yang akan menjadi isi tulisan. Adapun pembelajaran menulis terpusat pada tiga hal yaitu: kemampuan menulis dengan tulisan yang benar, memperbaiki khoth, kemampuan mengungkapkan pikiran secara jelas dan detail. Seperti halnya kemampuan berbicara, kemampuan menulis mengandalkan kemampuan berbahasa yang bersifat aktif dan produktif. Kedua keterampilan bahasa ini merupakan usaha untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan yang ada pada diri seorang pemakai bahasa. Perbedaannya terletak pada cara yang digunakan untuk mengungkapkannya. Pikiran dan perasaan dalam berbicara diungkapkan secara lisan, sedangkan penyampaian pesan dalam menulis dilakukan secara tertulis. Jarang setiap orang mahir dalam empat keterampilan berbahasa sekaligus. Kebanyakan mereka mahir satu atau dua keretrampilan berbahasa. Apabila seseorang mahir dalam kalam, belum tentu maker dalam kitabah-nya. Jika seseorang mahir dalam maharoh kitabah,kemungkinan besar dapat membaca dengan baik (sesuai dengan kaidah nahwu shorof). Seseorang dikatakan mahir dalam menulis dengan baik, apabila minimal telah menguasai nahwu dan shorof. Apabila maharoh kitabah merupakan maharoh yang dikatakan sulit oleh kebanyakan siswa karena harus menguasai qawaid. Untuk menghilangkan pernyataan yang sudah mendarah daging itu, seorang guru harus pandai bagaimana cara bagaimana pembelajaran yang efektif dan menyenangkan dalam maharoh kitabah. Oleh karena itu, penulis akan memberikan gambaran bagaimana strategi pembelajaran maharoh kitabah mulai tingkat dasar (mubtadi’), tingkat menengah (mutawassith), tingkat atas (mutaqoddim). B. Rumusan Masalah Dalam makalah ini, penulis merumuskan beberapa masalah sebagai berikut: 1. Bagaimanakah proses pembelajaran kitabah? 2. Bagaimanakah strategi dalam mengajar kitabah mulai dari tingkat dasar (mubtadi’), tingkat menengah (muttawassith), tingkat atas (mutaqoddim)? C. Tujuan Penulisan 1. Untuk mengetahui proses pembelajaran kitabah. 2. Untuk mengetahui strategi dalam mengajar kitabah mulai dari tingkat dasar (mubtadi’), tingkat menengah (muttawassith), tingkat atas (mutaqoddim) BAB II PEMBAHASAN A. Proses pembelajaran kitabah Dalam pembelajaran menulis, proses pembelajarannya bisa dengan beberapa tingkatan yaitu dimulai dengan pelajaran imla’ sampai ta’bir. 1. Pembelajaran Imla’ Macam-macam imla’: a. Imla’ manqul Tingkat pertama ini dalam pembelajaran menulis bahasa Arab bertujuan untuk memperbaiki kemampuan siswa dalam menulis huruf dan kata bahasa Arab. Tingkat ini penting untuk mendapat perhatian dalam belajar bahas Arab karena ada beberapa sebab yang timbul dari aturan penulisan bahasa Arab, diantaranya adalah: 1. Kesulitan menulis dari arah kanan ke kiri bagi para pembelajar yang sudah terbiasa menulis dari arah kiri ke kanan. 2. Perbedaan penulisan huruf-huruf Arab dengan huruf latin yang banyak digunakan dalam kebanyakan bahasa. 3. Perbedaan bentuk huruf bahasa Arab karena perbedaan letaknya, di awal kata, ditengah atau diakhir kata. 4. Perbedaan bentuk huruf kearena perbedaan jenis khatnya. 5. Sebagian huruf terucap dan tertulis dan sebagian lain hanya terucap saja tidak tertulis. 6. Terdapat cirri khusus kebahasaan seperti tanwin, tadh’if, ta’ maftuhah dan ta’ marbuthah. 7. Pemberian titik juga harus mendapat perhatian dan kemampuan untuk membedakan. Diantara latihan yang bisa digunakan pada tingkat imla’ ini adlah sebagai berikut: 1. Memberikan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya diambil dari teks bacaan. 2. Memberikan beberapa kata yang tidak urut dan meminta siswa untuk mengurutkan sehingga menjadi kalimat sempurna. 3. Menyalin teks pendek yang isinya berhubungan menyenangkan siswa. 4. Latihan merubah kalimat. b. Imla’ mandhur Tingkat imla’ ini kelanjutan dari imla’ manqul, dimana pada tingkat ini guru bisa memberikan latihan sebagai berikut: 1. Guru meminta siswa untuk menyiapkan teks tertentu yang ditentukan oleh guru untuk dijadikan tema tulisan atau imla’, siswa membaca teks dirumah dan kemudian ketika di kelas didiskusikan dengan guru secara tertulis di papan tulis dan mengeluarkan kata-kata yang sulit membacanya, kemudian guru menjelaskan cara penulisannya. 2. Siswa diminta untuk menghafal teks pendek dan sederhana kemudian mengeja kata-katanya. Setelah itu siswa diminta untuk menulisnya dan diperbolehkan melihat teks sekiranya dibutuhkan. 3. Meminta siswa menulis sebagian kalimat yang sudah dipelajari, dibaca dan ditulis dalam imla’ manqul tanpa melihat kembali pada buku. Kemudian membandingkan tulisan yang ditulis dalamidengan tulisan imla’ manqul dari sisi kebenaran tulisannya. 4. Juga bisa dengan mengemukakan satu atau dua paragraf yang pernah dibaca siswa kemudian dibuang sebagian kata-kata kuncinya, kemudian siswa diminta menyempurnakannya. Pada latihan ini guru bisa membantu siswa dengan pertanyaan dengan mengisi titik. Setelah itu guru menampilkan jawaban yang benar dan siswa mengoreksi pekerjaannya. 5. Guru memberikan pertanyaan yang jawabannya berupa satu atau dua kalimat yang telah dihafal siswa, kemudian guru meminta siswa untuk menuliskan jawabannya tersebut. 6. Guru mengeluarkan kata-kata sulit dalam teks imla’ dan menuliskan pada papan tulis, kemudian siswa menulisnya beberapa kali pada bukunya. c. Imla’ Ikhtibary Imla’ ikhtibary ini pelaksanaanya membutuhkan tiga kemampuan, yaitu kemampuan mendengar, kemampuan menghafal, dan kemampuan untuk menuliskan apa yang di dengar sekaligus dalam waktu yang sama. Imla’ ikhtibary ini bertujuan untuk; 1. Memperkuat hubungan antara suara dan rumus yang telah dipelajari siswa ketika membaca. 2. Mengevaluasi perkembangan dan kemajuan ingatan terhadap yang didengar siswa. Hal-hal yang perlu diperhatikan oleh seorang guru ketika proses imla’: 1. Guru membaca teks dengan kecepatan sedang. 2. Mendiktekan teks dengan kecepatan yang rata, karena ketika sangat lambat kata perkata bisa merusak tujuan imla’. 3. Hendaknya guru berusaha untuk membuat penggalan-penggalan kalimat yang bermakna dalam mendiktekannya. 4. Guru mengucapkan satu penggalan satu kali dan siswa menulisnya, kemudian guru mengulangi sekali lagi agar siswa bisa mengulangi apa yang telah ditulis dan bisa mengoreksinya. 5. Guru tidak mengabulkan permintaan siswa untuk mengulangi di tengah-tengah mendikte. 6. Sambil mendikte semua, guru bisa memberi waktu sebentar kepada siswa untuk mengulagi dan mengoreksi kebenaran tulisan. 7. Bagi siswa yang tidak menemui kesulitan dalam istima’ dan menulis bisa diberi latihan yang lebih sulit agar tidak jenuh dan tetap termotivasi untuk belajar. 2. Pembelajaran Ta’bir Pembelajaran ta’bir ini terbagi menjadi dua tingkatan yang sesuai dengan tingkat kebahasaan siswa, yaitu: 1. Ta’bir Muwajjah (terbimbing) Pada tingkat ini siswa telah mengenal ejaan dengan beratus-ratus kata dan telah menguasai perbendaraan kata yang banyak serta telah berkembang konsep-konsep kebahasaanya. Pada tingkat ini siswa diberi kebebasan untuk memilih kata-kata, tarkib, dan bentuk kebahasaan dalam latihan menulis tetapi tidak diperbolehkan menulis ta’bir diatas tingkatan kebahasaannya. Siswa menulis satu paragraf atau dua paragraf seputar apa yang mereka telah dengar dan mereka baca, sering dengan bertambahnya kemampuan mereka dalam seni dan gaya menulis, mereka siap untuk melanjutkan pada tingkat berikutnya. Oleh sebab itu pembelajaran pada tingkat ini harus bertahap dimulai dari menulis satu kalimat sederhana dengan menulis satu kalimat kemudian berkembang menjadi beberapa kalimat, setelah itu berlanjut menjadi satu paragaraf kemudian dua paragraf dan seterusnya. Adapun beberapa latihan yang bisa digunakan untuk pembelajaran pada tingkat ini adalah: a. Dimulai dengan latihan menyempurnakan kalimat. Pada latihan ini bisa saja siswa menyempurnakan kalimat berbeda dengan siswa yang lain dan semuanya bisa benar. b. Lanjutan latihan sebelumnya, bisa menggunakan latihan menganalisis, yaitu dengan mengganti ungkapan-ungkapan yang bisa memberi makna lain pada kalimat. Ini memberi kesempatan kepada siswa untuk mengungkapakan berbagai makna dalam satu kalimat. c. Siswa diberi kalimat-kalimat pendek dan sederhana kemudian diminta untuk memanjangkan atau menambah dengan kata-kata baru. d. Mengajukan beberapa kata yang tidak boleh diulang untuk membentuk kalimat tetapi harus ditambah dengan satu kata atau dua kata sehingga menjadi kalimat sempurna. e. Menampilkan kalimat-kalimat dan diubah salah satu katanya sehingga menunutut untuk mengubah kata yang lain. Contoh: 1. اجعل الجملة التالية للمبنى للمجهول وغير ما يلزم 2. اجعلها للمثنى المذكر وغير ما يلزم 3. استبدل الفعل في الجملة بالإسم وغير ما يلزم f. Bisa juga dengan mengkhususkan latihan dengan memakai bentuk-bentuk waktu fi’il g. Bisa dengan menggunakan pertanyaan yang harus dijawab siswa dengan apa yang telah didengar atau telah dibaca dengan bentuk jawaban tertulis. h. Bisa pindah dalam bentuk paragraf, siswa diberi satu paragraf dan diminta untuk merubah fiilnya dari madhi ke mudhori’ atau isimnya dari mufrod ke mustanna atau ke jamak, atau dari mudzakar ke muannats. i. Atau juga bisa berlatih dengan menggunakan kerangka karangan seperti menggunakan urutan pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya secara urut akan membentuk paragraf atau cerita. j. Bisa juga dengan menggunakan latihan meringkas bacaan atau tema-tema dalam buku atau majalah, kemudian mendiskusikan hasilnya bersama-sama di kelas setelah siswa diminta untuk menuliskan ringkasan diskusi. Latihan ini mendorong siswa untuk mencari sumber-sumber pengetahuan, pikiran-pikiran yang bisa membantu mereka dalam menulis, seperti menggunakan kitab-kitab refrensi. k. Menyempurnakan kalimat dengan penjelasan atau menjelaskan tentang sesuatu. l. Menggunakan gambar dan lukisan seperti kartu bergambar, gambar pemandangan, gambar-gambar reklame. m. Latihan menjelaskan kondisi tertentu. n. Bisa juga dengan mengacu pada kegiatan-kegiatan seperti rekreasi, bermain dan lain-lain. 2. Ta’bir Hurr (menulis bebas) Tingkatan ini merupakan tingkatan terakhir dari pembelajaran menulis. Pada tingkat ini pembelajaran dimulai dengan pemilihan tema yang sesuai dengan tingkat kebahasaan siswa dari sisi kosokata, tarkib, dan penggunaan kaídah-kaidah bahasa. Mungkin tema yang sesuai adalah seputar teks-teks bacaan pada buku pelajaran tetapi kemudian diperluas dengan pengalaman atau pikiran-pikiran yang bisa membawa pikiran siswa pada hal-hal yang berhubungan dengan teks. Untuk itu hal penting yang bisa membantu siswa dalam mencari itu semua adalah pertanyaan-pertanyaan yang mendorong mereka untuk mencari jawabannya diluar teks buku. Diantara manfaat menggunakan teks-teks bacaan dalam buku untuk tahap awal pembelajaran mengarang ini adalah sebagai titik batu loncatan bagi siswa yang akan mengarungi tempat yang luas yang penuh dengan pikiran-pikiran, pengalaman-pengalaman dan lain sebagainya. Diantara manfaatnya lagi agar baik guru maupun siswa tidak melompat langsung dari guru maupun siswa tidak melompat langsung dari kitabah muwajjah ke kitabah hurrah yang mugkin berakibat terjadinya kesalahan-kesalahan. Diantara tujuan awal dengan menulis karangan dengan tema seputar tema-tema bacaan dalam buku teks adalah melatih siswa menjelaskan, menimbang realita, menampilkan pikiran-pikiran serta menemukan penguat-penguat. Juga melatih siswa bagaiman memeperoleh pikiran dan kemudian mengungkapkannya serta menyampaikan dengan cara yang sistematis, menuangkan kedalam bentuk tulisan yang mudah untuk difahami, menyampaikan pikiran-pikirannya secara urut, dan sampailah pada sebuah kesimpulan yang jelas. B. Strategi Pembelajaran Maharoh Kitabah Beberapa strategi pembelajaran maharoh kitabah berdasarkan tingkatannya: Jenis-jenis karangan (Insya’): 1. Eksposisi sederhana Misalnya menulis definisi tentang kata sehari-hari yang dilihat atau didengar oleh siswa, komentar singkattentang suatu kejadian atau keadaan. Misalnya definisi tentang meja, mobil, mesjid, pasar dll. 2. Narasi/ cerita Menulis berbagai macam kejadian dengan urutan yang tepat. Misalnya menceritakan sebuah kecelakaan yang dialaminya sendiri. Untuk membantu siswa dapat digunakan gambar berangkai tentang suatu kejadian atau kronologi fenomena dalam kehidupan. 3. Deskripsi / pemerian Melatih menggunakan kat-kata kongrit, memilih rincian untuk mendukung sebuah kesan dengan menggunakan bahasa yang akurat, misalnya deskripsi tentang daerah pariwisata. 4. Surat Ada beberapa macam surat, antara lain: surat persahabatan surat keluarga, surat resmi. Penulisan surat ini juga mengandung unsur-unsur narasi dan deskripsi. 5. Kreasi / Argumentatif Jenis ini sebaiknya untuk tingkat lanjut. Karena disini penulis dituntut untuk menulis secara logis, mampu mengutarakan atau mendukung suatu pendapat dengan argumentasi dan bukti-bukti yang cukup. Misalnya karangan dengan topik ”menurut pendapat saya…”, menyusun argumentasi yang menyatakan setuju atau tidak setuju terhadap suatu peraturan, nilai, tingkah laku atau isu atau masalah yang sedang berkembang. 6. Imajinasi Jenis ini juga untuk tingkat lanjut. Kalau jenis argumentatif, menuntut daya pikir, maka jenis imajinasi ini menuntut daya imajinasi. Faktor bakat sukup besar pengarunya. Misalnya mengarang sebuah fiksi dalam bentuk cerita pendek. BAB III PENUTUP A. Simpulan Proses pembelajaran kitabah: 1. Pembelajaran Imla’ Macam-macam Imla’: a. Imla’ manqul b. Imla’ mandur 2. Pembelajaran Ta’bir Macam-macam ta’bir: a. Ta’bir Muwajjah (terbimbing) b. Ta’bir Hurr (menulis bebas) Strategi pembelajaran maharoh kitabah: 1. Tingkat Pemula (mubtadi’) a. Menyalin satuan-satuan bahasa yang sederhana b. Menulis satuan bahasa yang sederhana c. Menulis pernyataan dan pertanyaan yang sederhana d. Menulis paragraf pendek 2. Tingkat Menengah (mutawassith) a. Menulis pernyataan dan pertanyaan b. Menulis paragraf c. Menulis surat d. Menulis karangan pendek e. Menulis laporan 3. Tingkat Atas (mutaqoddim) a. Menulis paragraf b. Menulis surat c. Menulis berbagai jenis karangan d. Menulis laporan Macam-macam karangan: 1. Eksopsisi sederhana 2. Narasi/cerita 3. Deskripsi/pemerian 4. Surat 5. Kreasi/argumentasi 6. imajinasi c. Saran Teknik pembelajaran juga berperan dalam mencapai tujuan dari suatu pembelajaran. Apabila strategi yang diguankan dalam pembelajaran itu tepat dan bagus, maka pembelajaran akan berhasil. Oleh karena itu, seorang guru harus kreatif dalam membuat strategi dalam mengajar.

Popular posts from this blog

CONTOH AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR ( MUBES ) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA (IPPM) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 Minggu, 16 November 2010 WAKTU KEGIATAN PETUGAS TEMPAT 0 7 . 3 0 – 0 8 .00 Persiapan panitia Panitia Aula Rumah Bapak Prof. Dr. Safrion, MS 0 8 . 3 0 – 09.30 Pembukaan : F   Master of Ceremony (MC) F   Pembacaan Ayat suci alquran F   Sari Tilawah F   Menyanyikan Lagu Indonesia Raya F   Laporan Ketua Panitia F   Sambutan Ketua IPPM Bundo Kanduang Malang F   Sambutan Tuan Rumah F   Sambutan Ketua IKM Sehati Malang sekaligus membuka acara secara resmi F   Doa F   Penutup Robert   Ardian Maulid Wanda Wanda Iqsan Dinata Andri Zulanda Prof. Dr. Safrion, MS Prof. Dr. dr.H.Achdiat Agoes, Sp. S Eka Rizal, S.Pd 09.30 – 11.30 §       SIDANG PLENO I : Pembahasan Agenda Acara MUBES I

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dar

CONTOH TATATERTIB MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN TATA TERTIB MUSYAWARAH BESAR (MUBES) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA ( IPPM ) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Musyawarah Besar IPPM Bundo Kanduang merupakan rapat tertinggi ditingkatan Organisasi daerah IPPM Bundo Kanduang Malang 2.       Musyawarah Besar I II   adalah forum permusyawaratan untuk mengemban amanat oganisasi dan dilaksanakan pada akhir periode untuk menghasilkan rekomendasi kepada kepengurusan yang selanjutnya 3.       Musyawarah Besar I II merupakan permusyawaratan anggota IPPM Bundo Kanduang Malang yang disingkat dengan MUBES I II BAB II TUGAS DAN WEWENANG Pasal 2 Menetapkan pola dan garis-garis besar kebijakan didalam penyelenggaraan organisasi ikatan pemuda pelajar mahasiswa bundo kanduang Mengevaluasi dan mengesahkan laporan pertanggung jawaban pengurus IPPM bundo kanduang Membahas sekaligus menetapkan AD/ART organisasi ikatan pemuda pelajar mahasi