Skip to main content

Makna Keadilan Tuhan

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Tugas makalah ini dibuat sebagai bahan latihan yang diberikan oleh dosen pembimbing matakuliah Theologi Islam dengan judul Makna Keadilan Tuhan. Oleh karena itu, kami sebagai mahasiswa mengucapkan terima kasih kepada Bapak M. Anwar Firdausi, M. Ag sebagai dosen pembimbing. Pentingnya kami membahas masalah Makna Keadilan Tuhan adalah karena banyaknya perselisihan antara aliran yang satu dengan yang lain terkait dengan pemahaman mereka tentang makna keadilan Tuhan. Pangkal persoalan keadilan Tuhan adalah keberadaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Sebagai pencipta alam, Tuhan haruslah mengatasi segala yang ada, bahkan harus melampaui segala aspek yang ada itu. Ia adalah eksistensi yang punya kehendak dan kekuasaan yang tidak terbatas karena tidak ada eksistensi lain yang mengatasi dan melampaui eksistensi-Nya. Ia difahami sebagai eksistensi yang esa dan unik. Inilah makna umum yang dianut aliran-aliran kalam dalam memahami tentang kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan. Oleh karena itu kami menyusun makalah ini untuk menjelaskan bagaimana makna dari keadilan Tuhan yang sebenarnya. 1.2 Rumusan Masalah 1. Apakah makna keadilan Tuhan itu? 2. Bagaimana memahami makna keadilan Tuhan itu? 3. Bagaimana makna keadilan Tuhan dalam perspektif Islam? 1.3 Tujuan 1. Mahasiswa dapat mengetahui makna dari keadilan Tuhan 2. Mahasiswa dapat memahami makna keadilan Tuhan 3. Mahasiswa dapat mengetahui cara pandang Islam dalan memaknai makna keadilan Tuhan. BAB II PEMBAHASAN 2.1 Makna Keadilan Tuhan Paham keadilan Tuhan banyak tergantung pada paham kebebasan manusia dan paham sebaliknya, yaitu kekuasaan mutlak Tuhan. Kaum Mu’tazilah yang percaya pada kekuatan akal dan kemerdekaan serta kebebasan manusia, mempunyai tendensi untuk meninjau wujud ini dari rasio dan kepentingan manusia. Mereka selanjutnya berpendapat bahwa manusia berakal sempurna, kalau berbuat sesuatu, pasti mempunyai tujuan. Manusia berbuat demikian untuk kepentingannya sendiri atau untuk kepentingan orang lain. Tuhan juga mempunyai tujuan dalam perbuatan-perbuatan-Nya, tetapi karena Tuhan Mahasuci dari sifat berbuat untuk kepentingan diri sendiri, perbuatan-perbuatan Tuhan adalah untuk kepentingan mawjud lain (selain Tuhan). Berlandaskan argumen-argumen ini kaum Mu’tazilah berkeyakinan, bahwa wujud ini diciptakan untuk manusia sebagai makhluk tertinggi, dan oleh karena itu mereka mempunyai kecenderungan untuk melihat segala-galanya dari sudut kepentingan manusia. Pangkal persoalan kehendak mutlak dan keadilan Tuhan adalah keberadaan Tuhan sebagai pencipta alam semesta. Paham keadilan Tuhan, dalam pemikiran kalam, bergantung pada pandangan, apakah manusia punya kebebasan dalam berkehendak dan berbuat? Ataukah manusia itu hanya terpaksa saja? Perbedaan pandangan terhadap bebas atau tidaknya manusia ini menyebabkan perbedaan penerapan makna keadilan, yang sama-sama disepakati mengandung arti meletakkan sesuatu pada tempatnya. Pembahasan mengenai keterpaksaan dan kebebasan (jabr dan ikhtiyar) dengan sendirinya akan mengantarkan kita pada kajian tentang keadilan. Dari satu segi, ada hubungan langsung antara kebebasan dan keadilan, dan pada sisi yang lain antara jabr dan penafsiran keadilan. Artinya, ketika manusia itu bebas memilih, maka pahala dan siksa akan dimiliki konsep dan makna yang penting. Sedangkan manusia yang kehendaknya dipasung dan kebebasannya dirampas atau yang keinginannya berlawanan dengan kehendak Tuhan atau dengan faktor-faktor alamiah, adalah orang-orang yang kedua tangannya terbelenggu dan kedua matanya tertutup sehingga taklif (perintah Allah yang wajib kita laksanakan) menjadi tak bermakna dan balasanpun tak berguna bila tidak dinisbatkan kepadanya. Pertanyaan pertama yang muncul dalam pikiran dan mesti dijawab dengan jelas adalah, Apa keadilan itu? Kata adil digunakan dalam 4 hal: 1. Yang dimaksud dengan adil di sini adalah keadaan yang seimbang. Apabila kita melihat kelompok tertentu yang di dalamnya terdapat bagian-bagian yang beragam yang menuju satu tujuan tertentu maka pasti terdapat banyak syarat, dan dari segi kadar yang dimiliki oleh setiap bagaian tersebut. Keadilan dengan pengertian proporsional dan seimbang termasuk dalam keharusan-keharusan yang menimbulkan bahwa Allah itu Maha bijaksana dan Maha mengetahui. 2. Keadilan adalah persamaan dan penafsiran terhadap pembedaan apapun. Apabila yang dimaksud dengan keadilan itu mengharuskan tidak terjaganya bentuk-bentuk yang beragam untuk dimiliki, dan mengharuskan kita memandang setiap sesuatu dan setiap orang dengan pandangan yang sama, maka keadilan seperti itu adalah kedzaliman itu sendiri. 3. Keadilan adalah memelihara hak-hak individu dan memberikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya, dan kedzaliman dengan pengertian seperti ini adalah perusakan dan pelanggaran terhadap hak-hak orang lain. 4. Keadilan adalah memelihara hak atas berlanjutnya eksistensi, dan tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan peralihan rahmat suatu terdapat banyak kemungkinan untuk eksis dan melakukan transformasi. Dengan demikian, keadilan Tuhan menurut pandangan ini berarti bahwa suatu yang eksis (mawjud) mengambil perwujudan dan kesempurnaanya dalam kadar yang menjadi haknya dan sejalan dengan kemungkinan yang dapat dipenuhi olehnya. 2.2 Perbandingan Antar Aliran Tentang Memaknai Makna Keadilan Tuhan Aliran kalam rasional yang menekankan kebebasan manusia cenderung memahami keadilan Tuhan dari sudut kepentingan, sedangkan aliran kalam tradisional yang memberi tekanan pada ketidakbebasan manusia di tengah kekuasaan dan kehendak mutlak Tuhan, cenderung memahami keadilan Tuhan dari sudut Tuhan sebagai pemilik alam semesta. Disamping itu, perbedaan aliran-aliran kalam dalam persoalan ini didasari pula oleh perbedaan pemahaman terhadap kekuatan akal dan fungsi wahyu. 1. Aliran Mu’tazilah Kaum mu’tazilah karena percaya pada kekuatan akal dan kemerdekaan serta kebebasan manusia, mempunyai tendensi untuk meninjau wujud ini dari sudut rasio dan kepentingan manusia. Mu’tazilah yang berprinsip keadilan Tuhan mengatakan bahwa Tuhan itu adil dan tidak mungkin berbuat dzalim dengan memaksakan kehendak kepada hamba-Nya kemudian mengharuskan kepada hamba-Nya itu untuk menanggung akibat perbutannya. Dengan kebebasan itu, manusia dapat bertanggung jawab atas perbuatannya. Tidaklah adil jika Tuhan memberikan pahala atau siksa kepada hamba-Nya tanpa menggiringinya dengan memberikan kebebasan terlebih dahulu. Aliran mu’tazilah mengatakan, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Abd. Al-Jabbar, bahwa keadilan Tuhan mengandung Tuhan tidak berbuat dan tidak memilih yang buruk, tidak melalaikan kewajibannya kepada manusia, dan segala perbuatan-Nya adalah baik ayat-ayat Al-Qur’an yang dijadikan sandaran dalam memperkuat pendapat mu’tazilah adalah ayat-ayat Al-Qur’an Q.S Al-Anbiya’:47, Q.S Yasin:54, Q.S Fushilat:46, Q.S An-Nisa’:40, dan Q.S Kahfi:49. Keadilan Tuhan menurut konsep mu’tazilah merupakan titik tolak dalam pemikirannya tentang kehendak mutlak Tuhan. Keadilan Tuhan terletak pada keharusan adanya tujuan dalam perbuatan-perbuatannya. Yaitu kewajiban berbuet baik dan terbaik bagi makhluk dan member kebebasan kepada manusia. Adapun kehendak mutlaknya dibatasi oleh kehendak mutlak Tuhan itu sendiri 2. Aliran Asy’ariyah Kaum Asy’ariyah karena percaya pada kemutlakan kekuasaan Tuhan. Maka keadilan Tuhan mengandung arti bahwa Tuhan mempunyai kekuasan mutlak terhadap makhluk-Nya dan dapat berbuat sekehendak hati-Nya. Tuhan dapat memberi pahala terhadap hamba-Nya atau memberi siksa sekehendak hati-Nya, dan itu semua adil bagi Tuhan. Justru tidak adil jika Tuhan tidak dapat berbuat sekehendak-Nya karena Dia adalah penguasa mutlak. Keadilan dalam paham Asy’ariyah ialah keadilan raja absolut, yang memberi hukuman menurut kehendak mutlak-Nya. Tidak terikat pada suatu kekuasaan, kecuali kekuasaan-Nya sendiri. Ayat-ayat yang dijadikan sandaran oleh aliran sy’ariyah adalah Q.S Al-Buruj:6, Q.S Yunus:99, Q.S As-Sajadah:13, Q.S Al-An’am:112, Q.S Al-Baqoroh:253. Keadilah Tuhan pada konsep Asy’ariyah terletak pada kehendak mutlak-Nya. 3. Aliran Maturidiyah Dalam memahami keadilan Tuhan, aliran ini terpisah menjadi dua, yaitu maturidiyah Samarkand dan Bukhara. Kehendak mutlak Tuhan, menurut maturidiyah Samarkand, dibatasi oleh keadilan Tuhan, Tuhan adil mengandung arti bahwa segala perbuatan-Nya adalah baik dan tidak mampu untuk berbuat buruk serta tidak mengabaikan kewajiban-kewajiban-Nya terhadap manusia, oleh karena itu, Tuhan tidak akan memberi beban terlalu berat kepada manusia dan tidak sewenang-wenang dalam memberikan hukuman karena Tuhan tidak dapat berbuat dzalim. Tuhan akan memberi upah atau hukuman kepada manusia sesuai dengan perbuatannya. Adapun maturidiyah Bukhara berpendapat bahwa Tuhan mempunyai kekuasaan mutlak. Tuhan berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya dan menentukan segala-galanya. Tidak ada yang dapat menentang atau memaksa Tuhan dan tidak ada larangan bagi Tuhan. Dengan demikian dapat diambil pengertian bahwa keadilan Tuhan terletak pada kehendak mutlak-Nya. Tidak ada satu dzatpun yang dapat berkuasa dari pada-Nya dan tidak ada batasan-batasan bagi-Nya. Tampaknya aliran maturidiyah Samarkand lebih dekat dengan Asy’ariyah. . Lebih jauh lagi, maturidiyah Bukhara berpendapat bahwa ketidak adilan Tuhan haruslah dipahami dalam konteks kekuasaan dan kehendak mutlakTuhan. Secara jelas Al-Badzawi mengatakan bahwa Tuhan tidak mempunyai tujuan dan tidak mempunyai unsur pendorong untuk menciptakan kosmos Tuhan berbuat sekehendak-Nya sendiri. Ini berarti, bahwa alam tidak diciptakan Tuhan untuk kepentingan manusia atau dengan kata lain, konsep keadilan Tuhan bukan diletakkan untuk kepentingan manusia, tetapi pada Tuhan sebagai pemilik mutlak. 2.3 Makna Keadilan Tuhan dalam Perspektif Islam Keadilan teologis adalah keadilan yang dimengerti didasarkan dari doktrin yang ditetapkan oleh para teolog sehubungan dengan sifat-sifat iradah dan keadilan Tuhan. Dalam hal ini para teolog muslim terbagi dalam dua madzhab pokok, madzhab wahyu dan madzhab akal budi. Masing-masing menekankan pada salah satu sifat Tuhan, dan mengakibatkan suatu perbedaan tak berkesudahan tentang hakikat keadilan dan kemamapuan manusia untuk merealisasikannya di muka bumi.demikian pula tetang nasib manusia di akhirat. Pemahaman Qadariyah tentang keadilan itu direvitalisasi oleh kaum muta’zilah yang menyebut dirinya sebagai pendukung keadilan dan tauhid (ahlu al-adl wa al-tawahid) . mereka berpendapat bahwa manusia adalah pencipta perbutan-perbutannya sendiri, adil atau tidak. Karena itu, ia harus memikul beban tanggung jawab atas segala aktivitas yang pernah dilakukannya, dan diganjar atau dihukum dihari kemudian kelak. Para teolog sependapat keadilan Ilahi itu sempurna, abadi dan ideal. Kaum mu’tazilah berpendapat bahwa keadilan adalah pernyataan dari esensi Allah dan Allah hanya melakukan yang terbaik (al-aslah) bagi manusia. Ini berdasarkan karena kaum mu’tazilah merealisasikan memakai akal budi, dan apabila ketidakselarasan antara akal dan wahyu, maka mereka berpandangan bahwa wahyu dinterpretasi sejalan dengan akal, karena diakui bahwa akal adalah kekuatan yang dengannya manusia memperoleh pengetahuan dan antara perbutan adil dan tidak. Oleh karena itu mu’tazilah menolak literatur teks-teks wahyu yang tidak biasa konsisten dengan makna ekpilsit, dan dalam pandangannya Allah tidak hanya adil, tetapi juga tidak dapat melakukan ketidakadilan. Sebab ketidakadilan bertentangan dengan kesempurnaan-Nya. Adapun prisip fundamental yang dipegang oleh Mu’tazila dan dinamakan Usul Al-Khamsah (lima prinsip), yaitu ; 1. Prinsip ke-Esaan Allah (al-tawhid) 2. Prinsip keadilan (al-adl) 3. Prinsip janji dan ancaman (al-wa’du wa al-wa’id) 4. Prinsip posisi antara (al-manzilatau bayana al-manzilatain) 5. Prinsip amar ma’ruf nahi mungkar . Dan dibalik pendapat kaum mu’tazilah ada beberapa kritik yang di tujukan kepada pemikiran mu’tazilah, pertama ketergantungan yang kuat pada akal sedangkan yang lain mengutamakan wahyu dari akal. Kedua terlalu mempercayaakn keadilan kepada ihktiar dan kurang memperhatikan makna dan ruang lingkup sifat-sifat keadilan dan kehendak Allah dan ketiga mu’tazilah menggunakan akal budi sebagai suatu metode penyelidikan dan mencoba memberdayakan doktrin-doktrin yang tidak dengan persuasi, tetapi bahkan dengan paksaan negara. Sebagai reaksi pemikiran mu’tazilah, Asy;ari menegaskan bahwa keadilan tidak tunduk kepada keinginan bebas manusia. Karena Allah pencipta segala sesuatu dan tidak tersisa bagi keadilan manusia atau keadilan rasional dan keadilan adalah pernyataan dari kehendak Allah, dan manusia diperintah untuk adil, sebab Allah maha tahu apa yang baik dan buruk bagi manusia. Sebagai mana dijelaskan dalam kitab Al-Ibanah, Al-Asy’ari menyebutkan 51 pokok akidah ahluhsuhnah wal jama’ah dalam kaitan keadilan Allah. Dan sesungguhnya kebaikan dan keburukan adalah dengan qadla dan qadar Allah, baik buruknya, manis maupun pahitnya (ahlus sunnah wal jama’ah) percaya bahwa yang memberikan madharat kepada mereka sendiri kecuali dengan kehendak Allah. Gagasan Asy’ary merupakan dukungan terhadap akidah para ahlul hadist yang dipelopori oleh Ahmad Ibn Hanbal kedua pemikiran tentang perbutan manusia berseberangan pada kutub yang paling ekstrim. Karena itu kedua pemikiran yang sulit dipertemukan itu, layak ditampilkan gagasan , ketiga, jalan tengah yang diperkenalkan para Imam Syi’ah, yaitu “la jabra wa tafwidlu bal al-amru al-amrayani” (bukan terpaksa sepenuhnya, dan bukan pula merdeka sepenuhnya, melainkan satu perkara diantara dua perkara). Sebelum membahas perbutan manusia apakah sepenuhnya merdeka atau terpaksa atau posisi tengah,terlebih dahulu akan dibahas akar persoalannya, yaitu keadilan tuhan. Nasir Makarim Syirazi, memberikan alasan mengapa sifat keadialn Tuhan perlu dikedepankan dalam aspek teologi, padahal masih banyak sifat Tuhan yang lain, seperti al-alim, al-qadir, al-halim, al-rahman dsb. Al-adl dipandang penting karena sifat yang lain kebanyakan bermuara kesifat al-adl, dan karena keadilan pengertian yang umum dan luas berarti “meletakkan segala yang sesutu pada tempatnya”.demikian pula misi kenabiaan dan tanggung jawab para imam dan khalifah bermuara pada keadilan Ilahi. Definisi tentang keadilan, Nazir makarim syirazi membaginya dalam dua kategori. Dalam pengertian umum, adalah sebagaimana definisi diatas, dan dalam arti khusus adalah “mura’tul huquqi al-nasi” (memberikan hak kepada yang berhak), arti keadilan Tuhan adalah tidak menyingkirkan hak-hak seseorang, juga tidak berarti memberikan hak kepada orang lain, tidak pula bersikap diskriminatif. Lain pula dengan kezaliman, yang mengambil hak-hak orang lain atau memberikan hak-hak kepada orang lain, atau penghapusan hak diskriminasi tidak terdapat dalam hakikat suci Tuhan, dan Tuhan tidak menuntut pertanggungjawaban atas dosa-dosa orang lain. Ia tidak menyamaratakan antara yang baik dan bohong. Dalam pandangan syi’ah baik dan buruk dapat dikenali dengan akal. Alasan inilah hakim dapat menjadi pemutus untuk mengukur kebenaran kenabian dan risalah yang diembannya, apakah seorang nabi benar diutus oleh Tuhan, apakah risalah yang dibawanya dapat diyakaini kebenarannya, adalah melalui tolak ukur akal.karena itulah salah satu taklif dalam beragama berakal. Menurut Syirazi, sumber kezaliman adalah: kejahilan dan ketidaktahuan, kebutuhan, ketidakmampuan, dan keserakahan.sebagaimana dipahami bahwa serta sifat-sifat buruk tersebut terdapat dalam diri tuhan,karena Dia maha mengetahui, maha kaya, maha kuasa, maka tidak ada kepentingan tuhan untuk berbuat zalim dan aniaya, dan hanya kebaikan, keadilan dan kasih sayang yang datang dari-Nya. Karena itu apabila dia menghukum orang yang jahat, maka sebenarnya hal itu akibat perbutannya sendiri. Jalan tengah yang ditawarkan oleh syi’ah adalah seperti yang dikatakan Imam Ja’far Shadiq: “la jabra wa tafwidlu bal al-amru al-amrayani”. Bahwa jabariyah dan qadariyah tidak harus dipertentangkan, tetapi dipertemukan dengan menerima keduanya.dalam pemahaman jalan tengah ini, Allah memberikan kemampuan, kehendak, serta kekuatan badani kepada kita, apabila pamberian Tuhan terputus, walaupun hanya sebentar dan hubungan kita terputus, maka kita akan hancur. Apabila kita dapat melakukan sesuatu maka hal itu adalah karena kita mempunyai kekutan yang diberikan Allah kepada kita, hal itu berlanjut dari waktu ke waktu, dan kebebasan dan kemampuan yang ada pada kita datang dari-Nya. Artinya, Dia menghendaki supaya kita bebas dan dengan memanfaatkan rahmat Allah yang sangat besar ini kita dapat mengubah diri menjadi lebih maju. BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Paham keadilan Tuhan banyak tergantung pada paham kebebasan manusia dan paham sebaliknya, yaitu kekuasaan mutlak Tuhan. Kaum Mu’tazilah yang percaya pada kekuatan akal dan kemerdekaan serta kebebasan manusia, mempunyai tendensi untuk meninjau wujud ini dari rasio dan kepentingan manusia. Kata adil digunakan dalam 4 hal: 1. Keadilan adalah persamaan dan penafsiran terhadap pembedaan apapun. 2. Yang dimaksud dengan adil di sini adalah keadaan yang seimbang. 3. Keadilan adalah memelihara hak-hak individu dan memberikan hak kepada setiap orang yang berhak menerimanya 4. Keadilan adalah memelihara hak atas berlanjutnya eksistensi, dan tidak mencegah kelanjutan eksistensi dan peralihan rahmat suatu terdapat banyak kemungkinan untuk eksis dan melakukan transformasi. Perbandingan Antar Aliran Tentang Memaknai Makna Keadilan Tuhan 1. Aliran Mu’tazilah Kaum mu’tazilah karena percaya pada kekuatan akal dan kemerdekaan, serta kebebasan manusia mempunyai tendensi untuk meninjau wujud ini dari sudut rasio dan kepentingan manusia. 2. Aliran Asy’ariyah Kaum Asy’ariyah karena percaya pada kemutlakan kekuasaan Tuhan . 3. Aliran Maturidiyah Dalam memahami keadilan Tuhan, aliran ini terpisah menjadi dua, yaitu maturidiyah Samarkand dan Bukhara. Kehendak mutlak Tuhan, menurut maturidiyah Samarkand, aliran ini lebih condong terhadap aliran Mu’tazilah, sedangkan menurut maturidiyah Bukhara lebih condong terhadap aliran Asy’ariyah. Menurut pandangan kita, aliran Mu’tazilah dalam memaknai makna keadilan Tuhan terlalu mengedepankan akal mereka, walaupun manusia diberikan akal oleh Tuhannya untuk berfikir, tapi seharusnya kita masih meminta pertolongan dari-Nya. Sedangkan aliran Asy’ariyah terlalu berpasrah diri, seakan-akan mereka tidak berusaha untuk melakukan yang lebih baik, padahal mereka di beri akal oleh Tuhannya. DAFTAR PUSTAKA Nasution , Harun. 1986. Teologi Islam. Jakarta. Universitas Indonesia Abd. Rozak, Rasihon Anwar. 2006. Ilmu Kalam. Bandung. CU Pustaka Setia Muthahhari, Murtadha. 1992. Keadilan Ilahi. Bandung. Penerbit Mizan Khaduri Majid. Teologi, op cit Departemen Agama. Al-Qur’an, op cit Al-Asy’ary, Abu Al-Hasani. al-Ibanah, sebagaimana dikutip oleh Abdullah al-Balkhy dalam Maqalat al-Islamiyyin (CD ROM al-Maktabah al-Syamilah) Subhani, Ja’far. Buhust fi al-Milal wa al-Nihal (Cet II; juz I, Qom: Lajnah Idarat al-Hawzah al-‘Ilmiyah, Rabiul awal 1413 H/1993 N), diterjemahkan oleh Hasan Mustawa dengan Judul Al-Milal wan al-Nihal, Studi Tematis Mazhab Kalam (Cet I; Pekalongan: Penerbit Al-Hadi, Rabiul awal 1418 H/ juli 1997) Nasir Makarim al-Syirazi, Lessons, op cit

Popular posts from this blog

CONTOH AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR ( MUBES ) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA (IPPM) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 Minggu, 16 November 2010 WAKTU KEGIATAN PETUGAS TEMPAT 0 7 . 3 0 – 0 8 .00 Persiapan panitia Panitia Aula Rumah Bapak Prof. Dr. Safrion, MS 0 8 . 3 0 – 09.30 Pembukaan : F   Master of Ceremony (MC) F   Pembacaan Ayat suci alquran F   Sari Tilawah F   Menyanyikan Lagu Indonesia Raya F   Laporan Ketua Panitia F   Sambutan Ketua IPPM Bundo Kanduang Malang F   Sambutan Tuan Rumah F   Sambutan Ketua IKM Sehati Malang sekaligus membuka acara secara resmi F   Doa F   Penutup Robert   Ardian Maulid Wanda Wanda Iqsan Dinata Andri Zulanda Prof. Dr. Safrion, MS Prof. Dr. dr.H.Achdiat Agoes, Sp. S Eka Rizal, S.Pd 09.30 – 11.30 §       SIDANG PLENO I : Pembahasan Agenda Acara MUBES I

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dar

CONTOH TATATERTIB MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN TATA TERTIB MUSYAWARAH BESAR (MUBES) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA ( IPPM ) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Musyawarah Besar IPPM Bundo Kanduang merupakan rapat tertinggi ditingkatan Organisasi daerah IPPM Bundo Kanduang Malang 2.       Musyawarah Besar I II   adalah forum permusyawaratan untuk mengemban amanat oganisasi dan dilaksanakan pada akhir periode untuk menghasilkan rekomendasi kepada kepengurusan yang selanjutnya 3.       Musyawarah Besar I II merupakan permusyawaratan anggota IPPM Bundo Kanduang Malang yang disingkat dengan MUBES I II BAB II TUGAS DAN WEWENANG Pasal 2 Menetapkan pola dan garis-garis besar kebijakan didalam penyelenggaraan organisasi ikatan pemuda pelajar mahasiswa bundo kanduang Mengevaluasi dan mengesahkan laporan pertanggung jawaban pengurus IPPM bundo kanduang Membahas sekaligus menetapkan AD/ART organisasi ikatan pemuda pelajar mahasi