Skip to main content

Mazhab Hambali

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Islam sangat berpengaruh terhadap setiap orang yang hidup di wilayah muslim, sehingga Islam merupakan warisan mereka yang sangat berarti. Seluruh sendi-sendi ajarannya yang utama telah dalam lubuk hati kita. Apabila kita mengenang peristiwa-peristiwa besar di masa lampau, maka secara reflek nurani kita akan kagum karena rahmat Allah dan perjuangan para ulama’ dan fuqaha’. Para prajurit Islam pertama berusaha sepenuh tenaga untuk memerdekakan bangsa-bangsa yang diperbudak di negara kekaisaran klasik. Mereka menyaksikan para pemimpin negara tersebut memeluk Islam secara kelompok. Hal ini mereka lakukan untuk menyelamatkan manusia dari keterbelakangan dan penganiayaan. Maka dari itu, kami merasa perlu mengungkap tentang kegigihan para ulama’ dan fuqaha’. Mengungkap segi-segi kehidupan dan posisi mereka di tengah-tengah masyarakat di masing-masing daerah serta menggambarkan karakteristik mereka dengan harapan kita dapat memetik pelajaran dan keteladanan dari mereka sehingga dapat membangkitkan semangat juang kita sebagai pelajar. Uraian mengenai para imam sebenarnya sangat luas dan panjang, memerlukan lembaran yang amat banyak. Sebenarnya kami juga sangat ingin sekali memaparkan kepada audience tentang profil dan pemikiran mereka satu persatu. Akan tetapi, sesuai dengan maksud kami yang hanya sekedar menjelaskan riwayat/biografi, sumber hukum dan seputar pemikiran Imam Ahmad bin Hanbal (Imam Hanbali), maka kami hanya menulis tentang beliau sebagai salah satu madzhab empat yang dianut oleh orang-orang Islam. Bila kita pelajari mazhab Imam Hanbali ini, kita perhatikan bagaimana caranya masing-masing Imam tersebut menetapkan hukum dan fatwa yang mereka berikan, maka kita akan kagum dan salut terhadap mereka. Semua mazhab itu menunjukkan perkembangan pemikiran yang dinamis di kalangan Ulama’ dan Imam dalam Islam. 1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana riwayat singkat Imam Ahmad ibn Hanbali ? 2. Apa saja sumber hukum Imam Ahmad ibn Hanbali ? 3. Bagaimana pemikiran Imam Ahmad ibn Hanbali ? 1.3 Tujuan 1. Agar mahasiswa mengetahui riwayat singkat Imam Ahmad ibn hanbali. 2. Supaya mahasiswa mengetahui sumber hukum Imam Ahmad ibn Hanbali. 3. Agar mahasiswa mengetahui pemikiran Imam Ahmad ibn Hanbali.   BAB II PEMBAHASAN 2.1 Riwayat Imam Hanbali Nama lengkap beliau adalah Al Imam Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal bin Hilal Assyaibani. Beliau dilahirkan di Bagdad pada tahun 164 H. dan wafat tahun 241 H. Ayah dan ibunya adalah orang arab. Ayahnya wafat ketika Ahmad bin Hanbal masih kanak-kanak. Bagi anak dan istrinya, ia meninggalkan sedikit bekal penghidupan, sebuah rumah, sebidang tanah, dan bangunan yang jika diurus dengan baik dapat mendatangkan penghasilan yang lumayan. Ahmad bin Hanbal mempunyai seorang paman yang bekerja melayani kepentingan Khalifah Harun Ar-Rasyid pada saat-saat sedang bepergian. Dialah yang bertugas mengumpulkan data-data tentang situasi kota Baghdad, lalu menyerahkannya kepada kepala pos (waliyul barid) untuk diteruskan kepada Khalifah. Ahmad bin Hanbal adalah seorang Imam yang banyak berkunjung ke berbagai Negara untuk mencari ilmu pengetahuan. Kota-kota yang pernah dikunjunginya ialah Siria, Hijaz, Yaman, Kufah, dan Basrah. Dengan usaha yang tak kenal lelah beliau dapat menghimpun sejumlah 4.000 hadits dalam Kitab Musnadnya. Ahmad yang sejak kecil hafal Al-Qur’an, memahami hukum-hukumnya, dan mempelajari ilmu hadits berhadapan dengan kehidupan dunia yang demikian parah. Apapun yang beliau lakukan tidak lain adalah untuk menunjukkan bahwa beliau membenci kehidupan dunia seperti itu. Beliau menanamkan semua itu sebagai bid’ah dan bernazar untuk meluruskannya dan menghidupkan Sunnah Rasulullah Saw. Namun, sebagian masyarakat menuduhnya sebagai orang yang mempersulit pelaksanaan agama. Pada mulanya beliau adalah pengikut madzhab gurunya, Imam Syafi’i, tetapi setelah beliau merasa mampu berijtihad sendiri, maka dia melepaskan dirinya dari ikatan madzhab gurunya tersebut untuk selanjutnya berijtihad dan membentuk madzhab tersendiri. Dalam menerangkan kepandaian dan keahlian beliau dalam masalah fiqih, Imam Syafi’i sendiri sebagai gurunya pernah mengatakan: ”Saya keluar dari Bagdad dan disana saya tiada meninggalkan orang yang lebih utama, lebih pandai dan lebih ahli dalam fiqih selain dari pada Ahmad bin Hanbal.” Sejak kecil, Ahmad bin Hanbal telah menyadari betapa besar kehidupan yang dihadapi ibunya dalam upaya mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Oleh karena itu, Ahmad bin Hanbal ingin sekali membalad budi dan meringankan beban ibunya. Keinginan yang demikian mendorongnya untuk belajar dengan tekun dan sungguh-sungguh hingga berhasil meraih berbagai cabang ilmu dan pengetahuan. Kesulitan hidup dan penderitaan sejak kecil tidak hanya membuat Ahmad bin Hanbal menjadi orang yang tabah dan sabar, tetapi bahkan menuntun pemikirannya sehingga dapat merumuskan kaidah-kaidah pokok hukum fiqih, juga mampu berijtihad dan ber-istinbath untuk merumuskan ketentuan-ketentuan hukum dan fatwa-fatwa mengenai berbagai kasus yang belum pernah terjadi di masa lalu. Kemampuan yang dimilikinya itu berkat kepahitan hidupnya sejak kecil, sehingga ia dapat mengerti dan memahami seluk-beluk kehidupan masyarakat, mengerti daya upaya yang dilakukan orang untuk memperoleh kehidupan, dan dapat merasakan sendiri betapa pahitnya kemiskinan. Ini membuatnya dapat mengenal dengan baik bagaimana sesungguhnya keduniaan itu. Semua itu ikut membentuk pemikirannya mengenai ilmu fiqih dan mewarnai pendapat-pendapatnya. 2.2 Sumber Hukum Dalam hal menggali dan menarik kesimpulan hukum syari’at serta dalam menetapkan fatwa-fatwanya, Imam Ahmad bersandar pada nash-nash Al-Qur’an, Sunnah Rasul, pernyataan para sahabat Nabi, serta hadis-hadis mereka, barulah ia menempuh qiyas. Mengenai soal qiyas, Imam Ahmad berkata, “ Pernah saya menanyakan hal itu kepada Asy-Syafi’i. Ia menjawab bahwa hal itu baru ditempuh dalam keadaan darurat.” Metode qiyas Imam Ahmad ibn Hanbal lebih luas daripada metode qiyas yang ditempuh oleh para imam fiqih lainnya. Imam Abu Hanifah terkenal sebagai Imam Mazhab Ar-Ro’yi dan terkenal juga sebagai imam yang paling banyak menempuh metode qiyas dalam beristinbat menemukan ketetapan hukum syari’at. Ia menyerupakan kasus yang ketetapan hukumnya tidak terdapat pada nash dengan kasus yang ketetapan hukumnya ada pada nash, apabila pada kasus tersebut terdapat persamaan ‘illat (sebab) atau hampir sama (mirip). Metode qiyas yang demikian itulah yang ditempuh oleh para ulama’ ahli fiqih lainnya, termasuk Imam Asy-Syafi’i. Lain halnya dengan Imam Ahmad. Dalam metode qiyas-nya, ia tidak melihat pada kesamaan atau kemiripan ‘illat saja, tetapi melihat lebih jauh lagi, yaitu melihat pada hikmah yang tercakup di dalam kasus pemecahan hukum. Demikianlah perluasan metode qiyas Imam Ahmad, yaitu meng-qiyas-kan hal-hal yang terang dan nyata (zhahir) dan hal-hal yang samar dan tersembunyi (khafi), suatu metode qiyas yang memperhatikan segi hikmah di samping segi illat. Keduanya oleh Imam Ahmad dimasukkan ke dalam metode qiyas-nya untuk dapat mewujudkan kemaslahatan agama dan umat. Mengenai soal ijma’, Imam Ahmad berpendapat bahwa sejak zaman pasca sahabat Nabi SAW., ijma’ tidak pernah lagi terselenggara. Imam Ahmad menegaskan,”Adalah bohong orang yang menganggap ada ijma’ (pada zaman pasca sahabat Nabi SAW).” Imam Ahmad mengidentikkan ijma’ para sahabat Nabi dengan Sunnah. Sebab, para sahabat tidak akan mempunyai persamaan pendapat mengenai suatu kasus jika mereka tidak mengetahui dan yakin benar bahwa pendapat mereka mengenai kasus itu pernah diambil oleh Rasululloh SAW. Mereka mengetahui hal itu, baik dari riwayat yang bersumber pada beliau, ataupun dari ijtihad mereka sendiri yang dibenarkan oleh Beliau. Selain itu, ia juga mengindahkan prinsip istihsan, yaitu menetapkan hukum mengenai suatu kasus dengan ketetapan hukum yang berlainan dengan hukum yang ditetapkan pada kasus yang serupa, atas dasar pertimbangan kemashlahatan agama dan umat. Imam Ahmad ibn Hanbal tidak mengabaikan prinsip istishhab, yaitu tidak mengabaikan kenyataan. Apa yang berlaku di masa lalu, tetap berlaku di masa kini dan masa mendatang, selama tidak ada dalil (alasan-alasan nyata dan konkrit) untuk dapat mengubahnya, apa yang dulu mubah tetap dibolehkan kecuali jika terdapat dalil yang membuktikan bahwa yang dahulu dibolehkan itu berubah menjadi berbahaya. Imam Ahmad ibn Hanbal juga berpegang pada prinsip dzari’ah, yaitu cara, jalan, atau sarana yang mengakibatkan terjadinya suatu perbuatan. Dalam hal ini beliau memperluas pengertiannya. Ia berpendapat, cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan hukumnya sama dengan hukum tujuannya. Cara, jalan, atau sarana yang mengakibatkan hal-hal yang haram, hukumnya adalah haram, sebaliknya cara, jalan, sarana yang mengakibatkan hal-hal yang mubah hukumnya adalah mubah. Dengan mendayagunakan akal pikiran, Imam Ahmad menarik kesimpulan –kesimpulan hukum dari nash-nash Al-Qur’an dan Sunnah serta hadist-hadist yang diriwayatkan oleh para sahabat Nabi. Selain itu, ia juga menempuh jalan qiyas dalam arti seluas-luasnya, sehingga mencakup unsur kemashlahatan (agama dan umat), unsur dzari’ah , dan unsur istishhab, kemudian menfatwakan hukum atas dasar istihsan. 2.3 Pemikiran Dalam hal ini, kami hanya melihat dari beberapa segi. Di antaranya yaitu: 1. Tentang kerusakan dan fitnah. Imam Ahmad tidak pernah menyempitkan seorangpun. Beliau bukan orang yang kasar dan keras hati, melainkan suka berdebat dengan cara yang baik dan mengajak ke jalan Allah dengan penuh kebijaksanaan dan dengan nasehat yang baik, sebagai pengamalan atas Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah. Beliau juga bukan orang yang fanatik terhadap pendapat yang sampai kepadanya. Tetapi suka berdiskusi dan tidak segan meralat pendapatnya sendiri apabila jelas bahwa pendapat orang lain lebih benar. Bahkan beliau pernah melarang penulisan fiqih yang diajarkannya, karena seringnya berubah pandangan. Imam Ahmad bukan orang yang sempit wawasan, statis, atau suka membuka aib orang lain. Beliau sama sekali bukan tipe orang seperti itu. Beliau adalah seorang ulama’ yang sangat dalam pemahamannya terhadap ruh syari’at dan seorang fuqaha’ yang sangat banyak mengadakan pembenahan terhadap kejumudan dam membuka kebebasan dalam muamalah. Imam Ahmad hidup pada masa yang diliputi bid’ah dan agama ditawar-tawar sehingga menggoyangkan sendi-sendinya. Karena itu, beliau memutuskan untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an dengan sekuat-sekuatnya. Salah seorang yang hidup semasa Imam Hanbali berkata: “Semasa hidup Imam Ahmad bin Hanbal, saya tidak pernah melihat orang yang lebih baik ketimbang beliau dalam mengumpulkan sifat-sifat berikut: taat beragama, memelihara dan menguasai diri, faqih, menguasai sastra dengan baik, berakhlak mulia, teguh hatinya, menghormati teman duduknya, dan jauh dari sifat masa bodoh. 2. Tentang kekuasaan Imam Ahmad mencari keputusan dan fiqih dari para Khulafaur Rosyidin, sehingga beliaupun sangat kagum terhadap fiqih Imam Ali bin Abi Thalib setelah mengetahuinya. Beliau mulai menyiarkan dan mempersaksikannya sehingga para Khalifah Bani Abbas sangat marah terhadapnya dan mereka bingung karenanya. Namun demikian, mereka tidak menampakkan kemarahan mereka terhadap Imam Ahmad. Ahmad tidak berpolitik dan pendapatnya tentang kekhalifahan tidak pernah mengejutkan mereka tetapi justru menyenangkan bagi para khalifah Bani Abbas, sebab Imam Ahmad berpendapat bahwa wajib mentaati Khalifah meskipun mereka menyimpang. Menurut beliau, taat kepada penguasa yang menyimpang itu lebih baik daripada fitnah yang tidak hanya menimpa orang-orang yang berbuat aniaya saja, melainkan juga menimpa orang-orang yang baik dan pemerintahan menjadi lemah. Pendapat Imam Hanbali yang demikian bukanlah pendapat murni beliau, melainkan dalam hal ini beliau sependapat dengan para Imam sebelumnya, yaitu Abu Hanifah, Imam Malik dan Imam Syafi’i. Mereka berpendapat bahwa taat kepada penguasa yang zalim disertai dengan nasehat kepadanya adalah lebih baik daripada pemberontakannya. 3. Pengaruh Imam Syafi’i Pengaruh Asy-Syafi’i kepada Imam Hanbali sangat besar tidak seperti pengaruh seorang guru kepada murid pada umumnya. Sehingga ketika Ahmad telah menjadi seorang Imam yang besar pernah berkata: “Apabila saya ditanya tentang sesuatu yang tidak saya jumpai kabar (hadits dan atsar para sahabat) yang menjelaskannya, maka saya berpegang pada pendapat Asy-Syafi’i.” Penghargaan Imam Ahmad kepada Asy-Syafi’i begitu tinggi sehingga beliau tidak menyetujui guru-guru beliau menulis kitab-kitab fiqih selain Asy-Syafi’i. Imam Ahmad termotivasi oleh penghargaan Asy-Syafi’i yang sangat tinggi terhadap Imam Al-Laits sehingga Ahmad tidak menyebut nama Asy-Syafi’i kecuali disertai dengan gelar kehormatan. Sementara itu, Ahmad juga menempatkan gurunya itu pada posisi sangat tinggi. 4. Beberapa fatwa Imam Ahmad bin Hanbal. a) Orang-orang yang hanya mencukupkan diri dengan ibadah hingga tidak bekerja wajib dipaksa untuk bekerja. b) Dilarang jual beli yang padanya terdapat keserupaan riba, seperti jual beli secara kredit dan berlebihan dalam meraih keuntungan. c) Pada dasarnya segala sesuatu itu boleh hingga ada dalil yang merubahnya. d) Orang yang tidak punya tempat tinggal boleh memaksa untuk mendiami rumah seseorang dengan biaya yang wajar apabila rumah tersebut kosong dan tidak dibutuhkan. e) Orang yang menemukan buah-buahan milik orang lain boleh memakannya sampai kenyang selama buah-buahan itu tidak dipagari dan tidak ada penjaganya.   BAB III PENUTUP Imam Ahmad bin Hanbal sejak kecil mengalami kesulitan hidup dan menderita, hasil kerjanya tidak mencukupi untuk kebutuhan makan dan keperluan sehari-hari. Kesulitan hidup dan penderitaan tidak hanya membuat Ahmad bin Hanbal menjadi orang yang tabah dan sabar, tetapi bahkan menuntun pemikirannya sehingga dapat merumuskan kaidah-kaidah pokok hukum fiqih, juga mampu berijtihad dan ber-istinbath untuk merumuskan ketentuan-ketentuan hukum dan fatwa-fatwa mengenai berbagai kasus yang belum pernah terjadi di masa lalu. Mengenai hasil ijtihad Imam Ahmad di bidang ilmu fiqih, dalam banyak hal memang berlainan dari bebrapa Imam pendahulunya, khususnya Imam Abu Hanifah dan Imam Malik. Ia lebih banyak cenderung pada Imam Syafi’i yang di dalamnya terdapat pengaruh madzhab Imam Al-Laits ibn Sa’ad di Mesir. Namun, Imam Ahmad berbeda sepenuhnya dengan Imam Syafi’i dalam hal menentukan pilihan masalah mana yang baik, juga dalam menentukan absahnya syarat-syarat suatu perjanjian. Imam Ahmad banyak menemukan hadits-hadits dan berita-berita riwayat yang tidak ditemukan oleh Imam Asy-Syafi’i. Oleh Karena itu, ia pernah berkata kepada Imam Ahmad dan beberapa orang rekannya dari Ulama’ Ahlul Hadits (Madzhab Maliki) “Kalian lebih banyak mengetahui hadits-hadits dan berita-berita riwayat. Jika yang kalian ketahui itu hadits shahih, hendaklah kalian beritahukan kepadaku”. Dalam hal ijtihad, Imam Hanbali lebih banyak menempuh metode yang ditempuh Imam Asy-Syafi’i, sehingga Ath-Thabari tidak memandangnya sebagai seorang faqih dan tidak pula sebagai seorang mujtahid. Ath-Thabari memandang Imam Ahmad tidak lebih sebagai perawi hadits dan Muqallid (yang bertaklid). Metode yang beliau gunakan dalam penggalian suatu hukum yaitu: Nash Al-Qur’an atau nash Hadits, fatwa sebagian sahabat, pendapat sebagian sahabat, hadits Mursal dan hadits Dloif, dan yang terakhir adalah Qiyas.   DAFTAR PUSTAKA Al-Mansur, Asep Saifuddin. 1984. Kedudukan Mazhab dalam Syari’at Islam. Jakarta: Pustaka Al-Husna Arifin, Bey., Djamaluddin, A. Syinqithy.1985. Menuju Kesatuan Paham tentang Mazhab. Surabaya: PT. Bina Ilmu. Asy-Syarqawi, Abdurraman. 1994. Kehidupan, Pemikiran dan Perjuangan 5 Imam Mazhab Terkemuka. Bandung: Al-Bayan. Asy-Syarqawi, Abdurraman. 2000. Riwayat Sembilan Imam Fiqih. Bandung: Pustaka Hidayah.

Popular posts from this blog

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dari berbagai ras suku…