Skip to main content

Mazhab Syafi’i

BAB I PENDAHULUAN Latar Belakang Ada kalangan yang mengatakan Mazhab Syafi’i sebagai mazhab hibrida atau persilangan dari beberapa kecenderungan pemikiran fikih pada saat itu. Imam Syafi’i memang Merumuskan Mazdhab nya melalui pengembaraan dan penyerapan yang panjang terhadap berbagai kecenderungan pemikiran fikih pada saat itu, terutama fikih ulama Hijaz yang cenderung kepada Hadits dan fikih,sedangkan Ulama Irak cenderung kepada ra’yu (rasional). Pada Tahun 150 H, seorang bayi lahir dari rahim seorang Muslimah di Gazza. Entah kebetulan atau tidak, kelahirannya sesuai dengan isyarat-isyarat yang menakjubkan. Pada hari lahirnya, dua ulama besar meninggal dunia, mufti terkenal Hijaz yaitu Imam Ibnu Juraij dan pendiri mazhab Hanafi, yaitu Imam Abu Hanifah. Di waktu Ibunya sedang mengandung, sang ibu bermimpi melihat bintang keluar dari perutnya, membumbung tinggi ke atas, lalu pecah tercerai berai di langit menerangi daerah-daerah sekelilingnya. Dalam prediksi para ahli, hal itu pertanda akan lahir seorang bayi yang nantinya memiliki pengetahuan yang luas. Bayi itu tidak lain adalah Muhammad bin Idris yang kemudian lebih akrab dengan sebutan Imam asy-Syafi’i. Ternyata, berpuluh-puluh tahun kemudian, Imam asy-Syafi’i menjadi mujtahid muthlaq seakan menjawab takwil dari mimpi sang ibu. Imam Asy-Syafi’i menyuguhkan sosok pemikiran fikih yang segar, baru dan moderat antara fikih tradisionalis dan fikih rasionalis. Konsep dan teori fikihnya mencoba mengambil jalan tengah antara dua kutub kecendrungan intelektual yang berbeda: antara aliran Hadits (ahl al-Hadîts) dan aliran rasional (ahl ar-ra’yi). Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah biografi Imam Syafi’i? 2. Bagaimana corak pemikiran Imam Syafi’i? 3. Apa saja yang dijadikan sumber-sumber hukum dalam madzhab Syafi’i? Tujuan Agar kita mengetahui biografi Imam Syafi’i, corak pemikirannya dan sumber-sumber hukum dalam madzhab Syafi’i.   BAB II PEMBAHASAN A. Biografi Imam Syafi’i Imam Syafi’i yang dikenal sebagai pendiri madzhab Syafi’i adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i Al-Quraisyi. Beliau dilahirkan di Ghazah pada tahun 150 H, bertepatan dengan wafatnya dengan imam Abu Hanifah. Meski dibesarkan dalam keadaan yatim dan dalam satu keluarga yang miskin, tidak menjadikan beliau merasa rendah diri, apalagi malas. Sebaliknya beliau bahkan giat mempelajari hadist dari ulama’-ulama’ hadist yang banyak terdapat di Mekkah. Pada usianya yang masih kecil beliau juga telah hafal Al-Qur’an. Pada usianya yang ke-20 beliau meninggalkan Mekkah mempelajari fiqih dari imam Malik. Merasa masih harus memperdalam pengetahuannya, beliau kemudian pergi ke Irak, sekali lagi mempelajari fiqih, dari murid imam Abu Hanifah yang masih ada. Dalam perantauannya tersebut beliau juga sempat mengunjungi Persia dan beberapa tempat lainnya. Setelah wafat Imam Malik (179 H), beliau kemudian pergi ke Yaman menetap dan mengajarkan ilmu disana, bersama Harun Ar-Rasyid yang telah mendengar tentang kehebatan beliau, kemudian meminta beliau untuk datang ke Baghdad. Imam Syafi’i memenuhi undangan tersebut. Sejak saat itu beliau dikenal secara lebih luas dan banyak orang yang belajar kepadanya. Pada waktu itulah madzhab beliau mulai dikenal. Tak lama setelah itu, Imam Syafi’i kembali ke Mekkah dan mengajar rombongan jama’ah haji yang datang dari berbagai penjuru. Melalui mereka inilah, madzhab Syafi’i menjadi tersebar luas ke penjuru dunia. Pada tahun 198 H, beliau pergi ke negeri Mesir. Beliau mengajar di masjid Amr bin Ash. Beliau juga menulis kitab Al-Umm, Amali Kubra, kitab Risalah, Ushul Al-Fiqh dan memperkenalkan Qoul Jadid. Adapun dalam hal menyusun kitab Ushul Fiqh, Imam Syafi’i dikenal sebagai orang pertama yang mempelopori penulisan dalam bidang tersebut. Di Mesir inilah akhirnya Imam Syafi’i wafat, setelah menyebarkan ilmu dan manfaat kepada banyak orang. Kitab-kitab beliau hingga kini masih dibaca orang, dan makam beliau di Mesir sampai detik ini masih ramai di ziarahi orang. Sedang murid-murid beliau yang terkenal diantaranya adalah: Muhammad bin Abdullah bin Al-Hakam, Abu Ibrahim bin Ismail bin Yahya Al-Muzani, Abu Ya’qub Yusuf bin Yahya Al-Buaiti dan lain sebagainya. Perjalanan dalam Menunntut ilmu Tempat yang menjadi ‘madrasah’ pertama bagi Imam asy-Syafi’i adalah kota Mekah. Beliau sudah singgah di Kota Suci itu sejak dibawa oleh sang ibu saat masih berusia dua tahun. Dalam proses belajar yang dijalaninya, asy-Syafi’i menampakkan kelebihan sebagai cikal bakal bibit unggul seorang ulama’. Pada usia 9 tahun saja, beliau sudah bisa menghapal 30 juz al-Qur’an dengan lancar, dan satu tahun berikutnya, beliau sudah mampu membaca kitab Muwattha’, salah satu karya fenomenal Imam Malik. Karena kecerdasannya asy-Syafi’i sangat mudah menguasai seluk-beluk bahasa Arab dan ilmu tata bahasanya. Beliau mempelajari bahasa Arab langsung dari sumber yang aslinya, yaitu kabilah-kabilah pedalaman yang bahasanya masih belum tercampur oleh bahasa asing. Pada usia 15 tahun, asy-Syafi’i sudah menjadi seorang mufti, sebanding dengan para ulama’ sepuh di zamannya. Ulama-ulama Mekah yang berjasa menularkan ilmunya kepada Imam asy-Syafi’i adalah Imam Sufyan bin Uyainah, Muslim bin Khalid az-Zanji dan Sa’id bin Salim al-Qaddah. Mereka merupakan murid-murid dari ulama Tabiin yang keilmuannya sangat masyhur, di antaranya Mujahid bin Jabr yang terkenal dengan periwayatannya tentang qaul-qaul Ibnu Abbas mengenai tafsir al-Qur’an; ‘Atha’ bin Abi Rabah, pakar fikih Mekah yang dikenal dengan ilmu manasik hajinya yang lengkap; dan Thawus bin Kisan yang menjabat sebagai mufti sekaligus salah satu murid spesial Ibn Abbas. Setelah dari Mekah, asy-Syafi’i dalam usia 13 tahun berpindah ke daerah sebelahnya, Madinah, daerah yang pernah didiami Rasulullah selama kurang lebih 10 tahun. Madinah merupakan salah satu gudang ilmu yang dihuni oleh tokoh-tokoh Shahabat semisal Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman, Ali bin Abi Thalib, Abbdullah bin Umar, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Abbas dan Aisyah. Ilmu mereka menurun pada Tabi’in, di antaranya Sa’id bin Musayyib, Urwah bin az-Zubair dan lain-lain. Kemudian berpindah pada kalangan Tabi’ut Tabi’in seperti Ibnu Syihab az-Zuhri, Nafi` mantan budak Umar bin Khattab, Rabi’ah ar-Ra’yi, Yahya bin Said dan Abu az-Zannad Abdullah bin Dzakwan. Hingga pada akhirnya beralih ke Imam asy-Syafi’i melalui perantara Abdul Aziz ad-Darawardi, Abdullah bin Nafi` dan Imam Malik. Selama di Madinah, Imam asy-Syafi’i telah berhasil merampungkan studinya belajar fikih kepada imam malik sampai wafatnya sang guru, pada tahun 179 H. Imam asy-Syafi’i menguasai corak dan metodologi fikih ala Mazhab Maliki yang notabenenya merupakan aliran Hadits (ahl al-Hadîts). Mazhab Maliki menyatakan bahwa Hadits Ahad (Hadits yang jalur riwayatnya tidak banyak) yang sahih atau hasan harus didahulukan sebagai dasar hukum dibanding dari qiyas (analogi). Hanya saja, menurut Mazhab Maliki Hadits Ahad tidak bisa dipakai sebagai dasar hukum jika berlawanan dengan perbuatan penduduk Madinah. Karena suatu perbuatan yang diterima oleh khalayak ramai, posisinya sama dengan riwayat yang masyhur, sehingga harus didahulukan ketimbang riwayat yang hanya dibawa oleh satu orang saja. Setelah meninggalnya imam Malik, asy-Syafi’i melanjutkan pengembaraan intelektualnya ke negeri di ujung selatan Semenanjung Arab, yaitu Yaman. Lingkungan dan kondisi Yaman—dengan corak sosial budaya lokalnya dan kedudukan asy-Syafi’i yang pada waktu itu menjabat sebagai sekretaris gubernur plus mufti—merupakan suatu tantangan dan pengalaman baru yang menuntut lebih aktifnya Imam asy-Syafi’i dalam memahami latar belakang persoalan dan mencoba menghubungkannya dengan konsep fikih yang dimilikinya. Kenyataan tentunya akan memberikan pengaruh yang baru bagi pola mazhab yang dirancang oleh Imam asy-Syafi’i. Dan, di Yaman ini beliau juga banyak meraup Hadits dan berbagai ilmu lainya dari para ulama Yaman seperti Abu Ayyub Muthraf bin Mazin al-Shan’ani, Abu Abdirrahman Hisyam bin Yusuf , Amr bin Abi Salmah (murid imam al-Auzai), dan Yahya bin Hassan (salah satu ulama pengikut Imam al-Laits bin Sa’d. Fikih mereka berpangkal pada Shahabat Mu`adz bin Jabal, Khalid bin Walid dan Ali bin Abi Thalib. Ketegaran dan komitmen asy-Syafi’i dalam menegakkan hukum Islam menyebabkan rasa dendam pada orang-orang yang tidak menyukainya. Oleh karena itu, pada tahun 184 H, asy-Syafi’i harus berlawat ke Baghdad menemui Khalifah Harun ar-Rasyid karena dituduh menjadi penyebar ajaran syiah. Namun, beliau berhasil bebas dengan terhormat setelah terbukti tidak bersalah. Kesempatan pergi ke Iraq, merupakan peluang besar untuk memperkaya khazanah ilmu pengetahuannya. Kebetulan kondisi sosial dan kecenderungan intelektual Iraq, terutama Baghdad, beda jauh dengan Hijaz dan Yaman. Sebagai ibukota Dinasti Abbasiyah tentu saja Baghdad menjadi kota dengan kemajuan peradaban yang luar biasa. Baghdad adalah pusat pertanian, perdagangan, ilmu pengetahuan, penelitian dan kegiatan ilmiah lainnya. Hijaz (Mekah, Madinah sampai Yaman) unggul karena kekayaan khazanah Haditsnya, sedangkan Iraq memiliki perbendaharaan Hadits yang minim. Corak fikih di Iraq lebih banyak menggunakan pertimbangan akal dibanding fikih Hijaz. Fikih Iraq merupakan warisan Shahabat Abdullah bin Mas’ud yang kemudian diusung oleh Abu Hanifah, seorang mujtahid besar dan pendiri Mazhab Hanafi. Selanjutnya, fikih tersebut diwarisi oleh Waki’ bin al-Jarrah dan Muhammad bin al-Hasan asy-Syaibani. Kepada mereka berdualah, Imam asy-Syafi’i berguru fikih di Iraq. Setelah cukup lama malang melintang ke berbagai wilayah, Imam asy-Syafi’i akhirnya kembali ke Mekah. Di sana, beliau mengajar dan aktif menyebarkan ilmu. Dengan pengembaraan yang luar biasa ini, Imam asy-Syafi’i memiliki sekian banyak perbandingan. Dalam diri beliau terkumpul serpihan demi serpihan gagasan, yang siap untuk dirumuskan dan diolah menjadi buah pemikiran yang segar. Lahir dan berkembangnya Mazhab asy-Syafi’i Setelah mengantongi seabrek pemikiran fikih dari Mekah, Madinah, Yaman dan Iraq, maka pada tahun 195 H, Imam asy-Syafi’i mendeklarasikan mazhabnya yang baru. Hal ini terjadi bersamaan dengan kunjungan beliau ke Baghdad untuk kedua kalinya. Pada momen-momen inilah pemikiran Imam asy-Syafi’i memasuki tahap pengujian sebelum akhirnya diterima masyarakat luas. Dengan intens, Imam asy-Syafi’i menyebarkan mazhabnya di Iraq sekitar 2 tahun, baik lewat lisan maupun tulisan. Di Baghad beliau menulis kitab ar-Risâlah yang kemudian menjadi pelopor lahirnya ilmu ushul fikih. Imam asy-Syafi’i memiliki para pengikut (ashâb) seperti Imam Ahmad bin Hanbal, az-Za’farani, al-Karabisi dan Abu Tsaur. Seluruh pendapat dan karya Imam asy-Syafi’i selama berada Baghdad ini kemudian disebut dengan qaul qadîm (pendapat lama dari Imam asy-Syafi’i). Kematangan dan Kesempurnaan Mazhab asy-Syafi’i Titik awal tahap ini dimulai sejak kedatangan Imam asy-Syafi’i ke Mesir pada akhir-akhir tahun 199 H sampai wafatnya tahun 204 H. Meskipun dalam kurun waktu yang sebentar, yaitu tidak lebih dari 5 tahun dari sisa usianya, masa-masa ini merupakan masa-masa yang menebarkan keharuman dan keagungan Imam asy-Syafi`i. Masa-masa yang penuh dengan inovasi dan kreasi-kreasi subur dari hasil kerja olah pikir Imam asy-Syafi’i. Pergumulannya dengan para ulama dan pemikiran-pemikiran di Mesir serta pengamatannya yang tajam terhadap kondisi sosial budaya dan kemasyarakatan yang berbeda dengan daerah Hijaz dan Iraq, membuat Imam asy-Syafi’i menengok kembali pendapat-pendapat yang pernah beliau publikasikan sewaktu berada di Baghdad (qaul qadîm). Imam Syafi’i pun mengeluarkan revisi atas qaul qadîm-nya. Revisi ini yang kemudian lebih dikenal dengan istilah qaul jadîd. Pemikiran-pemikiran barunya dibukukan ke berbagai kitab, di antaranya kitab al-Ummu yang menjadi salah satu kitab induk dalam mazhab asy-Syafi’i. Inovasi-inovasi asy-Syafi’i ini membuat beberapa ulama-ulama besar dari mazhab lain berbelok arah menjadi pengikutnya, seperti Imam al-Muzani yang sebelumnya bermazhab Hanafi dan al-Buwaithi yang pada awalnya menganut Mazhab Maliki. Sampai di sini, kita tahu betapa keras perjuangan Imam asy-Syafi’i dalam melakoni proses pencarian jati diri pemikirannya. Berkat perjuangan, pengembaraan, dan kemauan yang tak kenal lelah, didukung dengan kecerdasan yang tinggi, Allah menganugerahi Imam asy-Syafi’i kemampuan untuk menjadi mujtahid. Ijtihadnya melahirkan fikih yang matang dan akomodatif, akumulasi dari fikih Hijaz, Iraq, Yaman, dan Mesir. Inilah fikih yang mengeksplorasi kekayaan tradisi dengan pemahaman mendalam tentang dalil-dalil syariat. Qaul Qadim dan Qaul Jadid Selain mempelajari fikih Maliki, al-Syafi’i, kemudian, mempelajari fikih Madzhab Hanafi. Tetapi beliau tidak berguru langsung kepada pendirinya, yaitu Abu Hanifah, melainkan melalui Muhammad ibn Hasan al-Syaibani, seorang qadhi (hakim) di Baghdad, yang juga teman dan pengikut Abu Hanifah. Jadi, dapatlah dikatakan -meminjam cerita persilatan- Imam Abu Hanifah merupakan ‘kakek guru’ Imam Syafi’i. Menurut sejarawan, Imam Abu Hanifah wafat tahun 150 H, dan tahun itu Imam Syafi’i baru saja dilahirkan. Jika Imam Malik adalah puncak tradisi Madinah, maka Imam Abu Hanifah merupakan puncak tradisi Kufah. Fikih Malik bercorak hadits. Sedangkan Fikih Abu Hanifah bercorak ra’yu. Dua fikih inilah yang kemudian dikuasai dan selanjutnya diajarkan oleh Imam Syafi’i. Tetapi untuk masa-masa selanjutnya, beliau merumuskan fikihnya sendiri. Imam Syafi’i membuat madzhab baru. Bukan madzhab Maliki juga bukan madzhab Hanafi. Melainkan semacam sintesa dari kedua madzhab itu. Madzhab inilah yang kemudian dikenal sebagai Madzhab Syafi’i. Pada tahun 195 H. Imam Syafií menetap di Irak, dan dari tempat inilah kemudian fatwa-fatwa beliau disampaikan kepada ummat. beliau menyusun kitabnya yang lama, yang diberi nama Al-Hujjah, dan empat orang sahabatnya yang berkebangsaan Irak telah meriwayatkan darinya, yaitu Ahmad bin Hambal, Abu Tsaur, Za’farani dan Al-Karabisi. Periwayatan mereka yang paling kokoh adalah yang diriwayatkan oleh Za’afarani. Selanjutnya, sang Imam pindah ke Mesir. Seperti halnya di Irak, di Mesir pun, Imam Syafií mengeluarkan pendapat-pendapat hukumnya, yang dalam beberapa hal, ternyata berbeda dengan pendapatnya ketika beliau tinggal di Irak. Sebab perubahan tersebut adalah bahwa ketika beliau datang ke Mesir dan berbaur dengan para ulamanya serta mendengar hadits dan fikih yang mereka miliki , melihat adat istiadat dan situasi sosial (kemasyrakatan) yang berbeda dengan apa yang ia dengar dan lihat di negara Hijaz dan Irak. Itulah sebabnya ulama menyebut pendapat Imam Syafií ketika di Mesir itu sebagai ‘qawl jadid‘ (pendapat baru). Sedangkan yang diubahnya, yakni pendapatnya ketika di Irak, disebut qawl qadim (pendapat lama). Dengan perkataan lain, qawl qadim adalah pendapat Imam Syafií yang dikemukakan dan ditulis di Irak. Sedangkan qawl jadid adalah pendapatnya yang dikemukakan dan ditulis di Mesir. Qawl jadid sang imam antara lain ditulis dalam kitabnya, al-Umm. Beliau terus menyebar luaskan ilmunya selalu sibuk dengannya sampai beliau diwafatkan. Berikut beberapa contoh qawl qadim dan qawl jadid Imam Syafi’i. Pertama, Dalam QS. Al-Baqarah (2): 263 dikatakan bahwa isteri yang dicerai hendaknya diberi mut’ah (semacam pesangon). Tetapi apakah pemberian itu wajib atau anjuran saja. Menurut qawl qadim, perintah itu bukan wajib. Sebab isteri itu sudah diberi mahar (mas kawin). Tetapi dalam qawl jadid, Imam Syafií berpendapat bahwa pemberian itu wajib. Landasannya adalah QS. Al-Ahzab (33): 28. Kedua, jika seorang imam shalat mengundurkan diri, karena hadas, misalnya, maka ia tidak bisa diganti oleh makmum yang ada di belakangnya. Karena penggatinya tidak membaca surat (pada rakaat sebelumnya). Oleh karena itu shalat tersebut dilanjutkan sendiri-sendiri (munfarid). Demikian qawl qadim Imam Syafi’i. Tetapi dalam qawl jadid, beliau berpendapat bahwa imam itu boleh diganti oleh makmum yang terdekat. Alasannya adalah hadis sebagaimana yang ada dalam riwayat Imam Muslim, yang menerangkan bahwa Abu Bakar pernah memimpin shalat, kemudian (ketika sedang shalat itu) beliau mundur dan digantikan oleh Rasulullah saw. Ketiga, mengenai urutan wali dalam pernikahan. Menurut qawl qadim, jika ayah juga kakek tidak ada, maka saudara laki-laki sekandung dan saudara laki-laki seayah memiliki hak yang sama untuk menjadi wali nikah. Sama, artinya setara. Sehingga boleh yang mana saja. Alasannya karena wali nikah itu ditentukan berdasarkan nasab laki-laki. Keduanya sama-sama keturunan ayah. Tetapi dalam qawl jadid, beliau berpendapat bahwa saudara sekandunglah yang lebih berhak menjadi wali dibanding saudara seayah. Jadi kedudukannya tidak setara. Alasannya, karena saudara sekandung itu lebih berhak mendapatkan ‘ashabah‘ (sisa harta) dalam pembagian harta warisan. Dalam contoh yang pertama, argumentasi qawl qadim adalah ra’yu, atau kita lazim menyebutnya logika. Sedangkan argumentasi qawl jadid adalah al-Qur’an. Jadi polanya ra’yu ke al-Qur’an. Sedangkan dalam contoh kedua, polanya ra’yu ke hadis. Adapun dalam contoh ketiga, baik qawl qadim maupun qawl jadid, argumentasinya sama-sama ra’yu. B. CORAK-CORAK PEMIKIRAN IMAM SYAFI’I Dalam konteks sejarah atau metodologi, kita akan menemukan seorang Syafi'i sebagai sosok yang moderat (al wasathiyyah) dan kompromis antara pandangan kelompok ahl al-asar dan ahl al-ra'yi. Sikap ini semakin jelas ketika Syafi'i lebih memihak ahl al-asar dalam menetapkan kedudukan teks dan prioritasnya, yaitu Al qur'an dan Sunnah. Namun pada sisi lain, ia cenderung pada kelompok rasionalis ahl al-ra'yi dalam merumuskan dasar prinsip qiyas, menetapkan dan memperluas cakupannya. Meskipun demikian, ia berseberangan dengan ahl al-asar yang dianggap terlalu memudahkan dan kaku dalam merujuk Al-qur'an dan Hadits secara literal. Ia mensyaratkan penelitian dan verifikasi atas nash, dengan menyatukan dan mengkompromikan antar makna dan hukum yang betujuan untuk menghilangkan kerancuan dan kekakuan dalam melandaskan teks dan aktualisasinya. Menurutnya tidak semua orang yang bersikap literal-tekstual memiliki dan mendapatkan kebenaran. Disisi lain, ia pun berseberangan dengan ahl al-ra'yi. Ia sangat mencela ketergantungan mereka atas akal dan rasio dan terlalu berlebihan dalam menggunakannya. Ia sangat menentang ijtihad intuitif-rasional yang dikenal dengan istihsan, ia pun kemudian mempersempit ruang ijtihad akal dengan membatasinya melalui qiyas, dan menjadikan ijtihad dan qiyas seakan-akan sebagai dua istilah yang bermakna satu (Al Syafi'i, al risalah) Demikianlah sikap seorang Imam Syafi'i, dengan mengkaji, meneliti dan memetakan pandangan ahl al-asar dan ahl al-ra'yi secara bersamaan serta mengambil apa yang menjadi keunggulan dan kelebihan mereka, ia adalah penggagas pertama ilmu ushul fiqh, ilmu yang sejak awal mulanya dilengkapi dengan metode analisis dan observasi serta disertakan pula batasan-batasan akan kesalahan dan kerancuan dalam berijtihad dan berargumentasi. C. SUMBER-SUMBER HUKUM MADZHAB IMAM SYAFI’I 1. Al-Qur’an Al-karim. Para ulama' setelah Syafi'i menyebutkan al Kitab sebagai sumber hukum Islam pertama dan sunnah sebagai sumber kedua setelah al kitab, begitu juga sebelum Imam Syafi'i, seperti Imam Abu Hanifah yang menyetujui bahwa dalam pengambilan hukum pertama harus dari al kitab, kemudian kalau tidak diperoleh, baru mengambil dari sunnah. Sama halnya juga dengan Mu'az bin Jabal ketika ditanya oleh nabi: "Dengan apa kamu memutuskan sesuatu?", kemudian jawabnya: "Saya memutuskan sesuatu dengan Kitab Allah. Jika tidak didapati di dalamnya maka dengan sunnah rosulullah, dan jika tidak didapatkan lagi maka saya berijtihad dengan akal. Syafi'i meletakkan sunnah sejajar dengan al Qur'an dalam hal sebagai hujjah karena sunnah juga berasal dari wahyu. Syafi'i tidak menyamakan al Qur'an dan sunnah dalam segala aspek, menurutnya perbedaannya paling tidak bahwa al Qur'an mutawatir dan merupakan ibadah bagi yang membacanya sedangkan kebanyakan sunnah tidak mutawatir juga membacanya tidak dinilai pahala. Kedua, al Qur'an adalah kalam Allah, sedangkan sunnah adalah perkataan nabi SAW. Syafi'i juga menjelaskan bahwa sunnah tidak semartabat dengan al Qur'an dalam masalah aqidah. Menurut Syafi’i Al-Qur’an itu ma’nan dan lafdzon. Seluruh al Qur'an terdiri atas bahasa Arab, tidak satu katapun di dalamnya yang bukan bahasa Arab. Maka sejalan dengan itu ia mengatakan bahwa setiap umat Islam diharuskan mempelajari bahasa Arab sedapat mungkin (Mabalagahu juhduh) sehingga ia dapat mengucapkan syahadat, membaca al Qur'an, dan mengucapkan dzikir. Tuntutan itu merupakan fardhu ain yang berlaku secara umum, sedangkan penguasaan bahasa Arab secara mendalam diwajibkan secara terbatas (fardhu kifayah) atas para ulama'. Syafi'i menekankan pentingnya penguasaan bahasa Arab karena tidak mungkin bisa memahami kandungan al Qur'an tanpa penguasaan terhadap bahasa Arab.Di dalam Al-Qur’an itu terdapat lafadz ‘am, khas, muthlaq, muqoyyad, haqiqah, majaz, musytarak, mujmal, mubayyan, dan sebagainya. 2. As-sunnah An-nabawi. Sunnah menurut Syafi’i yaitu perkataan, perbuatan, atau taqrir yang disandarkan kepada Nabi SAW. Syafi’i menegaskan bahwa sunnah merupakan hujjah yang wajib diikuti sama halnya dengan Al-Qur’an. Dia juga menegaskan bahwa jika telah ada hadits yang shohih (tsabit) dari Rosulullah SAW, maka dalil-dalil berupa perkataa orang lain tida diperlukan lagi. Syafi’i mengatakan: “Tidak benar,bila sesuatu (sunnah) suatu saat dianggap sebagai hujjah tetapi pada kali lainnya tidak.” Fungsi sunnah antara lain sebagai berikut: a) Sebagai penguat dalil-dalil dalam Al-Qur’an b) Sebagai penjelas dari ayat-ayat Al-Qur’an yang masih global c) Sebagai tambahan; artinya mengatur hukum yang belum diatur dalam Al-Qur’an Syafi’i membagi sunnah atau hadits menjadi dua, yaitu hadits mutawatir dan hadits ahad. Hadits mutawatir itu pasti, sehingga hadits ini mutlak diterima sebaga dalil. Hadits ahad hanya wajib diamalkan apabila hadits tersebut shohih. Persyaratan agar hadits dapat diamalkan sebagaimana yang dikemukakan oleh para ahli hadits dan ahli ushul fiqih pada masa kemudian, yakni mengenai tsiqah yang harus dipenuhi oleh setiap perawi da kesinambungan sanad yang diriwayatkannya serta tidak ada cacat atau kelainan dalam hadits tersebut. Syarat-syarat penerimaan sunnah: Syafi'i membagi hadits menjadi dua, yaitu kabar al ammah (hadits mutawatir) dan kabar khashah (hadits ahad). Ia memandang hadits mutawatir itu pasti, sehingga hadits tersebut mutlak harus diterima sebagai dalil. Akan tetapi hadits ahad hanya wajib diamalkan apabila hadits tersebut shohih. Pada pokoknya, persyaratan yang ditetapkan oleh Syafi'i agar suatu hadits dapat diamalkan sama dengan yang dikemukakan oleh para ahli hadits dan ahli ushul fiqh pada masa kemudian, yakni menyangkut tsiqoh (al adalah dan dhobith) yang harus terpenuhi pada setiap perawi dan kesinambungan sanad yang diriwayatkannya serta tidak adanya cacat atau kelainan dalam hadits tersebut. 3. Al-ijma’. Menurut Imam Syafi’i Ijma' adalah hujjah atas segala suatu masalah karena ijma' itu tidak mungkin salah" Syafi'i menyepakati bahwa ijma' merupakan hujjah agama (hujjatd din). Ijma' menurut Syafi'i adalah kesepakatan para ulama' pada suatu masa tentang hukum syara'. Kedudukan ijma' sebagai hujjah adalah setelah al Qur'an dan sunnah. Sehingga ijma' diakhirkan dari pada al Qur'an dan sunnah. Oleh karena itu, ijma' yang menyelisihi al Qur'an dan sunnah bukan merupakan hujjah dan dalam kenyataannya tidak mungkin ada ijma' yang menyelisihi al Qur'an dan sunnah. Rumusan Syafi'i berbeda dengan rumusan Imam Malik yang menganggap kesepakatan penduduk Madinah sebagai ijma' dan rumusan madzhab Zahiri yang membatasinya hanya pada kesepakatan para sahabat. Ijma' yang mula-mula mendapat i'tibar dari Imam Syafi'i ialah ijma sahabat dan ia menerima ijma' sebagai hujjah di tempat tak ada nash. Kemudian yang perlu di ingatkan bahwa Imam Syafi'i tidak menerima ijma' sukuti. 4. Al-qiyas. Imam Syafi’i adalah orang pertama yang menerangkan hakekat qiyas. Beliau tidak mendefinisikan qiyas secara langsung akan tatapi penjelasan-penjelasan, contoh-contoh, bagian-bagian dan syarat-syarat yang telah beliau tentukan memberikan penjelasan hakekat qiyas, yang kemudian dibuat ta’rif oleh ulama’ ushul. Unsur pembentuk qiyas yaitu : ashl, far’u, ‘illat, dan hukum ashl. Qiyas dilihat dari kekuatan ‘illat yang terdapat pada far’u dan ashl, menurut Syafi’i dibagi menjadi tiga bentuk yaitu: 1. Qiyas yang iillat hukum cabangnya (far') lebih kuat daripada iillat pada hukum ashl. Qiyas ini, oleh ulama ushul fiqh Syafi'iyah disebut sebagai qiyas awlawi. Misalnya, mengqiyaskan memukul pada ucapan "ah". Keharaman pada perbuatan memukul lebih kuat daripada kaharaman ucapan "ah", karena sifat menyakiti yang terdapat pada memukul lebih kuat dari yang terdapat pada ucapan "ah". 2. Qias yang illat pada far' sama keadaan dan kekuatan dengan 'illat yang pada ashl. Qiyas seperti ini, disebut oleh ulama ushul Syafi'iyyah dengan al-qiyas al-musawi. Misalnya mengqiyaskan membakar harta anak yatim kapada memakannya secara tidak patut dalam menetapkan hukum haram. Artinya membakar harta anak yatim atau memakannya secara tidak patut adalah sama-sama merusak harta anak yatim dan hukumnya sama-sama haram. 3. Qiyas yang illat hukum cabangnya (far') lebih lemah dibamdingkan dengan illat hukum ashl. Qiyas seperti ini, disebut dengan qiyas al-adna, seperti mengqiyaskan apel dengan gandum dalam berlakunya riba fadhl, mengandung illat yang sama, yaitu sama-sama makanan. Memperlakukan riba pada apel lebih rendah daripada berlakunya hukum riba pada gandum karena illat lebih kuat.   BAB III PENUTUP Kesimpulan Imam Syafi’i adalah seorang mujtahid mutlak, imam fikih, hadis, dan ushul. “Beliau (Imam Syafi’i) adalah orang yang paling faqih dalam Alquran dan As-Sunnaha tak hanya dikenal dengan keluhuran ilmunya, namun juga kemuliaan akhlaknya. Para ulama menyatakan bahwa Sang Imam pendiri Mazhab Syafi’i itu adalah figur yang amanah, zuhud, wara’, takwa, dermawan, tingkah lakunya yang baik, dan mempunyai derajat keilmuan yang tinggi. Selama hidupnya, Imam Syafi’i mendedikasikan dirinya untuk mengembangkan agama Allah SWT. Ia juga dikenal sebagai ulama yang produktif. Ratusan kitab tentang tafsir, fikih, adab, dan ilmu agama lainnya telah dipersembahkan bagi umat Islam. Menurut Ibnu Zulaq, tak kurang dari 200 kitab penting telah ditulis Sang Imam. Imam Syafi’i adalah ulama yang tak pernah berhenti belajar. Ia rela melanglang buana mencari ilmu agama ke berbagai kota penting di dunia Islam. Kota Makkah menjadi kota pertama tempat menimba ilmu Sang Imam. Di kota nenek moyangnya itu, ia menimba ilmu fikih dengan berguru kepada seorang Mufti bernama Muslim bin Khalid Az Zanji. Pemikiran fikih mazhab ini dicetuskan Imam Syafi’i, yang hidup di zaman pertentangan antara aliran Ahlul Hadis (cenderung berpegang pada teks hadis) dan Ahlur Ra’yi (cenderung berpegang pada akal pikiran atau ijtihad). Imam Syafi’i belajar kepada Imam Malik sebagai tokoh Ahlul Hadis, dan Imam Muhammad bin Hasan asy-Syaibani sebagai tokoh Ahlur Ra’yi yang juga murid Imam Abu Hanifah. Imam Syafi’i kemudian merumuskan aliran atau mazhabnya sendiri, yang dapat dikatakan berada di antara kedua kelompok tersebut. Imam Syafi’i menolak istihsan dari Imam Abu Hanifah maupun mashalih mursalah dari Imam Malik. Namun demikian, Mazhab Syafi’i menerima penggunaan qiyas secara lebih luas ketimbang Imam Malik. Mazhab ini berpegang teguh pada: 1. Alquran 2. Sunah dari Rasulullah SAW . 3. Ijma’ atau kesepakatan para Sahabat Nabi, 4. Qiyas DAFTAR PUSTAKA Asy-Syurbsi, Ahmad, 2004, Sejarah dan Biografi Empat Imam Mazhab, Bandung, Azmi Ali As-Sayis, Muhammad, 2003, Sejarah Fikih Islam, Jakarta Timur, Pustaka Al-Kautsar Al-Husaini, Al-Hamid, 1996, Pembahasan Tuntas Perihal Khilafiyah, Bandung, Yayasan Al-Hamidiy http://Imam Syafii dan Penganutnya Masa Kini-Pemuda & Maha Siswa Era Muslim http://Madzhab Syafi’i-wikipedia Bahasa Indonesia, Ensiklopedia Bebas http://Pondok Pesantren UII Yogyakarta-Metode istinbat http://Qawl Qadim Dan Qawl Jadid, Hilman Saepullah

Popular posts from this blog

CONTOH AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR ( MUBES ) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA (IPPM) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 Minggu, 16 November 2010 WAKTU KEGIATAN PETUGAS TEMPAT 0 7 . 3 0 – 0 8 .00 Persiapan panitia Panitia Aula Rumah Bapak Prof. Dr. Safrion, MS 0 8 . 3 0 – 09.30 Pembukaan : F   Master of Ceremony (MC) F   Pembacaan Ayat suci alquran F   Sari Tilawah F   Menyanyikan Lagu Indonesia Raya F   Laporan Ketua Panitia F   Sambutan Ketua IPPM Bundo Kanduang Malang F   Sambutan Tuan Rumah F   Sambutan Ketua IKM Sehati Malang sekaligus membuka acara secara resmi F   Doa F   Penutup Robert   Ardian Maulid Wanda Wanda Iqsan Dinata Andri Zulanda Prof. Dr. Safrion, MS Prof. Dr. dr.H.Achdiat Agoes, Sp. S Eka Rizal, S.Pd 09.30 – 11.30 §       SIDANG PLENO I : Pembahasan Agenda Acara MUBES I

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dar

CONTOH TATATERTIB MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN TATA TERTIB MUSYAWARAH BESAR (MUBES) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA ( IPPM ) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Musyawarah Besar IPPM Bundo Kanduang merupakan rapat tertinggi ditingkatan Organisasi daerah IPPM Bundo Kanduang Malang 2.       Musyawarah Besar I II   adalah forum permusyawaratan untuk mengemban amanat oganisasi dan dilaksanakan pada akhir periode untuk menghasilkan rekomendasi kepada kepengurusan yang selanjutnya 3.       Musyawarah Besar I II merupakan permusyawaratan anggota IPPM Bundo Kanduang Malang yang disingkat dengan MUBES I II BAB II TUGAS DAN WEWENANG Pasal 2 Menetapkan pola dan garis-garis besar kebijakan didalam penyelenggaraan organisasi ikatan pemuda pelajar mahasiswa bundo kanduang Mengevaluasi dan mengesahkan laporan pertanggung jawaban pengurus IPPM bundo kanduang Membahas sekaligus menetapkan AD/ART organisasi ikatan pemuda pelajar mahasi