Skip to main content

PEMBAGIAN HADIS DITINJAU DARI ASPEK KUALITAS (MAQBUL DAN MARDUD)

PEMBAGIAN HADIS DITINJAU DARI ASPEK KUALITAS (MAQBUL DAN MARDUD) Dari aspek kualitas, hadis dapat diklasifikasikan menjadi hadis Maqbul dan hadis Mardud. Hadis Maqbul adalah hadis yang dapat diterima sebagai hujjah datau dalil serta dapat dijadikan sebagai landasan hukum. Adapun hadis Mardud (tertolak) adalah hadis yang tidak dapat dijadikan sebagai hujjah ataupun dalil. A. Hadis Maqbul Para ulama membagi hadis maqbul menjadi dua, hadis shahih dan hadis hasan. Kedua hadis ini mempunyai definisi dan criteria sebagai berikut: 1. Hadis Shahih Yang dimaksud hadis shahih adalah hadis yang memiliki kriteria hadis maqbul. Adapun kriteria ataupun syarat hadis maqbul, yaitu: a. Bersambungnya sanad, tiap perowi hendaknya mendengarka hadis secara langsung dari perowi yang berada di atasnya, demikian seterusnya hingga sampai pada puncak sanad. b. Perowinya memiliki sifat ‘adalah, yaitu satu potensi yang dapat menjaga seseorang untuk dapat kontinyu dalam bertakwa dan mampu menjaga kewibawaan dan muru’ahnya (perilaku). c. Memiliki hafalan yang sempurna (dhobt), seorang perowi mampu meriwayatkan kembali hadis-hadis yang pernah ia hafal secara spontan tanpa ada perubahan dari apa yang pernah didengar. Dhobt dibagi dua, dhobt as-shodr dan dhobt al-kitab. Apabila seorang perowi dalam meriwayatkan hadis bertumpu pada hafalannya maka dinamakan dhobt as-shodr, namun jika berpegang pada tulisan yang pernah ia tulis dalam lembaran-lembaran yang berusaha dijaga hingga tidak terjadi perubahan pada tulisan tersebut maka dinamakan dengan dhobt al-kitab. d. Tidak janggal (syudzudz), hadis yang diriwayatkan oleh seorang perowi yang tsiqah (terpercaya) tidak berlawanan substansinya dengan riwayat hadis yang lebih tsiqah. e. Tidak terdapat ‘illat (cacat), yaitu satu penyakit yang tersembunyi dalam teks maupun sanad hadis yang dapat merusak kesempurnaan hadis. 2. Hadis Hasan Hadis hasan pengertiannya tidak jauh beda dengan hadis shahih. Dalam banyak sisinya terdapat kesamaan, berbeda hanya pada syarat yang ketiga (dhobt). Kualitas hafalan perowi hadis hasan tidak sesempurna hafalan perowi hadis shahih atau sedikit berada di bawahnya. Hadis hasan dapat dijadikan sebagai landasan hukum karena masih termasuk hadis maqbul. Hadis shahih dan hasan dibagi menjadi dua, yaitu: a. Hadis shahih dan hasan Li dzatihi adalah hadis yang menjadi shahih atau hasan kaena syarat dan kriterianya terpenuhi secara tersendiri (internal) bukan karena faktor bukan karena faktor lain. b. Hasan li ghoirihi adalah hadis dha’if yang tidak parah kedho’ifannya dan diriwayatkan di jalan lain dengan kualitas sanad yang sederajat atau lebih tinggi. B. Hadis Mardud (Dha’if) Hadis dha’if adalah hadis yang tidak memenuhi kriteria hadis maqbul (hasan ataupun shahih). Sekalipun dha’if namun kualitas kedha’ifan sebuah hadis terkadang berfariasi, ada yang ringan, sedang, dan ada pula yang tergolong parah. Apabila diketahui bahwa hadis dha’if kualitasnya bertingkat-tingkat, maka para ulama berbeda pendapat dalam masalah boleh tidaknya melakukan sebuah amalan ibadah dengan berdalil menggunakan hadis dha’if. Dalam masalah ini ada tiga pendapat populer, yaitu: 1. Hadis dha’if tidak boleh diamalkan sama sekali.baik untuk ibadah maupun fadhoil amal. 2. Hadis dha’if boleh diamalkan secara mutlak, selam tidak terdapat nash shahih yang menjelaskan permasalahan tersebut. 3. Hadis dha’if boleh diamalkan, namun dengan syarat dan ketentuan: a. Untuk fadhoil a’mal (motivasi dalam beramal). b. Kualitas dha’ifnya tidak parah. c. Hadis tersebut berada di bawah payung nash shahih yang diakui kebenarannya, baik dari ayat maupun hadis shahih. d. Saat mengamalkan hadis tersebut tidak meyakini keabsahan sumbernya dari Nabi saw. Dalam meriwayatkan hadis dha’if, tidak dibenarkan menggunakan ungkapan yang mengandung makna pasti (jazm), tapi hendaknya menggunakan ungkapan yang mengandung makna kemungkinan (tanridh). Karena kita tidak dibenarkan mengatakan riwayat tersebut dari Rasulullah kecuali jika jelas dan pasti sumbernya. Contoh hadis dha’if: كن عالما أو متعلما أو مستمعا أو محبا و لا تكن الخامس فتهلك “jadilah orang yang pandai, atau pelajar, atau pendengar imu, atau pecinta ilmu, dan jangan menjadi yang kelima karena niscaya anda akan binasa.”

Popular posts from this blog

CONTOH AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR ( MUBES ) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA (IPPM) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 Minggu, 16 November 2010 WAKTU KEGIATAN PETUGAS TEMPAT 0 7 . 3 0 – 0 8 .00 Persiapan panitia Panitia Aula Rumah Bapak Prof. Dr. Safrion, MS 0 8 . 3 0 – 09.30 Pembukaan : F   Master of Ceremony (MC) F   Pembacaan Ayat suci alquran F   Sari Tilawah F   Menyanyikan Lagu Indonesia Raya F   Laporan Ketua Panitia F   Sambutan Ketua IPPM Bundo Kanduang Malang F   Sambutan Tuan Rumah F   Sambutan Ketua IKM Sehati Malang sekaligus membuka acara secara resmi F   Doa F   Penutup Robert   Ardian Maulid Wanda Wanda Iqsan Dinata Andri Zulanda Prof. Dr. Safrion, MS Prof. Dr. dr.H.Achdiat Agoes, Sp. S Eka Rizal, S.Pd 09.30 – 11.30 §       SIDANG PLENO I : Pembahasan Agenda Acara MUBES I

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dar

CONTOH TATATERTIB MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN TATA TERTIB MUSYAWARAH BESAR (MUBES) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA ( IPPM ) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Musyawarah Besar IPPM Bundo Kanduang merupakan rapat tertinggi ditingkatan Organisasi daerah IPPM Bundo Kanduang Malang 2.       Musyawarah Besar I II   adalah forum permusyawaratan untuk mengemban amanat oganisasi dan dilaksanakan pada akhir periode untuk menghasilkan rekomendasi kepada kepengurusan yang selanjutnya 3.       Musyawarah Besar I II merupakan permusyawaratan anggota IPPM Bundo Kanduang Malang yang disingkat dengan MUBES I II BAB II TUGAS DAN WEWENANG Pasal 2 Menetapkan pola dan garis-garis besar kebijakan didalam penyelenggaraan organisasi ikatan pemuda pelajar mahasiswa bundo kanduang Mengevaluasi dan mengesahkan laporan pertanggung jawaban pengurus IPPM bundo kanduang Membahas sekaligus menetapkan AD/ART organisasi ikatan pemuda pelajar mahasi