Skip to main content

PENDIDIKAN dalam PERSPEKTIF ALQURAN

PENDIDIKAN dalam PERSPEKTIF ALQURAN BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Alquran sebagai wahyu dan firman Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW selalu menjadi pusat sorotan karena daya pikatnya yang luar biasa. Keluarbiasaan Alquran itu terletak pada aspek-aspeknya antara lain bahasa dan gaya bahasanya, substansinya, keterjaminannya dari percampuran dengan bahasa manusia, jangkauannya yang tiada terbatas, dan multifungsinya bagi umat manusia. Berbagai penelitian dan pembahasan, baik yang dilakukan oleh pakar Islam sendiri maupun oleh orientalis menyimpulkan bahwa Alquran memiliki muatan yang universal bagi kehidupan umat manusia secara keseluruhan, salah satu di antaranya bagaimana konsep Alquran berbicara masalah pendidikan. Dalam Islam pendidikan tidak hanya dilaksanakan dalam batasan waktu tertentu saja, melainkan dilakukan sepanjang usia (long life education). Islam memotivasi pemeluknya untuk selalu meningkatkan kualitas keilmuan dan pengetahuan. Tua atau muda, pria atau wanita, miskin atau kaya mendapatkan porsi sama dalam pandangan Islam dalam kewajiban untuk menuntut ilmu (pendidikan). Bukan hanya pengetahuan yang terkait urusan ukhrowi saja yang ditekankan oleh Islam, melainkan pengetahuan yang terkait dengan urusan duniawi juga. Karena tidak mungkin manusia mencapai kebahagiaan hari kelak tanpa melalui jalan kehidupan dunia ini. Islam juga menekankan akan pentingnya membaca, menelaah, meneliti segala sesuatu yang terjadi di alam raya ini. Membaca, menelaah, meneliti hanya bisa dilakukan oleh manusia, karena hanya manusia makhluk yang memiliki akal dan hati. Selanjutnya dengan kelebihan akal dan hati, manusia mampu memahami fenomena-fenomena yang ada di sekitarnya, termasuk pengetahuan. Dan sebagai implikasinya kelestarian dan keseimbangan alam harus dijaga sebagai bentuk pengejawantahan tugas manusia sebagai khalifah fil ardh. Dalam makalah ini akan dipaparkan pandangan AlQuran tentang kewajiban belajar mengajar, subyek pendidikan, obyek pendidikan, dan metode pengajaran. 1.2 Rumusan masalah 1. Bagaimana kewajiban belajar dan mengajar dalam Alquran? 2. Siapa subyek pendidikan dalam Alquran? 3. Apa obyek pendidikan dalam Alquran? 4. Bagaimana metode pengajaran dalam Alquran? 1.3 Tujuan 1. Mahasiswa memahami kewajiban belajar dan mengajar dalam Alquran. 2. Mahasiswa mengetahui subyek pendidikan dalam Alquran. 3. Mahasiswa mengetahui obyek pendidikan dalam Alquran. 4. Mahasiswa memahami metode pengajaran dalam Alquran.   BAB II PEMBAHASAN 2.1 Kewajiban Belajar Mengajar Wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad adalah surat Al ‘Alaq ayat 1-5:                          ayat ini tidak menjelaskan apa yang harus dibaca, karena al-Qur’an menghendaki umatnya membaca apa saja selama bacaan tersebut bismi Rabbik, dalam arti bermanfaat untuk kemanusiaan. Iqra’ berarti bacalah, telitilah, dalamilah, ketahuilah ciri-ciri sesuatu, bacalah alam, tanda-tanda zaman, sejarah, maupun diri sendiri, yang tertulis maupun yang tidak. Alhasil, objek perintah iqra’ mencakup segala sesuatu yang dapat dijangkaunya. Perintah membaca merupakan perintah yang paling penting dan berharga yang dapat diberikan kepada umat manusia sebagai homo educandum (makhluk yang dapat dan harus dididik). Pengaitan kata ‘allama dengan kata al-insan pada ayat kelima, menunjukkan bahwa kemanusiaan al-insan terletak pada potensi dan keharusan diberikan pendidikan, yang antara lain melalui cara membaca. Dari kelima ayat tersebut dapat dipahami bahwa pendidikan adalah jalan yang dapat mengantarkan manusia mencapai derajat kemanusiaannya yang sempurna. Pemahaman ini terisyaratkan pada penggalan ayat kholaqo min ‘alaq dan ‘allama bil qolam. Kedua penggalan tersebut mengandung makna, bahwa meski manusia diciptakan berasal dari setetes air mani yang sangat hina, namun apabila ia belajar dan berpikir sampai ia memperoleh ilmu pengetahuan, maka ia akan menempati derajat yang tinggi, sebagaimana juga dijelaskan dalam surat Al-Mujadilah ayat 11:          Sejarah umat manusia secara umum dapat dibagi ke dalam dua fase utama, yaitu fase sebelum penemuan alat tulis baca dan fase sesudahnya, sekitar lima ribu tahun yang lalu. Dengan ditemukannya alat tulis baca, peradaban umat manusia berjalan secara cepat dan pesat. Karena, peradaban yang lahir pasca ditemukannya alat tulis baca tidak lagi dimulai dari nol. Peradaban yang datang mempelajari peradaban yang lalu dari apa yang ditulis oleh yang lalu dan dapat dibaca oleh yang datang kemudian. Apabila dibandingkan dengan makhluk-makhluk Allah SWT lainnya, langit dan bumi adalah ciptaan Allah yang paling besar dan paling tampak pada pandangan mata. Demikian juga petunjuk adanya kebesaran Allah sebagai Zat Pencipta dari proses penciptaan dan keberadaan kedua makhluk tersebut, sangat jelas dan terang bagi orang yang dengan maksimal mendayagunakan akalnya. Salah satu keajaiban langit yang sampai kini tetap merupakan misteri di kalangan para ilmuan adalah jumlah bintang-bintang. Dari dulu sampai kapan pun tetap akan merupakan misteri. Allah berfirman dalam Alquran surat Ali Imran ayat 190:        •    Apabila manusia menggunakan potensi akalnya dengan baik, sebetulnya tidak perlu terlalu jauh memikirkan langit dan bumi yang sudah pasti tidak akan ditemukan jawaban ilmiahnya. Tetapi marilah kita perhatikan sehelai daun pada sebuah pohon. Pada garis tengah daun tersebut terdapat urat besar. Dari urat besar itu bercabang lagi urat-urat kecil yang menyebar ke bagian samping kiri dan kanan daun. Lalu, setiap urat-urat kecil itu mengembangkan cabang-cabangnya yang bahkan tidak terlihat oleh mata telanjang, tetapi jelas ada dan di dalamnya ada kehidupan alam daun-daunan yang tumbuh secara teratur. Siapakah yang mengatur kehidupan daun tersebut? Dialah Allah ‘Azza wa Jalla.                     •  Ayat ini merupakan penjelasan dari siapakah mereka ulul albab?, yaitu orang-orang yang mengingat Allah dalam tiga kondisi: berdiri, duduk, dan berbaring. Oleh karena hidup manusia tidak lepas dari ketiga kondisi itu, maka yang dimaksud dari ayat itu adalah selalu mengingat-Nya. Penjelasan lain ulul albab ialah mereka yang selalu melakukan penelitian dan kajian ilmiah untuk menyingkap berbagai fenomena dan peristiwa alam. Dengan kata lain, ulul albab adalah mereka yang mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk kepentingan kesejahteraan manusia. 2.2 Subyek Pendidikan dalam Alquran            Term-term Qurani yang terdapat pada surat Ar-Rahman ayat 1-4 yang menjadi turunan untuk konsepsi pendidikan adalah: 1. ‘allama, term yang dijadikan turunan untuk konsep pendidikan itu sendiri. 2. Ar-Rahman, term yang menunjuk kepada subyek pendidikan. 3. Al-Insan, term yang selain menunjuk kepada subyek juga obyek pendidikan. 4. Al-Quran, sebagai dasar dan sekaligus isi pendidikan. Yang mula-mula melakukan proses ta’lim al-Quran adalah al-Rahman kepada Nabi Muhammad SAW. melalui malaikat Jibril yang berperan selain penyampai wahyu juga sebagai penerjemah Al-Quran dari Kalamulloh yang Qodim menjadi Kalamulloh dengan menggunakan simol-simbol kemakhlukan seperti huruf-huruf yang kemudian menyusun lafal-lafal dan kalimat-kalimat berbahasa arab. Setelah Nabi Muhammad menerima pengajaran dari Allah, secara estafet dan berkesinambungan beliau mengajarkannya kepada para sahabatnya, dan melalui lidah para sahabat, tabi’in, dan para ulama’, sampailah pengajaran Al-Quran itu kepada seluruh manusia. Beberapa aspek tarbawi yang dapat ditangkap dari isyarat ayat-ayat tersebut adalah: 1. Seorang pendidik harus memiliki sifat kasih sayang terhadap anak didiknya selayaknya mereka menyayangi anaknya sendiri. 2. Pendidikan sebagai pengembangan potensi memanusiakan manusia semestinya dilaksanakan atas dasar sifat kasih sayang yang pada hakikatnya adalah refleksi dari sifat al-Rahman. 3. Al-Quran, baik ia sebagai sumber dan dasar pendidikan, maupun sebagai isi atau materi pendidikan, sarat dengan isyarat-isyarat ilmiah yang apabila manusia mampu menggunakan potensi al-bayaan, ia akan mengenal dirinya dan pada ujung-ujungnya ia akan mengenal Tuhan penciptanya. 4. Manusia adalah makhluk yang memiliki potensi al-bayan, yang dengan kemampuan bahasanya ia dapat menjelaskan, menerangkan, dan mengungkapkan segala fenomena alam dan kehidupan baik yang abstrak maupun yang konkret. Oleh karenanya, bahasa merupakan salah satu alat untuk mentransformasikan ilmu sebagai bagian dari proses pendidikan. Dalam ayat lain disebutkan:                  ¬¬Pada ayat  secara eksplisit menjelaskan bahwa yang menjadi subyek pendidikan bukan hanya pendidik atau guru, melainkan juga anak didik. Karena itu ayat ini dapat menjadi dasar bagi pengembangan teori belajar siswa aktif dan metode tanya jawab dalam proses belajar mengajar. Pada saat guru tengah memberikan bimbingan dan pendidikan kepada siswa, posisi siswa adalah obyek, tetapi pada saat yang sama, ia juga berperan sebagai subyek. Sebab, tugas guru tidak hanya menyampaikan bahan-bahan ajar kepada siswa, tetapi ia juga bertanggung jawab untuk sedapat mungkin membangkitkan minat dan motifasi belajar siswa agar mereka dapat melakukan pembelajaran sendiri. 2.3 Obyek Pendidikan dalam Alquran         ••               Ayat tersebut memberikan penegasan bahwa pendidikan di sekolah tidak mungkin berhasil optimal tanpa apabila tidak dimulai dari pendidikan diri dan keluarga. Yang dimaksud pendidikan diri di sini adalah pendidikan terhadap pribadi-pribadi yang memikul tanggung jawab keluarga. Orang pertama yang bertanggung jawab terhadap keluarga adalah orang tua (ayah dan ibu). Dari kedua orang inilah pendidikan harus dimulai. Keberhasilan pendidikan tingkat paling awal ini akan membawa kepada keberhasilan pendidikan keluarga dan masyarakat. Fungsi yang paling penting dalam kehidupan keluarga adalah fungsi pendidikannya. Artinya, keluarga merupakan lembaga pendidikan yang apabila berfungsi dengan baik akan mewarnai fungsi-fungsi lainnya dalam kehidupan keluarga. Dan dalam prakteknya, hampir dalam setiap fungsi keluarga selalu ada muatan pendidikannya. Contoh, dalam fungsi ekonomi misalnya, selalu ada norma-norma ekonomi yang harus diajarkan kepada anak, bagaimana agar anak bersikap hidup hemat, bagaimana agar ia rajin menabung, dan seterusnya. Selain pendidikan diri dan keluarga, harus pula dibarengi dengan pendidikan masyarakat, sebagaimana dalam Alquran surat At-Taubah ayat 122:                         Baik secara bertahap maupun simultan, pendidikan diri dan keluarga harus pula dibarengi dengan pendidikan masyarakat. Hal ini menjadi sangat penting karena pendidikan sendiri diarahkan untuk mencerdaskan masyarakat sebagai sarana penting dalam pembangunan masyarakat dan negara. Ayat 122 di atas menunjukkan betapa pentingnya pendidikan islam dalam masyarakat, sehingga Nabi Muhammad SAW. sendiri seolah-olah melarang kaum muslimin ikut berperang semuanya. Tetapi harus ada sebagian dari mereka yang menfokuskan perhatiannya pada usaha mendalami ilmu pengetahuan khususnya ilmu agama islam. Apabila pendidikan pada masa Nabi sudah demikian pentingnya, maka terlebih di masa sekarang yang kepemelukan kaum muslimin kepada islam lebih karena faktor keturunan, bukan karena motifasi pilihan melalui proses pencarian yang betul-betul dilatarbelakangi oleh kebutuhan terhadap agama, sehingga sangat wajar apabila kemudian banyak orang islam yang belum memahami dengan benar, apa dan bagaimana ajaran islam. 2.4 Metode Pengajaran dalam Alquran Allah SWT. tidak pernah memanggil Nabi SAW. dalam Al-Quran dengan namanya , tetapi kalau tidak dengan Ya ayuuha al-nabi, adalah dengan ya ayyuha ar-rosul, suatu hal yang sangat berbeda ketika Allah memanggil nabi-nabi yang lain. Sebagaimana dalam ayat:                    ••  •       Hikmah tarbawiyah yang dapat diambil dari ayat di atas, bahwa metode tabligh adalah suatu metode yang dapat diperkenalkan dalam dunia pendidikan modern. Yaitu suatu metode pendidikan di mana guru tidak sekadar menyampaikan pengajaran kepada murid, tetapi dalam metode ini terkandung beberapa persyaratan guna terciptanya evektivitas proses belajar mengajar. Beberapa persyaratan yang dimaksud adalah: 1. Aspek kepribadian guru yang selalu menampilkan sosok uswah hasanah, suri tauladan yang baik bagi murid-muridnya. 2. Aspek kemampuan intelektual yang memadai. 3. Aspek penguasaan metodologis yang cukup sehingga mampu meraba dan membaca kejiwaan dan kebutuhan murid-muridnya. 4. Aspek keikhlasan yang tinggi. 5. Aspek spiritual dalam arti pengamalan ajaran Islam yang istiqomah. Apabila kelima persyaratan di atas dipenuhi oleh seorang guru, maka materi yang disampaikan kepada murid akan menjadi qoulan baligho, yaitu ucapan yang komunikatif dan efektif. Metode lain yang digunakan Al-Quran dalam menyampaikan pesan-pesannya adalah dengan metode perumpamaan. Salah satu contoh dalam surat Ibrahim ayat 24-25:                   •        ••    Konsep tarbawi yang tersimpul pada ayat di atas, bahwa perumpamaan adalah salah satu metode yang dapat diterapkan dalam proses pendidikan dan pengajaran. Melalui ungkapan-ungkapan permisalan, anak didik akan mudah memahami materi pelajaran dan akan lebih termotivasi untuk melakukan karya-karya nyata dan positif. Gambaran perumpamaan pada ayat di atas tentang pohon bagus yang akarnya kokoh menancap ke dasar bumi dan cabangnya menjulang ke angkasa untuk sebuah kalimat thoyyibah, bertujuan agar obyek yang diajak bicara lebih gampang memahami pentingnya memiliki prinsip tahwid yang kuat dalam menempuh perjalanan kehidupan di dunia ini.   BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Dari makalah singkat di atas, dapat dipahami bahwa al-Qur’an telah memberikan rambu-rambu yang jelas kepada kita tentang konsep pendidikan yang komperehensif. Yaitu pendidikan yang tidak hanya berorientasi untuk kepentingan hidup di dunia saja, akan tetapi juga berorientasi untuk keberhasilan hidup di akhirat kelak. Karena kehidupan dunia ini adalah jembatan untuk menuju kehidupan sebenarnya, yaitu kehidupan di akhirat. Pendidikan memiliki peran penting pada era sekarang ini. Karena tanpa melalui pendidikan proses transformasi dan aktualisasi pengetahuan moderen sulit untuk diwujudkan. Demikian halnya dengan sains sebagai bentuk pengetahuan ilmiah dalam pencapaiannya harus melalui proses pendidikan yang ilmiah pula. Yaitu melalui metodologi dan kerangka keilmuan yang teruji. Karena tanpa melalui proses ini pengetahuan yang didapat tidak dapat dikatakan ilmiah.   DAFTAR PUSTAKA Departemen Agama Republik Indonesia, 1973. Al-Quran Al-Karim.kudus: Menara Kudus Gojali, Nanang. 2004. Manusia, Pendidikan dan Sains. Jakarta: PT. Rineka cipta Nata, Abuddin. 2002. Tafsir Ayat-Ayat Pendidikan (Tafsir Ayat-Ayat Al-Tarbawi). Jakarta: PT. Rajagrafindo Persada

Popular posts from this blog

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dari berbagai ras suku…