Skip to main content

PENERAPAN METODE MUBASYARAH DALAM MUHADDATSAH YAUMIYAH DI PON-PES MODERN RADEN PAKU TRENGGALEK

PENERAPAN METODE MUBASYARAH DALAM MUHADDATSAH YAUMIYAH DI PON-PES MODERN RADEN PAKU TRENGGALEK A. Latar Belakang Pondok pesantren Raden Paku memiliki visi dan misi untuk mewujudkan para siswanya agar dapat menguasai bahasa arab dengan baik dan benar. Para siswa diwajibkan untuk selalu berkomunikasi bahasa arab dimanapun dan kapanpun ia berada( muhaddatsah yaumiyah). Sedangkan ketika para siswa belajar di dalam kelas, guru menyampaikan semua materi dengan bahasa arab, karena dimaksudkan agar siswa mampu menirukan apa yang dilakukan oleh guru, sehingga mereka mampu untuk melakukan komunikasi bahasa arab dengan lingkungan disekitarnya. Setiap pagi ba’da subuh mereka selalu mengucapkan mufrodat-mufrodat dan kalimat-kalimat yang telah diberikan oleh ustadz / ustadzah dan dipakai dalam kegiatan Muhaddtsah Yaumiyah. Untuk mencapai visi misi itu maka, harus ada kesesuaian antara metode pengajaran dengan segala kegiatan yang dilakukan oleh para peserta didik (Mansoer Pateda, 1991:74) Adapun kegiatan di pon-pes Raden Paku dalam setiap harinya adalah: pada waktu pagi hari, para siswa diberi mufrodat-mufrodat baru, guru mengucapkan mufrodat-mufrodat baru kemudian siswa mengikutinya, dan mufrodat-mufrodat baru itu di praktekkan dalam muhaddtasah yaumiyah mereka. Dan ciri-ciri tersebut merupakan bagian dari metode mubasyarah. Ciri-ciri metode Mubasyarah: a) Materi pelajaran pertama-tama diberikan kata demi kata, kemudian struktur kalimat. b) Peserta didik memiliki kesempatan yang banyak untuk mempraktekkan bahasa c) Peserta didik dapat mempraktekkan bahasa sesuai dengan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi (Mansoer Pateda,1991:130) B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana penerapan Metode Mubasyarah dalam Muhaddatsah Yaumiyah Di Pondok Pesantren Modern Raden Paku? 2. Apa factor yang menghambat penerapan Metode Mubasyarah dalam Muhaddatsah Yaumiyah Di Pondok Pesantren Modern Raden Paku? 3. Bagaimanakah langkah-langkah Metode Mubasyarah dalam Mewujudkan Peserta didik yang Terampil Dalam Muhaddatsah Yaumiyah? C. Tujuan Penelitian 1. Untuk Mengetahui penerapan Metode Mubasyarah dalam Muhaddatsah Yaumiyah Di Pondok Pesantren Raden Paku. 2. Untuk Mengetahui factor penghambat Metode Mubasyarah dalam Muhaddatsah Yaumiyah Di Pondok Pesantren Modern Raden Paku Trenggalek. 3. Untuk Mengetahui langkah-langkah Penerapan Metode Mubasyarah Untuk dalam Muhaddattsah Yaumiyah Di Pondok Pesantren Modern Raden Paku. D. Kerangka Teori a. Definisi Metode Mubasyarah Metode mubasyarah / metode langsung adalah suatu cara menyajikan materi pelajaran bahasa asing yang mana guru langsung menggunakan bahasa asing tersebut sebagai bahasa pengantar, dan tanpa menggunakan bahasa anak didik sedikitpun dalam mengaja. Jika ada suatu kata-kata yang sulit dimengerti oleh anak didik, maka guru dapat mengartikannya dengan menggunakan alat peraga,mendemonstrasikan, menggambarkan, sinonim, antonym dan lain-lain. Metode ini berpijak dari pemahaman bahwa pengajaran bahasa asing tidak sama halnya dengan mengajar ilmu alam yang pasti. Jika mengajar ilmu alam yang pasti, siswa dituntut agar dapat menghafal rumus-rumus tertentu, berpikir dan mengimgat maka dalam pengajaran bahasa siswa/ peserta didik dilatih untuk praktek langsung mengucapkan kata-kata atau kalimat-kalimat tertentu. Sekalipan kata-kata atau kalimat-kalimat tersebut mula-mula masih asing dan tidak dipahami anak didik, namun sedikit demi sediki tkata-kata dan kalimat itu akan dapat di ucaokan dan dapat pula mengartikannya. Ciri-ciri penerapan metode Mubasyarah: d) Materi pelajaran pertama-tama diberikan kata demi kata, kemudian struktur kalimat. e) Peserta didik memiliki kesempatan yang banyak untuk mempraktekkan bahasa f) Peserta didik dapat mempraktekkan bahasa sesuai dengan fungsi bahasa sebagai alat komunikasi (Mansoer Pateda,1991:130) g) Peserta didik termotivasi untuk dapat menyebutkan dan mengerti kata-kata, kalimat dalam bahasa asing yang diajarkan oleh gurunnya. h) Guru mula-mula mengajarkan kata-kata dan kalimat-kalimat sederhana yang dapat dimengerti dan diketahui oleh peserta didik dalam bahasa sehari-hari, misalnya (pena, pensil,buku) maka peserta didik dapat dengan mudah menangkap simbol-simbol bahasa asing yang diajarkan oleh gurunya i) Peserta didik memperoleh pengalaman langsung dan praktis, sekalipun mula-mula kalimat yang diucapkan itu belum dimengerti dan dipahami j) Alat ucap (lidah) peserta didik lebih menjadi terlatih dan jika menerima ucapan –ucapan yang sering di dengar maka ia akan mudah untu mengucapkannya (Tayar Yusuf,1997:154) k) Sebagian besar waktu digunakan untuk latihan bahasa, seperti imla’, insya’, dan mmuthola’ah ( Abdul hamid,dkk.2008:24) Metode ini sebenarnya tepat sekali digunakan pada tingkat perrmulaan maupun atas, karena peserta didik merasa telah memiliki bahan untuk bercakap / berbicara dan tentu saja agar peserta didik betul-betul merasa tertantang untuk bercakap / muhaddatsah yaumiyah dengan menggunakan Bahasa Arab. Maka sanksi-sanksi dapat diterapkan bagi meraka yang menggunakan bahasa ibu dalam percakapan sehari-hari (Tayar Yusuf, 1991:155) b. Definisi Muhaddatsah Yaumiyah Adalah serangkaian kegiatan bercakap-cakap sehari-hari dengan Bahasa Arab, dalam percakapan atau muhaddatsah itu dapat terjadi antara guru dengan peserta didik, dan antara pesrta didik dengan teman lainnya, sambil menambah dan terus memperkaya perbendaharaan kata-kata (vocabulary /mufrodat) yang semakin banyak ( Tayar Yusuf,1997:191) Tujuan dari muhaddatsah Yaumiyah dengan Bahasa Arab adalah sebagai berikut: • Melatih lidah siswa agar terbiasa dan fasih bercakap-cakap (berbicara) Bahasa Arab. • Terampil berbicara dalam Bahasa Arab mengenai kejadian apa saja dalam masyarakat dan dunia internasional yang ia ketahui. • Mampu dan memahami percakapan orang lain melalui telepon, TV, radio dll. • Menumbuhkan rasa cinta dan menyenangi bahasa Arab dan Al-qur’an, sehingga timbul kemauan untuk belajar dan mendalaminya (Tayar yusuf, 1997:192) Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menerapkan metode Mubasyarah dalam Muhaddatsah yaumiyan, antara lain: • Berani mempraktekkan percakapan, dengan mennghilangkan perasaan malu dan takut akan salah. Prinsip yang harus dipegang adalah “yang penting berbicara”. • Rajin memperbanyak perbendaharaan kata (vocabulary/ mufrodat). • Selalu melatih alat pendengaran dan pengucapan agar menjadi fasih dan lancar. • Terus-menerus banyak membaca buku dalam bahasa Arab. • Terciptanya lingkungan berbahasa Arab (bi’ah Lughowiyah). ( Tayar yusuf, 1997:195) E. Jenis Penelitian Berdasarkan judul yang diambil oleh penulis, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang bertujuan menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu, keadaan, gejala, atau kelompok tertentu, atau untuk melakukan penyebaran suatu gejala, atau untuk menentukan ada tidaknya hubungan antara suatu gejala dengan gejala lain dalam masyarakat Penelitian kualitatif adalah pendekatan yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat diperoleh dengan menggunakan prosedur statistik atau dengan cara lain dari pengukuran (Lexy j.Moleong, 2007:4) F. Sumber Data Dalam melakukan penelitian tindakan ini peneliti mengambil sumber data dari siwa, guru atau muallim (person), serta dokumen-dokumen tentang system pengajaran yang ada di pon-pes Modern Raden Paku. G. Instrument Peneliti melakukan pengamatan dengan instrument observasi. H. Analisis Data Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. DAFTAR PUSTAKA Arikunto, Suharsimi.2007.Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta : Bumi Aksara Arsyad, Azhar. 2004.Bahasa Arab dan Metode Pengajaraannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Hamid, Abdul, dkk. 2008. Pembelejaran Bahasa Arab. Malang : UIN- press Moleong, Lexy j. 2007. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung : PT.Remaja Rosdakarya. Pateda, Mansoer. 1991. Linguistik Terapan. Yogyakarta : Nusa Indah Yusuf, Tayar. 1997. Metodologi Pengajaran Agama dan Bahasa Arab. Jakarta :Raja Grafindo Persada

Popular posts from this blog

CONTOH AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR ( MUBES ) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA (IPPM) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 Minggu, 16 November 2010 WAKTU KEGIATAN PETUGAS TEMPAT 0 7 . 3 0 – 0 8 .00 Persiapan panitia Panitia Aula Rumah Bapak Prof. Dr. Safrion, MS 0 8 . 3 0 – 09.30 Pembukaan : F   Master of Ceremony (MC) F   Pembacaan Ayat suci alquran F   Sari Tilawah F   Menyanyikan Lagu Indonesia Raya F   Laporan Ketua Panitia F   Sambutan Ketua IPPM Bundo Kanduang Malang F   Sambutan Tuan Rumah F   Sambutan Ketua IKM Sehati Malang sekaligus membuka acara secara resmi F   Doa F   Penutup Robert   Ardian Maulid Wanda Wanda Iqsan Dinata Andri Zulanda Prof. Dr. Safrion, MS Prof. Dr. dr.H.Achdiat Agoes, Sp. S Eka Rizal, S.Pd 09.30 – 11.30 §       SIDANG PLENO I : Pembahasan Agenda Acara MUBES I

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dar

CONTOH TATATERTIB MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN TATA TERTIB MUSYAWARAH BESAR (MUBES) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA ( IPPM ) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Musyawarah Besar IPPM Bundo Kanduang merupakan rapat tertinggi ditingkatan Organisasi daerah IPPM Bundo Kanduang Malang 2.       Musyawarah Besar I II   adalah forum permusyawaratan untuk mengemban amanat oganisasi dan dilaksanakan pada akhir periode untuk menghasilkan rekomendasi kepada kepengurusan yang selanjutnya 3.       Musyawarah Besar I II merupakan permusyawaratan anggota IPPM Bundo Kanduang Malang yang disingkat dengan MUBES I II BAB II TUGAS DAN WEWENANG Pasal 2 Menetapkan pola dan garis-garis besar kebijakan didalam penyelenggaraan organisasi ikatan pemuda pelajar mahasiswa bundo kanduang Mengevaluasi dan mengesahkan laporan pertanggung jawaban pengurus IPPM bundo kanduang Membahas sekaligus menetapkan AD/ART organisasi ikatan pemuda pelajar mahasi