Skip to main content

Perkembangan Fiqh Masa Rosulullah

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Fiqih islam dalam pertumbuhan dan perkembangannya, sama halnya dengan suatu benda hidup, baik yang konkrit, maupun yang abstrak, tidak lahir tanpa melalui sesuatu, dan tidak mencapai kesempurnaannya dengan satu loncatan saja. Akan tetapi ia lahir dari sesuatu yang sudah ada sebelumnya, lalu tumbuh secara alamiah, hingga ia mencapai puncak kematangan dan kesempurnaannya. Kemudian ia mengalami berbagai macam peristiwa sampai masa tuanya.fase yang dilalui fiqih islam ada empat fase, yaitu: Pertama :fase pertumbuhan, yaitu: masa pertumbuhannya sepangjang hidup Rasulullah SAW, mulai dari pengangkatannya, dan berakhir pada wafatnya. Kedua :fase muda-remaja, yaitu: pada zaman para sahabat dan senior tabi’in. fase ini berlangsung sampai awal abad 11 Hijriah. Ketiga :fase kematangan dan kesempurnaan. Fase ini merupakan fase tadewin (kegiatan karya ilmiah) dan munculnya imam-iman mujtahidin yang senior. Ini berakhir pada pertenganhan abad IV hijriah. Keempat :fase terakhir ini merupakan masa tua sekali yaitu: masa taklid yang sangat memprihatinkan hingga kini, meskipun masa ini tidak pernah kosong dari pada mujatahid mutlak, atau khusus pada suatu madzhab yang telah populeh hingga kini. Didalam makalah ini kami akan membahas tentang perkembangan fiqih periode Rasulallah. B. Rumusan Masalah 1. Bagaimana perekembangan fiqih di zaman Rasulalloh? 2. Apa sumber Fiqih di zaman Rasulalloh? 3. Apa prinsip yang menjadi dasar penetapan hukum di zaman Rasulalloh? 4. Berapa banyak nash-nash yang menjadi sumber fiqih?   BAB II PEMBAHASAN a. Masa Rasulalloh SAW. Masa ini hitungan tahunnya hanya sedikit, hanya 22 tahun lebih beberapa bulan, tetapi merupakan masa lahir dan wujudnya al-fiqih, karena melalui nabilah disyari’atkannya hukum-hukum, nash-nash al-qur’an, yang merupakan sumber pokok atau sumber utama dari fiqih, diturunkan pada masa ini dan demikian pula as-sunah yang merupakan sumber kedua. Dan selanjutnya pada masa ini pula diletakkan dasar-dasar yang bersifat umum yang menunjukkan sumber-sumber dan dalil-dalil, yang dengan sumber-sumber dan dalil-dalil itu dapat diketahui hukum sesuatu yang tidak ada nashnya (dalam al-qur’an dan as-sunnah), sehingga para ulama’ dan fuqoha’ kemudian hanyalah tinggal menerapkannya. (Duraib, al-tanzim al-qadha’i fi al-mamlakah al-arabiyah as-su’udiyah, 1983, hal. 284.). Masa Rasulalloh ini terjadi dari dua periode yang berbeda, yaitu: pertama periode di Makkah dan kedua periode di Madinah. Periode pertama, yaitu selama Rasulalloh di Makkah lamanya 12 tahun dan 5 bulan dan 13 hari, yaitu sejak beiau diutus sampai beliau hijrah. Pada periode ini perhatian Rasul ditunjukkan pada penyebaran ajakan bertaukid, ajakan pengesaan Allah, mengubah arah muka dari penyembahan patung dan berhala kepada hanya menyembah Allah SWT. Di samping berusaha menghindari siksaan dari orang-orang yang menghalang-halangi dakwahnya. Kaum muslimin pada saat itu masih merupakan perorang-orangan yang hanya sedikit dan lemah, belum merupakan suatu umat yang memiliki urusan kenegaraan. Oleh karena itu periode ini tidak ada jalan dan tidak ada pendorong untuk lahirnya hukum-hukum amaly, kecuali sedikit yaitu terbatas dengan hukum-hukum amaliah yang mempunyai hubungan erat dan dapat menunjang kekokohan iman, seperti larangan makan daging yang disembelih tidak dengan menyebut nama Allah SWT, atau masih erat hubungannya dengan pembinaan akhlak, seperti wajib berbuat adil, larangan berbuat zina, larangan membunuh dan sebagainya. Karena itu, maka surat-surat makkiyah seperti surat yunus, ar-ro’du, al-furqon, yasin dan al-hadid tidak terdapat satu ayatpun dari ayat-ayat ahkam amaliah, tetapi kebanyakan ayat-ayat berkenaan dengan aqidah (keimanan), akhlak dan kisah-kisah perjalanan orang-orang terdahulu ynag merupakan suri tauladan yang perlu diberikan dalam rangka usuha memperkokoh iman dan memperbaiki akhlak. Periode kedua, yaitu selama rasul berada di Madinah, lamanya kurang lebih 10 tahun, yaitu sejak beliau hijrah sampai wafat. Pada periode ini agama islam telah kuat, pengikutnya telah banyak, sehingga merupakan masyarakat yang mempunyai urusan kenegaraan. Rintangan-rintangan dan gangguan-gangguan sudah melemah dan dalam masyarakat mulailah timbul keperluan-keperluan adanya hukum-hukum untuk mentertibkan hubungan sebagian dan hubungan mereka dengan umat lain dalam keadaan damai dan dalam keadaan perang. karena itu di Madinah disyari’atkan hukum tentang ibadah keseluruhannya yaitu: puasa, zakat dan haji, di samping disyari’atkan pula hukum-hukum tentang perkawinan, talak, waris, hitung-piutang, pidana dan lainnya. Surat-surat madaniah seperti al-baqoroh, al-imron, an-nisa’, al-maidah, al-anfal, at-taubah, an-nur, al-ahzab adalah surat-surat yang mengandung ayat-ayat hukum beserta ayat yang berkenaan dengan aqidah, akhlak, dan kisah-kisah. (Abdul Mudjib, Ulumul Fiqih, 1982, hal. 25.). Kekuatan Tasyi’iyah (menetapkan hukum) pada masa ini hanya dipegang oleh Rasulullah sendiri, walaupun dalam hal yang mendesak pernah juga beberapa sahabat berijtihat menetapkan hukum suatu kejadian, seperti Ali bin Abi Tholib ketika diutus ke Yaman, Mu’adz bin Jabal ketika diutus juga ke Khudzaifah al Yamani dll. Namun kejadian-kejadian semacam itu tidaklah menunjukkan adanya pemegang kekuasaan tasyri; selain Rasul, karena perbuatan para sahabat-sahabat tersebut adalah dalam keadaan terpaksa karena jauhnya dengan Rasul atau karena terdesak oleh waktu dan keputusan itu sekedar hanya melaksanakannya, bukan menetapkan. b. Sumber Ilmu Fiqih Di Masa Rasulalloh. Di atas telah dijelaskan, bahwa masa Rasul adalah masa lahir dan wujudnya fiqih, karena melalui rasul-rasul diturunkannya al-qur’an dan didatangkannya as-sunnah dan bahwa kekuasaan tasyri’ hanya pada Rasul. Dengan demikian jelas, bahwa fiqih di zaman Rasul bersumberkan dari suatu sumber yang asasi, yaitu: wahyu Illahi baik yang dilewatkan melalui al-qur’an dan as-sunnah. As-sunnah kedudukannya sebagai sumber kedua yang juga berlandaskan kepada wahyu Illahi, di samping kadang-kadang merupakan hasil ijtihad Rasul yang selalu dibimbing dengan wahyu. Jadi sumber fiqih di masa Rasul adalah hanya wahyu. Apabila ada pertengkaran, ada suatu kejadian, ada suatu pertanyaan atau apabila Allah berkenan mensyari’atkan suatu hukum, maka Allah menurunkan wahyu kepada Rasul satu atau beberapa ayat yang menerangkan hukum yang dikehendaki dan wahyu itu menjadi suatu peraturan yang wajib diikuti. Apabila tidak dating wahyu, maka Rasul berijtihad, dan apabila ijtihad Rasul hasilnya tidak tepat, maka wahyu Allah segera datang untuk membetulkannya. Hasil ijtihad Rasul ada juga yang merupakan hadist yang wajib diikuti. hal ini akan lebih jelas apabila kita memperhatikan ayat-ayat hukum, di sana nyata bahwa ayat-ayat itu hampir keseluruhannya disyari’atkannya adalah karena adanya hal-hal yang menyebabkannya.demikian juga yang meneliti hadist-hadist hukum dan sebab-sebab timbulnya, akan tampaklah kepadanya bahwa hukum-hukum yang diijtihadkan Rasul itu merupakan keputusan-keputusan tentang masalah yang dihadapkan kepada Rasul, atau merupakan suatu fatwa atau merupakan suatu jawaban terhadap suatu pertanyaan. Adapun langkah yang dijadikan Rasul dalam menetapkan hukum adalah dengan mena’ati wahyu. Apabila wahyu tidak datang, maka Rasul mengerti bahwa untuk menentukan hukum masalah yang dihadapi itu, Allah telah menyerahkannya kepada beliau, kemudian beliau berijtihad dengan berpedoman kepada undang-undang Illahi, kemaslahatan dan bermusyawarah denagn para sahabat beliau. Juga karena ayat-ayat al-qur’an memerlukan penjelasan-penjelasan, Rasul yang menjelaskan. Dengan demikian Rasul menjadi pensyarah al-Qur’an yang mendapatkan wahyu dari Allah dan selalu mendapatkan bimbingan dan pengawasan dari Allah. Banyak sekali hadist-hadist Rasul yang menjelaskan perintah-perintah Allah yang bersifat umum dalam al-Qur’an, seoerti hadist yang berhubungan dengan masalah sholat, puasa, zakat, hajji dan lain-lain. Tentang prinsip-prinsip yang menjadi dasar menetapkan hukum di masa Rasulalloh ini yang menonjol ada empat, yaitu: 1) Berangsur-angsur dalam menentukan hukum, baik mengenai zamannya maupun mengenai bermacam-macam hukum yang ditetapkan. 2) Menyedikitkan hukum. 3) Memudahkan dan meringankan beban. 4) Memperhatikan kemaslahatan manusia. Ayat-ayat hukum dalam al-Qur’an adalah bersendikan prinsip-prinsip tersebut di atas. c. Perkiraan Banyaknya Nash-Nash yang Menjadi Sumber Fiqih. Jumlah ayat-ayat al-qur’an walaupun lebih dari 600 ayat namun al-qur’an yang menerangkan ketentuan-ketentuan hukum hanya sedikat tetapi sudah mencakup semua lapangan hukum. Oleh karena itu hukum-hukum dalam al-qur’an banyak yang berupa qo’idah atau ketentuan umum dan hukum secara garis besar saja. Dari hasil penelitian para ulama’ dapat diketahui bahwa dalam al-qur’an jumlah ayat-ayat hukum-hukum yang berhubungan dengan ibadah dan bersangkut paut dengan jihat kira-kira 140 ayat. Jumlah ayat yang berhubungan dengan mu’amalah dan akhwalusy-syakhsiyah (nikah, talak dan sebagainya), jinayah (pidana), qodlo’ (keputusan), dan syahadah (persaksian), kira-kira 200 ayat. Jumlah hadist hukum dengan segalamacamnya kira-kira 4.500 hadist, sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnul Qoyyim dalam kitab I’lamul Muwaqqilin . Kebanyakan hadist-hadist itu menjelaskan ayat-ayat hukum yang global. Disamping itu hadist-hadist yang mensyari’atkan hukum-hukum yang tidak disebutkan dalam al-qur’an. Ayat-ayat hukum dalam al-Qur’an terpisah-pisah dalam beberapa surat. Ayat-ayat jinayah kira-kira 10 ayat dalam surat al-Baqoroh, al-maidah, dan an-nur. Kumpulan ayat-ayat madaniah kira-kira 70 ayat tersebar juga pada beberapa surat. Demikian pula ayat-ayat hukum yang lain. adapun hadist-hadist hukum telah dikumpulkan oleh perawi-perawi hadist menurut bab-bab dalam ilmu fiqih. Hadist-hdist bai’ (jual beli) terkumpul dalam bab bai’. Demikian pula hadist-hadist Rohn (gadai), syirkah (koperasi atau kerja sama), hak (hukuman) dan lain-lain. Dengan demikian, maka dapatlah dengan mudah dikumpulkan untuk satu hukum, ayat-ayat, hadist-hadist, serta hukum-hukum hukum yang berhubungan dengan hukum itu, serta atsar-atsar Shohabat dan Tabi’in yang menjadi tafsir dari nash-nash itu. d. Macam-Macam Hukum yang dicakup oleh seluruh Nash-Nash. Seperti yang telah dijelaskan di atas, bahwa pada masa Rasulalloh di Makkah ayat-ayat al-Qur’an yang diwahyukan adalah sebagian terbesar adalah brerkenaan dengan aqidah, akhlak, dan kisah-kisah dalam rangka pembinaan aqidah dan akhlak dan baru-baru pada masa di Madinahlah diwahyukan ayat-ayat hukum amaly di samping ayat-ayat aqidah dan akhlak. Dari kenyataan di atas, maka dapat disimpulkan, bahwa kandungan dari nash-nash al-Qur’an dan as-sunnah pada garis besarnya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu: Pertama :hukum-hukum I’tiqodiah, yaitu hukum-hukum yang berhubungan dengan iman terhadap Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, hari akhirat, qodlo serta qodar. Kedua :hukum-hukum khuluqiyah, yaitu hukum yang berhubungan dengan keutamaan-keutamaan yang wajib diikuti manusia dan kehinaan-kehinaan yang wajib ditinggalkan. Ketiga :hukum-hukum Amaliyah, yaitu hukum-hukum yang berhubungan dengan perbuatan-perbuatan oleh mukalaf baik mengenai ibadah atau mu’amalah madaniah dan maliah, akhwahusy-syakhsiyah, jinayat, jihat, dan sebagainya. Bagian pertama, yaitu aqidah adalah merupakan dasar agama, sedangkan kedua, yaitu akhlak adalah sebagai penyempurna bagi bagian pertama dan kedua. Al-Qur’an dan as-sunnah banyak member penjelasan terhadap hukum bagian pertama dan kedua disertai hujjah-hujjahnya, karena membuat bangunan, maka yang mula-mula dibuat adalah dasar, baru kemudian yang di atasnya. Dasar dari bangunan manusia beragama adalah aqidahnya dan keimanannya, sedangkan amalnya adalah kelanjutan dari aqidah. Disamping iman sebagai dasar, maka mutlak diperlukan akhlak, karena dengan akhlak yang baik, keimanan dan amalan-amalan akan lebih sempurna, lebih tegak dan kokoh. Oleh karena itu dalam membangun keimanan harus disertai dengan pembangunan akhlak. Adapun bagian ketiga, yaitu hukum-hukum amaliyah adalah bagian hukum-hukum yang dibicarakan dan yang menjadi objek ilmu fiqih, dan hukum-hukum fiqih inilah yang dimaksud dengan hukum-hukum jika disebut secara mutlak (tanpa batasan) dan yang juga disebut dengan hukum islam. Seperti telah disebutkan di atas, bahwa di dalam al-Qur’an ayat-ayat yang berhubungan dengan ibadah dengan segala macamnya kira-kira 140 ayat, dan yang berhubungan dengan akhwalusy-sykahsiyah kira-kira 70 ayat, dan yang berhubungan dengan pidana kira-kira 30 ayat, dan yang berhubungan dengan mu’amalah kira-kira 70 ayat, dan yang berhubungan dengan peradilan kira-kira 20 ayat. Pada tiap-tiap bab tersebut diatas banyak nash-nash hadist, sebagian hadist-hadist itu menjelaskan hukum yang disebut dalam al-Qur’an secara mujmal (global), danm sebagian lain mensyari’at hukum yang tidak disyari’atkan oleh al-Qur’an, sehingga dengan demikianlah menjadi sempurnalah hukum-hukum terperinci. Kesemuanya itu ditambah dengan beberapa prinsip yang umum dalam rangka penentuan hukum-hukum yang tidak ada nashnya, maka masa Rasul telah meninggalkan hukum-hukum yang sempurna, yang memenuhi kebutuhan kaum muslimin dalam segala keadaan dan situasi. BAB III PENUTUP Kesimpulan: 1. Perkembangan Fiqih di zaman Rasulalloh dibagi menjadi dua periode, yaitu pertama periode di Makkah dan kedua periode di Madinah. 2. Sumber fiqih di zaman Rasul bersumberkan dari suatu sumber yang asasi, yaitu: wahyu Illahi baik yang dilewatkan melalui al-qur’an dan as-sunnah. As-sunnah kedudukannya sebagai sumber kedua yang juga berlandaskan kepada wahyu Illahi, di samping kadang-kadang merupakan hasil ijtihad Rasul yang selalu dibimbing dengan wahyu. Jadi sumber fiqih di masa Rasul adalah hanya wahyu. 3. prinsip-prinsip yang menjadi dasar menetapkan hukum di masa Rasulalloh ini yang menonjol ada empat, yaitu: a) Berangsur-angsur dalam menentukan hukum, baik mengenai zamannya maupun mengenai bermacam-macam hukum yang ditetapkan. b) Menyedikitkan hukum. c) Memudahkan dan meringankan beban. d) Memperhatikan kemaslahatan manusia. 4. Kira-kira ada 4.500 hadist yang menjadi sumber fiqih sebagaiman yang disebutkan oleh Ibnul Qoyyim dalam kitab I’lamul Muwaqqilin   Daftar Pustaka: Djafar, Muhammadiyah. 1993. Pengantar Ilmu Fiqih. Jakarta: Kalam Mulia. Koto, Akaiddin. 2004. Ilmu Fiqih dan Usul Fiqih. Jakarta: PT.Raja Grafindo Persada. Mudjib, Abdul. 1982. Pengantar Ilmu Fiqih. Malang: Biro Ilmiah. Shiddieqy, Teungku Muhammad Habsi. 1997. Pengantar Ilmu Fiqih. Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra. Sirry, Mun’im. 1995. Sejarah Fiqih Islam. Islamabad. Risalah Gusti. Syarifiddin, Amir. 1997. Usul Fiqih jilid 1.Ciputat: Logos Wacana Ilmu.

Popular posts from this blog

CONTOH AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR ( MUBES ) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA (IPPM) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 Minggu, 16 November 2010 WAKTU KEGIATAN PETUGAS TEMPAT 0 7 . 3 0 – 0 8 .00 Persiapan panitia Panitia Aula Rumah Bapak Prof. Dr. Safrion, MS 0 8 . 3 0 – 09.30 Pembukaan : F   Master of Ceremony (MC) F   Pembacaan Ayat suci alquran F   Sari Tilawah F   Menyanyikan Lagu Indonesia Raya F   Laporan Ketua Panitia F   Sambutan Ketua IPPM Bundo Kanduang Malang F   Sambutan Tuan Rumah F   Sambutan Ketua IKM Sehati Malang sekaligus membuka acara secara resmi F   Doa F   Penutup Robert   Ardian Maulid Wanda Wanda Iqsan Dinata Andri Zulanda Prof. Dr. Safrion, MS Prof. Dr. dr.H.Achdiat Agoes, Sp. S Eka Rizal, S.Pd 09.30 – 11.30 §       SIDANG PLENO I : Pembahasan Agenda Acara MUBES I

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dar

CONTOH TATATERTIB MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN TATA TERTIB MUSYAWARAH BESAR (MUBES) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA ( IPPM ) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Musyawarah Besar IPPM Bundo Kanduang merupakan rapat tertinggi ditingkatan Organisasi daerah IPPM Bundo Kanduang Malang 2.       Musyawarah Besar I II   adalah forum permusyawaratan untuk mengemban amanat oganisasi dan dilaksanakan pada akhir periode untuk menghasilkan rekomendasi kepada kepengurusan yang selanjutnya 3.       Musyawarah Besar I II merupakan permusyawaratan anggota IPPM Bundo Kanduang Malang yang disingkat dengan MUBES I II BAB II TUGAS DAN WEWENANG Pasal 2 Menetapkan pola dan garis-garis besar kebijakan didalam penyelenggaraan organisasi ikatan pemuda pelajar mahasiswa bundo kanduang Mengevaluasi dan mengesahkan laporan pertanggung jawaban pengurus IPPM bundo kanduang Membahas sekaligus menetapkan AD/ART organisasi ikatan pemuda pelajar mahasi