Skip to main content

Sejarah perkembangan sosiologi dan antropologi

A.Sejarah perkembangan sosiologi dan antropologi a. sejarah perkembangan sosilogi pemikiran dan perhatian intelektual terhadap masalah-masalah serta isu-isu yang berhubungan dengan sosiologi sudah lama berkembang sebelum sosiologi itu lahir menjadi suatu disiplin ilmu. Para ahli filsafat pencerahan (enlightenment) pada abad ke-18 sudah menekankan peranan akal budi yang potensial dalam memahami perilaku manusia dan dalam memeberikan landasan untuk hokum-hukum dan organisasi Negara (becker, 1932; berlin, 1956; capaldi, 1967). Pemikiran mereka lebih ditekankan pada dobrakan utama terhadap pemikiran abad pertengahan yang bergaya skolastik atau dogmatis, dimana perilaku manusia dan organisasi masyarakat itu sudah dijelaskan dalam hubungan dengan kepercayaan-kepercayaan agama . Sejarawan dan filsuf islam Tunisia, ibn khaldun (1332-1406), sudah merumuskan suatu model tantang suku bangsa nomaden yang keras dan masyarakat-masyarakat halus bertipe menetap dalam suatu hubungan yang kontras. Karya ibn khaldun tersebut dituangkan dalam bukunya yang berjudul al-muqadimah tentang sejarah dunia dan social budaya yang dipandang sebagai karya besar dibidang tersebut. Dari kajiannya tentang watak masyarakat manusia, khaldun menyimpulkan bahwa kehidupan nomaden lebih dahulu ada dibanding kehidupan kota, dan masing-masing kehidupan ini memiliki karakteristik tersendiri. Menurut pengamatannya, politik tidak akan timbul kecuali dengan penaklukan, dan penaklukan itu tidak akan terealisasi kecuali dengan solidaritas. Lebih jauh lagi, ia mengemukakan bahwa kelompok yang terkalahkan selalu menang, baik dalam slogan, pakaian, kendaraan, dan tradisinya. Selain itu, salah satu watak seorang raja adalah sikapnya yang menggemari kemewahan, kesenangan, dan kedamaian. Dan apabila hal-hal ini mewarnai sebuah Negara maka Negara itu akan masuk dalam masa senja. Dengan demikian, kebudayaan itu adalah tujuan masyarakat manusia dan akhir usia senja. Pendapat khaldun tentang wata-watak masyarakat manusia dijadikannya sebagai landasan konsepsinya bahwa kebudayaan dalam berbagai bangsa berkembang melalui empat fase, yaitu fase primitf atau nomaden, fase urbanisasi, fase kemewahan, dan fase kemunduran yang mengantarkan kehancuran. Kemudian keempat perkembangan ini oleh khaldun sering disebut dengan fase pembangun, pemberi kabar gembira, penurut, dan penghancur. Jadi, peradaban-peradaban ditakdirkan tidak untuk bertahan lama dan tumbuh tanpa batas, tetapi untuk menjadi mudah ditaklukkan oleh seorang nomaden yang kuat, keras, dan keberaniannya diperkuat oleh rasa solidaritas yang tinggi. Namun kemudian, penakluk-penakluk itu meniru gaya hidup kebudayaan yang halus yang mereka taklukkan, dan siklus terus terulag lagi. Model masyarakat yang khaldin gambarkan mengenai tipe-tipe social dan perubahan social diwarnai warisan khusus dari pengalaman dunia gurun pasir di jazirah arab. Tujuannya tidak hanya untuk memberikan suatu deskripsi historis mengenai masyarakat-masyarakat arab, tetapi untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum atau hukum-hukum yang mengatur dinamika masyarakat dan proses perubahan sosial secara keseluruhan. Semangat atau sikap ilmiahnya dalam menganalisis sosial budaya, pada umumnya mendekati bentuk penelitian ilmiah modern, dan isinya secara substansif dapat di sejajarkan dengan teori sosial modern. Namun demikian, karya kghaldun sudah banyak diabaikan oleh para ahli sosial di erofa dan amerika, mungkin antara lain karena dunia arab saat itu mulai mindur, sedangkan erofa dan amerika semakin mendominasi. Keadaan seperti itu tidak sekedar melanda dalam sosiologi sebab sampai menjelang abad ke-19, hampir semua ilmu pengetahuan yang dikenal sekarang ini, menjadi bagian dari filsafat dunia barat yang berperan sebagai induk ilmu pengetahuan atau master scientiarium atau mnurut Francis Bacon sebagai the great mother of the sciences. Pada waktu itu, filsafat mencakup segala usaha-usaha pemikiran mengenai masyarakt.lama-kelamaan, dengan berkembangnya zaman dan tumbuhnya peradaban manusia, berbagai ilmu pengetahuan yang semula tergabung dalam filsafat memisahkan diri dan berkembang mengejar tujuan masing-masing astronomi (ilmu tentang perbintangan), dan fisika (ilmu alam) merupakan cabang-cabang filsafat yang paling awal memisahkan diri, kemudian diikuti oleh ilmu kimia, biologi, dan geologi. Pada abad ke-19 kemudian muncul ilmu pengetahuan baru, yakni psikologi dan sosiologi. Begitu juga astronomi yang mulanya merupakan bagian dari filsafat yang bernama kosmologi, sedangkan alamiah menjadi fisika, filsafat kejiwaan menjadi psikologi, dan filsafat sosial menjadi sosiologi. Dengan demikian, lahirlah sosiologi yang dalam pertumbuhannya dapat dipisahkan dengan ilmu-ilmu sosial lainnya, seperti ekonomi, sejarah, politik, dan lain sebagainya. Lahirlah sosiologi sebagai ilmu sosial tidak lepas peranannya dari tokoh brilian tapi kesepian. Ia adalah Aguste Comte (1798-1857), yang tidak hanya menemukan nama untuk bidang studi yang belum dipraktikan pada saat itu, tetapi juga mengklaim status masa depan ilmu pengetahuan tentang hukum yang mengatur perkembangan progresif, namun teratur dari masyarakat terutama dari hukum dinamika sosial dan hukum statis sosial . Pengetahuan yang akan diperoleh dengan menyebarkan metode ilmiah dari observasi dan eksperimen yang dapat diterapakan secara universal. Aguste Comte menulis buku berjudul course of positive philosify yang diterbitkan pada tahun antara 1830-1842, yang mencerminkan suatu komitmen yang kuat terhadap metode ilmiah . Buku tersebut merupakan ensiklopedia mengenai evolusi filosofis dari semua ilmu dan merupakan suatu pernyataan yang sistematis tentang filsafat sistematis tentang filsafat positif, yang semua ini terwujud dalam tahap akhir perkembangan . singkatnya, dalam hukum itu menyatakan bahwa masyarakat berkembang melalui tiga tahap utama. Tahap ini ditentukan menurut cara berpikir yang dominan, terbagi dalam tiga stadium yaitu (1) tahap teologis, ditandai dengan kekuatan zat adikodrati yang Mahakuasa; (2) tahap metafisik, ditandai dengan kekuatan pikiran atau ide-ide abstrak yang absolut; (3) tahap positif, yang ditandai oleh kemajuan ilmu positivistik untuk kemajuan dan keteraturan hidup manusia, dimana sosiologi akan menjadi pendeta agama baru . Sosiologi yang lahir tahun 1839, berasal dari kata latin socius yang berarti kawan, dan logos yang berasal dari bahasa yunani yang berarti kata atau bicara. Dengan demikian, sosiologi berarti berbicara mengenai masyarakat. Bagi Comte sosiologi merupakan ilmu pengetahuan kemasyarakatan umum yang merupakan hasil akhir dari perkembangan ilmu pengetahuan. Tokoh ahli kemasyarakatan lainnya dari inggris, yaitu Herbert spencer (1820-1830), merupakan tokoh yang pertama-tama menulis tentang masyarakat atas dasar data empiris yang konkret dan dituangkan dalam bukunya yang berjudul principles of sociology. Ia mengemukakan bahwa kunci memahami gejala sosial atau gejala ilmiah itu adalah hukum evolusi universal. Gejala fisik, biologis, dan sosial itu semuanya tunduk pada hukum dasar tersebut. Kemudian prinsip-prinsip evolusi tersebut juga diperluas dari tingkat gilogis ke sosial sehingga semboyan survival of the fittest dalam darwinisme sosial itu pun sebenarnya dari Herbert Spencer. Emile Duerkheim (1858-1917)banyak yang mengakui sebagai salah satu “bapak ilmu sosiologi” dalam pengmbangan disiplin sosiologi sebagai disiplin akademik, mengikuti tradisi posivistik prancis dan mengemukakan dalil keberadaan fakta sosial yang spesifik, yang telah ditinggalkan oleh bentuk studi lainnya, khususnya psikkologi yang merupakan pesaing dari sosilogi yang paling nyata dalam tugas menjelaskan keteraturan di dalam tindakan manusia yang dapat diamati. Dalam bukunya yang berjudul the rule of sociological method, durkheim mengajukan dalil bahwa fakta sosial itu tidak dapat direduksikan kefakta individu, melainkan memiliki eksistensi yang independen pada tingkat sosial. Inilah awal yang menegakkan sosiologi satu disiplin ilmu yang terlepas dari psikologi, walaupun pendapat tersebut ditentang oleh tokoh-tokoh lainnya, seperti Max Webber dan George C. Homans dalam karyanya social behavior: its elementary forms, kelompok reduksionis yang mengemukakan bahwa setiap usaha untuk menjelaskan gejala sosial akhirnya harus di dasarkan pada proposisi-proposisi mengenai prilaku individu . Apa yang membedakan fakta sosial itu dapat dibedakan dengan gejala individual? Bagi Durkheim, fakta sosial itu memiliki karakteristik yang berbeda dengan gejala individual. 1. Fakta sosial itu bersifat eksternal terhadap individu yang merupakan cara bertindak, berpikir, dan berperasaan yang memperlihatkan keberadaannya diluar kesadaran individu. 2. fakta sosial itu memaksa individu, walaupun tidak dalam pengertian kepada hal-hal negatif. Melalui fakta sosial, individu tersebut dipaksa dibimbing, diyakinkan, didorong atau dipengaruhi dalam lingkungan sosilanya. 3. Fakta sosial itu bersifat universal, oleh karenanya tersebar secara luas dalam milik bersama, bukan bersifat individu perorangan ataupun hasil perjumlahan individu, tetapi kolektif. Dalam buku yang lain, devision of labour in society, Durkheim memusatkan konsep solidaritas sosial sebagai sebuah karya utamanya. Singkatnya, solidaritas sosial menunjuk pada suatu peranan moral serta kepercayaan yang dianut bersama dan diperkuat oleh pengalaman emosional bersama. Dalam hal ini, Durkheim menganalisis pengaruh atau fungsi kompleksitas dan spesialisasi pembagian kerja dalam struktur sosial dan perubahan yang di akibatkan dalam bentuk-bentuk pokok solidaritas sosial. Dalam arti bahwa pertumbuhan dalam pembagian kerja meningkatkan suatu perubahan dalam sturktur sosial dari solidaritas sosial mekanik ke solidaritas sosial yang organik . Solidaritas mekanik didasarkan pada suatu kesadaran kolektif yang mengacu pada totalitas kepercayaan dan sentimen bersama yang rata-rata ada pada warga masyarakat yang sama tersebut. Sedangkan dalam solidaritas organik, terdapat saling ketergantungan yang tinggi dan hal itu muncul karena pembagian tenaga kerja yang bertambah besar sehingga terbentuk spealisasi dalam pembagian pekerjaan. Karakteristik dalam timbulnya solidaritas organik tersebut ditandai oleh pentingnya hukum yang bersifat memulihkan dari pada bersifat represif . Pada saat hampir sama, Max weber (1864-1920) tokoh pendiri akademik lainnya yang terinspirasi oleh tradisi Geisteswissenchaven dan kultulehre dari jerman, berusaha membentuk disiplin baru. Sosiologi dibedakan oleh pendekatan dan pandangan interpretatifnya dari pada oleh pernyataan bahwa seperangkat fakta terpisah merupakan wilayah ekslusif untuk studinya. Bagi weber, sosiologi dibedakan oleh usahanya untuk verstehen (memahami) tingkah laku manusia. Intuk fokus kajiannya itu, ia bebeda dengan durkheim yang menekankan fakta sosial tersebut. Bagi weber, kenyataan sosial itu sebagai sesuatu yang didasarkan pada motivasi individu dan tindakan sosial yang berarti. Dalam arti bahwa tinjauan weber tersebut berhubungan dengan posisi nominalis yang berpendirian bahwa hanya individulah yang riil secara objektif. Sebalaiknya, masyarakat hanyalah satu nama yang mengunjuk pada sekumpulan individu-individu. Akan tetapi, analisis substansif weber tidak mencerminkan suatu posisi yang individualistik dengan ekstermnya. Dia pun mengikuti dinamika kecendrungan sejarah yang besar pengaruhnya terhadap individu, walaupun posisinya dapat dilihat sebagai sesuatu yang berhubungan dengan individualisme metodologisme. Artinya data ilmiah bagi ilmu sosial akhirnya berhubungan dengan tindakan-tindakan individu yang bersifat subjektif dan berhubungan dengan berbagai kategori interaksi manusia. Alasan mengapa dia menekankan pada kajian individu yang serba subjektif? Karena dimasa hidupnya ia sangat menekankan idealisme dan historisme. Dunia ilmu budaya tidaklah dapat dipandang sebagai sesuatu yang sesuai menurut hukum-hukum ilmu alam saja yang menyatakan hubungan itu bersifat kausal. Sebaliknya, dunia budaya harus dilihat sebagai dunia kebebasan dalam hubungan dengan pengalaman internal, dimana arti-arti subjektif itu dapat ditangkap. Sebab pengetahuan yang objektif mengenai tipe yang di cari dalam ilmu-ilmu alam tidaklah memadai. Pandangan semacam itu dikembangkan oleh guru weber, yakni seorang sejarawan jerman bernama Wilhelm Dilthey (1883-1911) yang menekankan tradisi idealis dan ilmu-ilmu budaya yang menekankan verstehen ( pemahaman subjektif) bertentangan dengan pradigma positivisme dari perancis atau durkheim tersebut.

Popular posts from this blog

CONTOH AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR ( MUBES ) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA (IPPM) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 Minggu, 16 November 2010 WAKTU KEGIATAN PETUGAS TEMPAT 0 7 . 3 0 – 0 8 .00 Persiapan panitia Panitia Aula Rumah Bapak Prof. Dr. Safrion, MS 0 8 . 3 0 – 09.30 Pembukaan : F   Master of Ceremony (MC) F   Pembacaan Ayat suci alquran F   Sari Tilawah F   Menyanyikan Lagu Indonesia Raya F   Laporan Ketua Panitia F   Sambutan Ketua IPPM Bundo Kanduang Malang F   Sambutan Tuan Rumah F   Sambutan Ketua IKM Sehati Malang sekaligus membuka acara secara resmi F   Doa F   Penutup Robert   Ardian Maulid Wanda Wanda Iqsan Dinata Andri Zulanda Prof. Dr. Safrion, MS Prof. Dr. dr.H.Achdiat Agoes, Sp. S Eka Rizal, S.Pd 09.30 – 11.30 §       SIDANG PLENO I : Pembahasan Agenda Acara MUBES I

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dar

CONTOH TATATERTIB MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN TATA TERTIB MUSYAWARAH BESAR (MUBES) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA ( IPPM ) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Musyawarah Besar IPPM Bundo Kanduang merupakan rapat tertinggi ditingkatan Organisasi daerah IPPM Bundo Kanduang Malang 2.       Musyawarah Besar I II   adalah forum permusyawaratan untuk mengemban amanat oganisasi dan dilaksanakan pada akhir periode untuk menghasilkan rekomendasi kepada kepengurusan yang selanjutnya 3.       Musyawarah Besar I II merupakan permusyawaratan anggota IPPM Bundo Kanduang Malang yang disingkat dengan MUBES I II BAB II TUGAS DAN WEWENANG Pasal 2 Menetapkan pola dan garis-garis besar kebijakan didalam penyelenggaraan organisasi ikatan pemuda pelajar mahasiswa bundo kanduang Mengevaluasi dan mengesahkan laporan pertanggung jawaban pengurus IPPM bundo kanduang Membahas sekaligus menetapkan AD/ART organisasi ikatan pemuda pelajar mahasi