Skip to main content

struktur Logika dengan teori Hukum Islam

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Josef van Ess menulis tentang struktur logika dalam telogi Islam. Dalam catatannya, ia mengatakan bahwa dasar logika berfikir para mutakallimun tidak hanya mengakses pada logika Aristoteles, tetapi lebih jauh lagi dibangun atas dasar logika Stoik, walaupun tidak secara keseluruhan. Struktur logika Stoik dalam hal ini adalah ditandai dengan adanya sistem penandaan (jika……maka…),sedangkan logika Aristoteles ditemukan adanya “silogisme” yang mendasarkan pemikiran adanya premis minor, premis mayor, kesimpulan dan terdapat middle term antara dua premis. Model logika berfikir Aristoteles ini, menurut beberapa penelitian, mempengaruhi pola-pola berfikir dalam sistem Islam seperti kalam dan fiqh (silogisme model asy-Syafi’i yang dikenal dalam tradisi Islam sebagai qiyas). Penggunaan qiyas dalam tradisi Mutakallimun berusaha untuk membuktikan kebenaran adanya Tuhan. Dalil didasarkan pada indikasi tanda yang mereka kenal sebagaimana meng-qiyas-kan sesuatu yang nampak (ada) kepada sesuatu yang tidak nampak (ghaib) atau sebaliknya meng-qiyas-kan sesuatu yang tidak ada kepada sesuatu yang nampak (ada). Selanjutnya, dalam tradisi hukum Islam qiyas digunakan dengan menemukan ‘illat (alasan hukum) yang secara kasar dapat disamakan dengan rasio logis yang kadang disebutkan secara eksplisit dalam teks. Tradisi hukum Islam (fiqh) mengenal adanya sumber-sumber hukum yaitu al-Qur’an, sunnah, ijma’ dan qiyas. Untuk menjelaskan tentang proses qiyas, asy-Syafi’i menegaskan sekurang-kurangnya ada dua hal yang harus diperhatikan: pertama, jika Allah dan rasulnya telah mengharamkan sesuatu secara tersurat atau menghalalkannya karena alasan (‘illat/ma’na) tertentu, kemudian kita dapatkan hal serupa tetapi tidak ada nash khusus di dalam al-Qur’an atau Sunnah, maka kita bisa memberikan hukum haram atau halal berdasarkan fakta bahwa hal itu mempunyai essensi (‘illat) yang sama dengan yang telah ditetapkan status hukumnya dalam al-Qur’an dan sunnah tadi. Kedua, dalam hal dua kasus yang hampir-hampir sama, maka analogi (qiyas) harus didasarkan atas kemiripan yang paling lengkap, terutama dari sudut lahiriah. Dalam hubungan ini, landasan penetapan hukum model qiyas asy-Syafi’i memiliki kesamaan secara struktur logika dengan cara berfikir Aristoteles. Akan tetapi, landasan penemuan ‘illat hukum harus didasari pada apa yang ditemukan dalam al-Qur’an, sunnah dan ijma’. Dalam konteks ini, peran akal ada tetapi dibatasi oleh peran teks. Dari paparan diatas besar keinginan dari peneliti bisa mengaplikasikan teorema-teorema yang telah di pelajari dalam ilmu matematika terhadap hukum Islam dalam hal ini adalah Qiyas. Namun dalam penerapannya tidak bertentangan dengan hukum yang berlaku dalam Nash dan Sunnah. Besar harapan nantinya akan ada kesinambungan antara teori-teori dalam logika dengan teori dalam hukum islam. 1.2 Rumusan Masalah Bagaimana keterkaitan antara struktur Logika dengan teori Hukum Islam dalam hal ini telaah terhadap teori qiyas. 1.3 Tujuan Untuk mengetahui keterkaitan antara struktur logika denga teori Hukum Islam dalam hal ini telaah terhadap teori Qiyas 1.4 Mamfaat Bagi peneliti • Mendapatkan cara baru untuk memahami hukum islam melalui struktur logika yang telah di pelajari dalam ilmu matematika • Memantapkan keyakinan atas ketauhidan Allah SWT dan mengakui secara totalitas bahwa Allah adalah segala-galanya • Mampu mengintegrasikan antara sains dan agama Bagi pembaca • Mendapatkan cara untuk memahami hukum islam dalam hal ini telaah atas teori qiyas secara matematis • Berusaha membuka ide kreatif pembaca untuk bisa mengkaji aplikasi matematika dalam ruang lingkup pembahasan yang bersifat keagamaan 1.5 Batasan Masalah Adapun batasan masalah yang kita bahas adalah logika aristoteles, logika stoik, logika Mutakallim dan qiyas. 1.6 Metode Penelitian Untuk menemukan keterkaitan antara logika hukum Islam, maka digunakanlah pendekatan sistemik (systemic Appraoch). Yang dimaksud dengan pendekatan sistemik di sini berusaha melihat adanya keterkaitan antara masing-masing logika, struktur pemikiran dan penggunaan term-term masing-masing logika. Sungguhpun demikian, pembahasan ini juga berusaha melakukan pendekatan sejarah untuk menutupi kekurangan pendekatan sistemik di atas. Pendekatan sej`rah disini terkait dengan sejarah pemikiran (history of thought, history of ideas atau intellectual history) yang secara metodologi mempunyai tiga pendekatan yaitu pendekatan untuk kajian teks, kajian konteks sejarah dan kajian hubungan antara teks dan masyarakat. Pada kajian teks yang dilihat adalah genesis pemikiran (keterpengaruhan pemikiran seseorang dengan pemikiran sebelumnya), konsistensi pemikiran, evolusi pemikiran, sistematika pemikiran, perkembangan dan perubahan (development and change), varian pemikiran, komunikasi pemikiran, internal dialektik dan kesinambungan pemikiran serta intertekstualitas. Pada kajian konteks ingin mendapatkan konteks sejarah, konteks politik, konteks budaya, dan konteks sosial sedangkan dalam persoalan hubungan antara teks dan masyarakat berupaya melihat adanya pengaruh pemikiran, implementasi pemikiran, dimensi pemikiran dan sosialisasi pemikiran. Dalam hubungan ini, pembahasan yang dilakukan adalah kajian teks dengan berupaya melihat dua komponen, yaitu genisis pemikiran dan sistematika pemikiran. Untuk sistematika pemikiran mungkin memiliki kesamaan dengan systemic approach. BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Logika Aristoteles dan Stoik Logika adalah term yang diambil dari bahasa latin berasal dari kata “logos” yang artinya perkataan, sabda, lelucon, ibarat atau perumpamaan.(K. Prent C.M, dkk.Kamus Latin-Indonesia,Semarang: Penerbitan Yayasan Kanisius, 1969, hlm. 501). Akan tetapi, kata logika yang dalam bahasa latin disebut juga “logica”, inggris “logic”, Yunani “logike” atau “logikos”, secara umum diartikan sebagai apa yang termasuk ucapan yang dapat dimengerti atau akal budi yang berfungsi baik, teratur, sistematis dan dapat dimengerti. Istilah lain dalam terminologi Islam disebut mantiq yaitu kata Arab yang diambil dari kata kerja nathaqa yang berarti berkata, berucap atau berbicara. Semantara itu, al-manthiqiyu disebut juga al-kalamu: ucapan.( Ahmad Warson Munawir, al-Munawir Kamus Arab Indonesia, bagian huruf Nun (Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1984), hlm. 1531) Mantiq atau logika dalam perkembangannya memiliki beberapa pengertian, diantaranya, George F. Kreller dalam buku Logic and Language of Education sebagaimana yang dikutip Mundiri menyebutkan bahwa manthiq adalah “penyelidikan tentang dasar-dasar dan metode-metode berfikir benar”.( Mundiri, Logika (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2001), hlm. 2) Selanjutnya, Thaib Thahir mengatakan manthiq sebagai ilmu untuk menggerakan pikiran kepada jalan yang lurus dalam memperoleh kebenaran. M. Ali Hasan, Ilmu Mantiq Logika (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1992), hlm. 1. Sementara itu, Ibn Khaldun mengatakan bahwa logika berbicara tentang kaidah-kaidah yang memungkinkan seseorang mampu membedakan antara yang benar dan yang salah, dimana keduanya dalam difinisi memberi informasi tentang isi sesuatu (mahiyat) dan dengan alasan yang bermanfaat bagi persepsi. Sungguhpun demikian, pengertian logika yang telah dirumuskan di atas tidak terlepas dari dasar logika yang digagas Aristoteles. Aristoteles, sekalipun gagasan logika selalu disandarkan kepadanya, tidak pernah menyebut kata-kata logika (logike) dalam buku-bukunya. Ia menyebutnya dengan analytic untuk menyelidiki argumentasi yang bertitik tolak dari putusan yang benar dan dialectic untuk menyelidiki argumentasi yang bertitik tolak dari hipotesis yang tidak pasti kebenarannya. Kata logika pertama kali digunakan oleh Zeno dari Citium dalam arti “seni berdebat”. Kemudian digunakan oleh Alexander Aphrodisias dalam arti ilmu yang menyelidiki lurus tidaknya suatu pemikiran dan selanjutnya dirintis oleh kaum Sofis, Socrates dan Plato. Sungguhpun demikian, logika sebagai ilmu diperkenalkan oleh Aristoteles, Theoprostus dan kaum Stoa. Istilah logika ini kemudian digunakan sebagai padanan kata untuk istilah dua bentuk penalaran dan argumentasi, yaitu demonstration, yang mengahasilkan bukti-bukti ilmiah dan dialectical argument yang ditemukan dalam pedebatan dan silang pendapat antara beberapa orang.Selanjutnya, ilmuwan belakangan mencoba membagi-bagi logika berdasarkan kualitas, metode dan objeknya. Berdasarkan pembagian logika maka logika Aristoteles disebut logika tradisionalis, logika formal atau logika deduktif. Secara deduktif muatan logika fundamental tentang argument ada dua yaitu, pertama, argument yang valid (logis) adalah jika semua premis benar, kemudian kesimpulannya harus benar. Dengan kata lain, sebuah argument dikatakan valid hanya dalam kasus yang tidak mungkin semua premis benar dan kemudian kesimpulannya salah. Kedua, invalid argument adalah jika mungkin premis benar dan kesimpulan salah. Logika Aristoteles yang teringkas dalam enam karyanya yang terkenal dengan Organon “instrument” mengandung ajaran yang paling penting yaitu silogisme. Silogisme adalah jenis khusus dari sebuah argument yang terdiri dari tiga bagian yaitu premis mayor, premis minor dan kesimpulan. Sejumlah bentuk dalam silogisme dapat ditemukan dalam istilah yang digunakan oleh Skolastik. Bentuk pertama: bentuk silogisme yang mana term tengah (middle term) menjadi subyek pada premis mayor dan menjadi predikat pada preis minor. * Semua manusia fana (premis mayor). Sokrates adalah seorang manusia (premis minor). Dengan demkian: sokrates fana (kesimpulan) Model ini disebut “Barbara”: * Tak ada ikan yang rasional, Semua hiu adalah ikan Dengan demikian: tak ada hiu yang rasional Model ini disebut “Calerent” * Semua manusia rasional, sebagaian binatang adalah manusia, dengan demikian sebagain binatang adalah rasional. Model ini disebut “Darii” * Tak ada orang Yunani berkulit hitam sebagaian manusia adalah orang Yunani Dengan demikian sebagian manusia tak berkulit hitam. Model ini disebut “Ferio”. Bentuk kedua: bentuk silogisme dengan term tengah menjadi predikat pada premis mayor dan premis minor. * Semua tumbuhan membutuhkan air Tidak satu pun benda mati membutuhkan air. Dengan demikian, tidak satu pun benda mati adalah tumbuhan Bentuk ketiga: silogisme dengan term tengah menjadi subjek pada premis mayor dan premis minor. * Setiap manusia mempunyai rasa takut Tetapi setiap manusia adalah binatang Dengan demikian, Sebagian binatang mempunyai rasa takut Model-model silogisme di atas lebih sering disebut silogisme katagorik yaitu silogisme yang semua proposisinya katagorik. Di samping itu, ditemukan juga silogisme hipotesis dan disjungtif. Yang disebutkan pertama bergumul dengan penalaran-penalaran abstrak yang bersifat mungkin, jika memakai pernyataan “jika-maka”, atau kombinasi pernyataan “jika-maka” dan pernyataan katagoris, sedangkan yang disebutkan terakhir yang dalam uraian kuno tentang silogisme, pembedaan dibuat diantara arti lemah “entah-atau” (sering disebut alternative) dan arti kuat (sering disebut disjungtif). Kedua logika ini telah terkonsep dalam logika Stoik. Logika Stoic atau juga sering disebut sebagai logika mazhab Stoa adalah logika model silogisme hipotesis dan disjungtif, berbeda dengan logika Aristoteles yang menggunakan silogisme katagorik. Paling tidak, dua istilah di atas berasal dari kaum Stoa. Mereka menganggap logika sebagai hal yang paling mendasar. Selain itu, kaum Stoa memiliki teori pengetahuan yang sangat rinci terutama bersifat empiris dan didasarkan pada persepsi, meskipun mereka mengakui beberapa ide dan asas tertentu yang dianggap ditetapkan oleh consensus gentium, kesepakatan umat manusia. Agaknya, yang disebut belakangan berada diluar pembahasan logika sekalipun masih ada keterkaitannya. Pada pembahasan tentang logika, menurut kalangan Stoic, dapat dibagi menjadi dua yaitu dialektika dan retorika sebagai upaya untuk menambah teori definisi dan teori tentang kereteria kebenaran. Logika Stoik tidak jarang pula disebut dengan epistemology Stoic, yaitu menghilangkan logika formal model Aristoteles. Dalam logika Aristoteles terdapat teori katagori yang menjelaskan tentang adanya 10 kebenaran yang dapat dijadikan pokok (untuk katagori pertama adalah substansi) dan sebutan dalam suatu kereteria logika. Jenis keberadaan itu adalah substance (benda), quantity (besaran), quality (sifat), relation (hubunan), place (tempat), time (waktu), attitude (sikap), possessing (kepemilikan), activity (kegiatan) dan passivity (penderitaan).Selanjutnya, 10 model Aristoteles ini direduksi oleh logika Stoik menjadi 4 bagian saja yaitu: substrate, esensial constitution, accidental constitution dan relative accidential constitution. Akhirnya, 4 katagori tersebut dikenal juga dengan logika formal model Stoik. Logika dan epistemologi pada masa Stoic kuno menekankan pada kalkulus proposional dan menurunkan kaitan-kaitan logis. Model logika kalkulus proposional adalah bagian paling awal dari logika moderen yang sering disbut juga kalkulus essential. Epistemology Stoic menyumbangkan “paham umum” kepada filsafat. Preposisi-preposisi menjadi sederhana jika term-termnya non-proposisi, sebaliknya berupa campuran. Proposisi campuran diumpamakan, “jika X, maka Y”, ada 4 katogori yang dihasilkan dari preposisi campuran ini yaitu: (1) dikatakan benar, jika X dan Y keduanya benar; (2) dikatakan salah, jika X benar dan Y salah; (3) dikatakan benar, jika X salah dan Y benar; (4) dikatan benar, jika X dan Y keduanya salah. Jadi, implikasi “logika materil” kita terpisah dengan implikasi “logika formal” dan implikasi “logika sempurna.” Jika dibuat tabel kebenaran maka akan dihasilkan sebagai berikut : X Y Hasil 1 2 3 B B S S B S B S B S S S Beranjak pada persoalan pembuktian akan kebenaran, logika Stoic dibangun atas dua hal yaitu commemorative sign dan indicative sign. Commemorative sign adalah fakta-fakta yang sudah kita ketahui sebelumnya. Misalnya, kita mengetahui bahwa adanya asap selalu identik dengan adanya api karena kita telah melihat asap keluar dari api sebelumnya sebagai pengalaman inderawi kita. Sebaliknya, Indicative sign hanya memberikan tanda atau isyarat sesuatu yang seseorang belum mengetahui sebelumnya dan barangkali tidak akan perna tahu secara sempurnah. Akan tetapi, pengetahuan manusia didapatkan dari adanya indikasi atau petunjuk yang menuju ke arah sesuatu. Stoic tidak hanya menolak doktrin Plato tentang universalitas transcendental, tetapi juga menolak doktrin Aristoteles universalita konkrit. Hanya keberadaan individu dan pengetahuan kita yang merupakan pengetahuan objek tertentu. Objek khusus inilah yang membuat kesan dalam jiwa, dan pengetahuan sesungguhnya adalah pengetahuan akan kesan ini. Dengan demikian, Stoik adalah empiristik,sejajar dengan “sensualis”tetapi mereka juga memelihara Rasionalisme yang jarang konsisten dengan posisi empiristik dan nominalis.Sekalipun demikian, model pembuktian Stoik ini dengan jelas kita temukan dalam pembuktian adanya Tuhan pada logika Mutakallimun. 2.2 Logika Mutakallimun Josef van Ess menilai Logika atau manthiq ini sekalipun tidak disukai oleh Mutakallimun awal karena mereka lebih senang menggunakan istilah adab al-kalam atau jadal al-kalam dalam beragumentasi, namun secara tidak langsung para teolog dan para pembuat hukum menggunakan metode-metode logika.Kalam sendiri secara harfiah berarti berkata atau berbicara. Para sarjana barat menduga bahwa asal-usul istilah kalam diturunkan secara langsung dari kata Yunani, dialexis, yang digunakan oleh para pastur, atau kata logos, secara tidak langsung melalui bahasa Yunani. Akan tetapi, tidak satupun argument yang mendasari pandangan-pandangan tersebut memberikan kesimpulan pasti karena istilah kalam dalam Islam sudah ada sebelum terjadi kontak dengan sumber-sumber Kristen, Yunani atau Suryani.Sungguhpun demikian, model pembicaraan Mutakallimun yang dirumuskan dalam adab al-jadal adalah keniscayaan yang menunjukan adanya penggunaan logika. Model-model pembicaran di lingkungan Mutakallimun, menurut van Ess, sering menggunakan tanya jawab dalam beradu argumentasi dengan lawan, mempertahan argumennya (defen) dan menyerang lawan (attack), mereka selalu mengunggulkan argumentum ad haminem. Hal ini juga diperkuat oleh pendifinisian olah Ibn Khaldun bahwa ilmu kalam adalah ilmu yang mempergunakan bukti-bukti logis dalam mempertahankan aqidah keimanan dan menolak pembaruan yang menyimpang dalam dogma yang dianut kaum muslim pertama dan ortodoksi muslim, ahl as-sunnah. Apa yang dikemukankan van Ess tersebut mengarahkan pada pengertian kalam sebagai sebuah prosedur dimana ketika kita membahas atau mendiskusikan suatu topik, biasanya terjadi dengan struktur tertentu, yaitu dimulai dengan adanya tanya dan jawab yang terkadang justru melahirkan dilema. Pendapat van Ess ini kemudian dibantah oleh Abdul Haleem. Ia mengatakan bahwa pendapat van Ess yang menyatakan bahwa kalam melibatkan struktur dialektis tidak selaras dengan pandangan Islam tentang kalam. Situasi dialektis dan rumusan konjungtif tentu saja merupakan bagian dari kalam tetapi yang pasti bukan satu-satunya bentuk yang diakui. Dalam hubungan ini, sepanjang sejarah kalam, tulisan-tulisan idiologi dan karakteristik beragam juga diterima sebagai bagaian kalam. Walaupun pendapat Haleem dapat saja kita terima, namun yang tidak dapat ditolak adalah bahwa Mutakallimun banyak melalui rumusan tersebut dalam membuat rumusan-rumusan tentang ketuhanan dan hal-hal yang terkait dengan keyakinan (tentang manusia dan Tuhan) sebagai akibat dari adanya perdebatan awal. Dalam mempertahankan aqidahnya, Mutakallimun, sebagaimana yang telah dieksplorasi van Ess, telah menghasilkan katagori atau sistem berfikir, di sini kita sebut dengan struktur logika Mutakallimun. Dari sejumlah karya-karya Mutakallimun yang ditelitinya terdapat sejumlah kata-kata yang selalu digunakan yaitu : tard wa al-‘aks, su’al wa jawab, tamyiz, adab al-kalam atau adab al-jadal, dalil, dalalah, wajhu al-istidlal, ta’aluq, qiyas, lazim dan qarina. Sungguhpun demikian, dari sejumlah term yang muncul istilah tamyiz lebih memiliki kemiripan dengan model ontologi yang dikemukakan Aristoteles. Aristoteles mensyaratkan ontologi substansi dan bentuk (partikular dan universal). Difinisi ini yang digunakan Mutakallimun untuk membuat generic catagory dan most special quality (akhsass alausaf) yang dimiliki dua hal secara umum. Selanjutnya, dari sini seseorang mencoba untuk mengklasifikasikan fakta-fakta tertentu dengan memperbandingkan dua hal tersebut (analogi) atau dengan membedakan keduanya (tamyiz). Analogi di sini digunakan untuk menarik kesimpulan dari satu hal yang khusus kepada hal lain dengan menentukan midle term (hadd ausath), dalam logika Aristoteles. Sungguhpun demikian, tradisi verbalisme dikalangan Mutakalim sebagai dasar berfikir masih bersifat atomistik (tidak memiliki hubungan antara satu dengan lainnya), tanpa melihat substansi. Lebih jauh lagi, para Mutakallimun dalam mengembangkan pemikirannya tidak hanya menggunakan model logika Aristoteles dengan silogisme katagorik di atas, tetapi lebih banyak menggunakan logika silogisme hipotesis model Stoik yaitu dengan pola ”jika…..maka… ”. Dengan kata lain, logika Mutakalim lebih dekat dengan logika Stoik sekalipun kita tidak dapat mengatakan bahwa logika Mutakalim identik dengan logika Stoik. Paling tidak, struktur logika Mutakalim secara moral lebih bersifat agresif, apologetik dan menekankan pada defen and attack sehingga tidak jarang mereka melakukan kesalan logis, yaitu lebih menekankan pada triumph of Argumentum ad hominem. Tambahan pula, logika Mutakalim bersifat mempertahankan keyakinan atau logical demonstration of belived truth. Hal ini memang harus diakui karena logika ini tidak sebatas mempertahankan tetapi menemukan bukti-bukti untuk membenarkan keyakinan yang mereka anut. Sebagai upaya pembuktian ini, logika Mutakallimun sangat terkait dengan model indicative sign dalam logika Stoik. Paling tidak, sangat terkenal di kalangan Mutakallimun yaitu cara-cara pembuktian adanya Tuhan dengan menunjukan segala sesuatu yang ada di alam sebagai ciptaannya. Dalam hal ini, istilah ”istidlal bi asy-syahid ‘ala al-ghaib atau qiyas al-qaib ‘ala asy-syahid” adalah model logika yang menunjukan adanya persamaan dengan logika Stoik. Sungguhpun demikian, sekali lagi, kita harus mengatakan bahwa apakah benar Mutakallimun mengambil langsung model logika Stoik dalam pemikirannya atau ini hanyalah suatu kreatifitas berfikir dimana semua pemeluk agama memiliki sumber dan cara tersendiri untuk membuktikan dan mengembangkan kebenaran ajaran agamanya. Di pihak lain, penggunaan logika Aristotelian yang terbatas pada konseptualisme logis dan penjelasan linier dengan mengganti akal jenis meditatif (‘aql mu’abir) yang senantiasa diseru dalam al-qur’an menjadi akal dialektika (‘aql jadali), para Mutakalimmun mengakumulasikan berbagai kontradiksi yang menyelubungi seruan-seruan al-Qur ‘an terhadap kesadaran imajinatif. Penjelasan terakhir ini tidak kita bahas lebih jauh, tetapi penjelasan tentang model indicative sign yang dalam logika Mutakalimmun membentuk istilah qiyas al-qaib ‘ala asy-syahid, membuat ketertarikan kita untuk melihat struktur logika hukum islam terutama qiyas. 2.3 Logika Hukum Islam (Qiyas) Secara etimologis, qiyas berarti mengukur, memastika, membandingkan sesuatu yang semisalnya.Sementara itu, secara istilah ushul fiqh, qiyas adalah menghubungkan suatu perkara yang tidak ada nash tentang hukumnya kepada perkara lain yang ada nash hukumnya karena adanya persamaan ‘illat (effective cause) hukumnya. Pengetian qiyas semacam ini adalah qiyas dalam pemahaman asy-Syafi’I dan setelahnya. Pengertian qiyas setelah asy-Syafi’i memuat empat unsur yang menjadi bangunannya, yaitu: kasus baru (far’), al-asl (kasus asli yang ada dalam nash), al-’illat (ratio legis) yaitu alasan serupa antara asl dan far’ yang berupa sifat umum yang terdapat pada keduanya, dan al-hukm yaitu hukum yang dipergunakan qiyas untuk memperluas hukum dari asal ke far’ atau norma hukum yang dinisbatkan kepada kasus baru yang ditransfer dari kasus lama ke kasus baru karena kesamaan antara kedua kasus. Misalnya, kasus yang sangat popular adalah tentang hukum keharaman anggur dari kurma kering (nabidz) karena adanya kesamaan ‘illat dengan keharaman meminum khamar yang terdapat di dalam al-Qur’an, yaitu memabukan. Penemuan ‘illat hukum dalam sebuah kasus yang terdapat dalam teks secara garis besar dapat dilakukan dengan dua metode, yaitu sah (valid), metode-metode yang keabsahannya diakui oleh para juris, dan dugaan (probable) (zhanniyyah atau mutawahhamah), yang keabsahannya masih bersifat dugaan dan kemungkinan.Metode yang pertama terbagi menjadi dua yaitu ijma’ (consensus) dan nass (the text). Nass terbagi menjadi dua lagi, yaitu nass yang eksplisit (sarih) dan implisit (ima wa tanbih). Sementara itu, metode yang kedua yang bersifat dugaan ada lima, yaitu: munasabah (kesesuaian), syabah (keserupan), ṭard atau saradi (kebersamaan atau kebetulan), dawran (perputaran), juga disebut ṭard wa’aks (kebersamaan dan kespesifikan) dan sabr wa taqsim (penyelidikan dan klasifikasi). Selain metode tersebut, masih ada perdebatan di kalangan ulama tentang jumlah dan jenis lainnya. Misalnya, fuqaha menganggap metode tanqih al-mana (pembersihan dan dasar ketetapan hukum), tahqiq al manas (verifikasi atau realisasi dasar ketetapan hukum) dan takhrij al-manat (pengambilan dasar ketetepan hukum) dapat digunakan sebagai metode penetapan ‘illat. Ketiga metode ini ditolak oleh al-Ghazali dan al-Amidi sebagai masalik al-illat. Keduanya memasukannya dalam ijtihad fi al-‘illat. Al-Ghazali sendiri lebih sering menggunakan metode munasabah. Wael B. Hallaq mengatakan bahwa metode munasabah (kesesuaian) ini banyak dipergunakan al-Ghazali. Ia mengatakan bahwa metode munasabah (kesesuaian) ini banyak dipergunakan al-Ghazali. Menurut al-Ghazali kereteria untuk menentukan kesesuaian atau kelayakan (munasabah) adalah keterkaitannya dengan kemaslahatan. Artinya, kesesuaian tersebut adalah bahwa ‘illat dimaksud, dilihat dari segi kemaslahatannya, memang menghendaki ditetapkannya hukum bersangkutan dan al-ausaf al-munasib (atribut yang sesuai) atau munasib adalah alasan yang didasarkan pada kemaslatan. Selanjutnya, munasib ini dibedakan menjadi 3 yaitu: munasib efektif (mu’ashshir), munasib selaras (mula’im) dan munasib ganjil (garib). Misalnya, ‘illat ditetapkannya perwalian harta atas anak di bawah umur adalah keadaan di bawah umur (as-siqar). Hukumnya di sini adalah ditetapkannya perwalian atas harta; ‘illat hukum tersebut adalah keadaan sang anak yang masih di bawah umur. Keadaan di bawah umur ini adalah alwasf al-munasib karena menurut pikiran sehat memang pantas atau sesuai bahwa anak di bawah umur ditempatkan di bawah perwalian dalam hal mengurus hartanya, sebab anak tersebut belum bisa mengurus harta sendiri. Melalui perwalian kemaslahatan anak menyangkut hartanya dapat dilindungi. Metode ini tentunya berbeda sekali dengan dua metode berikutnya. Metode tard wa’aks (istilah ini sering digunakan al-Amidi dan Ibn al-Hajib), yang dalam istilah usul fiqh lebih dikenal dengan dawran (rotation) adalah apabila ada kualitas hukum tertentu maka hukum juga ada bersamaan dengannya dan jika kualiatas hukum tersebut tidak ada maka hukum pun tidak ada. Misalnya, diperbolehkan meminum jus anggur selama tidak memabukan dan tidak diperbolehkan jika memabukan, dan juga dibolehkan jika ia berubah menjadi cuka.68 Selanjutnya, metode as-sabr wa at-taqsim, yaitu metode klasifikasi dan eliminasi secara berturut-turut. Metode ini menyortir semua alasan yang dianggap kandidat dan dengan proses eliminasi berturut-turut, akan sampai pada sebuah alasan yang tetap. Misalnya, roti tidak menjadi objek transaksi yang berbau riba. Menurut mazhab asy-Syafi’i ada tiga alasan larangan yang mungkin: dapat ditakar dengan timbangan, dapat ditakar dengan isi dan dan dapat dimakan. Akan tetapi, roti dikatakan tidak dapat dijual dengan timbangan dan tidak dapat dijual dengan isi sehingga yang tersisa adalah alasan dapat dimakan. Kalau begitu, metode ini dalam logika disebut juga dengan preposisi bersyarat yang terpisah (as-syarath al-munfashil), sejenis silogisme yang digunakan untuk menemukan sebab-sebab rasional (‘illa al-aqliyyah) dalam persoalan rasional (ma’qulat). Berdasarkan cara-cara penemuan ‘illat hukum dalam qiyas di atas maka kita dapat menganalisa lebih jauh lagi. Sistem berfikir ‘illat sangat erat kaitannya dengan system logika Aristoteles maupun Stoic. Sistem penemuan ‘illat dengan syabah sangat terpengaruh oleh model silogisme Aristoteles. Misalnya, asy-Syafi’i menegaskan bahwa niat sahnya wudu’ berdasarkan analogi tayamum. Niat tidak berkaitan dengan kesucian tetapi ia berkaitan dengan ibadah. Jika demikian, dapat disusun silogisme dengan gambaran sebagai berikut: Premis mayor : niat sesuai dengan ibadah Premis minor : ibadah mensyaratkan kesucian, atau kesucian sesuai dengan ibadah Middle term : ibadah Kesimpulan : Niat sesuai dengan kesucian Sebagai kesimpulan, asy-Syafi’i membuktikan berdasarkan qiyas syabah bahwa niat penting bagi wudu’. Struktur qiyas tersebut menunjukan bahwa ia memiliki kesamaan dengan silogisme Aistoteles, sekalipun tidak dapat dibuktikan secara pasti bahwa para fuqaha’ meminjam dari sana. Sesuatu yang permanent dalam logika qiyas adalah komposisi yang sama dengan fungsi yang sama pula seperti terdapat dalam komposisi Aristoteles, sedangkan yang berubah adalah kebutuhan akan premis mayor yang bersumber dari sesuatu yang lebih “suci” dalam pengertian sumber. Tidak hanya itu, logika fiqh terutama qiyas tidak hanya mengakses pada logika Aristoteles, lebih jauh lagi ia lebih banyak bersinggungan dengan logika Stoik. Hal ini dapat dibuktikan dengan penggunaan conditional sentence “jika…maka…” yang terdapat dalam, terutama, penemuan ‘illat dengan metode tard wa’aks atau dawran. “jika ada kualitas hukum maka ada hukum dan jika tidak ada kualitas hukum maka tidak ada hukum.” Seperti halnya logika Mutakallim maka logika fiqh pun memiliki kesamaan dalam hal ini. Hal ini juga diperkuat dengan penelitian Josef van Ess. Ia mengatakan jika diproyeksikan ke dalam ide Stoic maka model dawran ini tidak lebih dari kereteria validitas klausa bersyarat dan mungkin sebanding dengan logika materil pada masa Hellenistik. Selanjutnya, metode sabr wa taqsim dalam penemuan ‘illat juga menggunakan logika preposisi disjungtif bersyarat yang terdiri dari dua proposisi yang saling terkait satu dan yang lain sebagai dua alternative atau pemisah yang saling meniadakan satu sama lainnya :”apakah nomor ini genap atau ganjil.” Sementara itu, silogisme disjungtif ditemukan dalam logika Stoik seperti juga silogisme hipotesis. Dengan demikian, dalam logika qiyas telah mengalami pembauran antara logika Aristoteles dan logika Stoik, namun dari penjelasan tentang penemuan ‘illat hukum, logika Stoik lebih mendominasi dari logika Aristoteles. Berbeda halnya dengan apa yang dituliskan oleh Muhammad Roy bahwa yang mempengaruhi perkembangan usul fiqh terutama konsep qiyas adalah logika Aristoteles.Menurutnya pengaruh ini dimulai pada masa kodifikasi ushul fiqh dan pembakuan qiyas menjadi metode ijtihad yang mempunyai syarat-syarat tertentu, seperti pada masa asy-Syafi’i. Roy sepakat untuk mengatakan bahwa asy-Syafi’i sejak awal sudah terpengaruh logika Aristoteles dengan tiga alasan. Pertama, logika Aristoteles telah masuk ke dunia Islam melalui ilmu kalam dan imam asy-Syafi’i juga seorang teolog. Kedua, asy-Syafi’i menguasai bahasa Yunani sebagaimana keterangan yang dibuat oleh Abi Abdullah al-Hakim dalam bukunya Manaqib asy-Syafi’i. Ketiga, adanya persamaan konsep antara teori qiyas asy-Syafi’i dan teori silogisme Aristoteles, yaitu penggunaan term dengan genus dan differentia-nya, premis mayor, premis minor, konklusi dan fungsi masing-masing premis. Bagi penulis sendiri, keterkaitan antara konsep qiyas dan logika Aristotles atau juga Stoik terjadi pada masa setelah asy-Syafi’i, bukan pada masa asy-Syafi’i. Hal ini didasarkan pada pendifinisian qiyas yang dilakukan asy-Syafi’i. Ia mengemukakan bahwa qiyas adalah metode berfikir yang dipergunakan untuk mencari kejelasan hukum dari contoh-contoh serupa yang terdapat dalam nash al-Qur’an dan Sunnah (hadis). Adapun adanya ‘illat merupakan salah satu dari dua proedur qiyas yang ia kemukakan. Dalam Bab Istbaat al-Qiyas wa al-Ijtihad dari kitab ar-Risalah-nya, asy-Syafi’i tidak membedakan antara qiyas yang diinginkan dengan ijtihad. Berdasar apakah Anda menyatakan bahwa persoalan yang tidak ada nashnya di dalam al-kitab, sunnah atau ijma’, harus ditentukan dengan qiyas? Apa sesungguhnya qiyas itu nas khobar lazim? + saya berkata: apabila sesuatu telah ditegaskan dalam kitab atau Sunnah, anda harus mengatakan “ini perintah Allah” atau “ini perintah Rasulullah”, jangan anda katakana “ini qiyas” - apakah qiyas itu juga ijtihad? Atau ada bedanya? + keduanya punya arti yang sama - apakah dasar umum dari keduanya? + semua persoalan yang terjadi dalam kehidupan seorang muslim tentu ada hukum yang jelas dan mengikat atau sekurang-kurangnya ada ketentuan umum yang menunjukan kepadanya. Jika tidak, maka ketentuan hukum tersebut harus dicari dengan ijtihad, dan ijtihad tidak lain adalah qiyas (analogi). Selanjutnya, pendapat ini tidak disetujui oleh imam al-Ghazali. Ia mengatakan: sebagian fuqaha’ berpendapat bahwa qiyas berarti ijtihad. Pendapat ini tidak benar karena ijtihad lebih komprehensif ketimbang qiyas dan ijtihad dilakukan dengan menyelidiki hal-hal umum (‘umumat), makna inti kata-kata (daqa’iq al-lafazh) dan semua metode penalaran (thuruq aladilah),di samping qiyas. Berdasarkan pernyataannya, al-Ghazali ingin menunjukan bahwa definisi qiyas yang diberikan asy-Syafi’i secara logis cacat karena difinisi tersebut tidak spesifik (mani’), mengandung masalah-masalah yang didasarkan pada ra’y yang disebut ijtihad dan tidak meyeluruh karena ia tidak meliputi jenis-jenis qiyas, seperti qiyas jali (analogi yang jelas), di mana penggunaan qiyas tidak mengusahakan apapun(Hasan, Analogical Reasoning InIslamic Jurisprudence…, hlm. 98). Dari kritik ini, dapat dilihat bahwa struktur qiyas yang dimaksud oleh ulama setelah asy-Syafi’i yang disebut-sebut memiliki kesamaan dengan logika Aristoteles tidak persis sama dengan logika asy-Syafi’i. Seharusnya asy-Syafi’i tidak mendistorsi logika Aristoteles, apalagi dikatakan bahwa ia mengetahui dan memahami bahasa Yunani. Nampak dari pemahamannya tentang qiyas awal hanyalah sekedar membatasi kebebasan berfikir di satu sisi dan mengembangkan ajaran hukum Islam di sisi lain, karena pada masa itu terdapat dua mazhab hokum, yaitu ahl hadis yang cenderung tektualis dan ahl ra’y yang cenderung tidak membatasi penggunaan ra’y. Agaknya, dimungkinkan masuknya logika Aristoteles ke dalam qiyas terjadi pada masa ulama’ setelahnya, terutama pada masa al-Ghazali yang secara terang-terangan menjadikan mantiq Aristo sebagai salah satu syarat sah ijtihad. Keterpengaruhan asy-Syafi’i terhadap Aristoteles sebagaimana yang diduga oleh Joseph Schacht(Roy, Ushul Fiqh…, hlm. 186) yang kemudian diakui oleh M. Roy tidak dapat dibuktikan secara jelas, karena batasan keterpengaruhan seseorang dengan pemikiran lain tidak dapat ditunjukan hanya dengan melihat persamaan konsep. Kemungkinan keterpengaruh itu lebih pada kemungkinan adanya kutipan langsung yang bersifat “membentuk” karakter pemikir yang mengutip, bukan dalam bentuk kutipan dengan kepentingan “menolak” (reaksi). Sedangkan asy-Syafi’i tidak pernah menyebutkan pemikiran Aristoteles lanfsung ataupun tidak, baik sebagai “pembentuk” maupun “reaksi” pemikirannya. Tidak ada proses referensial antara asy-Syafi’i dengan Aristoteles. Sungguhpun demikian, model qiyas sekarang telah memberikan pengaruh yang luar biasa terhadap pengembangan keilmuan islam, terutama dalam hukum. DAFTAR PUSTAKA Munawir , Ahmad Warson. 1984.Al-Munawir Kamus Arab Indonesia. Yogyakarta: Pustaka Progresif. Ess, Josef Van, “The Logical Structure of Islamic Theology,” dalam Issa J Boullata (ed.) An Antology of Islamic Studies, McGill: Institute of Islamic Studies McGill University, 1970. Hasan, M. Ali. 1992. Ilmu Mantiq Logika. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya. Husni, Muhammad. 1995. Pengantar Logika dan Pengembangan Kreatifitas dalam Berfikir. Yogyakarta:Gama Exacta Corporation. Roy, Muhammad. 2004. Ushul Fiqh Mazhab Aristoteles: Pelacakan Logika Aristoteles dalam Qiyas Usul fiqh. Yogyakarta: Safira Insni Press. Zahrah, Muhammad Abu. 2005. Ushul Fiqh. alih bahasa: Saefullah Ma’sum, dkk, cet. Ke 9, Jakarta:Pustaka Firdaus.

Popular posts from this blog

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dari berbagai ras suku…