Skip to main content

Teknik Pengajaran Membaca

Teknik Pengajaran Membaca A. Membaca Nyaring (qira’ah jahriyyah) Membaca nyaring dilakukan oleh siswa, dengan penekanan pada: 1. Ketepatan bunyi Bahasa Arab, baik dari segi makhraj maupun sifat-sifat bunyi yang lain. 2. Ketepatan irama dan ekspresi. 3. Kelancaran, tidak tersendat-sendat 4. Penguasaan tanda baca. ( Effendy, 2009: 159) Pelaksanaan pengajaran dengan metode membaca nyaring: 1. Guru menunjuk siswa yang paling bagus bacaannya untuk membaca terlebih dahulu. 2. Guru melibatkan semua siswa dalam membetulkan bacaan temannya. 3. Siswa membaca tidak terlalu panjang; satu baris atau satu paragraf, sedapat mungkin sebagian besar siswa mendapat kesempatan membaca. 4. Waktu untuk membaca nyaring ini tidak terlalu lama; 10-15 persen dari jam pelajaran. 5. Sebaiknya membaca nyaring setelah qira’ah shamitah atau qira’ah namuzajiah. 6. Agar lebih menyenangkan, sebaiknya diadakan lomba membaca antar siswa atau antar kelompok; siapa yang paling bagus bacaannya. (Alkhauly, 2000: 117-118) B. Membaca dalam Hati (qira’ah shamitah) Membaca dalam hati bertujuan untuk memperoleh pengertian, pokok pikiran dan rinciannya. sebelum kegiatan membaca, guru menciptakan suasana kelas yang tertib sehingga memungkinkan siswa berkonsentrasi kepada bacaannya. Secara fisik membaca dalam hati harus menghindari: 1. Vokalisasi, walau hanya menggerakan bibir sekalipun. 2. Pengulangan membaca. 3. Menggunakan telunjuk/penunjuk atau gerakan kepala. (Effendy: 159) Pelaksanaan pengajaran dengan metode membaca dalam hati: 1. Guru membatasi waktu yang digunakan untuk membaca. 2. Guru memberikan pertanyaan-pertanyaan untuk mengukur pemahaman siswa. 3. Membiasakan siswa membaca dengan cepat. (Alkhauly: 116) C. Membaca sebagai contoh (qira’ah namuzajiyyah) Membaca sebagai contoh ini dilakukan oleh guru, sedangkan siswa mendengarkan bacaan dan mengikutinya. Kegiatan membaca ini biasa dilakukan setelah membaca dalam hati atau sebelum membaca nyaring. Membaca sebagai contoh dapat dilakukan dalam 2 bentuk: 1. Membaca lengkap; guru membaca teks satu paragraf atau lebih, siswa mendengarkan saja tanpa mengikuti bacaan guru. 2. Membaca sepotong-sepotong; guru membaca satu kalimat atau sebagiannya, kemudian diikuti oleh siswa, begitu seterusnya sampai selesai. (Alkhauly: 119) D. Pengalaman belajar dalam membaca dan beberapa model latihan: 1. Belajar memperkaya kosa kata; dengan latihan-latihan: a). Mencari padanan kata atau sinonim (taraduf). b). Mencari lawan kata atau antonym (dhidd). c). Mencari bentuk jamak dari kata tunggal atau sebaliknya. d). Mencari mudhari’ dari madhi atau sebaliknya. 2. Belajar mengenal isi bacaan a). Belajar mengetahui dan mengingat; jenis pertanyaan yang digunakan untuk latihan: من، ما، متى، أين... b). Belajar memahami; jenis pertanyaan: صِف، بيّن، اشرح، لماذا... c). Belajar mengaplikasikan pengetahuan; jenis pertanyaan: كيف، أيّهما، هات مثالا، اختر... c). Belajar menganalisis; jenis pertanyaan: ماذا تستنتج من النص؟ ما الأفكار الرئيسية؟... d). Belajar mengevaluasi; jenis pertanyaan: ما رأيك؟ هل أنت موافق، لماذا؟... e). Belajar mengenal pola kalimat; jenis pertanyaan: أين المبتدأ؟ أين الخبر؟ .... (Effendy: 161-166) E. Strategi pembelajaran membaca Model pembelajaran kooperatif expert group, dengan prosedur pelaksanaan: 1. Kelas dibagi menjadi beberapa kelompok, setiap siswa dalam kelompok diberi nomor. Semua anggota dengan nomor yang sama akan membentuk suatu grup ahli (expert group), sehingga terbentuk beberapa grup ahli. 2. Bahan bacaan dibagi menjadi beberapa bagian sesuai dengan jumlah grup ahli. Setiap bagian ditangani (dipelajari) oleh satu grup ahli. 3. Setelah pembahasan matang dalam waktu yang ditentukan, setiap anggota kembali ke grup induknya (home group). 4. Setiap anggota di grup induknya menjelaskan apa yang telah dipelajari di grup ahli. Semua anggota grup induk akan melengkapi menyelesaikan tugas dengan memanfaatkan pengetahuan yang diperoleh dari grup ahli. (Effendy: 167) Sumber: 1. Ahmad Fuad Effendy, Metodologi Pengajaran bahasa Arab, Malang: Misykat, cet. 4, 2009 2. محمد علي الخولي، أساليب تدريس اللغة العربية، عمان: دار الفلاح، 2000 Nama : Eka Rizal NIM : 11720085

Popular posts from this blog

CONTOH AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR ( MUBES ) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA (IPPM) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 Minggu, 16 November 2010 WAKTU KEGIATAN PETUGAS TEMPAT 0 7 . 3 0 – 0 8 .00 Persiapan panitia Panitia Aula Rumah Bapak Prof. Dr. Safrion, MS 0 8 . 3 0 – 09.30 Pembukaan : F   Master of Ceremony (MC) F   Pembacaan Ayat suci alquran F   Sari Tilawah F   Menyanyikan Lagu Indonesia Raya F   Laporan Ketua Panitia F   Sambutan Ketua IPPM Bundo Kanduang Malang F   Sambutan Tuan Rumah F   Sambutan Ketua IKM Sehati Malang sekaligus membuka acara secara resmi F   Doa F   Penutup Robert   Ardian Maulid Wanda Wanda Iqsan Dinata Andri Zulanda Prof. Dr. Safrion, MS Prof. Dr. dr.H.Achdiat Agoes, Sp. S Eka Rizal, S.Pd 09.30 – 11.30 §       SIDANG PLENO I : Pembahasan Agenda Acara MUBES I

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dar

CONTOH TATATERTIB MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN TATA TERTIB MUSYAWARAH BESAR (MUBES) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA ( IPPM ) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Musyawarah Besar IPPM Bundo Kanduang merupakan rapat tertinggi ditingkatan Organisasi daerah IPPM Bundo Kanduang Malang 2.       Musyawarah Besar I II   adalah forum permusyawaratan untuk mengemban amanat oganisasi dan dilaksanakan pada akhir periode untuk menghasilkan rekomendasi kepada kepengurusan yang selanjutnya 3.       Musyawarah Besar I II merupakan permusyawaratan anggota IPPM Bundo Kanduang Malang yang disingkat dengan MUBES I II BAB II TUGAS DAN WEWENANG Pasal 2 Menetapkan pola dan garis-garis besar kebijakan didalam penyelenggaraan organisasi ikatan pemuda pelajar mahasiswa bundo kanduang Mengevaluasi dan mengesahkan laporan pertanggung jawaban pengurus IPPM bundo kanduang Membahas sekaligus menetapkan AD/ART organisasi ikatan pemuda pelajar mahasi