Skip to main content

PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN DAN DESAI PEMBELAJARAN

PENDEKATAN DALAM PEMBELAJARAN DAN DESAI PEMBELAJARAN BAB I A. LATAR BELAKANG MASALAH Tujuan pendidikan pada hakikatnya merupakan pengejawantahan dari berbagai aspek kehidupan suatu bangs dalam bidang agama, ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya, hukum, ilmu pengetahuan dan tekhnologi serta keamanan dan pertahanan. Bentuk dan isi rumusan atau formulasi tujuan pendidikan bagi setiap bangsa berbeda.Perbedaan itu disesuaikan dengan sistem nilai yang terkandung dalam aspek-aspek kehidupan suatu bangsa dalam kurun waktu tertentu. Sistem pendidikan bersifat terbuka dimana terjadi interaksi dinamik antara sistem pendidikan dengan berbagai sistem yang berada diluarnya. Interrelasi, interaksi dan interdependensi antara sistem pendidikan dengan sistem di luar sistem pendidikan da satu puhak dapat saling melengkapi dan saling mengisi, tetapi dipihak lain pada gradasi tertentu dapat menimbulkan dampak yang kurang menguntungkan. Sistem endidikan berfungsi sebagau sumber inspirasi intelektual dan modernisasi kehidupan masyarakat, sedangkan di pihak lain masyarakat dapat memberikan bahan kajian intelektual kepada sistem pendidikan. Pembelajaran merupakan salah satu wujud kegiatan pendidikan di sekolah.Kegiatan pendidikan di sekolah berfungsi membantu pertumbuhan dan perkembangan anak agar tumbuh ke arah yang positif. Maka cara belajar subyek belajar di sekolah diarahkan dan tidak dibiarkan berlangsung sembarangan tanpa tujuan. Melalui pembelajaran di sekolah anak melakukan kegiatan belajar dengan tujuan akan terjadi perubahan positif pada diri anak menuju kedewasaan. Pendekatan yang dipakai dalam penyusunan perencanaan pengajaran suatu negara sangat tergantung kepada kebijaksanaan pemerintah yang sedang dilaksanakan. Karenannya adalah wajar jika timbul pendekatan yang berbeda-beda antara beberapa negara dan bahkan dapat juga terjadi perbedaan dalam pendekatan perencanaan antara berbagai periode pembangunan dalam suatu negara. B. RUMUSAN MASALAH 1. Apakah pendekatan dalam proses desain pembelajaran? 2. Apakah pendekatan dalam desain pembelajaran? C. TUJUAN 1. Untuk mengetahi macam dari pendekatan dalam proses pembelajaran 2. Untuk mengetahui macam dari pendekatan dalam desain pembelajaran   BAB II A. Pendekatan dalam proses pembelajaran Desain pembelajaran sudah menjadi kebutuhan oleh banyak pengguna pendidikan, tidak saja dari kalangan peserta didik saja, tapi juga bagi para pendidik dan pemerhati pendidikan. Desain pembelajaran adalah ilmu pengetahuan yang membicarakan tentang sistem pembelajaran, yaitu sub-sub, bagian-bagian, unsur-unsur, dan komponen-komponen yang berkaitan dengan terlaksananya suatu proses pembelajaran yang bermutu dan bermakna serta mewujudkan tujuan pendidikan nasional, sebagaimana yang telah digariskan oleh Undang Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 tahun 2003 babII (pasal 3) bahwa tujuan pendidikan nasional “mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta tanggung jawab”. Pengertian pendekatan dalam proses pembelajaran adalah seperangkat asumsi-asumsi yang antara satu dan lainnya saling terkait. Asumsi-asumsi ini sangat berhubungan dengan karakter bahasa dan karakter proses pengajaran serta pembelajarannya. Pendekatan juga bisa diartikan dengan cara pandang. Hal ini sangat menentukan arah dan orientasi pembelajaran. Karena pendekatan ini yang akan menjadi dasar yang bersifat filosofis dalam proses pembelajaran. Pendekatan Pembelajaran Bahasa Arab Diantara pendekatan-pendekatan pembelajaran bahasa arab antara lain, 1. Pendekatan Humanistik (Humanistic Approach) Sebuah pendekatan yang memberikan perhatian kepada anak didik sebagai manusia, tidak menganggapnya sebagai benda yang merekam seperangkat pengetahuan. Pembelajaran bahasa menurut pendekatan ini adalah bertujuan mempererat hubungan antara manusia dengan berbagai ragam budaya dan pengalaman. Maka langkah pertama untuk merealisasikan tujuan hal itu adalah dengan memberi kesempatan kepada anak didik yang berbeda budaya dan pengalamannya itu untuk berdialog mengenai mereka, mengungkapkan perasaan mereka serta bergantian mengungkapkan berbagai hal mengenai diri mereka. Proses ini bisa memenuhi kebutuhan anak didik untuk aktualisasi diri. Beberapa langkah operasional dalam pendekatan adalah sebagai berikut : • Menjelaskan kepada anak didik untuk selalu berlatih menggunakan bahasa dalam berbagai keadaan • Bermain peran dengan siswa untuk memberi respon dalam berbagai situasi, seperti ketika senang, marah, dsb • Guru memberi contoh kepada siswa yang memungkinkan untuk diikuti. Dalam pendekatan ini, menekankan untuk memberikan perhatian kepada anak didik dan memberlakukannya sebagai manusia (memanusiakan manusia). 2. Pendekatan Teknik (Media-Based Approach) Sebuah pendekatan yang berdasarkan pada pemanfaatan media pembelajaran dan teknik-teknik pendekatan. Kesuksesan media, teknik dan proses pengajaran berdampak pada munculnya orientasi baru pada bidang pengajaran bahasa asing. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan cara dalam menjelaskan makna kata, tarkib-tarkib, serta konsep-konsep budaya baru dengan menggunakan gambar, peta, lukisan, kartu dsb, yang bisa memahamkan siswa tentang pesan-pesan kata bahasa asing. Kemudian penggunaan media dalam pendekatan ini meluas dan bermacam-macam, seperti menggunakan kaset, video, radio, slides juga komputer serta berbagai multi media pembelajaran. Namun dalam pendekatan ini, terdapat beberapa kendala, diantaranya adalah kurangnya materi pembelajaran yang baik serta cukup bagi guru dalam segala situasi dan kondisi kebahasan, tingginya biaya yang harus dikeluarkan guru untuk menyiapkan media yang memenuhi standar yang diinginkan sesuai dengan jumlah pengguna, seperti penggunaan komputer. 3. Pendekatan Analisis dan Non Analisis (Analytical and Non Analitycal Approach) Analytical Approach, disebut juga dengan Formal Approach. Pendekatan ini didasarkan pada seperangkat ungkapan-ungkapan dan asumsi-asumsi kebahasaan dan sosiolinguistic, sedang Non Analytical Approach didasarkan pada konsep psycholinguistics dan konsep pendidikan, bukan pada konsep kebahasaan. Beberapa perbedaan antara pendekatan analisis dan non analisis adalah sebagai berikut : - Pendekatan analisis 1. Berdasarkan pada kebahasaan 2. Membahas kajian ilmu sosial kebahasaan, semantik, proses bicara dsb 3. Menuntut adanya needs analysis kebahasaan, metodologi kebahasaan modern, dsb 4. Menyiapkan materi serta strategi pengajaran baru 5. Tidak berangkat dari prinsip-prinsip psikologi 6. Dsb. - Pendekatan non analisis 1. Berdasarkan konsep psikolinguistik dan pendidikan bukan pada konsep-konsep kebahasaan 2. Pengajaran bahasa berlangsung dalam situasi kehidupan alami 3. Menuntut adanya persiapan materi baru 4. Sulit menentukan bahasa yang akan digunakan dalam pembelajaran 5. Dsb 4. Pendekatan Komunikatif (Communicative Approach) Yakni mengajarkan bahasa secara komunikatif, artinya pengajaran yang dilandasi oleh teori komunikatif atau fungsi bahasa. Menurut pendekatan ini tujuan pengajaran bahasa adalah untuk mengembangkan kemampuan komunikatif serta prosedur pengajaran keempat keterampilan berbahasa yang saling berhubungan antara bahasa dan komunikasi. Pendekatan ini muncul karena para ahli pengajar bahasa asing menganggap pendekatan sintetik gramatikal kurang berhasil, maksudnya setelah mengikuti pengajaran siswa tetap belum mampu secara maksimal menggunakan bahasa sebagaimana hakikat fungsinya, atau pemanfaatan komputer yang jarang dikuasai oleh guru (penyusun materi). Pandangan komunikatif tentang bahasa menyatakan bahwa bahasa adalah sistem untuk menyatakan makna serta mengadakan interaksi dan komunikasi B. Pendekatan dalam Desain Pembelajaran 1. Pendekatan permintaan masyarakat Adalah suatu pendekatan yang bersifat tradisional dalam pengembangan pendidikan. Pendekatan ini didasaarkan kepada tujuan untuk memenuhi tuntutan atau permintaan seluruh individu terhadap pendidikan pada tempat dan waktu tertentu dalam situasi perekonomian sosial, politik dan kebudayaan yang ada pada waktu itu. Pendekatan ini telah dilakukan di Indonesia pada fase “Pembangunan Lima Tahun” ke dua yang dimulai pada tahun 1974-1975. Pemerintah dan wakil rakyat sadar akan bunyi pasal 41 BAB XIII tentang pendidikan dalam UUD 1945 yang menyatakan bahwa tiap-tiap warga negara berhak mendapat pengajaran. Perencanaan pengajaran pada umumnya harus memperkirakan kebutuhan pada masa yang akan datang dengan mengadakan analisis terhadap: 1. Pertambahan penduduk, penduduk usia sekolah 2. Presentase penduduk yang bersekolah 3. Arus murid dari tingkat sati ke tingkat yang tinggi dan dari satu jenjang pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. 4. Pilihan atau keinginan masyarakat dan individu tentang jenis-jenis pendidikan. Kepada perencana pengajaran, diminta untuk merencanakan penggunaan tenaga dan fasilitas yang ada secara optimal dan memobilisasikan data dan daya supaya permintaan masyarakat terhadap pendidikan menjadi terpenuhi. Di banyak negara penyediaan pendidikan dasar baik dalam sekolah maupun di luar sekolah didasarkan kepada pendekatan permintaan masyarakat. Pendekatan seperti ini sukar diukur secara teliti kecuali untuk negara yang sudah melaksanakan Undang-Undang Kewajiban belajar serta mempunyai data demografi yang baik (lengkap) dan benar. Kelemahan dari pendekatan permintaan masyarakat ini antara lain : - Pendekatan ini tidak begitu mengindahkan besarnya sumber-sumber dana yang tersedia dan besarnya alokasi dana untuk pembangunan. - Pendekatan ini kurang memperhitungkan perlunya keseimbangan dalam sifat dan macam-macam tenaga kerja yang diperlukan oleh sektor lain. - Penerimaan siswa dalam jumlah yang sangat banyak, apa;lagi ketika tidak diimbangi dengan jumlah tenaga pengajar dan fasilitas belajar, mengakibatkan menurunnya mutu lulusannya. Hal ini dianggap suatu pemborosan, karena kurang menunjang penyediaan tenaga kerja yang bermutu tinggi. - mengabaikan masalah nasional tentang alokasi biaya untuk sektor lain - mengabaikan pola kebutuhan akan tenaga kerja dan ada kemungkinan bahwa mutu pendidikan cenderung menurun. 2. Pendekatan Ketenagakerjaan Di dalam pendekatan ketenagakerjaan ini kegiatan-kegiatan pendidikan diarahkan kepada usaha untuk memenuhi usaha untuk memenuhi kebutuhan nasional akan tenaga kerja. Pendidikan ketenagakerjaan ini dipergunakan oleh negara-negara yang sudah berkembang atau negara yang teknologinya sudah maju dimana setiap waktu diperlukan jenis keahlian yang baru. Ahli-ahli teknologi modern dengan menciptakan teori dan sistem yang baru dengan sendirinya mendorong teknologi untuk berkembang secara pesat dan hal ini menyebabkan timbulnya kebutuhan akan tenaga ahli dari jenis yang baru untuk menangani atau mengelolanya. Adapun langkah-langkah dari pendekatan ketenagakerjaan adalah sebagai berikut: a. Membuat proyeksi kebutuhan tenaga kerja bagi pembangunan. b. Merinci tujuan pendidikan antara lain: mempersiapkan tenaga kerja untuk pembangunan di segala bidang. c. Memproyeksikan output pendidikan d. Menyusun program/proyek untuk memenuhi output sesuai kebutuhan. e. Menyususn kegiatan rencana pembiayaan yang dituang dalam rencana. Negara-negara yang mempergunakan pendekatan ketenagakerjaan mengarahkan kegiatan pendidikannya secara teratur kepada usaha untuk memenuhi tuntutan dunia lapangan kerja dalam segala bidang.Para ahli ekonomi mengharapkan agar ada keseimbangan antara penambahan lapangan kerja yang menciptakan kerja dengan peningkatan pendapatan nasional. Perencanaan pendidikan diminta untuk merencanakan kegiatan usaha pendidikan sedemikian rupa sehingga menjamin setiap individu (baik seorang lulusan maupun seorang yang putus sekolah) dapat terjun ke masyarakat dengan sesuatu kemampuan untuk kelangsungan menjadi seorang pekerja yang produktif. Dengan kata lain sistem pendidikan harus menghasilkan lulusan-lulusan dari berbagai tingkat dan jenis keahlian yang siap pakai. Disadari dengan sungguh-sungguh bahwa tanpa tenaga pembangunan yang ahli, terampil dansesuai denagn lapangan kerja yang memerlukannya tidak mungkin pembangunan nasional dapat berjalan dengan lancar. Malahan untuk mengambil jalan pintas, pemerintah mengharapkan selain melaluoi pendidikan formal, ditempuh juga pendididkan informal dalam rangka proses alih teknologi melalui usaha asing di Indonesia. Hambatan-hambatan yang dihadapi dalam pendekatan ini adalah: a. Belum tersedianya data dan informasi yang memadai untuk dapat menjawab pertanyaan. b. Perencanaan pengajaran c. Perbandingan jumlah tenaga berdasarkan jenjang keahliannya masih sulit untuk dibakukan. d. Ketidak mampuan sistem pendidikan nasional untuk setiap waktu mengadakan penyesuaian dengan berbagai ragam kebutuhan akan keahlian dan kemampuan lulusannya. Jadi, pendekatan perencanaan ketenagakerjaan secara nasional tidak mungkin ditangani sendiri oleh departemen pendidikan dan kebudayaan, karena hal ini tampaknya lebih bersifat perencanaan lintas sektoral.. 3. Pendekatan Nilai “Imbalan” Pendekatan nilai imbalan ini sangat dianjurkan oleh sekelompok ahli ekonomi di negara-negara yang sudah berkembang.Mereka ini tidak setuju terhadap pendekatan tenaga kerja yang didukung oleh sebagian ahli ekonomi lainnya dari aliran neoklasik. Mereka menganggap bahwa tujuan pendidikan adalah untuk memajukan perkembangan ekonomi semata-mata, dan perencanaan pengajaran perlu memperkirakan jumlah penduduk yang akan dididikk untuk mencapai perkembangan ekonomi ke suatu tempat tertentu. Di pihak lain, ahli pendidikan beranggapan bahwa pendapat ahli ekonomi seperti tersebut di atas seakan-akan terlalu materialistis. Untunglah, dalam beberapa tahun belakangan ini perbedaan pandangan seperti di atas semakin berkurang. Disadari bahwa pendidikan merupakan salah satu unsur penting dalam kemajuan perekonomian, tetapi tidak selamanya benar bahwa dengan pendidikan saja suatu negara selalu akan dapat mencapai taraf kemajuan ekonomi tertentu. Dalam pendekatan ini dipertimbangkan penentuan besarnya investasi dalam dunia pendidikan sesuai dengan hasil, keuntungan atau efektivitas yang akan diperolehnya. Dalam hal ini bukan hanya biaya keseluruhan pendidikan tetapi juga biaya suatu jenjang dan jenis pendidikan selalu dibandingkan dengan nilai hasil, misalnya kenaikan pendapatan atau kenaikan produktivitas dari orang-orang yang sudah memperoleh pendidikan.Tugas perencanaan adalah menghindarkan investasi (di setiap jenis dan jenjang pendidikan) yang tidak memberikan hasil yang sepadan. Pendekatan seperti ini mempunyai harapan bahwa kegiatan pendidikan yang tidak produktif dapart ditiadakan melalui proses pendekatan efisiensi investasi atau nilai imbalan ini. Pendekatan efisiensi investasi ini disebut juga rate of return approach. Timbulnya pendekatan seperti ini di dalam perencanaan pengajaran dapat dijelaskan sebagai berikut:  Sekelompok ahli ekonomi dari tradisi neoklasik menyerang konsep pendekatan permintaan masyarakat dan pendekatan ketenagakerjaan dengan mengatakan bahwa kedua pendekatan tadi mengabaikan masalah alokasi biaya dan prinsip cost benefit (perbandingan antara ongkos dan keuntungan). Pendekatan ini selalu memilih alternatif yang menghasilkan lebih banyak keuntungan daripada biaya yang dikeluarkan.  Ditekankan agar perencanaan ekonomi dan perencanaan pengajaran harus mengikuti bentuk logika yang sama apabila tiba kepada alokasi biaya nasional untuk setiap sektor, ataupun dalam mengalokasikan biaya pendidikan kepada masing-masing sub sektor dan seterusnya kepada setiap tingkat pendidikan. Namun, di dalam dunia pendidikan sebenarnya sukar mengukur biaya dan keuntungan (cost and benefit), terlebih-lebih mengukur keuntungan untuk masa yang akan datang. Maka karena itu, di dalam perencanaan pengajaran biasanya tidak memakai cost benefit analisis tetapi memakai cost efectifeness analisys atau analisis yang membandingkan antara biaya dan efektivitas. Perbedaan dari dua analisis di atas ialah dalam cost benefit analisys alat ukurnya adalah uang baik untuk biaya maupun keuntungan, sedangkan cost efective analisys alat ukur untuk biaya uang. Tetapi alat ukur untuk efektivitas bukan uang misalnya jumlah anak, jumlah lulusan, mutu pendidikan dan sebagainya. Perencanaan pengajaran di Indonesia tidak hanya menggunakan salah satu dari pendekatan-pendekatan tadi melainkan menerapkan beberapa pendekatan, dan kadang-kadang ketiga pendekatan sekaligus. Perencanaan pengajaran tidak diharuskan supaya terikat pada salah satu pendekatan, akan tetapi semua pendekatan yang ada dapat dijadikan pedoman dalam menjabarkan tujuan nasional pendidikan. Setiap jenis dan jenjang pendidikan mungkin memerlukan pendekatan yang berlainan.Karena itu, adalah penting bagi setiap perencana untuk mengetahui ruang lingkup dan keterbatasan-keterbatasan setiap pendekatan tadi.   DAFTAR PUSTAKA Hamid, Abdul. Pembelajaran Bahasa Arab, Pendekatan, Metode, Strategi, Materi dan Media.UINMalang Press.Malang: 2008 Harjono. Perencanaan Pengaajaran. Rineka Cipta. Jakarta: 2000 Rusyan, Tabrani. Pendekatan Dalam Proses Belajar Mengaajar. Remajda Karya CV. Bandung: 1989 Yamin, Martinis. Desain Pembelajaran Berbasis Tingkat Satuan Pendidikan. Gaung Persada Press. Jakarta: 2007

Popular posts from this blog

CONTOH AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR ( MUBES ) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA (IPPM) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 Minggu, 16 November 2010 WAKTU KEGIATAN PETUGAS TEMPAT 0 7 . 3 0 – 0 8 .00 Persiapan panitia Panitia Aula Rumah Bapak Prof. Dr. Safrion, MS 0 8 . 3 0 – 09.30 Pembukaan : F   Master of Ceremony (MC) F   Pembacaan Ayat suci alquran F   Sari Tilawah F   Menyanyikan Lagu Indonesia Raya F   Laporan Ketua Panitia F   Sambutan Ketua IPPM Bundo Kanduang Malang F   Sambutan Tuan Rumah F   Sambutan Ketua IKM Sehati Malang sekaligus membuka acara secara resmi F   Doa F   Penutup Robert   Ardian Maulid Wanda Wanda Iqsan Dinata Andri Zulanda Prof. Dr. Safrion, MS Prof. Dr. dr.H.Achdiat Agoes, Sp. S Eka Rizal, S.Pd 09.30 – 11.30 §       SIDANG PLENO I : Pembahasan Agenda Acara MUBES I

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dar

CONTOH TATATERTIB MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN TATA TERTIB MUSYAWARAH BESAR (MUBES) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA ( IPPM ) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Musyawarah Besar IPPM Bundo Kanduang merupakan rapat tertinggi ditingkatan Organisasi daerah IPPM Bundo Kanduang Malang 2.       Musyawarah Besar I II   adalah forum permusyawaratan untuk mengemban amanat oganisasi dan dilaksanakan pada akhir periode untuk menghasilkan rekomendasi kepada kepengurusan yang selanjutnya 3.       Musyawarah Besar I II merupakan permusyawaratan anggota IPPM Bundo Kanduang Malang yang disingkat dengan MUBES I II BAB II TUGAS DAN WEWENANG Pasal 2 Menetapkan pola dan garis-garis besar kebijakan didalam penyelenggaraan organisasi ikatan pemuda pelajar mahasiswa bundo kanduang Mengevaluasi dan mengesahkan laporan pertanggung jawaban pengurus IPPM bundo kanduang Membahas sekaligus menetapkan AD/ART organisasi ikatan pemuda pelajar mahasi