Skip to main content

ANALISIS BUTIR SOAL

ANALISIS BUTIR SOAL 2.1. Pengertian Analisis Butir Soal Kegiatan menganalisis butir soal merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan mutu soal yang telah ditulis. Kegiatan ini merupakan proses pengumpulan, peringkasan, dan penggunaan informasi dari jawaban siswa untuk membuat keputusan tentang setiap penilaian (Nitko, 1996: 308). 2.2. Tujuan Analisis Butir Soal Adapun tujuan dari analisis butir doal ini antaralain: a. untuk mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum soal digunakan. b. untuk membantu meningkatkan tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif. c. untuk mengetahui informasi diagnostik pada siswa apakah mereka sudah/belum memahami materi yang telah diajarkan (Aiken, 1994: 63). d. untuk mengidentifikasi kekurangan-kekurangan dalam tes atau dalam pembelajaran (Anastasi dan Urbina, 1997:184). 2.3. Macam-macam Bentuk Analisis Butir Soal Ada dua cara yang dapat digunakan dalam penelaahan butir soal yaitu penelaahan soal secara kualitatif dan kuantitatif. Kedua teknik ini masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Ada beberapa cara menganalisis data dengan mudah diantaranya IRT latent trait theory (LTT), characteristics curve theory (ICC), dengan kalkulator, dengan ITEMAN, RASCAL, ASCAL, BIGSTEP, QUEST. EXCEL, spss (statistical program for social science) 2.4. Aspek Yang Perlu Diperhatikan Dalam Analisis Butir Soal a. Tingkat Kesukaran (TK) Tingkat kesukaran soal adalah peluang untuk menjawab benar suatu soal pada tingkat kemampuan tertentu yang biasanya dinyatakan dalam bentuk indeks. Indeks tingkat kesukaran ini pada umumnya dinyatakan dalam bentuk proporsi yang besarnya berkisar 0,00 - 1,00 (Aiken (1994: 66). Semakin besar indeks tingkat kesukaran yang diperoleh dari hasil hitungan, berarti semakin mudah soal itu. Suatu soal memiliki TK= 0,00 artinya bahwa tidak ada siswa yang menjawab benar dan bila memiliki TK= 1,00 artinya bahwa siswa menjawab benar. Perhitungan indeks tingkat kesukaran ini dilakukan untuk setiap nomor soal. Pada prinsipnya, skor rata-rata yang diperoleh peserta didik pada butir soal yang bersangkutan dinamakan tingkat kesukaran butir soal itu. Rumus ini dipergunakan untuk soal obyektif. Rumusnya adalah seperti berikut ini (Nitko, 1996: 310). Contoh penggunaan Misalnya jumlah siswa peserta tes dalam suatu kelas ada 40 orang, dari 40 orang siswa hanya 12 orang dapat mengerjakan soal nomor 1 dengan benar, maka indeks kesukarannya adalah: P = = = 0,30 Menurut ketentuan yang sering didikuti, indeks kesukaran sering diklasifikasikan sebagai berikut: Soal dengan P 0,00 - 0,30 soal tergolong sukar Soal dengan P 0,31 - 0,70 soal tergolong sedang Soal dengan P 0,71 - 1,00 soal tergolong mudah b. Daya Pembeda (DP) Daya pembeda soal adalah kemampuan suatu butir soal dapat membedakan antara warga belajar/siswa yang telah menguasai materi yang ditanyakan dan warga belajar/siswa yang tidak/kurang/belum. Untuk mengetahui daya pembeda soal bentuk pilihan ganda adalah dengan menggunakan rumus berikut ini. D = daya pembeda soal, J = Jumlah peserta tes Ja = banyak peserta kelompok atas Jb = jumlah peserta kelompok bawah Ba = jumlah jawaban benar pada kelompok atas, BB = jumlah jawaban benar pada kelompok bawah c. Pola jawaban soal Penyebaran pilihan jawaban dijadikan dasar dalam penelaahan soal. Hal ini dimaksudkan untuk mengetahui berfungsi tidaknya jawaban yang tersedia. Suatu pilihan jawaban (pengecoh) dapat dikatakan berfungsi apabila pengecoh: paling tidak dipilih oleh 5 % peserta tes/siswa, lebih banyak dipilih oleh kelompok siswa yang belum paham materi pola jawaban disini adalah distribusi tetee dalam hal menentukan pilihan jawaban pada soal bentuk pilihan ganda, pola jawaban diperoleh dengan menghitung banyaknya testee yang memilih pilihan jawaban a, b, c, atau d yang tidak memilih pilihan manapun (blangko), dalam istilah pendidikan disebut omit atau disingkat dengan O Dari pola jawaban soal dapat dicari P = = 0,35 D= Pa-Pb = = = 0,30 Distraktor : semua distraktornya sudah berfungsi dengan baik karena sudah dipilih oleh lebih dari 5% Dalihat dari segi omitnya sudah baik karena tidak lebih dari 10% dari pengikut tes . 5% dari pengikut tes = 5% X 60 orang = 3 orang. Daftar Pustaka Safari. 2000. Kaidah Bahasa Indonesia Dalam Penulisan Soal. Jakarta: PT Kartanegara. H. Daryanto. 1997. Evaluasi Pendidikan. Jakarta. PT Rhineka Cipta. Drs. Wayan Nurkancana. Drs. P.p.n. Sumartana. 1986. Evaluasi Pendididkan. Surabaya: PT Usaha Nasional. Dr. Purwanto, M.Pd. 2009 Evaluasi hasil Belajar. Yogyakarta: PT Pustaka Pelajar. Drs. Slameto. 1988. Evaluasi Pendididikan. Jakarta: PT Bina Aksara Prof. Dr. Suharsimi Arikunto. Cepi Safruddin Abdul Jabar. 2004. Evaluasi Program Pendididkan. Jakarta: PT Bumi Aksara

Popular posts from this blog

CONTOH AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR ( MUBES ) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA (IPPM) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 Minggu, 16 November 2010 WAKTU KEGIATAN PETUGAS TEMPAT 0 7 . 3 0 – 0 8 .00 Persiapan panitia Panitia Aula Rumah Bapak Prof. Dr. Safrion, MS 0 8 . 3 0 – 09.30 Pembukaan : F   Master of Ceremony (MC) F   Pembacaan Ayat suci alquran F   Sari Tilawah F   Menyanyikan Lagu Indonesia Raya F   Laporan Ketua Panitia F   Sambutan Ketua IPPM Bundo Kanduang Malang F   Sambutan Tuan Rumah F   Sambutan Ketua IKM Sehati Malang sekaligus membuka acara secara resmi F   Doa F   Penutup Robert   Ardian Maulid Wanda Wanda Iqsan Dinata Andri Zulanda Prof. Dr. Safrion, MS Prof. Dr. dr.H.Achdiat Agoes, Sp. S Eka Rizal, S.Pd 09.30 – 11.30 §       SIDANG PLENO I : Pembahasan Agenda Acara MUBES I

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dar

CONTOH TATATERTIB MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN TATA TERTIB MUSYAWARAH BESAR (MUBES) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA ( IPPM ) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Musyawarah Besar IPPM Bundo Kanduang merupakan rapat tertinggi ditingkatan Organisasi daerah IPPM Bundo Kanduang Malang 2.       Musyawarah Besar I II   adalah forum permusyawaratan untuk mengemban amanat oganisasi dan dilaksanakan pada akhir periode untuk menghasilkan rekomendasi kepada kepengurusan yang selanjutnya 3.       Musyawarah Besar I II merupakan permusyawaratan anggota IPPM Bundo Kanduang Malang yang disingkat dengan MUBES I II BAB II TUGAS DAN WEWENANG Pasal 2 Menetapkan pola dan garis-garis besar kebijakan didalam penyelenggaraan organisasi ikatan pemuda pelajar mahasiswa bundo kanduang Mengevaluasi dan mengesahkan laporan pertanggung jawaban pengurus IPPM bundo kanduang Membahas sekaligus menetapkan AD/ART organisasi ikatan pemuda pelajar mahasi