Skip to main content

Alat pemerolehan bahasa yang dibawa sejak lahir digambarkan dengan bagan sebagai berikut:



1)     
Kompetensi semantik
Alat pemerolehan bahasa yang dibawa sejak lahir digambarkan dengan bagan sebagai berikut:
Proses kompetensi
Pemerolehan bahasa
Proses perfomansi
Kompetensi sintaksis
Kompetensi fonologis
Proses pemahaman (mengamati dan mempersepsi)
Proses penerbitan (menghasilkn kalimat)
Kompetensi linguistik
 














2)      Tahap-tahap pemerolehan bahasa pertama
a.       Tahapan pemerolehan semantic (arti bahasa)
Bila seorang anak akan mengatakan atau memahami sesuatu, maka dia harus memiliki daftar kata-kata yang cukup memadai.
Tahapan pemerolehan semantic pada anak, berdasarkan penelitian yang ada, digambarkan sebagai berikut (Parera 1986:97-98):
a)      Konkret dan abstrak
Anak lebih cepat mengenal makna yang konkret dari yang abstrak.
b)      Tahap penyempitan makna kata
Berlangsung antara umur 1 tahun enam bulan. Pada tahap ini anak menganggap satu benda tertentu yang dicakup oleh satu makna menjadi nama dari benda itu.
c)      Tahap Medan Semantik
Tahap medan semantic berlangsung dari umur dua tahun enam bulan sampai dengan lima tahun. Pada tahap ini anak mulai mengelompokkan kata-kata yang berkaitan ke dalam satu medan semantic.
d)     Tahap generalisasi dan Spesialisasi
Pada tahap pemerolehan,anak belum bisa langsung mengenal bahwa mawar,melati,anggrek termasuk bunga. Anak masih mengenal bahwa setiap benda yang hidup dan tumbuh pada pohon tertentu bernama bunga,atau bahkan dia menyebut seluruh tanaman sebagai bunga.

b.      Tahapan Pembentukan bahasa
a)      Aspek Fonologis
Pada tahap ini anak akan belajar menggunakan dan mengucapkan bunyi-bunyian secara benar.
b)      Aspek morfologis
Pada tahap ini anak akan mempelajari sebuah kata dan mengubahnya dengan cara yang benar, misalnya penggunaan kata-kata jamak,awalan dan imbuhan, penggunaan kata yang memberi penjelasan dan juga penggunaan kata kerja.
c)      Aspek sintaksis
Pada tahap ini anak akan belajar membentuk kalimat dengan baik.

c.       Aspek Penggunaan bahasa dan aspek Pragmatik
Dalam fase ini anak akan menggunakan bahasa dalam konteks yang tepat dan untuk apa, misalnya bila seseorang tengah bicara maka ia tidak akan bicara secara bersamaan, tetapi ia akan menunggu sampai orang tersebut selesai bicara.

3)      Teori- teori Pemerolehan Bahasa Pertama
 Dalam pemerolehan bahasa pertama, terdapat dua teori utama :
1)      Nativist Theory (Hipotesis Nurani)
Teori ini dipelopori oleh Lenneberg dan Chomsky, yaitu  bahasa merupakan warisan. Karena manusia sejak lahir sudah dilengkapi dengan program genetic untuk berbahasa. Asumsi ini menyatakan bahwa sebagian atau semua bagian dari bahasa tidaklah dipelajari atau diperoleh, akan tetapi ditentukan oleh fitur-fitur nurani yang khusus dari organisme manusia. Hipotesis ini menekankan terdapatnya suatu ‘benda (LAD)’ nurani yang dibawa sejak lahir khusus untuk bahasa dan berbahasa. Language Acquisition Device (LAD) ini berfungsi untuk memungkinkan anak memperoleh bahasa ibunya.
2)      Learning Theory
Teori ini lahir dari pakar psikologi dari Harvard B.F. Skinner salah seorang tokoh behaviorisme yang menyatakan dalam bukunya Verbal Behavior dalam Vender (1984:82) bahwa semua pengetahuan bahasa yang dimiliki oleh manusia yang tampak dalam prilaku berbahasa merupakan hasil integrasi dari peristiwa linguistic yang dialami dan diamati oleh manusia. Karena itulah dikenal istilah teori pembelajaran bahasa pengkondisian operan, yaitu prilaku berbahasa seseorang dibentuk oleh serentetan peristiwa beragam yang muncul dari sekitar orang itu.
Sebagai penjelasan lebih lanjut dari teori ini bisa digambarkan tentang bagaimana seorang bayi mulai berbahasa. Pada tahapan ketika anak memperoleh system bunyi bahasa dari ibunya, semula dia mengucapkan system bunyi yang ada di semua bahasa yang ada di dunia ini. Akan tetapi karena lingkungan telah memberikan contoh terus menerus terhadap system bunyi yang ada pada bahasa ibunya, dan dimotivasi terus untuk menirukan system bahasa ibunya, maka yang akhirnya dikuasai adalah system bahasa ibunya.[1]

4)      Implikasi teori pemerolehan bahasa tehadap proses pembelajaran bahasa

1)      Implikasi dari teori behavioristik/ Learning Theory dalam proses pembelajaran dirasakan kurang memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi, bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri. Karena sistem pembelajaran tersebut bersifat otomatis-mekanis dalam menghubungkan stimulus dan respon sehingga terkesan seperti kinerja mesin atau robot. Akibatnya pebelajar kurang mampu untuk berkembang sesuai dengan potensi yang ada pada diri mereka.
Karena teori behavioristik memandang bahwa pengetahuan telah terstruktur rapi dan teratur, maka pebelajar atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan ditetapkan terlebih dulu secara ketat. Pembiasaan dan disiplin menjadi sangat esensial dalam belajar, sehingga pembelajaran lebih banyak dikaitkan dengan penegakan disiplin. Kegagalan atau ketidakmampuan dalam penambahan pengetahuan dikategorikan sebagai kesalahan yang perlu dihukum dan keberhasilan belajar atau kemampuan dikategorikan sebagai bentuk perilaku yang pantas diberi hadiah. Demikian juga, ketaatan pada aturan dipandang sebagai penentu keberhasilan belajar. Pebelajar atau peserta didik adalah objek yang berperilaku sesuai dengan aturan, sehingga kontrol belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri pebelajar.
2)      Implikasi teori ini dalam pengajaran bahasa asing/bahasa kedua ialah adanya keyakinan bahwa manusia (yang normal) dapat memperoleh atau mempelajari bahasa mana pun (hipotesis universal). Adapun hasilnya sangat bergantung kepada banyak faktor, termasuk motivasi, kesempatan, dan kualitas bawaan bahasa secara genetis (intelegensi bahasa).[2]

5)      Pemerolehan Bahasa Kedua
a.       Teori tentang pemerolehan bahasa kedua
1.      Teori Monitor
Teori belajar bahasa asing/bahasa kedua dengan model monitor mempunyai lima hipotesis dasar, yaitu (1) hipotesis pemerolehan belajar, (2) hipotesis urutan alamiah, (3) hipotesis monitor, (4) hipotesis masukan, dan (5) hipotesis saringan afektif .
2.      Teori Pajanan Bahasa
Ada lima macam kompetensi yang saling mengisi dalam belajar bahasa kedua, yaitu: (1) input (language expouser), (2) other knowledge, (3) explisit linguistic knowledge, (4) implicit linguistic knowledge, dan (5) output. Kelima macam pengetahuan ini, menurut Bialystok (1980), merupakan tahapan yang harus  dilalui pembelajar. Artinya, jika pembelajar ingin berhasil dengan baik, maka dia harus:
a.       Memiliki pengalaman bahasa melalui pajanan (language expouser) yang selanjutnya disebut input.
b.      Memiliki pengalaman tentang dunia disebut other knowledge.
c.       Memperoleh pajanan bahasa secara tidak dasar menghasilkan implicit linguistic knowledge.
d.      Memperoleh pembelajaran bahasa secara formal menghasilkan eksplisit linguistic knowledge.
e.       Memiliiki kemampuan member respon dalam bahasa target dengan dua cara, yaitu: (1) respon spontan, dan (2) respon tidak spontan. Variasi materi pembelajaran bahasa sangat diperlukan jika menginginkan hasil yang optimal dalam pengajaran bahasa asing/bahasa kedua. Ini merupakan realisasi tuntutan teori belajar language expouser, Bialystok. Tujuannya ialah agar pengetahuan pembelajar tidak terkungkung di dalam bingkai bahasa, tetapi harus mengenal dunia secara komprehensif.
3.      Teori Akulturasi
Brown (1980a:129) memaknai teori akulturasi sebagai proses adaptasi terhadap budaya baru. Proses adaptasi ini sangat penting dalam pemerolehan bahasa kedua karena dia merupakan salah satu alat ekspresi budaya. Selain alat ekspresi budaya,  bahasa juga sebagai alat komunikasi sosial.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa makin kuat kemampuan pembelajar mengadaptasi budaya bahasa target, makin besar kemungkinan berhasil mempelajari bahasa  itu.
4.      Teori Akomodasi
Teori ini berasumsi bahwa dalam komunikasi dua arah atau interaksi bersemuka, di satu sisi, pembicara berusaha menyesuaikan diri dengan mitra tuturnya. Penyesuaian  yang dimaksud adalah modifikasi ujaran agar mudah diterima dan dipahami oleh mitra tutur. Kebiasaan penutur asli menyederhanakan bahasanya ketika berbicara dengan penutur asing adalah salah, satu bentuk modifikasi. Tujuannya ada dua, yaitu: (1) mitra tutur memahami pesan atau tujuan komunikasi yang disampaikan, dan dengan demikian akan terjalin komunikasi dua arah, dan (2) bahasa yang termodifikasi akan menjadi masukan yang dapat dipahami (comprehensible input) bagi mitra tutur. Demikian pula, kalau berbicara dengan anak-anak, orang tua pada umumnya berusaha menyesuaikan bahasanya dengan bahasa anak-anak sehingga terjadi komunikasi dua arah. Penyesuaian semacam ini disebut konvergensi atau berkonvergensi.    Di sisi lain, penutur tidak menyesuaikan bahasanya dengan bahasa mitra tutur. Walaupun kadang-kadang menyulitkan mitra tutur, namun, strategi ini memaksa mitra tutur untuk berusaha memahami bahasa penutur.   Dampak yang diharapkan adalah tumbuhnya motivasi mitra tutur untuk terus meningkatkan penguasaan bahasa target bagi penutur asing, dan bahasa orang dewasa bagi anak-anak. Strategi demikian disebut divergensi atau berdivergensi. Istilah simplifikasi (simplification) dikenal dalam semua aliran atau pendekatan pengajaran bahasa. Strategi penerapannya pun sama atau hampir sama pada semua pendekatan itu. Yang berbeda, mungkin, hanya cara penyajiannya.

5.      Teori Wacana
Proses pemerolehan bahasa kedua mirip dengan proses pemerolehan bahasa pertama. Dalam proses pemerolehan bahasa, pembelajar juga mengembangkan kaidah struktur dan penggunaan bahasa melalui komunikasi interpersonal.  Kondisi ini sesuai dengan asumsi hipotesis urutan alamiah yang mengklaim adanya kemiripan pemerolehan bahasa kedua dengan bahasa pertama. Verifikasi kemiripan pemerolehan bahasa kedua dengan bahasa pertama telah dilakukan oleh Hatch dengan kesimpulan sebagai berikut.
1) Pemerolehan bahasa kedua mengikuti urutan alamiah dalam pengembangan perangkat sintaksis.
2) Penutur asli sangat bijaksana ketika berinteraksi dengan penutur asing sebagai upaya merundingkan makna atau pesan.
3) Strategi percakapan digunakan untuk merundingkan makna, di samping berfungsi sebagai input yang berpengaruh terhadap kecepatan pemerolehan bahasa kedua.

6.      Teori Variabel Kompetensi

             Model atau teori ini didasarkan pada dua hal: (1) proses penggunaan bahasa (process), dan (2) produksi bahasa (product). Teori ini dipandang efektif menjadi kerangka acuan pemerolehan bahasa kedua. Istilah proses (process) penggunaan bahasa dipahami dalam dua cara, yaitu: (1) pengetahuan linguistik (kaidah bahasa), dan (2) kemampuan menerapkan kaidah itu di dalam penggunaan bahasa (procedures). Widdowson (1984) mengidentifikasi pengetahuan kaidah bahasa sebagai competence dan pengetahuan prosedur sebagai kemampuan menggunakan kaidah bahasa dalam membangun wacana (capacity). Pengetahuan kaidah  bahasa berfungsi mengawasi penggunaan kaidah di dalam wacana (communicative competence), dan capacity adalah kemampuan mengembangkan makna di dalam wacana dengan melacak potensi makna di dalam bahasa melalui komunikasi secara terus-menerus. Produksi wacana melalui proses ini umumnya berwujud: (1) wacana yang direncanakan (planned discourse), dan (2) wacana yang tidak direncanakan (unplanned discourse). Implikasi teori variabel kompetensi dalam pembelajaran bahasa asing/bahasa kedua adalah penyeimbangan pembelajaran kaidah bahasa dan penerapannya di dalam penggunaan bahasa Dengan topik apa pun, materi pembelajaran harus disajikan dalam wacana, baik wacana yang tidak direncanakan (unplanned discourse) maupun wacana yang direncanakan (planned discourse).
7.      Teori Neurofungsional
Teori ini lebih dikenal dengan nama Lamandella’s Neurofuctional Theory. Lamandella (1979) membedakan dua tipe dasar pemerolehan bahasa: (1) primary language acquisition, dan (2) secondary language acquisition. Yang pertama, berlaku pada anak usia 2-5 dalam pemerolehan satu atau lebih bahasa sebagai bahasa pertamanya. Yang kedua, terbagi dua bagian, yaitu: (a) belajar secara formal bahasa asing/bahasa kedua, dan (b) pemerolehan bahasa kedua yang terjadi secara alamiah setelah anak berusia di atas lima tahun. Kedua macam pemerolehan bahasa itu mempunyai sistem neurofungsional yang berbeda, dan masing-masing mempunyai fungsi hirarkis. Lamandella menunjukkan fungsi-fungsi hirarkis itu sebagai berikut.
1) Hirarkis komunikasi: bertanggung jawab menyimpan bahasa dan simbol-simbol lain melalui komunikasi interpersonal.
2) Hirarkis kognitif: berfungsi mengontrol penggunaan bahasa dan kegiatan pemrosesan informasi kognitif. Pola latihan-latihan praktis dalam pembelajaran bahasa asing/bahasa kedua adalah bagian dari hirarki kognitif. [3]
          
b.      Hipotesis tentang pemerolehan bahasa kedua
Hipotesis seputar pemerolehan B2 sangat beragam, Dalam bukunya “Psikolinguistik” hanya diangkat 2 sumber yaitu Klein dan Krashen (dalam Nababan, 1992)
1.      Hipotesis Klein: Kesamaan pemerolehan (Identity Hypothesis)
Menurut klein, tidak ada relevansi apapun dari pemerolehan bahasa yang diperoleh sesorang sebelum ia memperoleh bahasa lainnya. Artinya pemerolehan B1 dan B2 melalui proses yang sama, yang diatur oleh aturan-aturan yang sama.

2.      Hipotesis Krashen: Pendekatan Alamiah
Menrut Krashen pendekatan alamiah meliputi 5 butir hipotesis, yakni:
1.      Hipotesis Pemerolehan lawan pembelajaran (Acquisition vs Learning)
Menurut teori ini, seorang pembelajar B2 dewasa dapat mencamkan dalam hati (internalize) aturan-aturan B2 melalui implicit (pemerolehan bawah sadar) dan cara eksplisit (pemerolehan dengan sadar dan sengaja). Cara implicit selanjutnya dinamakan pemerolehan (Acquisition) sedangkan yang eksplisit dinamakan pembelajaran (Learning).
Dikotomi ini dilandasi rumusan sebagai berikut:
a.       Pemerolehan memiliki ciri-ciri yang sama dengan pemerolehan B1, sedangkan pembelajaran adalah pengetahuan secara formal.
b.      Dalam pemerolehan, pembelajar B2 seperti memungut B2 (picking up), sedangkan dalm pembelajaran, pembelajar B2 mengetahui mengenai B2.
c.       Proses pemerolehan berlangsung bawah sadar (subconscious) secara implicit, sedang pembelajaran berlangsung dengan sengaja secara eksplisit.
d.      Dalam pemerolehan tidak diperlukan bantuan pengajar, sedangkan dalam pembelajaran diperlukan guru.
2.      Hipotesis masukan (Input Hypothesis)
Dalam hipotesis ini, kita memperoleh bahasa dengan masukan yang sedikit lebih sukar dari tingkat kemampuan berbahasa yang sedikit lebih sukar dari tingkat kemampuan bahasa yang telah kita peroleh. Disini kita diharapkan dapat meningkat dalam mengerti unsur dan butir struktur bahasa yang disebut i+1 (dimana i adalah tingkat kemampuan bahasa sekarang dan +1 menandakan penambahan ke tingkat berikutnya). Dalam hal ini diperlukan peran orang dewasa di sekeliling anak untuk mengajar bahasa (memudahkan pemerolehan bahasa) dengan cara memodifikasi bahasa dalam berbagai ragam. Dengan demikian masukan yang diberikan pada anak meliputi angka kebahasaan berikutnya yang sesuai dengan rumus i+1.
3.      Hipotesis Urutan Alamiah (Natural Order Hypothesis)
Pemerolahan B2 dalam hal struktur berjalan menurut urutan yang dapat diperkirakan. Misalnya, kata-kata tugas (function words) diperoleh lebih awal daripada struktur lainnya.
4.      Hipotesis Monitor
Pembelajaran dengan sadar memrlukan pemantauan (monitor) dan penyuntingan (editing). Kalau kita mengatakan sesuatu dalam B2, ucapan itu akan dicek kebenarannya oleh monitor itu. Dalam pikirannya, pembelajar B2 memusatkan perhatiannya pada bentuk dan kebenaran bentuk dari ucapannya secara tata bahasa, dan untuk mencapainya ia harus mengetahui kaidah tata bahasa B2. Pengguna monitor dikategorikan:
(1)   Overusers jika mereka mempunyai tuntutan yang terlalu tinggi sehingga terlalu hati-hati dan terkesan kurang lancer perilaku berbahasanya;
(2)   Underusers jika mereka hanya mengandalkan pada apa yang waktu itu diketahuinya tanpa memikrkan kaidah sebenarnya sehingga dalam berkomunikasi tidak mengindahkan akurasinya;
(3)   Optimal users jika mereka menggunakan hasil pembelajarannya sebagai pelengkap pemerolehannya sehingga dalam berkomunikasi monitor digunakan sewajarnya dan berkesan sebagai penutur asli dalam pembicaraanya.
5.      Hipotesis saringan efektif (affective filter)
Pelajar B2 yang memiliki motivasi tertentu,  yakni yang ingin menyamai penutur asli, dan yang percaya diri biasanya lebih berhasil dari pembelajar B2 yang tidak bermotivasi dan percaya diri. Disamping itu keberhasilannya ditentukan dengan rendahnya tingkat kekhawatiran pembelajar sehingga sikap positif ini berimbas pada hambatan atau saringan afektif yang  rendah. Artinya pembelajar tidak memiliki persaan ketegangan atau kekhawatiran sehingga pembalajar lebih terbuka terhadap masukan bahasa yang nantinya akan melekat pada pikiran. Sikap positif ini mendukung 2 hasil (1) pembelajar menerima dorongan untuk memperoleh masukan yang lebih banyak lagi dan (2) pembelajar menjadi lebih reseptif menerima masukan yang diperoleh sehingga kemajuannya lebih cepat.[4]

c.       Implikasi Hipotesis dan teori terhadap proses pembelajaran bahasa kedua
Pembelajaran bahasa merupakan proses pemerolehan bahasa kedua (B2) setelah seorang kanak-kank memperoleh bahasa pertamanya (B2). Proses pemahaman seorang kanak-kanak yang akan merespon dan memaknai suatu bahasa atau lambing tertentu. Proses yang dilalui dengan proses penguasaan dengan secara sadar dan tidak dapat diperoleh secara alamiah seperti bahasa pertama (B2).Dampak Bahasa Ibu (B1) dalam Pemerolehan Bahasa Kedua
Pemerolehan bahasa pertama (B1) sudah barang tentu mempunyai dampak terhadapi anak untuk mendapatkan bahasa kedua (B2) yaitu misalnya bahasa Indonesia yang baik dan benar. Awal dari pemerolehan bahasa tersebut dimulai sejak masa kanak-kanak menguasai bahasa pertamanya. Dimana sejak kanak-kanak memperoleh pengetahuan baru mengenai bahasa keduanya. Merupakan sebuah proses pemahaman yang membantu seorang kanak-kanak untuk dapat mengerti bahasa keduanya.
Bahasa pertama merupakan bahasa ibu, bahasa yang dipelajari oleh seseorang di masa kanak-kanak pada awal pemerolehan bahasa. Oleh karena itu pada umumnya bahasa pertama (B1) merupakan bahasa daerah. Beragam bahasa yang ada di Indonesia yang pada umumnya menjadi bahasa pertama seseorang. Bangsa Indonesia memiliki latar belakang budaya, suku dan kebiasaan tertentu dimasyarakat. Hal ini cenderung mempengaruhi bahasa seseorang, misalnya penggunaan dialek bahasa-bahasa daerah di Indonesia yang memang bervariasi. Belum lagi adanya persamaan makna atau penafsiran tertentu di suatu daerah satu dengan daerah lainnya.

Selain itu berbeda dengan pasangan orang tua yang berasal dari daerah yang berbeda dengan bahasa yang berbeda pula dan lingkungan yang berbeda dengan kedua bahasa orang tuanya maka anak akan memperolah bahasa yang beraneka ragam ketika bahasa Indonesia diperolehnya di sekolah akan menjadi masukan baru yang berbeda pula. Hal ini pula mempengaruhi pada pembelajaran bahasa kedua seseorang.
Pemerolehan bahasa kedua dilakukan dengan proses, dibutuhkan perkembangan kanak-kanak tersebut sehingga benar-benar fasih menggunakan bahasa keduanya.  Kefasihan seorang anak untuk menggunakan dua bahasa sangat tergantung adanya kesempatan untuk menggunakan kedua bahasa itu. Jika kesempatan banyak maka kefasihan berbahasanya semakin baik (Chaer, 1994:66). Semakin sering pengunaan dan pemakaian bahasa kedua, baik secara formal maupun informal maka hal ini akan membantu pada proses pemahaman dan kefasihan pemakaian bahasa keduanya. Misalnya pada hipotesis variasi individual penggunaan monitor yakni seseorang yang menggunakan bahasa tanpa memonitor pemakaian bahasanya akan lebih cepat dalam belajar bahasa (Chaer, 2003:250). Hal ini seseorang terus menerus menggunakan bahasa tanpa aturan, namun jumlah pemakaian bahasa itu yang dilakukan terus-menerus sehingga proses pemerolehan bahasa akan lebih cepat.




[1] Mamluatul Hasanah, Proses Manusia Berbahasa, UIN-MALIKI Press, Malang, 2010, hal 56-69
[2]digilib.unm.ac.id/download.php?id=124

[3] http://journal.umi.ac.id/pdfs/pemerolehan_bahasa_kedua_%28bahasa_asing%29.pdf
                                                             
[4] Rohman Nur Indah dan Abdurrahman, Psikolinguistik konsep & isu umum, UIN-Malang Press, Mlang, 2008, hal 79-83

Popular posts from this blog

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dari berbagai ras suku…