Skip to main content

ASAS-ASAS PSIKOLOGI DALAM KETERAMPILAN MEMBACA DAN MENULIS



ASAS-ASAS PSIKOLOGI DALAM KETERAMPILAN MEMBACA DAN MENULIS

Asas-asas yang mempengaruhi kemajuan kemampuan membaca anak adalah asas psikologis. Asas ini mencakup motivasi, minat, dan kematangan sosial, emosi, penyesuaian diri, dan juga dari sisi neurologisnya.
Neurologis ini berhubungan erat dengan otak setiap orang dan system yang ada di dalamnya. Ada hubungan yang erat antara neurologis dan linguistic yang menjadi sebuah kajian Neuropsycholinguiistics yang dibentuk oleh kata-kata neuro, psyche dan linguistics. Dalam hal ini perlu dijelaskan hanyalah kata neuro yang mengandung acuan yang relative sama dengan nerve yang berarti “saraf” dan psyche yang berarti pikiran dan mentalis. Dalam system manusia, otak merupakan pusat saraf, pengendalian pikiran dan mekanisme organ tubuh manausia, termasuk mekanisme yang mengatur pemrosesan bahasa. Menurut chaer (2003;7), neuropsikolinguistik mengkaji hubungan antara bahasa, berbahasa dan otak manusia.
Sementara itu, kebanyakan kalangan ilmuwan dan praktisi pembelajaran bahasa lebih mengenal bidang kajian itu sebagai psikolinguistik, meskipun sebenarnya ada unsur pembedanya. Salah satu definisi psikolinguistik atau yang dipilih menjadi psikologi bahasa (psychology of language) adalah kajian mengenai factor psikologis dan neurobiologist yang memungkinkan manusia memperoleh, menggunakan dan memahami bahasa. Secara lebih konkret, psikolinguistik adalah kajian tentang proses dan reprentasi kognitif yang berada dibalik penggunaan bahasa.


1.      Keterampilan Membaca
·         Tahap dalam membaca
Empat tahap dalam berbahasa yang sampai kini masih dianggap benar adalah tahap mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dua tahap yang pertama berkaitan dengan bahasa lisan dan dua tahap terakhir dengan bahasa tulisan. Tahap-tahap yang dimunculkan pada saat psikolinguistik belum lahir ini ternyata mempunyai landasan psikologis yang kuat. Dari apa yang telah kita pelajari pada bab-bab sebelum bab ini kita ketahui bahwa komprehensi selalu mendahului produksi. Anak mulai berbahasa dengan mendengarkan lebih dahulu, barulah kemudian dia mulai berbicara. Dua tahap berikutnya, mambaca dan menulis, bukanlah merupakan persyaratan hidup karena tanpa dapat membaca atau menulis manusia masih bisa tetap dapat mempertahankan hidupnya.
·         Perkembangan keterampilan membaca
Belajar membaca mencakup pemerolehan kecakapan yang dibangun pada ketrampilan sebelumnya. Jeanne Chall (1979) mengemukakan ada lima tahapan dalam perkembangan kemampuan membaca, dimulai dari ketrampilan pre-reading hingga ke kemampuan membaca yang sangat tinggi pada orang dewasa.
Tahap 0, dimulai dari masa sebelum anak masuk kelas pertama, anak-anak harus menguasai prasyarat membaca, yakni belajar membedakan huruf dalam alfabet. Kemudian pada saat anak masuk sekolah, banyak yang sudah dapat “membaca” beberapa kata, seperti “Pepsi”, “McDonalds”, dan “Pizza Hut.” Kemampuan mereka untuk mengenali simbol-simbol populer ini  karena seringnya melihat di televisi atau pun di sisi jalan serta meja  makan. Hal ini  mengindikasikan bahwa mereka dapat membedakan antara pola huruf, meskipun belum dapat mengerti  kata itu sendiri. Pengetahuan anak-anak tentang huruf dan kata saat ini secara umum lebih baik ketimbang beberapa generasi sebelumnya, hal ini  dikarenakan  pengaruh acara televisi anak seperti “Sesame Street.”
Tahap1, mencakup tahun pertama di kelas satu. Anak belajar kecakapan merekam fonologi, yaitu keterampilan yang digunakan untuk menerjemahkan simbol-simbol ke dalam suara dan kata-kata.  Kemampuan ini  diikuti dengan tahap kedua pada kelas dua dan tiga, di mana anak sudah belajar membaca dengan fasih. Di akhir kelas tiga, kebanyakan anak sekolah sudah menguasai hubungan dari huruf-ke-suara dan dapat membaca sebagian besar kata dan kalimat sederhana yang diberikan.
Tahap 4, dimulai pada saat sekolah tinggi, direfleksikan dengan  kemampuan baca yang sangat fasih.  Anak menjadi semakin dapat memahami beragam materi bacaan  dan menarik kesimpulan dari apa yang mereka baca.
·         Pengajaran Membaca
Ada dua pendekatan penting pada instruksi membaca (reading instruction) dan komentar tentang bagaimana bukti penelitian dipertimbangkan dalam topik ini. Pada dasarnya (dan secara sederhana) instruksi membaca dapat dipikirkan sebagai, baik itu (1) proses bawah ke atas (bottom-up process), anak-anak mempelajari komponen-komponen individu suatu bacaan (mengidentifikasi huruf, korespondensi suara-huruf [letter-sound correspondence]) dan meletakkannya bersamaan untuk memperoleh makna; atau (2) proses atas ke bawah (top-down process), tujuan, pengetahuan latar belakang, dan ekspektasi anak-anak menentukan  informasi apa yang dipilih dari teks. Proses terakhir ini merupakan suatu perspektif konstruktifis, mengingat kembali ide-ide Piaget. Tentu saja, membaca yang terampil melibatkan bottom-up dan top-down process, pembuatan tiap dikotomi artifisial. Namun demikian, reading instruction, terutama pada tingkat awal, sering menekankan satu terhadap lainnya, dan oleh karena itu dikotomi memiliki beberapa dasar dalam realitas.
Kurikulum yang menekankan bottom-up process ditunjukkan melalui metode fonik (phonics method). Di sini, anak-anak diajar korespondensi suara- huruf spesifik, sering kali independen pada tiap konteks “yang penuh makna”. Kurikulum yang menekankan top-down process ditunjukkan melalui pendekatan bahasa-menyeluruh (whole-language approach). Menurut Marilyn Adams dkk., “whole-language approach menekankan bahwa pembelajaran dilabuhkan pada dan dimotivasikan oleh makna. Selanjutnya, dikarenakan pemaknaan dan kepemaknaan yang penuh (meaningfulness) perlu didefiniskan secara internal dan tidak pernah melalui pernyataan (pronouncement), pembelajaran dapat efektif hanya pada seberapa jauh pembelajaran secara kognitif dikendalikan oleh siswa”. Oleh karena itu, kurikulum bahasa-menyeluruh (whole-language curricula) menekankan pada ketertarikan membaca (reading interesting) dan teks penuh makna (meaningful text) sejak dini. Ruang kelas di mana bahasa keseluruhan diajarkan, lebih cocok berpusat pada siswa (student centered) dibandingkan dengan berpusat pada guru (teacher centered), memiliki integrasi membaca dan menulis dalam keseluruhan kurikulum, memiliki penghindaran latihan bahasa, dan memiliki kesempatan kecil dalam hal pengelompokan kemampuan secara kaku.
Bukti penelitian yang didiskusikan semestinya membuat gamblang pentingnya pemrosesan level dasar (bottom-up) dalam pembelajaran membaca. Keterampilan fonologis merupakan prediktor tunggal terbaik kemampuan membaca (dan ketidakmampuan membaca). Kemampuan tersebut tidak berkembang secara spontan, dan biasanya mengeksplisitkan instruksi. Kurikulum yang mengabaikan phonics, mengabaikan tentang bagaimana “bermaknanya”phonics membuat pengalaman membaca, sedang meresikokan melek huruf pada kebanyakan siswanya.
2.      Keterampilan Menulis
Menulis adalah sesuatu yang terpenting yang ada pada kehidupan kita, karena kitabah merupakan ungkapan tertulis yang dituangkan oleh penulis. Pengertian kitabah menurut bahasa adalah kumpulan makna yang tersusun dan teratur. Dan makna kitabah secara epistimologi adalah kumpulan dari kata yang tersusun dan mengandung arti, karena kitabah tidak akan terbentuk kecuali dengan adanya kata yang beraturan. Dan dengan adanya kitabah manusia bisa menuangkan expresi hatinya dengan bebas sesuai dengan apa yang difikirkannya. Dengan menuangkan ungkapan yang tertulis diharapkan para pembaca dapat mengerti apa yang ingin penulis ungkapkan.
·         Tahap Perkembangan Menulis Anak
Buncil (2010) menyebutkan tahapan menulis anak, antara lain:
Tahap 1: Coretan-Coretan Acak.
Tahap 2: Coretan Terarah.
Tahap 3: Garis dan Bentuk Khusus diulang-ulang
Tahap 4: Latihan Huruf-Huruf Acak atau Nama.
Tahap 5: Menulis Nama.
Tahap 6: Mencontoh Kata-Kata di Lingkungan.
Tahap 7: Menemukan Ejaan.
Tahap 8: Ejaan Umum.
·         Kesulitan Menulis (Disgrafia)
Gangguan disgrafia mengacu kepada anak yang mengalamai hambatan dalam menulis, meskipun intelegensianya normal (bahkan ada yang di atas rata-rata) dan dia tidak mengalami gangguan dalam motorik maupun visual. Gangguan ini juga bukan diakibatkan oleh masalah ekonomi dan sosial tetapi merupakan hambatan neurologis dalam kemampuan menulis, yang meliputi hambatan fisik, seperti: tidak dapat memegang pensil dengan benar atau tulisannya jelek. Anak dengan gangguan disgrafia mengalami kesulitan dalam mengharmonisasikan ingatan dengan penguasaan gerak ototnya secara otomatis saat menulis huruf dan angka.
·         Penanganan disgrafia
Pahami keadaan anak, menyajikan tulisan cetak, bangun rasa percaya diri anak, dan latih anak terus menulis.

Popular posts from this blog

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dari berbagai ras suku…