Skip to main content

TEORI DAN HIPOTESIS PEMBELAJARAN BAHASA




TEORI DAN HIPOTESIS PEMBELAJARAN BAHASA

1. Teori Pembelajaran bahasa
      “ Pada dasarnya Pembelajaran bahasa mengacu pada proses pemerolehan bahasa kedua (B2)”.
a.      Teori Monitor
Teori belajar bahasa asing/bahasa kedua dengan model monitor mempunyai lima hipotesis dasar, yaitu (1) hipotesis pemerolehan belajar, (2) hipotesis urutan alamiah, (3) hipotesis monitor, (4) hipotesis masukan, dan (5) hipotesis saringan afektif .
b.     Teori Pajanan Bahasa
Ada lima macam kompetensi yang saling mengisi dalam belajar bahasa kedua, yaitu: (1) input (language expouser), (2) other knowledge, (3) explisit linguistic knowledge, (4) implicit linguistic knowledge, dan (5) output.
c.      Teori Akulturasi
Brown (1980a:129) memaknai teori akulturasi sebagai proses adaptasi terhadap budaya baru. Proses adaptasi ini sangat penting dalam pemerolehan bahasa kedua karena dia merupakan salah satu alat ekspresi budaya. Selain alat ekspresi budaya,  bahasa juga sebagai alat komunikasi sosial.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa makin kuat kemampuan pembelajar mengadaptasi budaya bahasa target, makin besar kemungkinan berhasil mempelajari bahasa  itu.
d.     Teori Akomodasi
Teori ini berasumsi bahwa dalam komunikasi dua arah atau interaksi bersemuka, di satu sisi, pembicara berusaha menyesuaikan diri dengan mitra tuturnya. Penyesuaian  yang dimaksud adalah modifikasi ujaran agar mudah diterima dan dipahami oleh mitra tutur. Kebiasaan penutur asli menyederhanakan bahasanya ketika berbicara dengan penutur asing adalah salah, satu bentuk modifikasi. Demikian pula, kalau berbicara dengan anak-anak, orang tua pada umumnya berusaha menyesuaikan bahasanya dengan bahasa anak-anak sehingga terjadi komunikasi dua arah. Penyesuaian semacam ini disebut konvergensi atau berkonvergensi.   
e.      Teori Wacana
Proses pemerolehan bahasa kedua mirip dengan proses pemerolehan bahasa pertama. Dalam proses pemerolehan bahasa, pembelajar juga mengembangkan kaidah struktur dan penggunaan bahasa melalui komunikasi interpersonal.  Kondisi ini sesuai dengan asumsi hipotesis urutan alamiah yang mengklaim adanya kemiripan pemerolehan bahasa kedua dengan bahasa pertama.
f.       Teori Variabel Kompetens
 Model atau teori ini didasarkan pada dua hal: (1) proses penggunaan bahasa (process), dan (2) produksi bahasa (product). Teori ini dipandang efektif menjadi kerangka acuan pemerolehan bahasa kedua. Istilah proses (process) penggunaan bahasa dipahami dalam dua cara, yaitu: (1) pengetahuan linguistik (kaidah bahasa), dan (2) kemampuan menerapkan kaidah itu di dalam penggunaan bahasa (procedures). Widdowson (1984) mengidentifikasi pengetahuan kaidah bahasa sebagai competence dan pengetahuan prosedur sebagai kemampuan menggunakan kaidah bahasa dalam membangun wacana (capacity). Pengetahuan kaidah  bahasa berfungsi mengawasi penggunaan kaidah di dalam wacana (communicative competence), dan capacity adalah kemampuan mengembangkan makna di dalam wacana dengan melacak potensi makna di dalam bahasa melalui komunikasi secara terus-menerus.
g.      Teori Neurofungsional
Teori ini lebih dikenal dengan nama Lamandella’s Neurofuctional Theory. Lamandella (1979) membedakan dua tipe dasar pemerolehan bahasa: (1) primary language acquisition, dan (2) secondary language acquisition. Yang pertama, berlaku pada anak usia 2-5 dalam pemerolehan satu atau lebih bahasa sebagai bahasa pertamanya. Yang kedua, terbagi dua bagian, yaitu: (a) belajar secara formal bahasa asing/bahasa kedua, dan (b) pemerolehan bahasa kedua yang terjadi secara alamiah setelah anak berusia di atas lima tahun. Kedua macam pemerolehan bahasa itu mempunyai sistem neurofungsional yang berbeda, dan masing-masing mempunyai fungsi hirarkis. Lamandella menunjukkan fungsi-fungsi hirarkis itu sebagai berikut.
1) Hirarkis komunikasi: bertanggung jawab menyimpan bahasa dan simbol-simbol lain melalui komunikasi interpersonal.
2)  Hirarkis kognitif: berfungsi mengontrol penggunaan bahasa dan kegiatan pemrosesan informasi kognitif. Pola latihan-latihan praktis dalam pembelajaran bahasa asing/bahasa kedua adalah bagian dari hirarki kognitif. [1]

2. Hipotesis pembelajaran bahasa
Hipotesis seputar pemerolehan B2 sangat beragam, Dalam bukunya “Psikolinguistik” hanya diangkat 2 sumber yaitu Klein dan Krashen (dalam Nababan, 1992)
a.      Hipotesis Klein: Kesamaan pemerolehan (Identity Hypothesis)
Menurut klein, tidak ada relevansi apapun dari pemerolehan bahasa yang diperoleh sesorang sebelum ia memperoleh bahasa lainnya. Artinya pemerolehan B1 dan B2 melalui proses yang sama, yang diatur oleh aturan-aturan yang sama.
b.     Hipotesis Krashen: Pendekatan Alamiah
Menurut Krashen pendekatan alamiah meliputi 5 butir hipotesis, yakni:
·        Hipotesis Pemerolehan lawan pembelajaran (Acquisition vs Learning)
Menurut teori ini, seorang pembelajar B2 dewasa dapat mencamkan dalam hati (internalize) aturan-aturan B2 melalui implicit (pemerolehan bawah sadar) dan cara eksplisit (pemerolehan dengan sadar dan sengaja). Cara implicit selanjutnya dinamakan pemerolehan (Acquisition) sedangkan yang eksplisit dinamakan pembelajaran (Learning).
Dikotomi ini dilandasi rumusan sebagai berikut:
a)     Pemerolehan memiliki ciri-ciri yang sama dengan pemerolehan B1, sedangkan pembelajaran adalah pengetahuan secara formal.
b)    Dalam pemerolehan, pembelajar B2 seperti memungut B2 (picking up), sedangkan dalm pembelajaran, pembelajar B2 mengetahui mengenai B2.
c)     Proses pemerolehan berlangsung bawah sadar (subconscious) secara implicit, sedang pembelajaran berlangsung dengan sengaja secara eksplisit.
d)    Dalam pemerolehan tidak diperlukan bantuan pengajar, sedangkan dalam pembelajaran diperlukan guru.
·        Hipotesis masukan (Input Hypothesis)
Dalam hipotesis ini, kita memperoleh bahasa dengan masukan yang sedikit lebih sukar dari tingkat kemampuan berbahasa yang telah kita peroleh. Disini kita diharapkan dapat meningkat dalam mengerti unsur dan butir struktur bahasa yang disebut i+1 (dimana i adalah tingkat kemampuan bahasa sekarang dan +1 menandakan penambahan ke tingkat berikutnya). Dalam hal ini diperlukan peran orang dewasa di sekeliling anak untuk mengajar bahasa (memudahkan pemerolehan bahasa) dengan cara memodifikasi bahasa dalam berbagai ragam. Dengan demikian masukan yang diberikan pada anak meliputi angka kebahasaan berikutnya yang sesuai dengan rumus i+1.
1.     Hipotesis Urutan Alamiah (Natural Order Hypothesis)
Pemerolahan B2 dalam hal struktur berjalan menurut urutan yang dapat diperkirakan. Misalnya, kata-kata tugas (function words) diperoleh lebih awal daripada struktur lainnya.
2.     Hipotesis Monitor
Pembelajaran dengan sadar memrlukan pemantauan (monitor) dan penyuntingan (editing). Kalau kita mengatakan sesuatu dalam B2, ucapan itu akan dicek kebenarannya oleh monitor itu. Dalam pikirannya, pembelajar B2 memusatkan perhatiannya pada bentuk dan kebenaran bentuk dari ucapannya secara tata bahasa, dan untuk mencapainya ia harus mengetahui kaidah tata bahasa B2. Pengguna monitor dikategorikan:
(1)            Overusers jika mereka mempunyai tuntutan yang terlalu tinggi sehingga terlalu hati-hati dan terkesan kurang lancer perilaku berbahasanya;
(2)            Underusers jika mereka hanya mengandalkan pada apa yang waktu itu diketahuinya tanpa memikrkan kaidah sebenarnya sehingga dalam berkomunikasi tidak mengindahkan akurasinya;
(3)            Optimal users jika mereka menggunakan hasil pembelajarannya sebagai pelengkap pemerolehannya sehingga dalam berkomunikasi monitor digunakan sewajarnya dan berkesan sebagai penutur asli dalam pembicaraanya.
·        Hipotesis saringan efektif (affective filter)
Pelajar B2 yang memiliki motivasi tertentu,  yakni yang ingin menyamai penutur asli, dan yang percaya diri biasanya lebih berhasil dari pembelajar B2 yang tidak bermotivasi dan percaya diri. Disamping itu keberhasilannya ditentukan dengan rendahnya tingkat kekhawatiran pembelajar sehingga sikap positif ini berimbas pada hambatan atau saringan afektif yang  rendah. Artinya pembelajar tidak memiliki persaan ketegangan atau kekhawatiran sehingga pembalajar lebih terbuka terhadap masukan bahasa yang nantinya akan melekat pada pikiran. Sikap positif ini mendukung 2 hasil (1) pembelajar menerima dorongan untuk memperoleh masukan yang lebih banyak lagi dan (2) pembelajar menjadi lebih reseptif menerima masukan yang diperoleh sehingga kemajuannya lebih cepat.[2]



[1] http://journal.umi.ac.id/pdfs/pemerolehan_bahasa_kedua_%28bahasa_asing%29.pdf
                                                                                                                                                                                
[2] Rohman Nur Indah dan Abdurrahman, Psikolinguistik konsep & isu umum, UIN-Malang Press, Mlang, 2008, hal 79-83

Popular posts from this blog

CONTOH AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR ( MUBES ) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA (IPPM) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 Minggu, 16 November 2010 WAKTU KEGIATAN PETUGAS TEMPAT 0 7 . 3 0 – 0 8 .00 Persiapan panitia Panitia Aula Rumah Bapak Prof. Dr. Safrion, MS 0 8 . 3 0 – 09.30 Pembukaan : F   Master of Ceremony (MC) F   Pembacaan Ayat suci alquran F   Sari Tilawah F   Menyanyikan Lagu Indonesia Raya F   Laporan Ketua Panitia F   Sambutan Ketua IPPM Bundo Kanduang Malang F   Sambutan Tuan Rumah F   Sambutan Ketua IKM Sehati Malang sekaligus membuka acara secara resmi F   Doa F   Penutup Robert   Ardian Maulid Wanda Wanda Iqsan Dinata Andri Zulanda Prof. Dr. Safrion, MS Prof. Dr. dr.H.Achdiat Agoes, Sp. S Eka Rizal, S.Pd 09.30 – 11.30 §       SIDANG PLENO I : Pembahasan Agenda Acara MUBES I

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dar

CONTOH TATATERTIB MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN TATA TERTIB MUSYAWARAH BESAR (MUBES) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA ( IPPM ) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Musyawarah Besar IPPM Bundo Kanduang merupakan rapat tertinggi ditingkatan Organisasi daerah IPPM Bundo Kanduang Malang 2.       Musyawarah Besar I II   adalah forum permusyawaratan untuk mengemban amanat oganisasi dan dilaksanakan pada akhir periode untuk menghasilkan rekomendasi kepada kepengurusan yang selanjutnya 3.       Musyawarah Besar I II merupakan permusyawaratan anggota IPPM Bundo Kanduang Malang yang disingkat dengan MUBES I II BAB II TUGAS DAN WEWENANG Pasal 2 Menetapkan pola dan garis-garis besar kebijakan didalam penyelenggaraan organisasi ikatan pemuda pelajar mahasiswa bundo kanduang Mengevaluasi dan mengesahkan laporan pertanggung jawaban pengurus IPPM bundo kanduang Membahas sekaligus menetapkan AD/ART organisasi ikatan pemuda pelajar mahasi