Skip to main content

contoh penelitian PTK


A. Latar Belakang

Pembelajaran merupakan suatu proses yang dilakukan secara sadar pada setiap individu atau kelompok untuk merubah sikap dari tidak tahu menjadi tahu sepanjang hidupnya. Sedangkan proses belajar mengajar adalah suatu kegiatan yang di dalamnya terjadi proses siswa belajar dan guru mengajar dalam konteks interaktif, dan terjadi interaksi edukatif antara guru dan siswa, sehingga terdapat perubahan dalam diri siswa baik perubahan pada tingkat pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan atau sikap.[1]
Sedangkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam adalah suatu upaya membelajarkan peserta didik agar dapat belajar, terdorong belajar, mau belajar dan tertarik untuk terus menerus mempelajari ajaran Agama Islam, baik untuk kepentingan untuk mengetahui cara beragama yang benar maupun mempelajari Islam sebagai pengetahuan[2]
Oleh karena itu, proses belajar mengajar yang di selenggarakan di sekolah atau lembaga formal, dimaksudkan untuk mengarahkan perubahan diri siswa secara terencana, baik perubahan dalam pengetahuan, pemahaman dan ketrampilan atau sikap. Proses belajar mengajar di sekolah atau di lembaga formal sangat dipengaruhi oleh lingkungan belajar. Lingkungan belajar tersebut antara lain meliputi: siswa, guru, karyawan sekolah, bahan atau meteri pelajaran (buku paket, majalah, makalah dsb), sumber belajar lain yang mendukung dan fasilitas belajar (laboratorium, pusat sumber belajar, perpustakaan yang lengkap dan sebagainya).
Guru adalah orang yang penting statusnya di dalam kegiatan belajar mengajar, karena guru memegang tugas yang paling penting yaitu mengatur dan mengemudikan bahtera kehidupan kelas. Bagaimana suasana kelas berlangsung merupakan hasil kerja dari guru. Suasana dapat “hidup”, siswa belajar tekun tapi tidak merasa terkekang atau sebagainya, suasana “muram”, siswa belajar kurang bersemangat dan diliputi suasana takut. Itu semuanya sebagai akibat dari hasil pemikiran dan upaya guru. [3]
Bersamaan dengan perkembangan zaman, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju dan juga mendorong guru untuk mengadakan upaya pembaharuan dalam proses belajar dan memanfaatkan hasil-hasil teknologi. Guru di tuntut untuk mampu menggunakan alat-alat yang bisa memudahkannya dalam menjalankan proses belajar mengajar dan memudahkan siswa dalam belajar, baik alat bantu yang sesuai dengan perkembangan zaman seperti komputer, slide dan sebagainya. Ataupun alat bantu mengajar yang sederhana, murah dan efisien seperti gambar, grafik, dan bagan. Untuk mencapai tujuan pembelajaran di samping guru di tuntut mampu menggunakan alat-alat tersebut, guru juga di tuntut untuk mampu mengembangkan media pembelajaran yang akan digunakan tetapi tersedia, karena media adalah bagian yang tidak terpisahkan dari proses belajar mengajar demi tercapainya tujuan pembelajaran.[4]
Media pembelajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar banyak sekali, begitu juga dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam juga bisa menggunakan media pembelajaran untuk memudahkan guru, siswa dalam belajar. Media yang dimanfaatkan dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam, antara lain: komputer, rekaman CD, gambar, grafis (peta konsep) dan sebagainya. Media-media tersebut mempunyai karakteristik tersendiri, sehingga dapat memudahkan dalam mempelajari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam yang ada di sekolah-sekolah terutama di lembaga formal.
Berdasarkan paparan di atas bahwa proses belajar mengajar sebaiknya menggunakan media pembelajaran untuk mempermudahkan siswa dalam memahami materi Pendidikan Agama Islam, maka penulis terdorong untuk meneliti tentang:” Penggunaan Media Grafis Dalam Pembelajaran Pendidikan Agama Islam Untuk Mempermudah Pemahaman Siswa Kelas II-3 Di SMA Negeri 1 Batu”.



B. Rumusan Masalah.
Berdasarkan diskripsi di atas dan agar lebih terfokus dalam pembahasan penelitian ini, maka peneliti memusatkan perhatian pada pertanyaan sebagai berikut:
  1. Apakah penggunaan media grafis dalam mempelajari Pendidikan Agama Islam dapat mempermudah siswa kelas II-3 di SMA Negeri I Batu?
2.  Bagaimanakah penggunaan media grafis dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam kelas II-3 di SMA Negeri I Batu?

C. Tujuan Penelitian.
Berdasarkan rumusan masalah yang kami susun di atas, maka penelitian ini bertujuan:
  1. Untuk mengetahui penggunaan media grafis dalam pembelajaran Pedidikan Agama Islam dapat mempermudah pemahaman siswa kelas II-3 di SMA Negeri I Batu.
  2. Untuk mengetahui bagaimana penggunaan media grafis dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk mempermudah pemahaman siswa kelas II-3 di SMA Negeri I Batu.




D. Hipotesis.
Jika penggunaan media grafis dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dioptimalkan, maka dapat mempermudah pemahaman siswa kelas II-3 SMA Negeri I Batu.

E. Manfaat Penelitian.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai berikut:
1.      Bagi Lembaga.
Sebagai pemberi informasi tentang hasil dari penggunaan media grafis dalam proses belajar mengajar Pendidikan Agama Islam, serta sebagai bahan pertimbangan bagi lembaga untuk memberikan kebijakan kepada para guru dalam proses penyampaian materi Pendidikan Agama Islam.
2.      Bagi Guru.
Agar guru lebih mudah dalam menyampaikan materi yaitu secara logis, praktis dan sistematis serta efektif dan efesien dalam mencapai hasil pembelajaran yang maksimal.
3.      Bagi Siswa.
Siswa agar lebih mudah dalam memahami materi yang disampaikan guru serta lebih mudah dalam memahami konsep dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam untuk direalisasikan dalam kehidupan sehari-hari.


4.      Bagi Peneliti.
Penelitian ini dapat menambah pengetahuan peneliti dalam menggunakan media grafis dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam.

F. Sistematika Pembahasan
Bab I. Pendahuluan menguraikan latar belakang, perumusan masalah, tujuan, kegunaan penelitian, hipotesis tindakan dan sistematika pembahasan.
Bab II. Kajian Pustaka, bab ini menguraikan tentang tentang pengertian, unsur-unsur dan tehnik penggunaan media grafis dalam pembelajaran agama Islam
Bab III. Metode Penelitian, bab ini menguraikan tentang pendekatan dan jenis penelitian, rencana tindakan, siklus penelitian, pembuatan instrumen, pengumpulan data, indikator kinerja.
Bab IV. Paparan Data, bab ini menguraikan tentang lokasi penelitian dan hasil penelitian yang meliputi penyajian data-data yang diperoleh dilapangan
Bab V. Penutup, bab ini menguraikan tentang kesimpulan dari hasil penelitian serta saran yang diharapkan dapat memberikan manfaat bagi perkembangan Pendidikan Agama Islam

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pembelajaran Pendidikan Agama Islam

1. Pengertian  Pendidikan Agama Islam
Pendidikan agama Islam adalah upaya sadar dan terencana dalam menyiapkan peserta didik untuk mengenal, memahami, menghayati hingga mengimani ajaran agama Islam dengan disertai dengan tuntutan untuk menghormati penganut agama lain dalam hubungannya dengan kerukunan antar umat beragama hingga terwujud persatuan dan kesatuan bangsa (Kurikuluim PAI, 3: 2002)
Zakiyah Darajat (1987: 87) mengemukakan bahwa esensi pendidikan yaitu adanya proses transfer nilai, pengetahuan dan keterampilan dari generasi tua ke generasi muda agar generasi muda mampu untuk hidup. Oleh karena itu ketika kita menyebut adanya pendidikan agama Islam, maka akan mencakup dua hal, yaitu:
  1. Mendidik siswa untuk berprilaku sesuai dengan nilai-nilai atau akhlak Islam
  2. Mendidik siswa-siswi untuk mempelajari materi ajaran Islam, berupa pengetahuan tentang Islam.
Munculnya anggapan-anggapan yang kurang menyenangkan tentang pendidikan agama seperti; Islam diajarkan lebih pada hafalan, padahal Islam penuh dengan nilai-nilai yang harus diperaktekkan. Pendidikan Islam lebih ditekankan pada hubungan formalitas antara agama dengan Tuhan-Nya; penghayatan nilai-nilai agama kurang mendapat penekanan. Hal ini diukur dari penilaian kelulusan siswa dalam pelajaran agama diukur dengan berapa banyak hafalan dan mengerjakan ujian tertulis di kelas yang dapat di demonstrasikan oleh siswa.
Jadi pendidikan agama Islam merupakan usaha sadar yang dilakukan pendidik dalam rangka mempersiapkan peserta didik untuk meyakini, memahami dan mengamalkan ajaran Islam melalui kegiatan bimbingan, pengajaran atas pelatihan yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dari pengertian tersebut dapat ditemukan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran pendidikan agama Islam, yaitu sebagai berikut:
  1. Pendidikan Agama Islam sebagai usaha sadar, yakni suatu kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan yang dilakukan secara berencana dan sadar atas tujuan yang hendak dicapai.
  2. Peserta didik yang hendak disiapkan untuk mencapai tujuan, dalam arti ada yang dibimbing, diajari dan dilatih dalam peningkatan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengmalan terhadap ajaran agama Islam.
  3. Pendidik pendidikan agama Islam (GPAI) yang melakukan kegiatan bimbingan, pengajaran dan latihan secara sadar terhadap peserta didiknya untuk mencapai tujuan pendidikan agama Islam.
  4. Pembelajaran pendidikan agama Islam diarahkan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan dan pengamalan ajaran agama Islam dari peserta didik, yang disamping untuk membentuk kesalehan atau kualitas pribadi, juga sekaligus untuk membentuk kesalehan sosial. Dalam arti kesalehan pribadi itu diharapkan mampu memancarkan ke luar dalam hubungan keseharian dengan manusia lain baik seagama ataupun yang tidak seagama, serta dalam berbangsa dan bernegara sehingga dapat mewujudkan persatuan dan kesatuan nasional dan bahkan ukhuwah Islamiah.[5]

2. Tujuan dan Ruang Lingkup Pembelajaran Pendidikan Agama Islam.
Secara umum, Pendidikan Agama Islam bertujuan untuk meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, dan pengamalan peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. serta  berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara (GBPP PAI, 1999).
Dari tujuan tersebut dapat ditarik beberapa dimensi yang hendak ditingkatkan dan dituju oleh pembelajaran agama Islam, yaitu: dimensi keimanan peserta didik terhadap ajaran agama Islam, dimensi pemahaman atau penalaran serta keilmuan peserta didik terhadap ajaran agama Islam; dimensi penghayatan dan pengamalan batin yang dirasakan peserta didik dalam menjalankan ajaran Islam, dimensi pengalaman, dalam arti bagaimana ajaran Islam yang telah di Imani, dipahami, dan dihayati oleh peserta didik itu mampu diamalkan dalam kehidupan pribadi, sebagai manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT. dan berakhlak mulia, serta diaktualisasikan dalam kehidipan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.[6]
Pendidikan Agama Islam dijenjang pendidikan dasar bertujuan memberikan kemampuan dasar kepada peserta didik tentang agama Islam untuk mengembangkan kehidupan beragama, sehingga menjadi manusia muslim yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT serta berakhlak mulia sebagai pribadi, anggota masyarakat, warga negara dan anggota umat manusia. Sedangkan Pendidika Agama Islam pada jenjang menengah bertujuan untuk meningkatkan keyakinan, pemahaman, penghayatan, dan pengalaman peserta didik tentang agama Islam, sehingga menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT dan berakhlak mulia, serta diaktualisasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, serta untuk melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi.
Untuk mencapai tujuan tersebut, maka ruang lingkup pendidikan agama Islam meliputi keserasian, keselarasan dan keseimbangan antara:
1.      Hubungan manusia dengan Allah,
2.      Hubungan manusia dengan sesama makhluk,
3.      Hubungan manusia dengan dirinya sendiri,
4.      Dan hubungan manusia dengan makhluk lain dan lingkungannya.
Dari ruang lingkup tersebut, kemudian dijabarkan dalam kurikulum PAI 1994, yang pada dasarnya mencakup tujuh unsur pokok yaitu: Al-Qur’an, hadits, keimanan, syari’ah, ibadah, muamalah, akhlak, dan tarikh yang menekankan pada perkembangan poltik. Pada kurikulum 1999 dipadatkan menjadi lima unsur pokok yaitu: Al-Qur’an, keimanan, akhlak, fiqih, dan bimbingan ibadah, serta tarikh atau sejarah yang lebih menekankan pada perkembengan ajaran agama, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.

B. Media Pengajaran
1.  Pengertian Media Pengajaran
Kata media merupakan bentuk jamak dari medium yang berarti perantara, sedangkan menurut istilah adalah wahana pengantar pesan. Beberapa teknologi pengajaran, banyak memberikan batasan definisi tentang media pengajaran, diantaranya:
1.      Menurut AECT (Association of Education end Communication Tecnonology)  memberi batasan mengenai media sebagai segala bentuk dan saluran yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan atau informasi.
2.      Menurut NEA (National Education Assocation) menyatakan bahwa media adalah bentuk-bentuk komunikasi baik tercetak maupun audio visual serta peralatannya. Dan hendakanya dapat dimanupulasi, dilihat, didengar dan dibaca.
3.      Gagne menyatakan bahwa, media adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar.
4.      Briggs berpendapat, media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar, misalnya buku, film bingkai, kaset dan lain-lain.[7]
Perkembangan selanjutnya Martin dan Briggs (1986) memberikan batasan mengenai media pembelajaran yaitu mencakup semua sumber yang diperlukan untuk melakukan komunikasi dengan siswa.[8]
Kesimpulan dari berbagai pendapat di atas adalah:
  1. Media adalah wadah dari pesan yang oleh sumber atau penyalurnya ingin diteruskan kepada penerima pesan tersebut
  2. Bahwa materi yang ingin disampaikan adalah pesan instruksional
  3. Tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar pada penerima pesan (anak didik)                    
Berdasarkan beberapa batasan tentang media pengajaran, maka dapat dikemukakan ciri-ciri umum yang terkandung dalam media pengajaran, antara lain:
1.      Media pembelajaran memiliki pengertian fisik yang dewasa ini dikenal sebagai hardware (perangkat keras), yaitu sesuatu yang dapat dilihat, didengar atau diraba dengan panca indera.
2.      Media pembelajaran memiliki pengertian non fisik yang dikenal sebagai soft ware (perangkat lunak), yaitu kandungan pesan yang terdapat dalam perangkat keras yang meupakan isi yang ingin disamapaikan kepada siswa.
3.      Penekanan media pembelajaran terdapat pada visual dan audio.
4.      Media pembelajaran memiliki pengertian alat bantu pada proses belajar baik dalam kelas maupun di luar kelas.
5.      Media pembelajaran digunakan dalam rangka komunikasi dan interaksi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar.
6.      Media pembelajaran dapat digunakan secara massa (misalnya: radio, televisi) kelompok besar dan kelompok kecil (misalnya: slide, film, vidio,OHP) atau perorangan (misalnya: modul, komputer, radio, tape/kaset video recorder).
7.      Sikap, perbuatan, organisasi, strategi, dan manajemen yang berhubungan dengan suatu ilmu.[9]
Jadi dari batasan-batasan dan ciri-ciri umum di atas media pengajaran berupa hard ware dan soft ware dan bisa dilihat serta didengar dan juga bisa membantu guru untuk memperlancar dalam proses belajar mengajar sehingga terjadi komunikasi dan interaksi edukatif. Dan membantu mempermudah siswa dalam memahami pesan yang disampaikan oleh guru



2. Jenis-jenis Media Pengajaran
Ada beberapa jenis media pengajaran yang dapat digunakan dalam proses belajar mengajar, antara lain :
a.  Media Grafis
Media grafis adalah media visual. Dalam media ini, pasan yang akan disampaikan dapat dituangkan dalam bentuk simbol. Oleh karena itu simbol-simbol yang digunakan perlu difahami benar artinya, agar dalam penyampaian materi dalam proses belajar mengajar dapat berhasil secara efektif dan efisien.
Media grafis berfungsi untuk menarik perhatian, memperjelas sajian ide, mengilustrasikan atau menghiasi fakta yang mungkin akan cepat dilupakan apabila tidak digrafiskan, misalnya: pelaksanaan shalat atau tentang konsep sifat wajib, mustahil bagi Allah, dan konsep lainnya.
Media grafis selain sederhana dan mudah pembuatannya, media grafis juga termasuk media yang relatif murah ditinjau dari segi biayanya. Adapun jenis-jenis media grafis, antara lain:
1.      Gambar/Foto
Media gambar adalah media yang paling umum dipakai. Gambar/Foto merupakan bahasa yang umum yang dapat dimengerti dan dinikmati di mana-mana. Sebagaimana pepatah Cina mengatakan “sebuah gambar berbicara lebih banyak daripada seribu bahasa”. Dalam penggunaan media pembelajaran ini, gambarnya harus disesuaikan dengan tujuan yang ingin dicapai.
2.      Sketsa
Sketsa adalah gambar yang sederhana, atau draf kasar yang melukiskan bagian-bagian pokoknya tanpa detail. Karena setiap orang yang normal dapat diajar menggambar, maka setiap guru yang baik haruslah dapat menuangkan ide-idenya dalam bentuk sketsa. Sketsa, selain dapat menarik perhatian siswa, menghindari verbalisme dan dapat memperjelas penyampaian pesan, harganya pun tak perlu dipersoalkan karena media dibuat guru langsung.
3.      Diagram
Diagram adalah suatu gambar sederhana yang dirancang untuk menggambarkan hubungan timbal balik, yang menggunakan garis-garis dan simbol-simbol. Diagram biasanya menggambarkan struktur dari obyeknya secara garis besar, menunjukkan hubungan yang ada antar komponennya atau sifat-sifat proses yang ada di situ.
4.      Bagan
Bagan seperti halnya media grafis yang lain yaitu termasuk media visual. Fungsinya yang pokok adalah menyajikan ide-ide atau konsep-konsep yang sulit bila hanya disampaikan secara tertulis atau lisan secara visual. Bagan juga mampu memberikan ringkasan butir-butir penting dari suatu presentasi. Pesan yang disampaikan biasanya berupa ringkasan visual suatu proses, perkembangan atau hubungan-hubungan penting.

5.      Grafik
Grafik adalah gambar sederhana yang menggunakan titik-titik, grafis atau gambar. Untuk melengkapinya seringkali simbol-simbol verbal digunakan pula di situ. Fungsinya adalah untuk menggambarkan data secara kuantitatif dan teliti, menerangkan perkembangan atau perbandingan sesuatu objek atau peristiwa yang saling berhubungan secara singkat dan jelas.
6.      Kartun
Kartun sebagai salah satu bentuk komunikasi grafis, yaitu suatu gambar interpretatife yang digunakan simbol-simbol untuk menyampaikan sesuatu pesan secara cepat dan ringkas atau sesuatu sikap terhadap orang situasi, atau kejadian-kejadian tertentu. Kemampuannya besar sekali untuk menarik perhatian, mempengaruhi sikap atau tingkah laku. Kartun biasanya hanya menangkap esensi pesan yang harus disampaikan dan menuangkannya ke dalam gambar sederhana, tanpa detail menggunakan simbol-simbol serta karakter yang mudah dikenal dan dipahami dengan cepat.[10]

b. Media Audio
Media audio berbeda dengan media grafis, media audio berkaitan dengan indera pendengaran. Pesan yang akan disampaikan dituangkan kedalam lambang-lambang auditif, baik verbal maupun non verbal. Ada beberapa jenis media yang dapat dikelompokkan dalam media audio, antara lain:
a.   Radio
Radio adalah media audio yang programnya dapat direkam dan diputar sesuka kita. Media ini relatif murah dan variasi progamnya lebih banyak dan bisa dipindah-pindah dan dapat digunakan bersama-sama.
b. Alat Perekam Pita Magnetic (tape recorder)
Alat perekam pita magnetic atau tape recorder adalah salah satu media pembelajaran yang tidak dapat diabaikan untuk menyampaikan informasi, karena mudah menggunakannya.
b.  Laboratorium Bahasa
Laboratorium bahasa adalah alat untuk melatih siswa mendengar dan berbicara dalam bahasa asing dengan jalan menyajikan materi pelajaran yang disiapkan sebelumnya. Media ini yang dipakai adalah alat perkam.[11]

c. Media Proyeksi Diam
Media proyeksi diam (still proyektif medium) mempunyai persamaan dengan media grafis dalam arti menyajikan rangsangan-rangsangan visual. Untuk itu bahan-bahan  grafis banyak sekali dipakai dalam media proyeksi diam. Perbedaan antara media grafis dan proyeksi diam, yaitu pada media grafis dapat secara langsung berinteraksi dengan pesan media bersangkutan, pada media proyeksi  diam pesan yang terkandung di dalamnya harus diproyeksikan dengan proyektor agar dapat dilihat oleh sasaran.[12] Dalam proyeksi diam ini semua menggunakan transparan yang kemudian diproyeksikan menggunakan proyektor.

3. Kriteria Pemilihan Media Pengajaran
Dalam memilih media pembelajaran sebaiknya memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut:
  1. Ketepatannya dengan tujuan pembelajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruktional yang telah ditetepkan.
  2. Dukungan terhadap isi bahan pelajaran, bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah difahami.
  3. Kemudahan memperoleh media, media yang diperlukan mudah diperoleh, setidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar.
  4. Keterampilan guru dalam menggunakannya, guru mampu menggunakannya, dengan baik dalam proses belajar mengajar.
  5. Tersedia waktu untuk menggunakannya.
  6. Sesuai dengan taraf berfikir siswa, memilih media pembelajaran sesuai dengan taraf berfikir siswa sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat difahami oleh siswa.[13]
Dengan kriteria pemilihan media di atas, guru akan lebih mudah menggunakan media mana yang dianggap tepat untuk membantu dalam proses belajar mengajar sehingga dengan adanya media yang tepat dapat melaksanakan proses belajar mengajar dengan efektif dan efisien.

4. Fungsi dan Manfaat Media Pengajaran
Secara umum media pengajaran mempunyai fungsi sebagai berikut:
1.  Memperjelas penyajian pesan agar tidak terlalu bersifat verbalitas, sehingga mempermudah siswa dalam memahami pesan tersebut.
2.  Mengatasi keterbatasan ruang waktu dan daya indera.
3.  Menarik perhatian siswa dalam proses belajar mengajar.
4.  Menimbulkan gairah belajar pada siswa.
5.  Memungkinkan terjadinya interaksi yang lebih langsung antara anak didik dengan lingkungan dan kenyataan.
6.  Memungkinkan anak didik belajar sendiri-sendiri menurut kemampuan dan minatnya.
7.  Mempersamakan pengalaman dan persepsi antar siswa dalam menerima pesan.[14] 
Berdasarkan batasan-batasan mengenai batasan media di atas, maka dapat disimpulkan bahwa media pengajaran segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan pendidikan dari pengirim pesan atau guru kepada penerima pesan  (siswa) dan dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian, dan minat serta perhatian siswa sehingga terjadi proses belajar mengajar yang mempermudah siswa dalam memahami pesan.
Menurut Oemar Hamalik, manfaat dari penggunaan media dalam proses belajar mengajar adalah:
  1. Meletakkan dasar-dasar yang konkret dalam berfikir dan mengurangi verbalisme
  2. Memperbesar perhatian siswa dalam proses belajar mengajar
  3. Meletakkan dasar-dasar yang penting untuk perkembangan proses belajar mengajar dan membuat pelajaran yang mantap
  4. Menumbuhkan pemikiran yang teratur, lentur dan kontinue terutama melalui gambar hidup membantu tumbuhnya pengertian yang dapat membantu perkembangan kemampuan berbahasa
  5. Memberikan pengalaman yang tidak mudah diperoleh dengan cara lain dan membantu efisiensi dan keragaman yang lebih banyak dalam belajar.[15]



BAB III

METODE PENELITIAN


A. Pendekatan dan Jenis Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti memilih pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat diperoleh dengan menggunakan prosedur statistik atau dengan cara lain dari pengukuran.[16]
Sedangkan jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas yang bertujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kegiatan pembelajaran dalam mengatasi kesulitan siswa dalam pembelajaran.
Menurut T. Raka Joni dalam F.X Soedarsono penelitian tindakan kelas merupakan suatu bentuk kajian yang bersifat reflektif oleh pelaku tindakan yang dilakukan untuk meningkatkan kemampuan rasional dari tindakan-tindakan yang dilakukannya itu serta memperbaiki kondisi-kondisi di mana praktek-praktek pembelajaran tersebut dilakukan.[17]

B. Tahapan  Penelitian Tindakan Kelas

 Penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 1 Batu dan difokuskan pada kelas II-3 pada saat mengikuti kegiatan proses belajar mengajar mata pelajaran pendidikan agama Islam dengan jumlah siswa 44 orang, yang mana 39 beragama Islam dan 4 orang beragama Kristen dan 1 katolik dengan menggunakan media grafis dalam pembelajaran agama Islam untuk mempermudah pemahaman siswa.
1. Perencanaan
a.       Diskusi dengan Guru Pamong tentang kelas yang akan dipilih
b.      Diskusi dengan Guru mata pelajaran, Dosen pembimbing lapangan tentang penggunaan media grafis dalam proses belajar mengajar
c.       Guru mata pelajaran membantu peneliti sebagai pengamat dalam kegiatan pembelajaran, memantau peneliti dalam melakukan kegiatan belajar mengajar
d.      Membuat perencanaan pembelajaran
e.       Menyusun materi yang akan disampaikan
f.       Membuat alat observasi untuk mengetahui keaktifan dan tingkat kreatifitas siswa dalam proses belajar mengajar
g.      Menyiapkan media grafis yang akan digunakan dalam pembelajaran
h.      Mnyusun langkah-langkah pembelajaran
i.        Menyusun alat evaluasi

2. Pelaksanaan

a. Pendahuluan
-    Awali dengan mengucapkan salam dan berdo'a.
-    Membaca Al-Quran dengan tartil. Pilih surat yang berkaitan dengan topik bahasan.
-    Penjelasan singkat tentang kompetensi dan materi yang akan dimiliki/dikuasai siswa sebagai hasil belajar

b. Kegiatan Inti

-    Guru memberikan ilustrasi seputar materi dengan menggunakan media grafis
-    Guru membagi siswa menjadi 8 kelompok
-    Tiap kelompok diberi topik yang berbeda
-    Tiap kelompok mengutus perwakilan untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan mendemonstrasikan.
-    Guru memberikan kesempatan kepada kepada antar kelompok untuk saling menanggapi.
-    Selama kegiatan berlangsung, guru mengamati dan menilai kinerja siswa.

c. Penutup

-    Guru memberikan feed back terhadap kinerja siswa
-    Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya
-    Guru memberi tugas pada siswa untuk merangkum bab yang sudah dipelajari
-    Diakhiri dengan doa dan salam
3. Observasi dan Interpretasi
Selama kegiatan pembelajaran berlangsung, peneliti melakukan pengambilan data berupa hasil pengamatan dan hasil belajar siswa. Hasil pengamatan dicatat pada lembar observasi tentang  perilaku siswa, yaitu:
a.       Kegiatan siswa selama kegiatan belajar mengajar berlangsung
b.      Nilai hasil tugas diskusi di kelas dan nilai tes ulangan harian
4. Analisis dan Refleksi
Berdasarkan data yang diperoleh dari tindakan yang telah dilakukan, maka data tersebut dianalisis untuk memastikan bahwa dengan menerapkan media grafis dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam dapat mempermudah siswa.
Peneliti menggunakan tehnik reduksi data, paparan data, dan kesimpulan. Reduksi data merupakan proses pemilahan data yang relevan dan penting. Langkah yang digunakan yaitu dengan menyederhanakan dengan membuat fokus, klasifikasi, abstraksi data kasar menjadi data yang bermakna untuk dianalisis. Data yang telah direduksi selanjutnya disajikan dalam bentuk paparan data yang memungkinkan untuk ditarik kesimpulan. Kesimpulan merupakan intisari dari analisis yang memberikan dampak dari penelitian tindakan kelas. Data hasil pengamatan dan hasil belajar siswa, setelah dianalisis dapat digunakan untuk menyusun refleksi. Refleksi merupakan bagian integrasi dan interpretasi terhadap semua informasi yang diperoleh.

C. Siklus Penelitian

Dalam penelitian tindakan kelas ini, kami bagi menjadi dua siklus. Tiap siklus terdiri dua kali pertemuan. Hal ini berdasarkan 2 pokok bahasan, yakni shalat sunah (4 X 45 menit dengan 2 kali pertemuan), dan zikir dan do’a (4 X 45 menit dengan 2 kali pertemuan).

D. Instrumen Penelitian

Dalam penelitian ini peneliti di lapangan menjadi syarat utama, peneliti mengumpulkan data dalam latar alamiah, di mana peneliti bertindak sebagai instrumen kunci. Selain itu peneliti juga berperan sebagai perencana dan pelaksana tindakan kelas yang terlibat langsung, pengumpul dan penganalisis data dan akhirnya menjadi pelapor hasil penelitian. Instrumen pendukung adalah lembar pedoman observasi perilaku siswa di dalam kelas selama proses belajar mengajar, nilai tugas dari setiap siklus dan nilai test ulangan harian.

E. Pengumpulan Data
Data yang akurat akan bisa diperoleh ketika proses pengumpulan data tersebut dipersiapkan dengan matang. Dalam penelitian ini akan digunakan beberapa cara untuk mengumpulkan data selama proses penelitian, yaitu:
1.      Pengamatan Partisipatif
Cara ini digunakan agar data yang diinginkan bisa diperoleh, sesuai dengan apa yang dimaksudkan oleh peneliti. Penelitian Partisipatif maksudnya adalah peneliti terlibat secara langsung dan bersifat aktif dalam turut mengumpulkan data yang diinginkan dan juga peneliti kadang-kadang mengarahkan pada data yang ingin diperoleh oleh penelti.
2.   Observasi Aktifitas Kelas      
 Observasi aktifitas kelas dilaksanaka oleh penliti ketika peneliti selama proses belajar mengajar dikelas dengan menggunakan media grafis sehingga peneliti akan memperoleh gambaran suasana kelas dalam penggunaan media grafis dalam pembelajaran agama Islam untuk mempermudah pemahaman siswa
3.   Pengukuran Hasil Belajar
 Data yang telah diperoleh dilapangan akan diukur untuk peneliti dengan menggunakan pedoman lembar obserfasi perilaku siswa dan presentase hasil tugas serta nilai ulangan harian kelas
      Untuk mempermudah peneliti dalam mengumpulkan data dan data yang diperoleh tidak hilang maka peneliti melakukan perekaman dengan cara membuat catatan dari hasil yang telah diperoleh selama proses penelitian. Teknik perekaman yang dilakukan adalah dengan membuat catatan-catatan pada pedoman obserfasi berdasarkan perkembangan siswa setiap siklus, yakni siklus I dan siklus II.

F. Indikator Kinerja

Penelitian yang dilaksanakan selama 6 kali pertemuan dengan observasi kelas, yakni mengikuti mata pelajaran bersama guru pamong pada pertemuan ke-1 dan tes ulangan harian pada pertemuan ke-5 ini, sudah cukup untuk menilai apakah  penggunaan media grafis dalam pembelajaran pendidikan agama Islam dapat mempermudah pemahaman siswa. Hal ini dapat kita lihat dari catatan pada pedoman obserfasi perilaku siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar, nilai tugas dan tes ulangan harian.

BAB IV

PAPARAN DATA DAN HASIL PENELITIAN

 


A. Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Batu yang terletak di Jalan Raya Kyai Agus Salim Batu no 57, SMA Negeri 1 Batu  merupakan salah satu sekolah menengah umum yang berada di Batu di bawah naungan Departemen Pendidikan Nasional. SMA Negeri 1 Batu merupakan sekolah yang favorit di Batu. SMA Negeri 1 Batu didukung oleh sumber daya manusia yang cukup memadai. Pegawai di SMA Negeri 1 Batu sebagian besar mereka adalah lulusan berpendidikan tinggi, baik yang ada di kota Malang maupun diluar kota Malang.               Dan untuk mengembangkan sumber daya manusia yang berkualitas, SMA Negeri 1 Batu menyediakan berbagai macam fasilitas yang mendukung proses pendidikan, diantaranya adalah ruang belajar (kelas) yang berjumlah 24 kelas, yaitu 8 ruang untuk kelas satu, 8 ruang untuk kelas dua, dan 8 ruang untuk kelas tiga. SMA Negeri 1 Batu juga dilengkapi dengan laboratorium komputer, laboratorium bahasa, laboratorium IPA, laboratorium IPS, perpustakaan, musholla, ruang guru, ruang tata usaha, ruang kepala sekolah, ruang BP, ruang mengetik, ruang koperasi, ruang kesenian, ruang kegiatan kesiswaan (OSIS, UKS, koperasi sekolah, pramuka, PMR), ruang olah raga, dan kamar mandi / WC.
Sedangkan untuk menunjang kegiatan olah raga SMA Negeri 1 Batu juga menyediakan fasilitas olah raga antara lain lapangan basket, lapangan volly, lapangan sepak bola dan tenis meja serta beberapa fasilitas penunjang lainnya.
Penelitian ini difokuskan pada siswa kelas II-3 di SMA Negeri 1 Batu pada saat mengikuti kegiatan proses belajar mengajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan jumlah siswa 44 orang, yang mana 39 beragama Islam dan 4 orang beragama Kristen dan 1 Katolik

B. Hasil Penelitian

Uraian berikut adalah salah satu uapaya untuk mendeskripsikan hasil penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan. Dengan demikian kita akan mengetahui bahwa penggunaan media grafis dalam pembelajaran pendidikan agama dapat mempermudah siswa kelas II-3 di SMA Negeri 1 Batu.
Penelitian ini dilaksanakan mulai tanggal 26 Juli 2004 sampai dengan tanggal 04 September 2004 selama 6 kali pertemuan, tiap hari sabtu jam ke 3 dan ke 4 yaitu tanggal 31 Juli 2004 (observasi kelas), 07, 14, 21, 28 Agustus 2004, dan 04 September 2004 (Ulangan Harian). Dengan demikian, prakter atau proses kegiatan belajar dan mengajar yang dilakukan peneliti hanya berlangsung 4 kali pertemuan dengan 2 pokok bahasan yaitu bab shalat sunah (4X45 menit dengan 2 kali pertemuan) dan bab zikir dan doa (4X45 menit dengan 2 kali pertemuan).


1. Siklus I
a. Rencana tindakan siklus I
Pada perencanaan tindakan I, peneliti menerapkan penggunaan media grafis dalam proses belajar mengajar dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman siswa terhadap materi Agama Islam di kelas II-3 yang siswanya memiliki kemampuan yang hiterogen dengan latar belakang akademik yang berbeda.
Siklus ini terdiri dari satu pokok bahasan, yaitu bab shalat sunah (4X45 menit dengan 2 kali pertemuan). Sebelum pembelajaran dilaksanakan penelitian ini dimulai dari beberapa tahapan persiapan, yaitu:
1.      Membuat rencana pembelajaran meliputi perencanaan satuan dan analisis program
2.      Membuat atau menyiapkan media grafis, gambar tentang tata cara pelaksanaan sholat
3.      Membagi materi sholat sunnah menjadi lima sub, yaitu: sholat dhuha, sholat istisqa, sholat gerhana, sholat istikharah, shalat hajat
4.      Mempersiapkan peralatat untuk melaksanakan praktek sholat seperti sajadah atau koran
5.      Membagi kelas menjadi beberapa kelompok diskusi dan tanya jawab dan melakukan demonstrasi sholat sunah
6.      Membuat alat atau pedoman observasi untuk mengetahui, kinerja siswa,  kreatifitas siswa dalam proses belajar mengajar sebagai wujud dari pemahaman siswa terhadap materi yang telah dijelaskan dengan menggunakan media grafis.

b. Pelaksanaan

Pelaksanaan siklus ini terdiri dari satu pokok bahasan, yaitu bab shalat sunah (4X45 menit dengan 2 kali pertemuan), dimana: 

Pertemuan I : 2X 45 menit (Sabtu, 07 Agustus 2004)

Pendahuluan

-    Awali dengan mengucapkan salam dan berdo'a.
-    Membaca Al-Quran dengan tartil. Pilih surat yang berkaitan dengan topik bahasan.
-    Perkenalan antara peneliti dengan siswa sebagai objek penelitian
-    Penjelasan singkat tentang kompetensi dan materi yang akan dimiliki/dikuasai Siswa sebagai hasil belajar

Kegiatan Inti

-    Guru memberikan ilustrasi seputar materi dengan menggunakan media grafis
-    Guru membagi siswa menjadi 8 kelompok
-    Tiap kelompok diberi topik yang berbeda tentang pengertian, tata cara, keutamaan sholat-sholat sunnah: sholat dhuha, gerhana, istikharah, istisqa’, hajat
-    Tiap kelompok mengutus perwakilan untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan mendemonstrasikan.
-    Guru memberikan kesempatan kepada antar kelompok untuk saling menanggapi.
-    Selama kegiatan berlangsung, guru mengamati dan menilai kinerja siswa.

Penutup

-    Guru memberikan feed back terhadap kinerja siswa
-    Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya
-    Guru memberi tugas pada siswa untuk merangkum bab yang sudah dipelajari
-    Diakhiri dengan doa dan salam

Pertemuan II : 2 X 45 menit (Sabtu, 14 Agustus 2004)

Pendahuluan

-    Awali dengan mengucapkan salam dan berdo'a.
-    Membaca Al-Quran dengan tartil. Pilih surat yang berkaitan dengan topik bahasan.
-    Penjelasan singkat tentang kompetensi dan materi yang akan dimiliki/dikuasai siswa sebagai hasil belajar

Kegiatan Inti

-    Melanjutkan materi sholat sunah yakni menyuruh kelompok yang belum untuk mengutus perwakilan untuk memppresentasikan hasil diskusi kelompok dan mendemonstrasikan.
-    Guru memberikan kesempatan kepada antar kelompok untuk saling menanggapi.
-    Selama kegiatan berlangsung, guru mengamati dan menilai kinerja  siswa.

Penutup

-    Guru memberikan feed back terhadap kinerja siswa
-    Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya
-    Guru memberi tugas pada siswa untuk merangkum bab yang sudah dipelajari
-    Diakhiri dengan doa dan salam


c. Observasi siklus I
Selama kegiatan pembelajaran, peneliti bertindak sebagai guru sekaligus sebagai observer yang mencatat lembar pengamatan pada pedoman observasi (lampiran 1). Hasil pengamatan pada siklus I, kegiatan siswa cukup baik dengan antusias mengikuti kegiatan belajar mengajar. Memasuki kegiatan inti, guru menjelaskan dengan menggunakan media grafis, yaitu gambar tentang tatacara pelaksanaan shalat, dan dengan mudah mereka memahami keterangan guru, sehingga ketika kegiatan diskusi berlangsung dan tiap kelompok secara bergantian maju untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan mendemontrasikan praktek shalat sunnah. Setelah siswa menerima materi pelajaran dan melakukan diskusi, guru melakukan feed back terhadap hasil diskusi dan memberikan rugas untuk merangkum hasil diskusi.

d. Refleksi siklus I
Penggunaan media grafis dengan menggunakan gambar tentang tatacara shalat pada siklus I berjalan dengan cukup baik. Hal ini terlihat pada antusias siswa dalam mengikuti pelajaran dan kreatifitas siswa dalam kegiatan diskusi serta pelaksanaan demontasi dari tiap-tiap shalat sunnah. Hal ini tidak terlepas dari minimnya tingkat pengetahuan mereka tentang agama. Menyikapi kenyataan di atas maka diambil langkah-langkah:
1.      Memacu siswa untuk berani engungkapkan gagasannya
2.      Memacu siswa untuk lebih banyak membaca buku-buku keagamaan, dan memberi mereka untuk berkonsultais padaa guru mata pelajaran di luar jam pelajaran

2. Siklus II
a. Rencana siklus II
Pada perencanaan tindakan II, peneliti menerapkan penggunaan media grafis dalam pembelajaran agama Islam dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman siswa kelas II-3.
Siklus II ini terdiri dari satu pokok bahasan, yaitu zikir dan doa (4X45 menit dengan 2 kali pertemuan). Sebelum pembelajaran dilaksanakan penelitian ini dimulai dari beberapa tahapan persiapan, yaitu:
1.      Membuat rencana pembelajaran meliputi perencanaan satuan dan analisis program
2.      Membuat atau menyiapkan media grafis yang berkaitan dengan materi dzikir dan doa
3.      Membagi kelas menjadi beberapa kelompok diskusi dan tanya jawab
4.      Membuat alat observasi untuk mengetahui kreatifitas kinerja siswa, antusias siswa dalam proses belajar mengajar sebagai akibat dari pemahaman siswa terhadap penyajian materi dengan tehnik menggunakan media grafis
b. Pelaksanaan
Pelaksanaan siklus II ini juga terdiri dari satu pokok bahsan yaitu zikir dan do’a (4X45 menit dengan 2 kali pertemuan), yaitu:
            Pertemuan I : 2 X 45 menit (Hari Sabtu, 21 September 2004)

Pendahuluan

-    Awali dengan mengucapkan salam dan berdo'a.
-    Membaca Al-Quran dengan tartil. Pilih surat yang berkaitan dengan topik bahasan.
-    Penjelasan singkat tentang kompetensi dan materi yang akan dimiliki/dikuasai siswa sebagai hasil belajar

Kegiatan Inti

-    Guru memberikan ilustrasi seputar materi dengan mengunakan media grafis, yakni simbol-simbol dzikir dan do’a
-    Guru membagi siswa menjadi 8 kelompok
-    Tiap kelompok diberi permasalahan yang berbeda tentang materi zikir
-    Tiap kelompok mengutus perwakilan untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya
-    Guru memberikan kesempatan kepada antar kelompok untuk saling menanggapi.
-    Selama kegiatan berlangsung, guru mengamati  dan menilai kinerja  siswa.

Penutup

-          Guru memberikan feed back terhadap kinerja siswa
-          Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya
-          Guru memberi tugas pada siswa untuk merangkum bab yang sudah dipelajari
-          Diakhiri dengan doa dan salam
Pertemuan II : 2 X 45menit (Sabtu, 28 September 2004)

Pendahuluan

-    Awali dengan mengucapkan salam dan berdo'a.
-    Membaca Al-Quran dengan tartil. Pilih surat yang berkaitan dengan topik bahasan.
-    Penjelasan singkat tentang kompetensi dan materi yang akan dimiliki/dikuasai siswa sebagai hasil belajar

Kegiatan Inti

-    Melanjutkan materi dzikir dan doa yakni menyuruh kelompok yang belum untuk mengutus perwakilan untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok
-    Guru memberikan kesempatan kepada kepada kelompok lain untuk saling menanggapi.
-    Selama kegiatan berlangsung, guru mengamati  dan menilai kinerja  siswa.

Penutup

-    Guru memberikan feed back terhadap kinerja siswa
-    Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya
-    Guru memberi tugas pada Siswa untuk merangkum bab yang sudah dipelajari
-    Diakhiri dengan doa dan salam
c. Observasi siklus II
Selama kegiatan pembelajaran, peneliti bertindak sebagai guru sekaligus sebagai observer yang mencatat lembar pengamatan pada pedoman obserfasi (lampiran 2). Hasil pengamatan siklus II kegiatan siswa sudah baik dengan antusias dalam mengikuti KBM. Memasuki kegiatan inti, guru menjelaskan dengan menggunakan media grafis, yaitu tulisan di kertas manilla tentang simbol dari macam-macam dzikir dan doa serta gambar ka’bah terkait dengan materi doa agar mempermudah siawa dalam memahami keterangan guru, sehingga ketika kegiatan diskusi berlangsung dan tiap kelompok secara bergantian maju untuk mempresentasikan hasil diskusi kelompok. Setelah siswa menerima materi pelajaran dan melakukan diskusi, guru melakukan feed back terhadap hasil diskusi dan memberikan tugas untuk merangkum hasil diskusi kelas.
d. Refleksi siklus II
Penggunaan media grafis dengan menggunakan tulisan dikertas manilla dan gambar ka’bah pada siklus II berjalan dengan baik. Hal ini terlihat pada antusias siswa dalam mengikuti pelajaran dan kretifitas siswa dalam kegiatan diskusi serta pelaksanaan praktek lafal dzikir dan doa. Oleh karena itu perlu diambil langkah-langkah:
1.      Kualitas belajar siswa perlu dipacu lagi khususnya menyangkut kemampuan siswa dalam mengemukakan pendapat dan melatih siswa untuk dapat menarik kesimpulan dengan bahasa mereka
2.      Menjaga agar kualitas aspek belajar yang sudah berkembang dengan baik tetap terpelihara dan memotifasinya agar lebih meningkatkan disiplin belajar.



A.    Kesimpulan
Dari paparan data di atas, yakni penelitian tentang penggunaan media grafis dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam untuk mempermudah pemahaman siswa kelas II-3 di SMA Negeri 1 Batu, dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:
  1. Penggunaan media grafis dapat mempermudah  siswa dalam memahami peta konsep dalam pelajaran Pendidikan Agama Islam. Hal ini tercermin dari beberapa hal, yaitu:
a.       Antusias, kecerian dan kretafitas dalam bentuk keaktifan siswa dalam selama kegiatan proses belajar mengajar.
b.      Kemampuan siswa dalam melaksanakan dan mempresentasikan hasil diskusi kelompok serta tugas merangkum hasil diskusi dengan mengunakan bahasa sistematis
c.       Hasil tes ulangan harian yang mencerminkan kelulusan 100 % terhadap materi-materi yang dijelaskan dengan tehnik menggunakan media grafis
  1. Dalam penggunaan media grafis dalam pembelajaran pendidikan agama Islam agar dapat mempermudah pemahaman siswa, maka harus memeperhatikan bebera hal, antara lain:
a.       Dukungan terhadap isi bahan pelajaran, bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah difahami.
b.      Kemudahan memperoleh media, media yang diperlukan mudah diperoleh, setidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar dan keterampilan guru dalam menggunakannya
c.       Sesuai dengan taraf berfikir siswa, memilih media pembelajaran sesuai dengan taraf berfikir siswa sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat difahami oleh siswa

B. Saran-saran

Kami selaku penulis sekaligus pengamat dalam hal ini memberikan beberapa saran yang sifatnya membangun demi berkembangnya Pendidikan Agama Islam, yaitu:
  1. Agar guru mempersiapkan media pengajaran yang kreatif inofatif, efektif dan efesien, agar siswa tidak merasa kesulitan didalam belajar Pendidikan Agama Islam.
  2. Agar para staf pendidikan, khusunya para pengajar dilembaga pendidikan terkait dapat meyakinkan kepada para siswa bahkan pendidikan agama Islam merupakan pelajaran yang sangat penting, supaya pelajaran agama Islam tidak diremehkan oleh siswa.
  3. Hendaknya guru selalu memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengembangkan daya nalar atau imajinasinya dalam memahami suatu permasalahan.
  4. Dalam menggunakan media pengajaran diharapkan sesuai dengan topik yang diajarkan sehingga siswa lebih maksimal dalam mengikuti proses belajar mengajar


DAFTAR PUSTAKA

Anselm,dkk.  1997. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif (Prosedur, Tehnik dan          Teori Grounded) Penyadur Junaidi Ghony. P T Bina Ilmu.
Hamalik, Oemar. 2001. Proses Belajar Mengajar. Bandung:  Bumi Aksara.
Muhaimin. 2001.  Paradigma Pendidikan Islam. Bandung: PT Remaja Rosda         Karya.            
__________. 1996 Strategi belajar Mengajar. Surabaya: CV Citra Media
Muhammad dkk. 1996. Strategi Belajar Mengajar. Surabaya: CV citra        Media.
Arsyad, Azhar. 2002 Media Pembelajaran. Jakarta: PT. Raja Grafindo       Persada.
______. 1997. Media Pengajaran. Jakarta: P.T. Raja Grafindo Persada..
Sadiman. Arief dkk. Media Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Soetomo. 1993. Dasar-dasarInteraksi Belajar Mengajar. Surabaya: Usaha Nasional.
Soedarsono. F.X. AplikasiPenelitian Tindakan Kelas. Departemen Pendidikan        Nasional.
Sudjana, Nana. 1989.  Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru.
Saputro, Supriyadi. 1993. Dasar-dasar Metodologi Pengajaran Umum.      Malang: IKIP
Zakiyah Darajat, 1987. Peranan Agama Dalam Kesehatan Mental. Jakarta:            Gunung Agung



Popular posts from this blog

CONTOH AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR ( MUBES ) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA (IPPM) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 Minggu, 16 November 2010 WAKTU KEGIATAN PETUGAS TEMPAT 0 7 . 3 0 – 0 8 .00 Persiapan panitia Panitia Aula Rumah Bapak Prof. Dr. Safrion, MS 0 8 . 3 0 – 09.30 Pembukaan : F   Master of Ceremony (MC) F   Pembacaan Ayat suci alquran F   Sari Tilawah F   Menyanyikan Lagu Indonesia Raya F   Laporan Ketua Panitia F   Sambutan Ketua IPPM Bundo Kanduang Malang F   Sambutan Tuan Rumah F   Sambutan Ketua IKM Sehati Malang sekaligus membuka acara secara resmi F   Doa F   Penutup Robert   Ardian Maulid Wanda Wanda Iqsan Dinata Andri Zulanda Prof. Dr. Safrion, MS Prof. Dr. dr.H.Achdiat Agoes, Sp. S Eka Rizal, S.Pd 09.30 – 11.30 §       SIDANG PLENO I : Pembahasan Agenda Acara MUBES I

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dar

CONTOH TATATERTIB MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN TATA TERTIB MUSYAWARAH BESAR (MUBES) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA ( IPPM ) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Musyawarah Besar IPPM Bundo Kanduang merupakan rapat tertinggi ditingkatan Organisasi daerah IPPM Bundo Kanduang Malang 2.       Musyawarah Besar I II   adalah forum permusyawaratan untuk mengemban amanat oganisasi dan dilaksanakan pada akhir periode untuk menghasilkan rekomendasi kepada kepengurusan yang selanjutnya 3.       Musyawarah Besar I II merupakan permusyawaratan anggota IPPM Bundo Kanduang Malang yang disingkat dengan MUBES I II BAB II TUGAS DAN WEWENANG Pasal 2 Menetapkan pola dan garis-garis besar kebijakan didalam penyelenggaraan organisasi ikatan pemuda pelajar mahasiswa bundo kanduang Mengevaluasi dan mengesahkan laporan pertanggung jawaban pengurus IPPM bundo kanduang Membahas sekaligus menetapkan AD/ART organisasi ikatan pemuda pelajar mahasi