Skip to main content

Defenisi, Jenis-Jenis, dan Teori Pokok Belajar


BAB I
PENDAHULUAN

1.1.            Latar belakang
Masalah mendidik adalah masalahnya setiap orang, karena setiap orang sejak dahulu hingga sekarang, tentu berusaha mendidik anak-anaknya dan anak-anak lain yang diserahkan kepadannya untuk dididik. Demikian pula dengan masalah “belajar”dan “mengajar”, yang dapat dikatakan sebagai tindak pelaksanaan usaha pendidikan, adalah masalah setiap orang. Tiap orang boleh dikatakan sebagai belajar, misalnya belajarnya seorang murid kepada gurunya, olahragawan kepada pelatihnya, dan sebagainnya.[1]
Dalam menentukan definisi tentang belajar dapat dilakukan pendekatan dari berbagai segi, tergantung dari sudut teori belajar mana yang dianut oleh seseorang. Karena masalah belajar adalah masalahnya setiap orang, maka tidak mustahil jika banyak pihak yang berusaha mempelajari dan menerangkan perihal hakikat belajar itu. Namun sampai sekarang, hanya para ahli ilmu jiwalah yang paling berhasil dalam memberikan sumbangan dan menjawab banyak persoalan sehubungan dengan belajar. Maka konsep-konsep dan prinsip-prinsip serta informasi lainnya yang telah tersusun dalam lapangan psikologi itu, akan sangat berguna untuk memahami, merangsang dan memberi arah dalam aktivitas belajar.[2]
Karena hal yang demikian itu, belajar adalah masalah setiap orang, maka jelaslah kiranya perlu dan penting untuk menjelaskan dan merumuskan masalah belajar itu,[3] dan bahwa belajar sangat penting bagi kehidupan seorang manusia. Dan juga kita mengerti kalau manusia membutuhkan waktu yang lama untuk belajar sehingga menjadi manusia dewasa. Manusia akan senantiasa belajar kapanpun dan dimanapun dia berada.[4] Dan oleh karenanya, pemahaman yang benar mengenai arti belajar dengan segala aspek, bentuk, dan manifestasinyamutlak diperlukanoleh para pendidik khususnya para guru. Kekeliruan atau ketidaklengkapan persepsi mereka terhadap proses belajar dan hal-hal yang berkaitan dengannya mungkin akan mengakibatkan kurang bermutunya hasil pembelajaran yang dicapai peserta didik.[5] Oleh karenannya kami akan menjelaskan dalam makalah ini tentang definisi belajar, jenis-jenis belajar dan teori-teori pokok dalam belajar.

1.2.       Rumusan masalah
            Berdasarkan latar belakang di atas maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.         Apa definisi dari belajar?
2.         Apa saja jenis-jenis belajar?
3.         Sebutkan dan jelaskan teori-teori pokok belajar?
1.3.     Tujuan
            Dari rumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka tujuannya adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui definisi dari belajar
2.      Untuk mengetahui jenis-jenis belajar
3.      Untuk mengetahui teori-teori pokok belajar


BAB II
PEMBAHASAN

2.1.Definisi belajar
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Ini berarti bahwa berhasil arau gagalnya pencapaian tujuan pendidikan itu amat bergantung pada proses belajar yang dialami siswa, baik ketika ia berada di sekolah maupun di lingkungan rumah atau keluarganya sendiri.[6]
Di samping itu, ada pula sebagian orang yang memandang belajar sebagai pelatihan belaka seperti yang tampak pada pelatihan membaca dan menulis. Berdasarkan persepsi semacam ini, biasanya mereka akan merasa cukup puas bila anak-anak mereka telah mampu memperlihatkan ketrampilan jasmaniah tertentu walaupun tanpa pengetahuan mengenai arti, hakikat, dan tujuan keterampilan tersebut.[7]
Secara kuantitatif (ditinjau dari sudut jumlah), belajar berarti kegiatan pengisian atau pengembangan kemampuan kognitif dengan fakta sebanyak-banyaknya. Jadi, belajar dalam hal ini dipandang dari sudut banyaknya materi yang dikuasai siswa.[8]
Secara institusional (tinjauan kelembagaan), belajar dipandang sebagai proses “validasi” atau pengabsahan terhadap penguasaan siswa atas materi-materi yang telah ia pelajari. Bukti institusional yang menunjukkan siswa telah belajar dapat diketahui seusai proses mengajar. Ukuranya semakin baik mutu guru mengajar akan semakin baik pula mutu perolehan siswa yang kemudian dinyatakan dalam bentuk skor.[9] 
Adapun pengertian belajar secara kualitatif (tinjauan mutu), ialah proses memperoleh arti-arti dan pemahaman-pemahaman serta cara-cara menafsirkan dunia di sekeliling siswa. Belajar dalam pengertian ini difokuskan pada tercapainya daya pikir dan tindakan yang berkualitas untuk memecahkan masalah-masalah yang kini dan nanti dihadapi siswa.[10]
Para ahli psikologi mempunya tafsiran sendiri-sendiri apa yang dimaksud dengan belajar. Tafsiran itu saling berbeda antara satu dengan yang lainnya, berdasarkan anggapan yang mereka berikan dalam proses dan kegiatan belajar itu. Ada yang mengatakan kalau belajar adalah semata-mata mengumpulkan atau menghafalkan fakta-fakta yang tersaji dalam bentuk informasi/ materi pelajaran. Disamping itu pula ada yang memandang belajar sebagai latihan belaka yang seperti tampak pada latihan membaca dan menulis. Tapi, ada banyak sekali pengertian yang benar tentang belajar. Dan akan diuraikan secara lengkap di bawah ini,[11]
1.      Hilgrad dan bower dalam bukunya theories of learning mengemukakan, bahwa belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap sesuatu situasi tertentu yang disebabkan oleh pengalamannya yang berulang-ulang dalam situasi itu, dimana perubahan tingkah laku itu tidak dapat dijelaskan atau dasar kecenderungan respon pembawaan, kematangan atau keadaan-keadaan sesaat seseorang”.
2.      Gagne, dalam buku the conditions of learning menyatakan bahwa :”belajar terjadi apabila situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.
3.      Morgan dalam buku introduction to psychology mengemukakan belajar adalah setiap perubahan yang relatif, menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau pengalaman.[12]
4.      T. Raka Joni, dalam artikelnya yang berjudul: “Teori mengajar dan psikologi belajar” mengatakan bahwa: belajar adalah perubahan tingkah laku sebagai hasil pengalaman kecuali perubahan tingkah laku yang disebabkan oleh proses menjadinya seseorang atau perubahan instiktif.
5.      H. Carl Witherington dalam bukunya “educational Psycology” mengemukakan bahwa: belajar adalah suatu perubahan di dalam kepribadian yang menyatakan diri sebagai suatu pola baru daripada reaksi yang berupa kecakapan, sikap, kebiasaan, kepandaian atau suatu pengertian.
6.      Cronbach, dalam bukunya “educational psychology” mengatakan bahwa : “belajar adalah mengalami dan dalam mengalami itu si pelajar mempergunakan panca inderannya”.
7.      W.S. Winkel dalam bukunya psikologi pendidikan dan evaluasi belajar menyatakan bahwa: belajar adalah sebagai proses pembentukan tingkah laku secara terorganisir.[13]
8.      Slameto mengemukakan bahwa belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi individu dengan lingkungannya.
9.      Moeslichatoen mengemukakan bahwa belajar dapat diartikan sebagai proses yang membuat terjadinnya proses belajar dan perubahan itu sendiri dihasilkan dari usaha dalam proses belajar.[14]
10.  Chaplin dalam dictionary of psychology membatasi belajar dengan dua rumusan, yang pertama: acquisition of any relatively permanent change in behavior as a result of practice and expresience. Dan yang kedua: process of acquiring responses as a result of special practice.
11.  Hitzman dalam bukunya the psychology of learning and memory berpendapat learning is a change in organism due to experience which can affect the organism’s behavior.[15]
Dari beberapa pengertian di atas, maka dapat dikukakan beberapa elemen dasar dari belajar yaitu:
a.       Belajar adalah merupakan suatu perubahan dalam tingkah laku, perubahan tersebut dapat mengarah kepada tingkah laku yang baik dan mengarah pada tingkah laku yang kurang baik
b.      Belajar adalah suatu perubahan yang terjadi melalui latihan atau pengalaman, dalam arti perubahan-perubahan yang disebabkan oleh pertumbuhan atau kematangan, dan tidak dikatakan sebagai hasil belajar apabila perubahan tersebut terdapat pada seorang bayi.
c.       Perubahan tersebut harus relatif mantap dan harus merupakan akhir daripada suatu waktu yang cukup panjang. Berapa lama waktu yang diperlukan itu sulit ditentukan dengan pasti, tetapi perubahan itu hendaknya merupakan akhir dari suatu periode yang mungkin berlangsung lama. Dan berarti harus mengesampingkan perubahan yang disebabkan oleh motivasi, kelelahan, adaptasi, ketajaman perhatian atau kepekaan seseorang, yang biasannya berlangsung sementara.
d.      Tingkah laku yang mengalami perubahan karena belajar menyangkut berbagai aspek kepribadian, baik fisik maupun psikis.[16]
Dan bisa disimpulkan yaitu ciri-ciri suatu perubahan perilaku berupa:
1.      Perubahan yang terjadi secara sadar
2.      Perubahan dalam belajar bersifat kontinyu dan fungsional
3.      Perubahan dalam belajar bersifat positif dan aktif
4.      Perubahan dalam belajar bertujuan atau terarah.[17]
Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui pendidikan atau lebih khusus melalui prosedur latihan. Dan pada intinya, bahwa orang yang belajar tidak sama dengan sebelum mereka melakukan perbuatan belajar. Dan dapat disimpulkan:
1.      Bahwa dalam belajar, faktor perubahan tingkah laku harus ada dan tidak dikatakan belajar apabila di dalamnya tidak ada perubahan tingkah laku.
2.      Bahwa dalam perubahan tersebut pada pokoknya didapatkan kecakapan baru.
3.      Bahwa perubahan tersebut terjadi karena adanya usaha yang disengaja.
Dan dapat diketahui bahwa tujuan belajar adalah mengadakan perubahan tingkah laku dan perbuatannya.[18] Dan juga dapat diambil kesimpulan kalau belajar dapat dipahami sebagai tahapan perubahan seluruh tingkah laku individu yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungan yang melibatkan proses kognitif.[19]

2.2.Jenis-jenis belajar
Belajar sebagai suatu aktivitas mencakup berbagai jenis-jenis belajar, yaitu:
a.       Belajar bagian, yaitu peserta didik belajar dengan membagi-bagi materi pelajaran kedalam bagian-bagian agar mudah dipelajari untuk memahami makna materi pelajaran secara keseluruhan.
b.      Belajar dengan wawasan, yaitu belajar yang berdasar pada teori wawasan yang menyatakan bahwa belajar merupakan proses mereorganisasikan pola-pola perilaku yang terbentuk menjadi satu tingkah laku yang ada hubungannya dengan penyelesaian suatu persoalan.
c.       Belajar deskriptif yaitu suatu usaha untuk memilih beberapa sifat situasi rangsangan dan kemudian menjadikannya sebagai pedoman dalam berperilaku.
d.      Belajar secara global adalah individu mempelajari secara keseluruhan bahan pelajaran lalu dipelajari secara berulang untuk dikuasai.
e.       Belajar incidental yaitu proses yang terjadi secara sewaktu-waktu tanpa adanya petunjuk yang diberikan oleh guru sebelumnya.
f.       Belajar instrumental adalah proses belajar yang terjadi karena adanya hukuman dan hadiah dari guru sebagai alat untuk menyukseskan aktivitas peseta didik.
g.      Belajar intensional ialah belajar yang memilikii arah, tujuan, dan petunjuk yang dijelaskan oleh guru.
h.      Belajar laten adalah belajar yang ditandai dengan perubahan-perubahan perilaku yang terlihat tidak terjadi dengan segera.
i.        Belajar mental adalah perubahan kemungkinan tingkah laku yang terjadi pada individu tidak nyata terlihat, melainkan hanya berupa perubahan proses kognitif dari bahan yang dipelajari.
j.        Belajar produktif ialah belajar dengan transfer meksimum.
k.      Belajar verbal adalah belajar dengan materi verbal dengan melalui proses latihan dan proses ingatan.[20]
2.3.Teori-teori pokok belajar
Teori belajar dapat dipahami sebagai prinsip umum atau kumpulan prinsip yang saling berhubungan dan merupakan penjelasan atas sejumlah fakta dan penemuan yang berkaitan dengan peristiwa belajar.[21] Setiap teori memiliki landasan sendiri-sendiri sebagai dasar perumusan, sehingga bebarengan dengan itu muncullah berbagai teori tentang belajar.[22]
Teori -teori pokok belajar itu diantaranya adalah koneksionisme, pembiasaan Klasik, pembiasaan prilaku respon, dan teori  pendekatan kognitif.
1.      Koneksionisme
Teori keneksionisme atau connectionisme yang dipelopori oleh erward L. thorndike (1893). Menurut aliran ini bahwa belajar terjadi dengan ulangan dan pembiasaan. Karena itu dalam psikologi ini terkenal dengan sebutan: S-R Bond Theory, yakni teori stimulus S. setiap stimulus akan menimbulkan respons atau jawaban tertentu. Ikatan stimulus dan respon ini akan bertambah kuat apabila sering mendapat latihan-latihan, sehingga terjadi asosiasi antara stimulus dan respon. Lama kelamaan asosiasi ini membentuk kebiasaan-kebiasaan yang dapat berjalan secara otomatis.
Dalam percobaannya thorndike menggunakan seekor kucing yang lapar dan dimasukkan kedalam kurungan yang didalamnya terdapat sebuah alat yang apabila disentuh akan menyebabkan pintu terbuka sehingga kucing bisa keluar. Lalu di luar kurungan ditaruh makanan yang dapat dilihat atau dicium oleh kucing yang berada dalam kurungan. Maka kucing yang lapar itu akan berusaha untuk keluar dari kurungan.
Pada mulannya kucing akan bertingkah laku tidak menentu agar bisa keluar dari kurungan, tapi gagal. Tapi setelah secara tidak sengaja menyentuh/ menginjak mekanisme sehingga pintu terbuka dan kucing keluar. Eksperimen ini diulang beberapa kali, dan ternyata waktu yang diperlukan untuk membuka tombol semakin singkat dan tepat memberikan reaksi yang tepat terhadap tantangan atau perangsangannya. Yakni membuat asosiasi antara perangsang dan reaksi melalui belajar secara “trial and error”.[23]
Menurut teori trial and error (mencoba-coba dan gagal) ini, setiap organism jika dihadapkan dengan situasi baru akan melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya coba-coba. Jika dalam usaha mencoba-coba itu secara kebetulan ada perbuatan yang dianggap memenuhi tuntutan situasi, maka perbuatan yang kebetulan cocok itu kemudian dipegangnya. Karena latihan terus menerus maka waktu yang dipergunakan untuk melakukan perbuatan yang cocok itu makin lama makin efisien.[24]
Akhirnya L. Thorndike dengan  S-R Bond Theory menyusun hukum-hukum belajar sebagai berikut:
1.      Hukum-hukum primair yang terdiri dari:
a.       Law of readiness, artinya bahwa kesiapan untuk bertindak itu timbul karena penyesuaian diri dengan alam sekitarnya, yang akan member kepuasan. Apabila tidak memenuhi kesiapan bertindak, maka tidak akan member kesiapan
b.      Law of exercise, artinya bahwa pengaruh-pengaruh dari latihan. Maksudnya bahwa suatu hubungan akan menjadi lemah atau hilang apabila tidak ada latihan.
c.       Law of effect, artinya bahwa kelakuan yang diikuti dengan pengalaman yang memuaskan cenderung ingin diulang lagi, begitu juga dengan sebaliknya.
2.      Hukum-hukum secundair, terdiri dari:
a.       Law of multiple response, artinya bermacam-macam usaha coba-coba dalam menghadapi situasi yang kompleks maka salah satu dari percobaan itu akan berhasil juga. Disebut juga trial and error.
b.      Law of assimilation artinya orang dapat menyesuaikan diri pada situasi baru, asal situasi tersebut ada unsure-unsur yang bersamaan.
c.       Law of partial activity artinya seseorang dapat bereaksi secara selektif terhadap kemungkinan yang ada dalam situasi tertentu.[25]
Akan tetapi teori milik thorndike ini juga mempunyai kelemahan, diantaranya:
Ø  Terlalu memandang manusia sebagai mekanisme dan otomatisme belaka disamakan dengan hewan. Meskipun banyak tingkah laku manusia yang otomatis, tetapi tidak selalu bahwa tingkah laku manusia itu dapat dipengaruhi secara trial and error. Trial and error tidak berlaku mutlak untuk manusia.
Ø  Memandang belajar hanya merupakan asosiasi belaka antara stimulus dan respons. Sehingga yang dipentingkan dalam belajar ialah memperkuat asosiasi tersebut dengan latihan-latihan atau ulangan-ulangan yang terus meneru.
Ø  Karena proses belajar berlangsung secara mekanistis maka “pengertian” tidak dipandangnya sebagai suatu yang pokok dalam belajar. Mereka mengabaikan pengertian sebagai unsur yang pokok dalam belajar.[26]

2.  Teori Pembiasaan Klasik
Disebut juga dengan teori “conditioned reflex”. Teori ini dipelopori oleh Ivan Petrovitch Pavlov (1849-1936). Dalam penyelidikannya Pavlov menggunakan anjing sebagai obyek percobaan.[27] Dari hasil percobaan yang dilakukan dengan anjing itu Pavlov mendapatkan kesimpulan bahwa gerakan-gerakan reflex itu dapat dipelajari, dapat berubah karena mendapat latihan.
Adapun langkah-langkah percobaan itu sebagai berikut:
1.      Langkah pertama adalah hubungan yang sewajarnya yang disebut uncondition stimulus (perangsang tanpa syarat). Misalnya sepotong daging sebagai perangsang. Maksudnya respon yang tanpa syarat-syarat lain.
2.      Langkah kedua adalah dua stimuli ata perangsang. Yang pertama berupa daging dihubungkan dengan perangsang baru misalnya lampu merah. Yang secara kenyataan antara daging dan lampu tidak ada hubungannya. Tapi akan berartibagi anjing bila diulang beberapakali.
3.      Langkah ketiga stimulus dihilangkan danyang tinggal adalah condition stimulus (perangsang yang tidak sewajarnya) yaitu lampu merah. Dan respon anjing itu disebut condition response (respon bersyarat tidak sewajarnya).
Sehingga dengan demikian dapat dibedakan dua macam reflex , yaitu reflex yang wajar atau unconditioned reflex yaitu berupa keluar air liur ketika melihat makanan yang lezat. Dan reflex bersyarat atau conditioned reflex yaitu keluarnya air liur karena menerima/ bereaksi terhadap warna sinar tertentu atau terhadap bunyi tertentu.[28] unconditioned reflex itus adalah merupakan hasil instink dan conditioned reflex sebagai hasil belajar dan bukan instink. Dan dari perconaan yang dilakukan Pavlov berlaku pula terhadap kelakuan manusia yang mekanis karena latihan yang dibiasakan. Misalnya seorang murid yang menganggukkan badannya sewaktu bertemu gurunya di jalan, dan menghormati bendera.[29]
Percobaan lain yang dilakukan oleh Watson adalah tentang perasaan takut pada anak. Dari hasil percobaan dapat ditarik kesimpulan bahwa perasaan takut pada anak dapat diubah dan dilatih. Anak percobaan Watson mula-mula tidak takut dengan kelinci dibuat takut dengan kelinci. Kemudian anak itu dibuat tidak takut lagi dengan kelinci. Penganut teori ini mengatakan bahwa segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil daripada conditioning. Yakni hasil daripada latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan mereaksi terhadap syarat-syarat tertentu yang dialaminnya di dalam kehidupannya.
Kelemahan teori ini adalah menganggap bahwa belajar itu hanyalah terjadi secara otomati, keaktifan dan penentuan pribadi dalam tidak dihiraukannya. Peranan kebiasaan terlalu ditonjolkan. Sedangkan manusia dalam bertindak dan berbuat sesuatu manusia tidak semata-mata tergantung dengan kehidupan luar tapi juga pribandinya memegang perana penting dalam menentukan reaksi apa yang akan dilakukannya.[30]
3.  Teori pembiasaan perilaku respon



BAB III
PENUTUP

3.1. Kesimpulan
















DAFTAR PUSTAKA


Hadis, Abdul, Psikologi dalam Pendidikan, 2006, Bandung: Alfabeta
Syah, Muhibbin. 2010. Psikologi pendidikan dengan Pendekatan Baru, Cetakan ke-15. Bandung: PT Remaja Rosyada Offset
Suryabrata, Sumadi,  Psikologi Pendidikan, 1993, Jakarta: Raja Grafindo Persada
Purwanto,Ngalim, Psikologi Pendidikan, 2006, Bandung: Remaja Rosdakarya Offset
Shalahuddin, Mahfudh, Pengantar Psikologi Pendidikan, 1990, Surabaya: Bina Ilmu Offset


[1] Sumadi suryabrata,  psikologi pendidikan, 1993, Jakarta: raja grafindo persada, hal: 243
[2] Mahfudh shalahuddin, pengantar psikologi pendidikan, 1990, Surabaya: bina ilmu offset, hal: 27
[3] Sumadi suryabrata,  psikologi pendidikan, 1993, Jakarta: raja grafindo persada, hal: 243
[4] Ngalim purwanto, psikologi pendidikan, 2006, bandung: remaja rosdakarya offset, hal: 84
[5] Muhibbin syah, psikologi pendidikan dengan pendekatan baru,2004  bandung: remaja rosdakarya offset, hal: 89
[6] Muhibbin syah , Psikologi pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT Remaja Rosyada Offset, 2010. Hal: 86
[7] Muhibbin syah , Psikologi pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT Remaja Rosyada Offset, 2010. Hal: 88
[8] Muhibbin syah , Psikologi pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT Remaja Rosyada Offset, 2010. Hal: 90
[9] Muhibbin syah , Psikologi pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT Remaja Rosyada Offset, 2010. Hal: 90
[10] Muhibbin syah , Psikologi pendidikan dengan Pendekatan Baru, Bandung: PT Remaja Rosyada Offset, 2010. Hal: 90

[11] Mahfudh shalahuddin, pengantar psikologi pendidikan, 1990, Surabaya: bina ilmu offset, hal: 27
[12] Ngalim purwanto, psikologi pendidikan, 2006, bandung: remaja rosdakarya offset, hal: 84
[13] Mahfudh shalahuddin, pengantar psikologi pendidikan, 1990, Surabaya: bina ilmu offset, hal: 28                
[14] Abdul hadis, psikologi dalam pendidikan, 2006, bandung: alfabeta, hal: 60
[15] Muhibbin syah, psikologi pendidikan dengan pendekatan baru,2004  bandung: remaja rosdakarya offset, hal: 90

[16] Mahfudh shalahuddin, pengantar psikologi pendidikan, 1990, Surabaya: bina ilmu offset, hal: 28
[17] Abdul hadis, psikologi dalam pendidikan, 2006, bandung: alfabeta, hal: 61
[18] Mahfudh shalahuddin, pengantar psikologi pendidikan, 1990, Surabaya: bina ilmu offset, hal: 28-29
[19] Muhibbin syah, psikologi pendidikan dengan pendekatan baru,2004  bandung: remaja rosdakarya offset, hal: 92

[20] Abdul hadis, psikologi dalam pendidikan, 2006, bandung: alfabeta, hal: 62-63
[21] Muhibbin syah, psikologi pendidikan dengan pendekatan baru,2004  bandung: remaja rosdakarya offset, hal: 105
[22] Mahfudh shalahuddin, pengantar psikologi pendidikan, 1990, Surabaya: bina ilmu offset, hal: 31
[23] Mahfudh shalahuddin, pengantar psikologi pendidikan, 1990, Surabaya: bina ilmu offset, hal: 32-33
[24] Ngalim purwanto, psikologi pendidikan, 2006, bandung: remaja rosdakarya offset, hal: 84

[25] Mahfudh shalahuddin, pengantar psikologi pendidikan, 1990, Surabaya: bina ilmu offset, hal: 33-34
[26] Ngalim purwanto, psikologi pendidikan, 2006, bandung: remaja rosdakarya offset, hal: 84
[27] Mahfudh shalahuddin, pengantar psikologi pendidikan, 1990, Surabaya: bina ilmu offset, hal: 35                          
[28] Ngalim purwanto, psikologi pendidikan, 2006, bandung: remaja rosdakarya offset, hal: 90
[29] Mahfudh shalahuddin, pengantar psikologi pendidikan, 1990, Surabaya: bina ilmu offset, hal: 35
[30] Ngalim purwanto, psikologi pendidikan, 2006, bandung: remaja rosdakarya offset, hal: 91

Popular posts from this blog

CONTOH AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN AGENDA ACARA MUSYAWARAH BESAR ( MUBES ) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA (IPPM) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 Minggu, 16 November 2010 WAKTU KEGIATAN PETUGAS TEMPAT 0 7 . 3 0 – 0 8 .00 Persiapan panitia Panitia Aula Rumah Bapak Prof. Dr. Safrion, MS 0 8 . 3 0 – 09.30 Pembukaan : F   Master of Ceremony (MC) F   Pembacaan Ayat suci alquran F   Sari Tilawah F   Menyanyikan Lagu Indonesia Raya F   Laporan Ketua Panitia F   Sambutan Ketua IPPM Bundo Kanduang Malang F   Sambutan Tuan Rumah F   Sambutan Ketua IKM Sehati Malang sekaligus membuka acara secara resmi F   Doa F   Penutup Robert   Ardian Maulid Wanda Wanda Iqsan Dinata Andri Zulanda Prof. Dr. Safrion, MS Prof. Dr. dr.H.Achdiat Agoes, Sp. S Eka Rizal, S.Pd 09.30 – 11.30 §       SIDANG PLENO I : Pembahasan Agenda Acara MUBES I

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dar

CONTOH TATATERTIB MUSYAWARAH BESAR

KETETAPAN TATA TERTIB MUSYAWARAH BESAR (MUBES) I II IKATAN PEMUDA PELAJAR MAHASISWA ( IPPM ) BUNDO KANDUANG MALANG Tahun 2012 BAB I KETENTUAN UMUM Pasal 1 Musyawarah Besar IPPM Bundo Kanduang merupakan rapat tertinggi ditingkatan Organisasi daerah IPPM Bundo Kanduang Malang 2.       Musyawarah Besar I II   adalah forum permusyawaratan untuk mengemban amanat oganisasi dan dilaksanakan pada akhir periode untuk menghasilkan rekomendasi kepada kepengurusan yang selanjutnya 3.       Musyawarah Besar I II merupakan permusyawaratan anggota IPPM Bundo Kanduang Malang yang disingkat dengan MUBES I II BAB II TUGAS DAN WEWENANG Pasal 2 Menetapkan pola dan garis-garis besar kebijakan didalam penyelenggaraan organisasi ikatan pemuda pelajar mahasiswa bundo kanduang Mengevaluasi dan mengesahkan laporan pertanggung jawaban pengurus IPPM bundo kanduang Membahas sekaligus menetapkan AD/ART organisasi ikatan pemuda pelajar mahasi