Skip to main content

Dimensi-dimensi Pendidikan Islam


    
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Dimensi-dimensi Pendidikan Islam
Pendidikan Islam merupakan suatu disiplin ilmu karena merupakan sekumpulan ide-ide dan konsep-konsep ilmiah dan intelektual yang tersusun dan diperkuat melalui pengetahuan dan pengalaman. Mengalami dan mengetahui merupakan pangkal dari konseptualisasi manusia yang berlanjut kepada terbentuknya suatu ilmu pengetahuan. Seperti Adam diajari oleh Tuhan nama-nama benda terlebih dahulu sebagai dasar konseptual pembentukan ilmu pengetahuannya. Oleh karena itu, pendidikan Islam meskipun dalam rintisan ilmiah-akademis, akan menampilkan diri menuju suatu proses kesempurnaan sebagai disiplin ilmu yang akademis dengan segenap kesempurnaannya.
Dalam pendidikan Islam mempunyai beberapa dimensi atau komponen yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Apabila salah satu dimensi atau komponen dalam sistem pendidikan Islam mengalami eror atau tidak berfungsi, maka pendidikan Islam akan gagal dalam mencapai visi, misi dan tujuan yang dicita-citakan.

B.     Dimensi Manusia dalam Pendidikan Islam
Objek studi ilmu pendidikan Islam dapat dibedakan menjadi dua hal, yaitu obyek material dan objek formal (A. Fatah Yasin, 2007: 21)
Obyek material dalam ilmu pendidikan Islam adalah manusia dengan berbagai potensi yang dimiliki sebagai subyek- obyek didik. Subyek-obyek didik dalam pandangan islam ialah manusia yang sudah memiliki potensi, dan oleh karena itu merupakan sasaran obyek untuk ditumbuh- kembangkan agar menjadi manusia yang sempurna sesuai dengan ajaran Islam. Sedangkan obyek formal dalam ilmu pendidikan Islam adalah upaya normatif untuk menumbuh- kembangkan potensi manusia dengan menjadikan Islam sebagai materi yang akan dididikkan melalui aktivitas pendidikan, sehingga dapat mempengaruhi pola perkembangan dan pertumbuhan manusia sebagai subyek-obyek didik.
Membicarakan tentang pendidikan terutama pendidikan Islam, pastilah mengupas tentang manusia dengan paradigma yang sangat luas, karena manusia merupakan subyek sekaligus obyek pendidikan, dalam arti bahwa aktivitas pendidikan sangat berkaitan dengan proses humanizing of human being, yaitu proses memanusiakan manusia atau upaya membantu subyek didik untuk berkembang normatif lebih baik. Oleh karena itu, perlu sekali membahas tentang hakikat manusia tersebut khususnya dalam perspektif Islam.
Dalam pandangan Islam manusia adalah makhluk ciptaan Allah; ia tidaklah muncul dengan sendirinya . Ia diciptakan oleh Allah melalui sebuah proses, yang dimulai asal usul bahannya dari sari pati tanah, kemudian berubah menjadi air mani, kemudian berubah menjadi segumpal  darah, kemudian berubah menjadi segumpal daging, kemudian berubah menjadi tulang yang dibungkus dengan daging, kemudian jadilah makhluk yang berbentuk jasmani manusia (QS. Al-Mu’minun: 12-15).
Bisa disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk yang penciptaannya melalui sebuah proses, sampai menuju kesempurnaan dan menjadi makhluk monodualistik. Artinya, makhluk individu yang terdiri dari dua hal yakni materi dan immateri, atau jasmani dan ruhani, yang kemudian lahir dan berkembang melalui sebuah proses.
Manusia dalam kehidupan selanjutnya mengalami suatu perkembangan untuk menumbuh-kembangkan dirinya sejak lahir. Perkembangan manusia sejak lahir tersebut dalam dunia pendidikan  model Barat terdapat tiga teori:
1.Teori Nativisme
Dipelopori oleh Schopenhauer (1788-1880) dari Jerman. Teori ini berpandangan bahwa manusia lahir didunia ini telah membawa bakat (nativ), dan bakat atau pembawaan tersebut sangat menentukan perkembangan kehidupan manusia selanjutnya. Kehidupan diluar diri manusia (lingkungan) tidak dapat menentukan perkembangan manusia, tetapi hanya bisa memengaruhi untuk mengantarkan pembawaan tersebut dan bukan menentukan. Oleh karena itu baik buruknya seorang anak (manusia)  adalah tergantung dari pembawaannya.

2. Teori Empirisme
Dipelopori oleh John Locke (1632-1704) dari Inggris. Teori ini menyatakan bahwa perkembangan manusia tergantung kepada lingkungan empirik dalam kehidupannya. Pembawaan atau bakat dalam diri manusia tidak dianggap penting karena manusia sejak lahir dalam keadaan bersih. Manusia dalam perkembangannya sangat ditentukan oleh pengalaman-pengalaman yang ia dapatkan dari kehidupan sehari-hari dalam dunia nyata disekitarnya berupa stimulan-stimulan tersebut bisa saja diperolehnya melalui alam kehidupan bebas, atau pun yang diciptakan oleh manusia lain melalui kegiatan yang dirancang dengan sengaja maupun tidak sengaja.
Dalam perspektif pendidikan teori ini menganggap bahwa pendidik sangat memegang peranan yang sangat penting terhadap peserta didik, sebab pendidik akan menyediakan lingkungan semaksimal mungkin sesuai dengan yang dikehendaki oleh peserta didik.

3. Teori Konvergensi
Teori ini dipelopori oeh William Stern (1871-1939) dari Jerman dengan  yang lebih akomodatif, yakni mencoba mensistesa dari kedua teori diatas. Hasil sintesa tersebut mengatakan bahwa manusia lahir di dunia ini telah membawa bakat dan
sekaligus bakat itu tidak akan berfungsi jika tidak dikembangkan oleh lingkungan sekelilingnya. Jadi pembawaan dan lingkungan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Lingkungan mendukung, tetapi bila bakat tidak ada maka pribadi manusia sulit untuk bisa berkembang dan sebaliknya, bila bakat itu ada tetapi lingkungan tidak mendukung juga sulit untuk berkembang.
Menurut perspektis Islam, kira-kira teori konvergensi inilah yang hampir memiliki kesamanan. Hanya saja yang membedakan bahwa dalam Islam manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah /potensi baik, yang tercermin dalam beragama Islam. Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim menjelaskan “ Tiap manusia dilahirkan membawa fitrah (potensi), kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.”

C.    Dimensi Pendidik dalam Perspektif Pendidikan Islam
Dimensi pendidikmerupakan faktor penting dalam kegiatan pendidikan. Kegiatan pendidikan pada dasarnya selalu terkait dengan pendidikan dan peserta didik. Keterlibatan keduanya (pendidik dan peserta didik) tersebut merupakan keterlibatan hubungan antar manusia (human interaction). Hubungan itu akan serasi jika masing-masing pihak secara professional diposisikan sebagai subyek pendidikan.
Pendidik bisa dilakukan oleh siapa saja, kapan saja, dan dimana saja, seperti orang tua menjadi pendidik anak-anaknya, pemimpin menjadi pendidik terhadap yang dipimpinnya, bahkan media massa pun bias menjadi pendidik, seperti Televisi yang memberi beberapa info kepada kita.
Dalam perspektif  Islam, setiap umat Islam wajib mendakwah/ menyampaikan/ menginformasikan ajaran agama islam kepada saja. Hal ini mengandung arti bahwa Islam adalah agama dakwah yang wajib disampaikan oleh pemeluknya kepada semua manusia, dengan cara mengajak, menyampaikan, memerintahkan, dan lain sebagainya.
Ahmad Tafsir menjelaskan bahwa pendidik dalam Islam adalah siapa saja bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik (anak didik). Orang yang paling pertama dan utama dalam bertanggung jawab terhadap peserta didik adalah oran tua terhadap anaknya. Hal ini disebabkan karena dua hal. Pertama, orangtua ditakdirkan melahirkan anaknya dan oleh sebab itu, ia ditakdirkan pula bertanggung jawab mendidik anak-anaknya tersebut.
Kedua, orangtua berkepentingan terhadap terhadap kemajuan perkembangan anak-anaknya, sukses anaknya adalah sukses pula orangtuanya dalam mendidik anak tersebut.

D.    Dimensi Peserta Didik dalam Pendidikan Islam
Salah satu dimensi penting dalam sistem pendidikan adalah peserta didik. Dalam proses pendidikan, peserta didik merupakan subjek dan objek yang aktif. Dikatakan sebagai subyek karena mereka berperan sebagai pelaku utama dalam proses belajar dan pembelajaran, sedangkan dikatakan sebagai objek karena mereka sebagai sasaran didik untuk ditumbuh kembangkan oleh pendidik.
Adapun karakteristik peserta didik telah mengalami perkembangan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan anak manusia yang berstatus sebagai peserta didik. Rousseau menjelaskan bahwa periodisasi tahapan perkembangan peserta didik adalah sebagai berikut:
1). Tahap asuhan (usia 0-2 tahun)
2). Tahap pendidikan jasmani dan pelatihan panca indra (usia 2-12 tahun)
3). Tahap pembentukan akal (usia 12-15 tahun)
4). Tahap pembentukan watak dan agama (usia 15-21 tahun).
Dari analisis karakteristik tersebut dapat dipahami bahwa peserta didik merupakan subjek dan objek pendidikan yang memerlukan bimbingan orang lain (pendidik) untuk membantu mengembangkan potensi yang dimilikinya, serta membimbingnya menuju kedewasaan.

Perspektif Islam tentang Peserta Didik
Istilah peserta didik  jika dimaknai sebagai orang (anak) yang sedang mengikuti proses kegiatan pendidikan atau proses beajar-mengajar untuk menumbuh-kembangkan potensinya, maka dalam literature bahasa arab yang sering digunakan oleh para tokoh pendidikan dalam Islam, antara lain ditemukan dengan nama: muta’allim, muta’addib, daaris, dan muriid.
Menurut al-Qabisyi, tujuan pendidikan islam itu adalah upaya menyiapkan peserta didik agar menjadi muslim yang dapat menyesuaikan hidupnya sesuai dengan ajaran-ajaran Islam. Dengan tujuan ini diharapkan peserta didik  juga mampu memiliki pengetahuan dan mampu mengamalkan ajaran Islam, karena hidup didunia ini tidak lain adalah jembatan menuju hidup diakhirat.
Dalam konsepsi Islam, pendidikan berlangsung sepanjang hayat (long life eduation). Oleh karena itu, tujuan akhir pendidikan harus terefleksi sepanjang kehidupan manusia. Dengan demikian, tujuan pendidikan Islam pada dasarnya sejajar dengan tujuan hidup manusia dan peranannya sebagai makhluk ciptaan Allah.

Popular posts from this blog

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dari berbagai ras suku…