Skip to main content

Perkembangan Islam di Makkah


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Perlunya kita mengakaji tentang sejarah, karena sejarah dapat kita jadikan sebagai pandangan masa depan dan dapat kita jadikan sebagai penbelajaran. Apalagi, “sejarah kebudayaan islam”. Dengan memahaminya kita bisa mengetahui asal mula islam sebagai agama kita dan kita bisa mengetahui bagaimana islam menyebar hingga saat ini masih saja eksis di dunia, dan itu semua semata-mata karena jasa Nabi Muhammad SAW. Yang di utus oleh Allah bagi semua makhluk di dunia un tuk menyempurnakan akhlak.
B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang dapat kita rumuskan berdasarkan latar belakang di atas meliputi:
Ø  Bagaimana perkembangan masyarakat Islam baru di makkah?
Ø  Apa sajakah peristiwa penting yang terjadi dalam masyarakat islam di makkah?
C.    Tujuan
Ø  Memahami perkembangan masyarakat Islam baru di makkah.
Ø  Mengetahui peristiwa penting dalam masyarakat islam di makkah.
D.    Metode
      Pembuatan makalah ini di susun melalui pengumpulan data yang merujuk pada buku peradaban islam sesuai dengan refrensi yang tersedia.


  
BAB II
PEMBAHASAN
ISLAM DI MAKKAH
I.       Perkembangan  Masyarakat Islam Baru di Makkah
A.    Hikayat
            Para penulis sirah (biografi) Muhammad pada umumnya sepakat bahwa ia lahir di Tahun Gajah, yaitu tahun 570 M. Muhammad lahir di kota Mekkah, di bagian Selatan Jazirah Arab, suatu tempat yang ketika itu merupakan daerah paling terbelakang di dunia, jauh dari pusat perdagangan, seni, maupun ilmu pengetahuan. Ayahnya, Abdullah, meninggal dalam perjalanan dagang di Yatsrib, ketika Muhammad masih dalam kandungan. Ia meninggalkan harta lima ekor unta, sekawanan biri-biri dan seorang budak perempuan bernama Ummu Aiman yang kemudian mengasuh Nabi.  Pada saat Muhammad berusia enam tahun, ibunya Aminah binti Wahab mengajaknya ke Yatsrib (Madinah) untuk mengunjungi keluarganya serta mengunjungi makam ayahnya. Namun dalam perjalanan pulang, ibunya jatuh sakit. Setelah beberapa hari, Aminah meninggal dunia di Abwa' yang terletak tidak jauh dari Yatsrib, dan dikuburkan di sana.[8] Setelah ibunya meninggal, Muhammad dijaga oleh kakeknya, 'Abd al-Muththalib. Setelah kakeknya meninggal, ia dijaga oleh pamannya, Abu Thalib. Ketika inilah ia diminta menggembala kambing-kambingnya di sekitar Mekkah dan kerap menemani pamannya dalam urusan dagangnya ke negeri Syam (Suriah, Lebanon, dan Palestina). Hampir semua ahli hadits dan sejarawan sepakat bahwa Muhammad lahir di bulan Rabiulawal, kendati mereka berbeda pendapat tentang tanggalnya. Di kalangan Syi'ah, sesuai dengan arahan para Imam yang merupakan keturunan langsung Muhammad, menyatakan bahwa ia lahir pada hari Jumat, 17 Rabiulawal; sedangkan kalangan Sunni percaya bahwa ia lahir pada hari Senin, 12 Rabiulawal (2 Agustus 570 M).
            Ketika Nabi Muhammad berusia 12 tahun maka beliau ikut pamanya membawa barang dagangannya  ke Syam. Tetapi sebalum sampai ke Syam baru sampai ke Buysra, bertemulah dengan pendeta nasyrani yang alim yang  bernama “Buhaira”. Yang kemudian ia memberitahukan bahwa Muhammad kelak akan menjadi seorang Nabi dan Rasul terakhir. Di waktu Nabi Muhammad berumur kurang lebih dari 15 tahun terjadilah peristiwa bersejarah bagi penduduk islam, yaitu kejadian peperangan antara suku Quraisy dan kinanah di satu pihak, dengan Qois ‘ailan di lain pihak. Nabi Muhammad SAW. Ikut aktif dalam peperangan ini membderikan bantuan kepada paman-pamannya dengan menyediakan keperluan perang. Meningkat masa dewasa Nabi Muhammad mulai berusaha senidri dalam penghidupanya. Karena kejujuranya seorang janda bernama Siti Khotijah mempercayai beliau untuk membawa barang daganganya ke Syam di temani maisaroh. Setelah selesai menjula belikan barang dagangan merekapun kembali ke makkah. Sesuadah Nabi Muhammad pulang dari perjalanya ke Syam datanglah lamaran dari pihak Siti Khotijah kepada beliau, lalu beliau menyampaikan hal itu kepada pamanya. Setelah tercapai kata sepakat pernikahanpun di langsun gkan, pada waktu itu umur Nabi 25 tahun sedang Siti Khotijah berumur kurang lebih 40 tahun.
B.     Kerasulan Muhammad
            Ketika menginjak usia 40 tahun, tepatnya malam 17 Ramadhan atau 6 Agustus 610 M, di waktu Muhammad Saw. sedang berkontemplasi di Gua Hira, Malaikat Jibril datang membawa wahyu dan menyuruh Muhammad saw. untuk membacanya, yaitu surat Al’Alaq ayat 1-5. Inilah wahyu pertama yang diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW yang juga penobatan Beliau sebagai nabi dan rosul bagi seluruh umat manuusia dan tugasnya untuk berdakkwah. Kejadian ini diceritakan kepada isterinya, Khadijah dan saat itu juga Khadijah mengimaninya. Dialah orang yang pertama beriman dan masuk Islam. Pengangkatan Muhammad SAW menjadi Rosul dibenarkan oleh pendeta Nasrani yang bernama Waraqah bin Naufal. Dua setengah tahun kemudian, Rosulullah SAW mwnerima wahyu yang kedua, yaitu surat Al- Muddassir ayat 1-7.
            Dengan turunnya wahyu tersebut, maka jelaslah misi dakwah yang harus Rosulullah SAW lakukan dalam menyampaikan risalahnya. Misi tersebut antara lain mengajak manusia menyembah Allah Yang Maha Esa, yang tidak beranak dan tidak pula di peranakkan serta tidak ada sekutu bagi-Nya. Hal inilah permulaan perintah menyiarkan agama Allah kepada Seluruh Umat Manusia.



C.    Dakwah Nabi Muhammad
            Masyarakat Arab, khususnya Mekah pada masa Nabi Muhammad SAW. Diutus menjadi Rosul adalah masyarakat yang memiliki kebiasaan diantaranya sebagai berikut:
1. Menyembah Berhala. Saat itu, Mekah merupakan kota pusat perdagangan dan peribadatan orang Arab. Mereka memuja dan menyembah patung atau berhala sebagai Tuhan. Ratusan patung atau berhala terdapat di kakbah, diantaranya berhala terbesar dan terpopuler, yaitu Latta, Uzza, dan Manat. Menurut mereka, berhala-berhala itu anak Tuhan yang berkuasa mendatangkan Syafaat.
2. Penduduk Mekah sangan memperhatikan dan memelihara kedudukan tata nilai yang tinggi dan istimewa karena hal semacam itu memberikan kehidupan yang makmur dan mewah. Mereka juga menjual belikan budak belian dan wanita.
3. Masyarakat Mekah gemar minum-minuman keras, bejudi, berjinah, serta berlomba-lomba mencari kedudukan atau harta benda. Mereka tenggelam dalam kehidupan duniawi tanpa mengindahkan kehidupan akhirat.
4. Bangsa Arab pada saat itu terpecah menjadi suku-suku (kabilah) yang saling membanggakan diri dengan suku mereka masing-masing. Kabilah-kabilah itu hidup bebas dan memiliki aturan tersendiri. Sering terjadi pertikaian, berselisih paham, bahkan peperangan antarmereka yang disebabkan perkara-perkara kecil atau memperebutkan kekuasaan. Oleh karena itu, mereka tidak pernah bersatu dan memiliki kekuatan.
5. Kebiasaan orang Arab memberikan penghargaan terhadap orang lain yang didasarkan pada keturunan, kebangsawanan, atau kekayaan. Seseorang yang berakhlak baik dan berilmu belum tentu mendapatkan penghargaan atau kehormatan apabila ia bukan berasal dari keturunan bangsawan.
6. Bangsa Arab, khususnya Quraisy memandang deiri mereka adalah lebih mulia dan tinggi dari bangsa Arab lainnya. Dalam kabilah Quraisy, terdapat golongan-golongan (keluarga besar) yang saling bersaing untuk merebut pengaruh dan kekuasaan. Oleh karena itu, jika orang Quraisy tunduk kepada Muhammad SAW, hal itu sama dengan tunduk dan menyerahkan kepemimpinan atau kekuasaan kepada keluarga Nabi Muhammad SAW., bani Abdul Muthalib. Dengan hal itu pula, mereka tidak akan dapat membedakan antara kenabian dan kekuasaan.


Ø  Dakwah Secara Sembunyi-sembunyi
            Sesudah menerima wahyu kedua yang menjelaskan tugas atas dirinya, mulailah beliau berdakwahsecara sembunyi-sembunyi dan menyeru keluarganya yang terdekat. Mereka ada yang tinggal satu rumah dan sahabat-sahabat terdekat. Seorang demi seorang di berikan pemahaman agar mereka meninggalkan agama berhala dan hanya menyembah Allah yang Maha Esa. Berikut nama-nama yang mula-mula beriman kepada Rosulullah SAW:
1) Siti Khadijah (Isteri Rosulullah SAW)
2) Ali bin Abi Thalib (masih sangat muda) putra paman Rosulullah SAW, Abu Thalib
3) Zaid bin Harisah, budak Rosulullah SAW yang kemudian menjadi anak angkat
4) Abu Bakar Siddik (sahabat Rosulullah SAW)
            Melalui Abu Bakar, banyak orang-orang yang memeluk Islam, antara lain Usman bin Affan, Zubair bin Awwam, Saad bin Abi Waqqas, Abdurrahman bin Auf, Talhah bin Ubaidillah, dan lain-lain. Mereka di beri gelar As Sabiqunal Awwalun, yaitu orang-orang yang terdahulu atau pertama-tama masuk islam. Mereka mendapatkan pelajaran tentang islam dari Rosulullah SAW secara langsung ditempat yang tersembunyi dirumah Arqam bin Abil Arqam di kota Mekah.
Ø  Dakwah Secara Terang-terangan
            Nabi Muhammad SAW melakukan da’watul afrad , yaitu ajakan memeluk islam secara diam-diam atau sembunyi-sembunyi dari satu rumah ke rumah lain selama tiga tahun. Kemudian turunlah surat Al Hijr ayat 94 yang memerintahkan Rosulullah agar menyerukan atau menyiarkan agama Islam secara terang-terangan atau tidak lagi dilakukan dengan cara sembunyi-sembunyi. Sejak saat itulah, Muhammad SAW menyeru kaumnya secara umum ditempat-tempat terbuka agar manusia menyembah hanya kepada Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa dan tidak menyekutukan-Nya. Seruan yang bersifat umum ini awalnya di tunjukan kepada: Kerabat-kerabatnya, penduduk Mekah diberbagai lapisan masyarakat, baik bangsawan, hartawan, maupun hamba sahaya, tidak terkecuali dai kalangan bangsa quraisy, kabilah-kabilah Arab dari berbagai daerah yang datang ke Mekah untuk mengerjakan haji.
Pada mulanya mereka menganggap dakwah nabi Muhammad SAW sebagai:
1) Gerakan yang tidak mempunyai dasar dan tujuan
2) Gerakan yang tidak akan bertahan lama
3) Gerakan yang tidak perlu diacuhkan
4) Gerakan yang di pimpin oleh Muhammad SAW dan Beliau di anggap sudah tidak waras lagi (sakit jiwa).
            Akan tetapi, dengan keyakinan dan bimbingan serta petunjuk Allah SWT, gerakan dakwah Nabi Muhammad SAW semakin tersebar luas dan pengikutnya semakin bertambah banyak. seruan Nabi Muhammad SAW juga semakin tegas, lantang, ddan berani, bahkan memperjelas bahwa sesembahan (berhala) mereka adalah suatu kekeliruan dan sangat menyesatkan.

II.               Peristiwa-Peristiwa Penting Masyarakat Islam Di Makkah
1.      ISRA’ MI’RAJ
            Disaat menghadapi ujian yang maha berat dan tingkat perjuangan sudah pada puncaknya, gangguan dan hinaan, aniaya, serta siksaan yang dialami beliau beserta pengikut-pengikut beliau semakin hebat, maka Nabi Muhammad saw diperintahkan oleh Allah SWT menjalani isra’ dan mi’raj dari Makkah ke Baitul Maqdis di Palestina, kemudian naik ke langit ke tujuh dan Sidratul Muntaha. Disitulah beliau menerima perintah langsung dari Allah tentang sholat lima waktu. Hikmah Allah memerintahkan Isra’ dan Mi’raj kepada Nabi adalah untuk lebih menambah kekuatan iman dan keyakinan beliau sebagai Rasul, yang diutus Allah ketengah-tengah ummat manusia, untuk membawa risalah-Nya.
            Peristiwa Isra’ Mi’raj terjadi pada malam 27 Rajab tahun ke-11 kenabian. Disamping memberikan kekuatan batin kepada nabi Muhammad Saw dalam perjuangan menegakkan agama Allah, juga menjadi ujian bagi kaum muslimin sendiri, apakah mereka beriman dan percaya kepada kejadian yang nenakjubkan dan diluar akal manusia, yaitu perjalanan yang beratus-ratus mil serta menembus tujuh lapis langit dan hanya ditempuh satu malam saja. Bagi kaum Quraisy  peristiwa isra’ mi’raj, mereka jadikan senjata untuk menuduh nabi sebagai orang yang tidak beres otaknya.
2.      Pemboikotan Terhadap Bani Hasyim Dan Bani Muthalib
            Sesudah orang Quraisy melihat bahwa segala jalan yang mereka tempuh untuk memadamkan da’wah nabi Muhammad Saw tidak memberi hasil, karena bani hasyim dan bani muthalib (dua keluarga besar nabi Muhammad Saw) baik yang sudah islam maupun yang belum, tetap melindungi beliau, maka mereka mencari taktik baru untuk melumpuhkan kekuatan islam. Mereka melakukan pemboikotan terhadap bani hasyim dan bani muthalib dengan jalan memutuskan segala perhubungan:hubungan perkawinan, jual beli, ziarah menziarahi dan lain-lain. Dengan adanya pemboikotan umum ini, maka nabi Muhammad Saw dan orang-orang islam sreta keluarga bani hasyim dan bani muthalib terpaksa menyingkir dan menyelamatkan diri keluar kota makkah. Selama tiga tahun lamanya mereka menderita kemiskinan dan kesengsaraan. Namun banyak juga diantara kaum Quraisy yang merasa sedih akan nasib yang dialami keluarga nabi. Dengan demikian secara sembunyi-sembunyi mereka mengirim makanan dan keperluan lainnya pada kaum kerabat yang terasingkan diluar kota seperti yang dilakukan oleh Hisyam Bin Amr. Akhirnya bangkitlah beberapa pemuka Quraisy menghentikan pemboikotan. Dengan itu pulihlah kembali hubungan bani hasyim dan bani muthalib dengan orang Qurais. Akan tetapi nasib pengikut-pengikut nabi bukanlah menjadi baik, bahkan orang-orang Quraisy lebih meningkatkan sikap permusuhan mereka.
3.      Hijrah Ke Habasyah
            Setelah orang-orang Quraisy merasa bahwa usaha-usaha mereka untuk melunakkan Abu Thalib tidak berhasil, maka mereka melancarkan bermacam-macam gangguan dan penghinaan terhadap nabi serta penyiksaan terhadap pengiku-pengikut beliau. Nabipun tidak tahan melihat penderitaan sahabat-sahabatnya, lalu menganjurkannya agar hijrah ke Habasyah (Abisinia) yang rakyatnya menganut agama kristen dan Rasul menegetahui bahwa raja Habasyah yaitu Najasyi dikenal adil, maka berangkatlah rombongan pertama terdiri dari sepuluh orang laki-laki dan empat orang perempuan. Kemudian disusul oleh rombongan-rombongan yang lain hingga mencapai hampir seratus orang.
            Setibanya dinegeri Habasyah mereka mendapat penerimaan dan perlindungan yang baik dari rajanya. Sehingga menimbulkan kegelisahan kaum Quraisy, karenanya mereka mengutus Amru Bin Ash dan Abdullah Bin Rabi’ah untuk mengembalikan orang-orang Makkah yang hijrah, namun permintaannya ditolak oleh raja. Sementara itu Rasulullah tetap tinggal di Makkah menyeru kaumnya dalam islam walaupun gangguan bertambah sengit. Seorang demi seorang pengikut beliau bertambah, berkat rahmat Allah dua orang pemimpin Quraisy masuk islam yakni Hamzah Bin Abdul Muthalib dan Umar Bin Khattab. Kehadiran mereka dalam islam menghidupkan semangat baru kaum muslimin, karena itu mereka akhirnya menjadi benteng islam.
4.      Perjanjian Aqobah
            Pada tahun ke-12 sesudah kenabian, datanglah ke Mekkah dimusim haji 12 orang laki-laki dan seorang wanita penduduk Yatsrib. Mereka menemui Rasulullah secar rahasia di Aqobah. Ditempat inilah mereka mengadakan baiat (perjanjian) atas dasar islam dengan nabi;bahw mereka tidak mempersekutukan Allah, tidak akan mencuri, berzina, mambunuh anak-anak, fitnah memfitnah, dan tidak akan mendurhakai Muhammad Saw. Perejanjian ini dalam sejarah dinamakan Bai’tul ‘Aqobatil ‘Ula (perjanjian aqobah yang pertama), karena dilangsungkan di Aqobah untuk pertama kalinya. Dan dinamakn pula Bai’atul Nisaa’ (perjanjian wanita) karena dalam bai’at itu ikut seorang wanita bernama Afra Binti Abid Bin Tsa’labah. Sesudah selesai pembai’atan ini, Rasulullah mengirim Mush’ab Bin Umair bersama mereka ke Yatsrib untuk mengajarkan Alquran dan agama islam. Maka, agam islam pun tersebar ke setiap rumah dan keluarga penduduk Yatsrib, kecuali beberapa keluarga kecil orang Aus.
5.      Perjanjian Hudaibiyah
            Pada tahun ke-6 H, ketika ibadah haji sudah disyari’atkan, nabi memimpin sekitar 1000 kaum muslimin berangkat ke Mekkah, bukan untuk berperang, melainkan untuk melakukan ibadah umrah. Karena itu, mereka mengenakan pakaian ihram tanpa membawa senjata. Sebelum tiba di Mekkah, mereka berkemah di Hudaibiyah, beberapa kilometer dari Mekkah. Penduduk Mekkah tidak mengizinkan mereka masuk kota. Akhirnya, diadakan perjanjian yang dikenal dengan nama Perjanjian Hudaibiyah yang isinya antara lain:(1) Kaum muslimin belum boleh mengunjungi ka’bah tahun ini tetapi ditangguhkan sampai tahun depan, (2) lama kunjungan dibatasi sampai tiga hari saja, (3) kaum muslimin wajib mengembalikan orang-orang Makkah yang melariakn diri ke Madinah, sedang sebaliknya, pihak Quraisy tidak harus menolak orang-orang Madinah yang kembali ke Makkah, (4) Selama 10 tahun diberlakukan genjatan senjata antara masyarakat Madinah dan Makkah, dan (5) Tiap kabilah yang ingin masuk kedalam persekutuan kaum Quraisy atau kaum Muslimin, bebas melakukannya tanpa mendapat rintangan.
BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan

            Perkembangan masyarakat Islam di kota Makkah tidak berlangsung lancar, karena kepercayaan kaum Quraisy sangat bertentangan dengan ajaran Nabi Muhammad. Banyak rintangan-rintangan yang dihadapi kaum muslimin dalam berjuang menda’wahkan Islam, namun pada akhirnya banyak pula masyarakat Makkah yang memeluk Islam, terutama dari kalangan budak, kebanyakan dari merekapun disiksa tuannya. Kejadian tersebut menyadarkan masyarakat untuk memeluk agama Islam karena mereka beranggapan bahwa kaum Quraisy dalah kaum yang kejam.
            Peristiwa penting yang terjadi di Makkah setelah datangnya Islam adalah: Isra’ Mi’raj, Pemboikotan Bani Hasyim dan Bani Mutholib, hijrah ke Habasyah, perjanjian Aqobah, perjanjian Hudaibiyah.
            Kami sadar dalam makalah ini banyak keakurangan, dari itu sudah selayaknya kami memohon ma’af yang tiada tara dan kami selalu mengharap kritik dan saran demi perbaikan.


DAFTAR PUSTAKA

Yatim, Badri. 2010. Sejarah Peradapan Islam Dirosah Islamiayah II. Jakarta: Rajawali Pers.
Alqur’anul Karim wa tarjamah Ma’aniyah Ila Lughotil Indonesia.

Popular posts from this blog

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dari berbagai ras suku…