Skip to main content

Adat Dan Kebiasaan



Prof.Dr. Sudikno,SH
Dalam bukunya “Mengenal Hukum” 1986 hal 82. Menguraikan kebiasaan merupakan tindakan menurut pola tingkah laku yang tetap, ajeng, lazim, normal, atau adat dalam masyarakat, atau pergaulan hidup tertentu.
Pergaulan hidup ini merupakan lingkungan yang sempit seperti desa, tetapi dapat luas juga
yakni meliputi masyarakat Negara yang berdaulat. Prilaku yang tetap atau ajeng berarti merupakan prilaku manusia yang diulang. Prilaku yang diulang itu mempunyai nilai normatif, mempunyai kekuatan mengikat. Karena diulang oleh orang banyak maka mengikat orang-orang lain untuk melakukan hal yang sama, karenanya menimbulkan keyakinan atau kesadaran, bahwa hal itu memang patut dilakukan “bahwa itulah adat” (die normatieve kaft des faktischan). Keyakinan dan kesadaran itu tidak perlu ada sejak perbuatan itu berlangsung secara ajeng, tetap, terulang, akan timbullah anggapan bahwa demikianlah seharusnya. Perlu diingat bahwa ada kebiasaan yang dilakukan bukan karena keyakinan atau kesadaran, tetapi karena ikut-ikutan belaka, karena orang lain atau nenek moyang melakukannnya, tanpa adanya keyakinan bahwa itu patut dilakukan. Yang menjadikan tingkah laku itu kebiasaan atau adat adalah kepatutan dan bukan unsur terulang atau ajeng nya tingkah laku. Karena disarankan patut maka lalu diulang. Patut atau tidaknya itu bukan karena itu bukan karena pendapat seseorang, tetapi pendapat masyarakat.

Setiap daerah dan golongan mempunyai mempunyai kebiasaaan sendiri-sendiri yang beda satu sama lain. Dengan demikian kebiasaan itu beraneka ragam. Kebiasaan tidak hanya berbeda berbeda disetiap tempat, tetapi juga mudah berubah (fashion, Mode) ada hubungan yang erat antara kebiasaan dengan sopan santun, sopan santun timbul dari kebiasaan.

Meski dikatakan diatas kebiasaan merupakan sumber hukum tertua, namun dalam perkembangannya pernah undang-undang merupakan satu-satunya sumber hukum.

HUKUM KEBIASAAN

Menurut uraian diatas kebiasaaan adalah perbuatan manusia yang dilakukan berulang-ulang mengenai hal tingkah laku kebiasaan yang diterima oleh suatu masyarakat yang selalu dilakukan orang lainsedemikian rupa, sehingga masyarakat beranggapanbahwa memang harus berlaku demikian. Jikati dak berbuat demikian merasa melakukan pelanggaran terhadap hukum. Masyarakat yakin bahwa kebiasaan yang mereka lakukan itu mengandung hukum, maka jika anggota masyarakat itu tidak menaatinya, dia merasa melakukan pelanggaran perasaan hukum yang hidup di tengan-tengan masyarakat.
Namun demikian tidak semua kebasaan itu mengandung hukum yang baik dan adil. Oleh karenanya belum tentu kebiasaan atau adat istiadat itu pasti menjadi sumbr hukum.
Jadi kebiasaan-kebiasaan yang baik dan diterima masyarakat sesuai kepribadian masyarakat yang kemudian berkembang menjadi hukum kebiasaan.

Sebaliknya ada kebiasaan-kebiasaan yang tidak baik dan ditolak masyarakat, tidak akan menjadi hukum kebiasaan masyarakat, misalnya : kebiasaan keluar malam untuk mencuri, begadang, kebiasaan berpakaian seenaknya, tanpa mengingat kesopanan lingkungan dan sebagainya.

Dengan demikian dapat diketahui untuk timbulnya kebiasaan diperlukan beberapa syarat tertentu (Sudikno)
Syarat Materil.
  1. Adanya perbuatan tingkah laku yang dilakukan berulang-ulang didalam masyarakat tertentu (longan et inventarata consuetindo).
  2. Syarat intelektual Adanya keyakinan hukum dari masyarakat yang bersangkutan (opinion necessitates)
  3. Adanya akibat hukum apabila hukum itu dilanggar
Utrecht dalam bukunya Pengantar Hukum Indonesia 1966 hal : 120-122. Mengatakan “hukum kebiasaan adalah himpunan kaidah-kaidah yang biarpun tidak ditentukan oleh bdan-badan perundang-undangan dalam suasana “wekerlijkheid” (kenyataan) ditaati juga, karena orang sanggup menerima kaidah-kaidah itu sebagai hukum dan telah ternyata kaidah-kaidah itu sebagai hukum dan telah ternyata kaidah-kaidah tersebut dipertahankan oelh penguasa-penguasa masyarakat yang lain yang tidak masuk lingkungan badan-badan perundang-undangan. Dengan demikian hukum kebiasaan itu kaidah yang biarpun tidak tertulis dalam peraturan terulis. Apalagi, bilamana kaidah tersebut menerima perhatian dari pihak pemerintah”
Kebiasaan tidak perlu senantiasa ditaati oleh semua penduduk suatu wilayah negara. Ada juga kebiasaan kedaerahan (lokal) kebiasaan kedaerahan itu dilakukan oleh penduduk suatu daerah, kota atau bagiannya bahkan ada kebiasaan yang dilakukan oleh beberapa orang saja.
Umumnya para sarjana hukum yang mengikuti suatu pelajaran klasik, beranggapan supaya hukum kebiasaan di taati maka harus ada dua syarat (Untrecht)
  1. Sesuatu perbuatan yang tetap dilakukan orang
  2. Keyakinan bahwa pebuatan itu harus dilakukan karena telah merupakan suatu kewajiban (opinion necesitatis)

KEBIASAAN SEBAGAI SUMBER HUKUM

Di Indonesia kebiasaan itu diatur dalam undang-undang diantaranya :
  1. Pasal 1346 KUHPerdata : apa yang meragu-ragukan harus ditafsirkan menurut apa yang menjadi kebiasaan dalam negri atau ditempat persetujuan telah dibuat.
  2. Pasal 1374 KUHPerdata : hal-hal yang menurut kebiasaan selamanya diperjanjikan, dianggapsecara diam-diam dimasukkan dlam perjanjian, meskipun tidak dengan tegas dinyatakan.
  3. Pasal 1571 KUHPerdata : jika perjanjian sewa menyewa tidak dibuat dengan tertulis maka prjanjian sewa menyewa tidak berakhir pada waktu yang ditentukan, melainkan jika pihak yang satu memberitahukan kepada pihak lain bahwa ia hendak menghentikan perjanjian dengan mengindahkan tenggang waktu yang diharuskan menurut kebiasaan setempat

KELEMAHAN HUKUM KEBIASAAN
  1. Hukum kebiasaan bersifat tidak tertulis dan oleh karenanya tidak dapat dirumuskan dengan jelas dan pada umumnya sukar untuk merubahnya
  2. Hukum kebiasaan tidak menjamin kepastian hukum, kebiasaan mempunyai sifat beraneka ragam
PERSAMAAN DAN PERBEDAAN HUKUM KEBIASAAN DAN UNDANG-UNDANG
PESAMAAN
  1. Keduanyamerupaka penegasan pandangan hukum yang terdapat dalam masyarakat
  2. Keduanya merupakan perumusan kesadaran hukum suatu bangsa

PERBEDAAN
  1. Undang-Undang merupakan keputusan pemerintah yang dibebankan kepada orang, subjek hukum. Kebiasaan merupakan perataran yang timbul dari prgaulan
  2. Undang_Undang lebih menjamin kepastian hukum daripada hukum kebiasaan. Kepastian hukum merupakan perlindungan yustiabel terhadap tindakan sewenang-wenag yang berarti bahwa juga dapat diharapkan di tetapkannya hukum dalam hukum yang kongkrit dan oleh karenannya menyebabkan timbulnya hastrat untuk mencatat hukum kebiasaan. Sebagai ketentuan dlam Undang-Undang berasal dari kebiasaan.

HUBUNGAN HUKUM KEBIASAAN DAN HUKUM ADAT

Pengertian tentang hukum adat.
Hukum adat itu termasuk dalam hukum kebiasaan. Kadang-kadang kebiasaan juga disebut sebagai adat, dan memang kata adat berasal dari Bahasa arab yang maksutnya kebiasaan. Istilah “adat” dari Bahasa arab ini kemudian dalam perkembangannya menimbulkan hukum adat.
Hukum adat merupakan hukum tak tertulis, disebut juga hukum tradisional dan sudah menjadi kepribadian bagi bangsa.
Hukum adat adalah terjemahan dari “adatRecht” yang untuk pertama kali dikenalkan oleh Snock Hurgronye dalam bukunya “de Acehers” pada tahun 1993 kemudian dipergunakan oleh Van Vollenhoven yang dikenal sebagai penemu hukum adat dan penulis buku “Het Adatrecht Van Niderlandsch-indie (Sudikno)
Tata hukum Indonesia berdasarkan pada adat istiadat yang disebut hukum adat. Hukum adat ini berdasarkan pada hukum kebiasaan.
Adat istiadat adalah peraturan-peraturan kebiasaan sosial yang sejak lama ada dalam masyarakat dengan maksud megatur tatatertib. Ada juga yang menganggap adat istiadat itu sebagai peraturan sopan santun yang turun menurun. Pada umumnya adat istiadat bersifat agak sacral (sesuatu yang suci) serta merupakan tradisi (Sudikno)
  1. Prof. Supono mengartikan hukum adat sebagai hukum yang tidak tertulis didalam peraturan Legislatif (unstatutory Law), meliputi peraturan-perauran hidup, yang meskipun tidak diterapkan oleh yang berwajib toh ditaati dan didukung oleh rakyat berdasarkan atas keyakinan bahwasanya peraturan-peraturan tersebutmempunya kekuatan hukum.Perbedaan antara adat dan kebiasaan.Perbedaan antara adat dan kebiasaan adalah perbedaan asal. Adat bersumber agak sacral (suci) berhubungan dengan tradisi rakyat Indonesia yang telah turun menurun.
  2. Kebiasaan Wilayah berlakunya biasanya dikoto belum/tidak merupakan tradisi rakyat sebagian besar hasil akulturasi “timur” dengan “barat” (Surojo 1974 :59)
  3. Hukum adat itu dinamisVan Vollenhoven dalam bukunya “adat Recht” jilid 2 halaman 133 mengatakan sebagai berikut :Hukum adat pada waktu yang telah lampau agak beda isi nya, hukum adat menunjukkan perkembngan.Halaman 389 Hukum adat berkembang dan maju terus, keputusan-keputusan adat menimbulkan hukum.

Tidak semua adat merupakan hukum, Antara hukum adat dan adat ada perbedaan. Hukum adat adalah ada yang berfungsi sanksi, ini berupa reaksi dari masyarakat terhadap perbuatan tersebut.
Apakah suatu adat itu hukum adat atau bukan tergantung pada persekutuan hukum yang bersangkutan. Bila yang berkuasa mempertahankan ditaatinya adat yang dimaksut, maka adat tersebut adalah hukum adat (teori keputusan ter Haar)


Pengacara Terkenal

Popular posts from this blog

Pengertian Astagatra dalam ketahanan nasional Indonesia

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang Indonesia merupakan suatu Negara kepulauan yang terletak di antara benua Asia dan benua Australia serta samudra pasifik dan samudra hindia. Masyarakat Indonesia adalah masyarakat majemuk yang hiterogen, didalamnya terdiri dari berbagai ras suku bangsa, bahasa, warna kulit, agama dan adat istiadat yang berbeda. Dari berbagai perbedaan tersebut sehingga dalam masyarakat Indonesia rawan dengan adanya konflik antara daerah yang satu dengan daerah yang lain. Oleh karena itu perlu adanya suatu strategi guna menjaga persatuan dan kesatuan masyarakat Indonesia. Dalam perkembangannya strategi tersebut tidak hanya untuk menanggulangi masalah konflik antar daerah di Indonesia tetapi juga untuk menghadapi segala gangguan yang datang dari luar Indonesia yang mengancam keutuhan Negara Kesatuan Rebublik Indonesia. Suatu Negara akan bisa utuh jika masyarakatnya menjaga perdamain dan persatuan. Terutama di Negara kita ini, yang didalamnya terdiri dari berbagai ras suku…